
“Brukkkk ....”
Mereka menghempaskan diri masing-masing ke atas ranjang. Ara hanya berani menatap langit-langit hotel tak berani untuk menatap ke arah Morgan.
Kenapa aku bisa terjebak dalam situasi seperti ini dengan orang yang dulunya aku benci? Aku tidak berani mengatakan aku mencintainya. Namun, aku juga tidak mau jika harus kehilangan dirinya. Betapa egoisnya diriku yang hanya memikirkan perasaanku sendiri, tanpa memikirkan perasaan Morgan. Aku tidak tahu, siapa saja yang sedang didekati atau mendekati Morgan saat ini. Yang jelas, aku nyaman berada di dekatnya seperti ini. Meskipun tanpa status, pikir Ara sembari tersenyum menatap ke atas langit-langit kamar.
Sepertinya, Ara sudah mulai bisa menerima keberadaan Morgan di hatinya. Ia tidak mempedulikan sikap Morgan, yang selalu membuatnya marah dan kesal. Hanya karena Morgan mengatakan kebenaran dari masa lalunya, membuat pintu hati Ara menjadi terketuk, dan bisa menerima Morgan sebagai kekasih di hatinya.
Ara juga memikirkan masa depan dirinya yang mungkin sudah tidak ada lagi baginya. Siapa yang tidak was-was?
Ara memikirkan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ini semua menyangkut tentang hatinya.
Saat ini, Ara mengalami dilematik yang sangat besar. Ia bingung, dengan keadaan hatinya, yang sampai detik ini pun, masih belum bisa ditebak.
Ara menyatukan ujung jari telunjuknya, dengan ujung jari telunjuk lainnya. Ara memikirkan tentang perasaannya dengan Morgan.
Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi dia. Dia yang terlalu baik, dia yang mencintai aku, dengan sepenuh hati. Apa masih pantas, diri ini meraih kebahagiaan bersama dengan orang yang selalu bersikap dingin padaku? Pikir Ara.
Suasana malam ini, membuat Ara menjadi semakin berbunga. Mengingat dirinya yang saat ini sedang bersama dengan Morgan.
Ara tersenyum, karena mengingat ucapan pernyataan cintanya pada Morgan padanya.
‘Apa … gue kasih jawaban pernyataan cintanya sekarang aja kali, ya?’ batin Ara, mulai berpikir tentang jawaban yang akan ia berikan pada Morgan.
Ara kembali memandang ke arah langi-langit kamar.
“Mmm ... Gan?” pekik Ara tanpa melihat ke arah Morgan sama sekali, tapi tidak ada jawaban apa pun dari Morgan.
Ara mengerenyit, “soal ... ucapan pernyataan cinta loe yang tadi …,” ucap Ara dengan sangat malu dan ragu.
Morgan masih tidak bergumam, tapi Ara tidak mempedulikannya.
“Gue ... gue ....”
Ara ragu untuk mengatakannya. Sepertinya ada hal yang mengganjal di hatinya.
Kenapa Morgan hanya diam saja sejak awal aku berbicara padanya? Pikir Ara yang kebingungan dengan Morgan.
Ara pun menoleh ke arah Morgan. Terlihat Morgan yang sudah memejamkan matanya, membuat Ara menganga dan menjadi kesal karenanya.
__ADS_1
Secepat itukah ia tertidur? Aku bahkan belum menyelesaikan ucapanku. Ia malah sudah tidur dengan pulasnya, pikir Ara yang geram dengan Morgan.
“Dasar! Diajak ngomong malah tidur!” lirih Ara dengan sinis.
Ara takut jika teriakannya membangunkan Morgan yang terlihat sudah tertidur pulas itu.
Ara memandang wajah polosnya yang sedang tidak sadarkan diri itu. Morgan terlihat sangat menggemaskan ketika ia sedang tidur.
“Loe itu sebenernya gimana sih? Kok bisa sih, gue ketarik ulur begini sama loe?” lirih Ara sembari memandangi wajahnya dengan lekat, “gue pengen ngasih loe ucapan terima kasih, karena udah ngasih gue kalung ini,” tambah Ara.
Ara menyingkirkan rambut panjang Morgan yang sudah menutupi matanya.
Ara tersenyum, sembari menatapnya lekat, “makasih ya kalungnya,” lirih Ara.
Ara mempersiapkan dirinya.
“Cups ....”
Ara mengecup sekilas bibir Morgan. Paling tidak, Ara sudah berterimakasih padanya. Soal ia tahu atau tidak, itu urusan nanti.
“Kalau mau cium, yang bener dong,” ucap Morgan yang tiba-tiba membuat Ara terkejut.
“Haaaa …,” Ara berteriak, dan beranjak bangkit dari atas tubuh Morgan.
Morgan yang mengetahui sikap Ara, langsung menghubah sikapnya.
“Happp ....” Morgan menahan tubuh Ara dengan melingkarkan lengannya
mengitari tubuh Ara, membuat Ara tidak bisa berkutik lagi.
“Apaan sih! Lepasin!” bentak Ara pada Morgan.
Morgan hanya diam sembari menatap Ara dengan lekat. Morgan tersenyum jahil ke arah Ara, membuat Ara yang risih melihat senyumannya, seketika langsung memejamkan matanya.
Morgan meraba pipi dan area leher Ara. Seketika, Ara kaget dengan responnya dan mulai menatap Morgan.
Pandangan mereka bertemu, membuat mereka saling bertatapan dengan tatapan yang sangat lekat.
“Mau bersenang-senang?” tanya Morgan pada Ara.
__ADS_1
Wajah Ara seketika menjadi terasa panas. Ara tidak menyangka, Morgan akan bertanya seperti itu, membuat dirinya menjadi tidak keruan.
Ara hanya memandang wajah Morgan, yang saat ini sudah berganti posisi menjadi sedang menindih di atasnya.
Cinta ... apakah seindah ini?
Morgan menatapnya dengan genit, “yuk …,” ajak Morgan.
Sejujurnya, Ara memang sudah merindukan Morgan.
Padahal, baru saja mereka merasakan hal yang indah malam tadi. Tapi, Ara sudah rindu dengan belaian Morgan. Apalagi, mereka sedang berada di tempat yang paling nyaman, menurutnya.
Tapi memang dasar Ara. Ia masih saja memikirkan harga dirinya. Ia tidak ingin terlihat seperti gadis yang tidak memiliki harga diri.
“Awas! Gu-gue mau tidur!” ucap Ara yang mulai malu dengan pandangan tajam Morgan itu.
Morgan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya ke mana pun, membuat Ara semakin gugup dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.
“Yuk, saya rindu,” lirih Morgan, yang membuat Ara secara tidak langsung tersenyum padanya.
Mereka saling melontarkan senyum satu sama lain. Ara merasa, sudah tidak ada lagi perasaan yang membuat dirinya menolak cinta dari Morgan. Ara ingin menjalin hubungan yang lebih dari ini dengannya. Ara pun sudah siap untuk menerima cinta dari Morgan.
Tidak ada hal yang bisa membuat Ara menolaknya lagi. Hanya saja, ia harus terbiasa untuk mengerti dengan keadaan Morgan, yang ia tahu itu tidak mungkin bisa Morgan lupakan dengan cepat.
Morgan menempelkan kepalanya ke atas kepala Ara, membuat Ara tersenyum saat menerima benturan kecil darinya.
Ara tak bisa memungkiri, bahwa dirinya ternyata juga sangat mencintai Morgan dan menginginkan Morgan untuk menjadi kekasihnya .
Kenapa aku baru menyadari perasaanku sekarang padanya? Ke mana pikiranku selama ini? Apa karena masih berat dengan masa laluku dengan Bisma? Hmm ... aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nantinya, pikir Ara.
Ara baru menyadari tentang perasaan yang sudah ada selama ini untuk Morgan. Tapi, Ara baru mengenal latar belakangnya sekarang. Ara pun tidak bisa menyalahkan Morgan sepenuhnya, untuk sikap yang selalu ia lakukan pada Ara.
Aku juga salah, karena telah salah menilainya, pikir Ara.
Mereka terdiam sesaat, sembari memandang kembali satu sama lain. Ara tersenyum padanya, begitu pun juga dirinya.
“Ra--”
“Gan ….”
__ADS_1