Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Pacaran With Bocil Belike


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Arash segera masuk ke dalam kamarnya, yang pintunya tidak tertutup. Ia melihat ruangan yang sangat gelap, karena lampu pada ruang kamarnya yang padam, membuat ia tak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas.


"Kok gelap, ya?" lirih Arash, kemudian ia mengulurkan tangannya untuk membuka sakelar lampu.


"Ctrekk ...."


Arash menekan tombol sakelar lampunya. Ia melihat dengan mata terkejut, Bunga yang saat ini sedang tertidur pulas di ranjang tidur Arash.


Arash mengerenyitkan dahinya, "kenapa dia tidur di kamar saya?" gumam Arash dengan rasa heran yang teramat dalam.


Arash yang sudah kelelahan, ditambah perasaannya yang sedang berbunga-bunga, kali ini melepaskan Bunga, dan tidak ingin membuat masalah. Arash juga berpikir tentang kondisi Bunga yang sudah ia maki-maki tadi.


Arash menghela napasnya panjang, "sudahlah!"


Dengan perasaan kesal, Arash pun menutup pintu kamarnya yang tidak tertutup itu.


Arash bergerak menuju ke sebuah kamar kosong, karena Ares yang saat ini sedang menempati kamar Ara, sehingga Arash tidak mungkin menyelinap masuk ke dalam kamar Ara dan tidur di sebelah Ares.


Pikiran Arash sudah terbuka, karena masih terpikir tentang perkataan Ilham tadi, menyangkut tentang Ares yang tidak boleh tidur bersama dengan Arash lagi, karena sudah beranjak dewasa.


Arash menghela napasnya panjang. Ia membuka pintu kamar tersebut, dan segera menyalakan sakelar lampu.


"Ctrekk ...."


Arash melihat seisi kamar yang cukup rapi. Padahal sebelumnya, kamar ini sangat tidak terawat, karena Arash tidak memperbolehkan bibi untuk membersihkan kamar ini. Entah apa maksudnya.


"Siapa yang beresin kamar, ya?" gumam Arash, yang terheran-heran melihat kondisi kamar.


"Ahh ...."


Arash merebahkan diri di atas ranjang yang masih cukup empuk, setelah sekian lama memakai ranjang yang lama, dan tak pernah diganti.


Arash memandang langit-langit kamar itu, "ranjangnya masih sangat empuk. Padahal, sudah lama sekali saya tidak pernah menyentuh ranjang ini," gumam Arash dengan lirih.


Usut punya usut, ini adalah kamar ibunya, yang terpisah dengan kamar utama yang ditempati oleh ayahnya. Karena permasalahan penyakit ibunya, ibunya selalu mengasingkan diri dan memilih untuk tidur terpisah dengan ayahnya.

__ADS_1


Terlebih lagi, kamar utama yang semula dipakai oleh ayah dan ibunya bersama, sudah ternodai oleh ayahnya yang selalu membawa wanita yang berbeda, termasuk Bunga, untuk ia tiduri.


Hal juga yang merupakan salah satu faktor, yang membuat ibunya kukuh memisahkan dirinya dengan ayahnya.


Saat ini, kamar utama adalah kamar yang saat ini menjadi kamar Arash. Entah kenapa ia memilih untuk menempati kamar yang sudah banyak sejarahnya ayahnya itu. Mungkin karena di dalam keluarganya, kepala keluarga harus menempati kamar utama.


Entahlah.


Dari tempat Arash membaringkan tubuhnya, masih terlihat jelas foto ibunya, yang masih terpampang di dinding kamar itu. Arash memandangnya dengan tatapan miris, seperti seseorang yang sedang merindukan orang yang ia pandang.


"Tolong doakan Arash dari sana, Bu. Arash janji, gak akan sakiti gadis yang saat ini sudah bersama Arash. Arash gak mau kejadian ibu dan ayah terulang lagi di kehidupan Arash. Tolong doakan kami, Bu," gumam Arash, sembari menahan cairan bening yang hampir keluar dari pelupuk matanya.


"Dringg ...."


Handphone Arash berdering, hingga membuat Arash terkejut. Ia melihat seseorang melakukan video call. Dengan segera ia mengangkat telepon itu.


"Halo ...," sapa Arash dengan lembut, karena ia tahu yang menelepon adalah pacarnya, Fla.


"Halo, Kak," jawab Fla, yang masih malu-malu menjawab sapaan Arash.


Arash membalikkan tubuhnya menjadi telengkup, dan menyandarkan handphone-nya di hadapannya.


Melihat wajah Fla yang sudah memerah, membuat Arash tersenyum memandangnya.


"Kenapa udah sampai, tapi gak hubungin aku?" tanya Fla yang ragu, membuat Arash mengerenyitkan dahinya.


"Memangnya harus, ya?" tanya Arash.


"Harus lah!" teriak Fla, tapi buru-buru ia membungkam mulutnya, seperti orang yang kelepasan berbicara, "Ka-kakak kan ... pacar aku sekarang!" ucap Fla dengan spontan.


Arash melontarkan senyumannya, "hmmm gitu. Tapi, sejak kapan kita pacaran? Bukannya ... kamu tadi hanya mengangguk aja," goda Arash, membuat Fla mengerutkan bibirnya.


Hal itu membuat Arash menjadi sangat gemas dengannya.


"Ah ... bikin gemes aja deh," gumam Arash, membuat Fla tersipu malu.

__ADS_1


Arash memiringkan kepalanya, "oke, mulai hari ini, saya pasti akan kasih kamu kabar, setiap menit setiap detik setiap saat," ucap Arash, membuat Fla mendelik kaget.


"Ya gak gitu juga, Kak," lirih Fla, membuat Arash tertawa kecil.


"Ngomong-ngomong, kamu gak ngantuk?" tanya Arash, membuat Fla menggelengkan kepalanya.


Arash menafikan pandangannya sembari tetap tersenyum, 'duh ... alamat bergadang malam ini,' batin Arash yang hanya bisa tersenyum ke arah Fla, yang sangat menggemaskan itu.


"Aku mau ngobrol sama kakak, sampai pagi," gumam Fla, membuat Arash membenamkan wajahnya di bantalnya.


'Benar kan?' batin Arash, yang merasa benar dengan tebakannya.


Arash pun kembali memandang ke arah layar handphone-nya, "sayang ... tidur, ya. Besok kita jalan-jalan lho," ucap Arash dengan lembut, membuat Fla lagi-lagi mengerucutkan bibirnya.


"Tapi aku mau teleponan," gumam Fla yang menggunakan nada anak kecil, semakin Arash gemas dengan sikap yang ia miliki.


'Duh ... andai Ara seperti Fla, yang manja, gak membantah ucapan saya, pasti akan saya manja terus, sama seperti Ares,' batin Arash, yang tiba-tiba saja terpikir dengan sosok adiknya, yang saat ini sedang liburan di Jepang, bersama Morgan.


"Yaudah, kita sama-sama tidur, tapi jangan dimatiin teleponnya," usul Arash, membuat Fla mengangguk kecil.


"Oke, selamat tidur," lirih Arash, yang langsung memejamkan matanya, dengan posisi yang masih telengkup.


Fla yang usil, segera meng-capture gambar Arash yang sedang memejamkan matanya itu. Suatu kebanggaan tersendiri, jika Fla bisa mengumpulkan aib pacarnya yang terlihat sangat sempurna itu.


Fla melihat kembali hasil tangkap layar dari wajah Arash. Ia terpesona dengan wajah Arash, yang saat tertidur pun masih saja terlihat tampan.


'Duh ... perfect banget pacar aku!' batin Fla, yang senang sendiri dengan aktivitasnya yang mengasyikan baginya.


Fla pun bersiap, dengan dirinya yang juga meletakkan handphone di dekat ranjang tidurnya, dan juga mengikuti Arash yang tertidur menelengkup seperti itu.


Mereka pun sama-sama memejamkan mata dengan handphone yang masih menyala.


Bunga yang mengintipnya sedikit dari balik pintu, langsung merasakan kesedihan yang teramat dalam, karena ternyata hubungan mereka bukanlah seperti yang ia kira.


Bunga menutup kembali pintu kamar itu, dan segera berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada dinding luar kamarnya. Ia tak kuasa menahan tangisannya.

__ADS_1


'Ternyata mereka benar-benar menjalin hubungan,' batin Bunga, yang kini tangisnya sudah pecah karena tak kuasa menahan kesedihannya.


...***...


__ADS_2