
“Apa kamu yakin tidak ingin meminta maaf?” ucap seseorang dari arah hadapannya, yang muncul di belakang Morgan.
Aca yang terkejut segera melihat ke sumber suara.
“Pak Dicky, Bu Lidya,” lirih Aca, membuat Lidya dan Dicky tersenyum tipis.
“Jangan lupa minta maaf juga tentang foto yang sudah kamu crop. Kenapa kamu tidak memperlihatkan saya pada foto itu?” ucap Dicky semakin membuat Aca resah.
“A-apa maksudnya?” bentak Aca yang masih tidak ingin mengakui kesalahannya.
Dicky menyunggingkan senyumnya. Ia memperlihatkan sebuah foto pada ponselnya. Di sana, terlihat jelas wajah Aca, yang sedang memeluk mesra seorang laki-laki, yang sebenarnya adalah Morgan. Tapi, Dicky mengambil pada sudut yang tepat, sehingga wajah Morgan sama sekali tidak terlihat di sana.
Hal itu membuat Aca menganga.
“Saya nggak akan segan-segan untuk menyebarkan berita hoax ini. Di sini wajah kamu terlihat sangat jelas, lho,” gertak Dicky yang sukses membuat Aca menangis deras.
Sepertinya gertakkan Dicky, sudah mengenai mental Aca.
“Seisi kampus ini akan tahu, kalau si tukang bully, ternyata berbuat sama dengan apa yang dituduhkan oleh korban bullying,” tambah Lidya, membuat Aca semakin merasa tertekan dengan keadaan.
Dicky tersenyum, “betul! Dan nantinya, dia pasti akan dipulangkan pada orang tuanya, dan orang tuanya akan melihat kelakuan bejat yang sudah anaknya lakukan di belakang mereka,” ucap Dicky membenarkan ucapan Lidya.
Morgan menatapnya dengan jahil, “itu berarti, tidak akan ada uang jajan, dan tidak akan ada fasilitas yang dibanggain lagi dong?” tambah Morgan, yang berusaha mengingatkan Aca, tentang segala fasilitas dan kekayaan yang Aca punya, yang orang tuanya berikan pada Aca.
Wajah Aca memerah padam, semakin lama perkataan mereka, semakin tidak bisa ia terima.
Aca mendelik ke arah mereka, “kalian semua bisa nggak sih stop ngomongin hal yang enggak-enggak? Ya, yang kalian semua bilang tuh bener! Gue yang udah nyebarin berita hoax tentang Ara, gue juga yang udah ngatain Ara pel*acur! Gue yang udah tempel foto Ara di madding, gue yang udah nge-crop foto itu, sampai Pak Dicky gak kelihatan. Gue juga yang udah nyiram Fla, sampai dia pingsan! Terus sekarang, mau loe semua apa, hah?” ujar Aca terus-terang.
Morgan tersenyum, “satu lagi, jangan pernah sekali-kali kamu sentuh Fla lagi. Karena, dia adalah adik kandung saya!” ujar Morgan, yang sekali lagi membuat Aca mendelik, tak percaya dengan apa yang Morgan katakan.
“Hah? Gak mungkin! Ini semua tuh bulsh*it tau gak!” teriak Aca yang sudah kehilangan kendali atas dirinya.
“Terima kasih, Jessline. Kamu sudah boleh keluar sekarang,” ucap Lidya, sontak membuat Aca semakin mendelik.
Dari arah yang entah darimana, Jessline muncul dengan menggenggam sebuah ponselnya, karena ia sudah merekam semua kejadian dari awal, hingga akhir.
Jessline memberikan kembali ponsel Morgan, kepada Morgan, dan Morgan pun menerimanya dan memeriksanya.
__ADS_1
Ia segera memberikan kepada Dicky, untuk melanjutkan merekam semuanya.
“Tolong pegang,” lirih Morgan, Dicky pun menerimanya dan segera memegangnya.
“Terima kasih, sudah membantu merekam semua kejadian ini, Jessline,” ucap Morgan membuat Aca tertunduk lemas di atas aspal.
“Brukk ....”
Ia sudah kehilangan tenaganya kali ini.
“Jadi, semua yang gue ucapin tadi, direkam?” lirih Aca seperti mayat hidup.
“Ya, gue gak mau hidup dalam rasa bersalah gue ke Fla dan juga Ara. Udah cukup, gue gak akan ganggu mereka lagi untuk ke depannya. Gue udah cukup tertekan sama kelakuan loe, Ca,” jelas Jess, membuat Aca menoleh langsung ke arah Jess.
Ia menatap tajam Jess, “dasar wanita *******!! Sama kayak Ara, pel*acur murahan!!” teriak Aca.
Aca bangkit, dan langsung berdiri untuk menyerang Jessline. Ia melepaskan sepatu high heels-nya, kemudian mengarahkan ke arah Jessline dengan sekuat tenaga bercampur amarah.
Morgan yang mengetahui itu, mendelik dan segera melindungi Jessline dengan tubuhnya.
“Aahh ....” teriak Jess.
“Brukk ....”
“Tes ....”
“Tes ....”
Semua mata tertuju pada Morgan, yang saat ini sudah terkena hantaman ulah dari Aca.
Kepala Morgan terkena hantaman dari high heels yang Aca tujukan untuk Jess. Hantaman itu cukup keras, sehingga membuat setiap darah segar bercucuran ke atas aspal, dan tak sengaja mengenai seragam Jessline, membuat mereka histeris kaget.
“Gan, darah!” teriak Dicky yang khawatir dengan keadaan Morgan.
Morgan melihat darahnya yang terus menetes ke atas aspal, membuat kepalanya agak pusing saat ini. Pandangannya kabur, sehingga ia harus ekstra untuk membuat pandangannya benar kembali.
Jessline mendelik, karena ia merasa kalau Morgan sudah sangat peduli dengannya. Ia tak menyangka, kalau Morgan akan melakukan ini demi melindungi dirinya.
__ADS_1
Aca yang linglung, menjatuhkan high heels yang ia gunakan untuk menghajar Morgan. Ia sudah lemas, karena ia salah mengenai sasaran.
“Dasar, cewek gak tahu diri!!” bentak Lidya, yang tidak terima dengan perlakuan Aca pada Morgan.
Morgan menoleh ke arah Aca dengan sangat elegan. Selain karena untuk menjaga image-nya, ia juga tidak ingin membuat semua orang panik dengan keadaannya.
“Kamu ...,” lirih Morgan, membuat Aca mendelik takut, “jangan sekali-sekali menyentuh adik-adik saya lagi!!” teriak Morgan dengan perasaan yang sudah sangat geram, membuat sekujur tubuh Aca menggigil karenanya.
“Aku gak bermaksud--” ucapan Aca terpotong, karena Lidya yang sudah menghampirinya dan segera meringkus dirinya.
“Tangkap!” Dicky melemparkan sebuah borgol ke arah Lidya, dan dengan sigap Lidya pun menangkap borgol tersebut, dan segera memasangkannya kepada Aca.
“Jelaskan saja di kantor polisi nanti,” ucap Lidya yang emosinya sudah mulai tersulut.
Lidya membawa pergi Aca dengan paksa, membuat Aca memberontak di setiap langkahnya.
“Awas kamu Morgan, aku akan balas semua yang sudah terjadi sekarang! Tunggu aja!” teriak Aca, yang sedang ditarik paksa oleh Lidya.
Kini, Aca sudah dibawa pergi oleh Lidya. Saat ini, hanya menyisakan suasana sendu saja.
Jess masih melihat ke arah Morgan, yang masih memeluknya dengan erat.
Aku tidak menyangka, Kak Morgan akan melakukan semua ini untukku. Padahal dia tahu, aku bukan siapa-siapa baginya. Dan juga, ia menyebut aku dengan sebutan “adik-adiknya”. Apa ... dia sudah bisa menerimaku sebagai adiknya sekarang? Pikir Jess, yang masih tidak menyangka dengan yang Morgan lakukan ini.
“Gan, loe gak apa-apa?” tanya Dicky, namun Morgan sama sekali tidak menghiraukan pertanyaannya.
Morgan merenggangkan pelukannya, “kamu gak apa-apa, Jess?” tanya Morgan, yang sukses membuat air mata Jess seketika membanjiri pipinya.
Morgan yang melihatnya, kebingungan karena Jessline yang tiba-tiba saja menangis.
Jessline sudah tidak bisa berkata apa pun lagi. Ia hanya bisa memeluk Morgan dengan sangat erat, membuat Morgan agak bingung melihat respon Morgan yang demikian.
Dicky hanya bisa tersenyum melihat kejadian langka ini. Dengan segera, ia mengeluarkan ponselnya, untuk merekam Jess yang sedang menangis di pelukan Morgan.
‘Dasar Morgan idiot. Pasti dia gak tahu alasan Jessline menangis seperti itu,’ batin Dicky yang hanya bisa menertawakan Morgan.
...***...
__ADS_1