Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Maniak 4


__ADS_3

Bisma terlihat sedang mengambil sesuatu di motornya. Morgan menghindarinya, agar tidak terlalu berpapasan melihat Morgan. Ia mengambil jalan memutar, dan memutari tiang, sehingga Bisma tidak bisa melihatnya ada di sini.


Bisma kembali menuju ke dalam ruangan caffee itu. Sepertinya Morgan aman. Bisma sama sekali tidak melihat keberadaan Morgan.


Morgan aman saat ini.


Tapi, Morgan penasaran. Apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan?


Lagi-lagi Morgan harus menunggu. Jangan sampai, mereka pergi tanpa sepengetahuannya. Ia tidak ingin Ara sampai dilecehkan oleh Bisma.


Firasat Morgan terus-menerus jelek. Ia tidak tahu, sepertinya akan ada kejadian yang buruk, yang tidak bisa terprediksi olehnya, tapi Morgan bisa merasakannya.


“Baiklah, saya rasa, saya harus menunggu di sini,” lirih Morgan, sembari menoleh ke sekelilingnya, khawatir kalau ada yang melihat keberadaannya.


Bisa panjang urusan.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Ara dan Bisma pun keluar dengan kondisi Ara yang sepertinya tidak beres. Morgan melihatnya seperti sedang dipapah oleh Bisma.


‘Ada apa ini? Apa dia mabuk?’ batin Morgan.


Mereka pergi dari caffee ini dengan segera. Morgan merasa, ia harus mengikutinya. Ia khawatir, Ara dilecehkan oleh Bisma. Morgan tidak ingin itu terjadi.


“Mau ke mana mereka?” lirihnya.


Morgan pergi ke dalam mobilnya lalu menginjak pedal gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Morgan tidak ingin kehilangan jejaknya. Dengan penglihatan yang minim, Morgan berusaha mengejar Bisma yang sedang membawa Ara menggunakan motornya. Morgan kesulitan untuk mengikutinya, karena Bisma terlalu cepat untuk mengendarai motornya.


Kenapa Bisma bertindak gegabah seperti itu? Itu pasti akan membuat Ara tak nyaman.


Kalau seperti ini, bagaimana bisa Morgan mengejarnya?


Terlintas di benaknya, seseorang yang bisa membantunya, untuk ia mintai tolong. Ia pasti bisa membantu Morgan.


Morgan menghubunginya di telepon.


“......”


“Maaf mengganggu waktunya, saya harus merepotkan anda kali ini.”


“.....”


“Bantu saya. Ikuti seseorang yang sedang membawa Ara.”


“Jadi, ini tentang si cewek jutek itu?” Terdengar suaranya yang sedang melecehkan Ara.


Morgan tidak punya banyak waktu untuk menanggapi celotehannya itu.


“Jangan banyak bicara. Bantu saya, cepat. Mereka baru saja melewati gang depan rumahmu,” ucap Morgan memberi aba-aba padanya.

__ADS_1


“Okey.”


Morgan mengakhiri telepon dengannya. Berharap, dia bisa menolong Morgan kali ini.


Morgan terpaksa meminta tolong kepada teman sekaligus rival baginya. Dicky, siapa pun tidak akan pernah bisa berbohong darinya. Prediksinya selalu tepat, tentang hal-hal yang berbau psikolog. Ara saja ketahuan menyukainya waktu itu, karena memainkan gestur tubuh yang memancing *****.


Gadis itu sangat bodoh, pikir Morgan.


Tak sadar, satu senyuman mengembang di pipi Morgan, saat ia tak sengaja memikirkan Ara. Morgan tidak bisa lepas darinya sekarang. Tapi jika dipikir kembali, untuk apa Morgan melakukan ini semua, kalau tidak saling menyayangi?


Suasana berubah seketika, saat Morgan tersadar bahwa ia telah kehilangan jejak mereka. Ia menghentikan laju kendaraannya, sembari menoleh ke sekelilingnya.


Ia benar tidak bisa menemukan jejak mereka.


“Drtt ....”


Notifikasi SMS masuk ke handphone-nya. Buru-buru ia melihat ke arahnya.


“Ara dan laki-laki yang tidak saya kenal, menuju ke salah satu hotel. Prediksi saya tepat. Saya sudah tanya pada resepsionisnya untuk memberikan saya kunci cadangan kamar yang mereka pesan. Tapi saya gagal. Mungkin, saya kurang tampan. Haha. Kau saja yang meminta.” Isi pesan singkat dari Dicky, membuat Morgan menjadi kesal.


‘Sial! Apa iya begitu saja dia tidak bisa mengurusnya?’ batin Morgan yang sudah terlanjur kesal.


Tanpa pikir panjang, Morgan langsung melajukan kembali kendaraannya, untuk menuju lokasi yang Dicky berikan.


‘Pokoknya saya harus cepat!’ batin Morgan.


Morgan sudah sampai di lobi hotel yang ia tuju. Tanpa basa-basi, ia langsung memberikan kunci mobilnya kepada secure parking hotel tersebut dan memberikan beberapa lembar uang tips padanya. Morgan berlari menuju lobi hotel dengan perasaan gelisah.


Benar saja firasatnya. Laki-laki brengsek itu memang sudah merencanakan sesuatu yang tidak baik terhadap Ara. Untuk apa dia membawa Ara ke sebuah hotel?


Morgan tidak bisa membiarkan itu terjadi.


Ia berlarian menuju ke arah resepsionis. Di sana sudah ada Dicky yang sudah menunggunya.


“Nah ... ini yang daritadi saya tunggu,” lirih Dicky yang masih terdengar oleh Morgan.


Morgan berhenti dengan napas yang masih tersendat. Morgan berusaha menghela napas dan mengatur napasnya. Ia sudah kehabisan napas karena berlari dengan sangat cepat, tanpa menghiraukan keselamatannya.


Yang ada di pikirannya saat ini, hanya Ara saja.


“Gak perlu banyak basa-basi,” Morgan berlari dan langsung menuju meja resepsionisnya, “kamar atas nama Ara atau Bisma,” ucap Morgan pada resepsionis yang sedang berjaga.


“Ruang VVIP Lantai 30G,” jawab wanita itu dengan aksen yang sangat profesional.


“Tolong berikan kunci cadangan, untuk kami,” pinta Morgan dengan sangat tergesa.


Ia tidak bisa membiarkan ini terjadi.

__ADS_1


“Oh maaf sekali, Pak. Kami tidak bisa memberikannya untuk alasan apa pun,” tolaknya, membuat Morgan sangat marah dengan dirinya sendiri saat itu.


Ia merasa dirinya menjadi sangat tidak berguna.


Andai saja saya lebih cepat sedikit untuk sampai, pikirnya.


“Ini menyangkut harga diri tunangan saya, Mbak!” bentak Morgan berusaha menjelaskan apa yang terjadi saat ini.


“Kami mengerti, Pak. Tapi maaf, ini kebijakan dan peraturan dari hotel.”


Morgan membuang pandangannya, saking kesalnya. Ia melihat Dicky, sedang memandang ke arahnya, seperti ingin memintanya untuk memberikan penjelasan tentang apa yang barusan ia dengar. Tapi Morgan sama sekali tidak punya waktu untuk menjelaskan.


“Kecuali--” ucap resepsionis itu menggantung.


Morgan dan Dicky saling memandang mendengar pengecualiannya.


***


Morgan berlari menuju lift yang akan ia naiki. Ia sangat terburu-buru, sampai lagi-lagi lupa dengan keselamatannya.


Morgan melihat Ara dan Bisma yang sudah memasuki lift di ujung sana. Ia berlarian dengan sangat tergesa, berharap bisa menghalangi mereka.


‘****! Itu mereka!’ batin Morgan kesal.


Ia berusaha untuk menghalangi lift-nya, agar mereka tidak bisa pergi ke tempat yang sudah mereka pesan.


Namun Morgan tidak sempat untuk menahannya. Pintu lift sudah terkunci saat ini, dengan membawa mereka yang ada di dalamnya.


Morgan menatap pintu lift yang sudah tertutup, dengan sangat kesal.


“Argh!” teriaknya yang kesal dengan keadaan.


Dicky terlihat sedang berusaha memencet tombol lift yang sebelahnya.


“Sial! Masih lantai 15! Kita gak akan sempat!” gumam Dicky yang terus terngiang di telinganya.


Morgan mendelik, karena teringat sesuatu di benaknya.


Tunggu, aku melupakan sesuatu, pikir Morgan.


Morgan spontan menoleh ke arah Dicky, yang ternyata juga sedang menoleh ke arahnya.


“Tangga darurat!” ucap kami bersamaan secara spontan.


Morgan dan Dicky langsung pergi meninggalkan lift itu, untuk menuju ke arah tangga darurat.


Morgan berusaha agar ia tidak begitu terlambat.

__ADS_1


‘Ra, tunggu saya, ya,’ batinnya cemas.


__ADS_2