Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Tumpuan Beban


__ADS_3

Mengetahui Ara yang membuka pintu rumah, Ilham pun hanya diam, sembari memandang Ara yang berlarian menuju ke kamarnya.


"Ra!" pekik Reza dengan keras, membuat Ilham segera menghadangnya di depan pintu masuk.


"Jangan kamu melangkah, lebih dari ini!" bentak Ilham, memperingati Reza yang sedang dilanda resah.


Reza memandangnya dengan tatapan tajam, "Gak ada hubungannya sama kamu!" bentak Reza, membuat Ilham tersenyum hangat padanya.


Tentu saja senyuman Ilham adalah senyuman kepalsuan, yang hanya ia sendiri yang mengetahuinya. Entah Reza menyadari atau tidak, Ilham sebisa mungkin untuk menutupi senyumannya itu.


"Ada, kok," ucap Ilham, membuat Reza mendelik.


"Tahu apa kamu, hah?" tanya Reza hampir setengah membentak ke arah Ilham.


Mendengar reaksi Reza yang sudah tak terkendali lagi, Ilham pun menatap Reza dengan sangat serius, hampir membuat Reza gentar melihatnya.


"Perlu kamu ingat, saya lebih tahu tentang Ara, dibanding kamu!" ucap Ilham, yang berusaha menekankan pada Reza, membuat Reza sedikit banyaknya terguncang karena ucapan Ilham padanya.


"Apa hubungannya kamu sama dia?" tanya Reza dengan datar, membuat Ilham lagi-lagi tak bisa menjawabnya.


Ilham hanya diam, sembari memperhatikan manik mata Reza yang sudah dipenuhi dengan kebencian.


"Pintu keluarnya di sebelah sana," gumam Ilham yang berusaha mengalihkan pembicaraan, membuat Reza terdiam.


Reza kembali menatap Ilham dengan tatapan sengit, seperti sedang memandang musuhnya, "Kenapa? Kamu gak bisa jawab, kalau kamu bukan siapa-siapanya Ara?" tanya Reza dengan sinis, membuat Ilham semakin terpojokkan dengan pertanyaannya.


Mendengar masih ada suara ribut-ribut di luar, Ara pun mendelik kesal, "Kenapa sih dia masih ada di sini?" gumam Ara kesal, kemudian segera menghampiri mereka kembali di sana.


"Jawab dong! Kamu siapanya Ara, sampai kamu bilang kalau kamu lebih tahu Ara dibanding saya?" tanya Reza semakin sengit, membuat Ilham menghela napasnya panjang.

__ADS_1


"Baiklah, saya pacarnya Ara saat ini," gumam Ilham, membuat Reza tak bisa menahan tawanya.


Mendengar hal itu, Ara pun terdiam memandang mereka yang sedang asyik berbincang.


Tawa Reza pecah seketika, membuat Ara geram dengan sikap dan tingkah lakunya yang selalu menyudutkan Ilham yang tidak memiliki salah.


"Kamu, pacarnya Ara? Apa Ara gak salah lihat? Kenapa Ara bisa suka sama pria yang usianya jauh di atasnya? Berbicara formal, sikap kaku, dan gak ada gaya hidup seperti kamu, mana mau Ara sama kamu. Jauh lebih baik Ara bersama Morgan, dibandingkan bersama kamu!" ucap Reza membuat Ilham mendelik seketika, mendengar ucapannya itu.


Mendengar nama Morgan, seketika Ara semakin menjadi kesal, dan tidak ingin membiarkan Reza terlalu lama memojokkan Ilham.


'Lama-lama kurang ajar si Reza ini!' batin Ara, membuat dirinya menghampiri Reza dan Ilham yang sedang berseteru itu.


"Apa kamu bilang, Za?" tanya Ara dengan sinis, membuat Reza segera memandang ke arah Ara.


"Ra, ini pacar loe sekarang? Haha, kok begini modelnya, sih? Kenapa putus dari gue, loe malah pilih cowok yang asal-asalan begini? Eh tapi, gue akui Morgan emang keren, sih. Jauh lah ... dibandingkan dengan cowok yang ada di hadapan gue saat ini," celetuk Reza dengan asal, membuat Ilham mengepalkan tangannya, saking terpancing dirinya dengan ucapan Reza yang tajam.


Bukan karena dia mem-bully Ilham, tetapi karena Reza yang selalu membandingkan dirinya dengan Morgan, yang memang jelas lebih baik daripada Ilham.


Ara menampar Reza dengan sangat kesal, membuat Ilham dan Reza mendelik tak percaya dengan yang Ara lakukan.


Baru ingin saya beri pelajaran laki-laki tidak tahu diri ini, tetapi Ara sudah menamparnya lebih dulu, pikir Ilham, yang tak percaya dengan yang Ara lakukan.


Reza mendelik, dan kembali menatap ke arah Ara dengan tatapan kesal, "Loe nampar gue, Ra?" tanya Reza dengan sangat kesal, karena ini adalah kali pertama Ara menampar wajah Reza.


Ara mendelik, "Ya! Terus, loe mau apa? Mau nampar gue balik? Tampar nih!" bentak Ara, membuat Reza mendelik tak percaya dengan apa yang Ara lakukan.


"Gue gak nyangka, loe begini, Ra!" gumam Reza dengan tatapan penuh dengan pertanyaan.


"Gue lebih gak nyangka sama sikap dan omongan loe yang gak pake filter! Gue peringatin ya, Za, jangan pernah loe muncul lagi di hadapan gue! Jangan pernah loe ganggu gue lagi, dan jangan pernah loe nginjak rumah ini lagi!" bentak Ara dengan emosi yang meluap-luap, membuat Ilham dan Reza sama-sama tercengang dengan yang Ara ucapkan.

__ADS_1


"Gue gak nyangka ya, kenapa loe berubah begini, Ra? Padahal, gue udah susah payah balik ke loe, dengan perasaan yang gak pernah sedikit pun hilang buat loe," gumam Reza membuat Ara menafikan pandangannya, "apa karena pria kaku ini, loe jadi begini, Ra?" tanya Reza membuat Ara mendelik dan segera menoleh ke arahnya.


"Cukup, Za! Yang loe bilang pria kaku ini, pacar gue! Loe gak berhak buat ngatain dia sembarangan!" bentak Ara, membuat Ilham dan Reza mendelik tak percaya dengan apa yang mereka dengar.


Reza kehabisan kata-kata, ketika mendengar langsung ucapan Ara yang membenarkan status mereka. Reza tertunduk setelah mendengar ucapannya.


"Jadi bener, dia itu pacar loe?" tanya Reza tanpa memandang ke arah Ara.


Ara pun menatap Reza dengan mantap, "Ya! Bahkan sebentar lagi, gue sama Kak Ilham akan menikah, jadi gue minta sama loe, buat jauhin gue sejauh mungkin!!" bentak Ara, yang membuat Reza semakin menderita mendengarnya.


Ara memandang seikat bunga yang sedari tadi Reza pegang, "Bawa balik bunga loe! Gue gak sudi nerima apa pun pemberian loe!" bentak Ara, yang langsung meninggalkan Ilham dan Reza di sana.


Kata-kata Ara membuat jantung Ilham mendadak terpacu, saking tak bisanya menerima ucapan Ara. Walaupun terkesan asal mengucapkannya, tapi Ilham sedikit banyaknya juga berharap dengan apa yang baru saja Ara katakan.


"Tukk ...."


Seikat bunga yang Reza pegang pun kini jatuh di atas lantai. Mendengar hal itu keluar dari mulut Ara, membuat Reza merasa perjuangannya selama ini sia-sia untuk bisa sembuh dari penyakit yang ia derita.


Reza merasa sudah gagal.


Reza pun berbalik, sembari terus-menerus menghela napasnya. Ia berusaha menahan tangisnya yang mungkin saja akan keluar dari pelupuk matanya sebentar lagi.


"Glekk ...."


Reza menelan salivanya dengan kasar, membuat dirinya terlihat seperti orang yang sedang kecewa.


"Tolong jaga Ara," gumam Reza pada Ilham, tanpa memandang ke arahnya.


Ucapan Reza, seakan-akan menumpukan beban yang sangat berat untuk Ilham, padahal Ilham sadar kalau ucapan Ara hanyalah asal, dan mungkin saja hanya supaya Reza membenci dirinya.

__ADS_1


"Pasti."


...***...


__ADS_2