Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Percayalah!


__ADS_3

"Iya kamu ngigau, katanya kamu gak mau jauh-jauh dari aku," jawab Arash asal, membuat wajah Fla seketika memerah karena malu dengan kelakuan dirinya yang di bawah alam sadar.


Fla menutup wajahnya karena merasa sangat malu dengan Arash. Arash memandang lekat Fla yang berada di sebelahnya saat ini.


"Kakak juga gak mau jauh-jauh kok dari kamu," gumam Arash, membuat Fla terdiam dan segera menatap Arash.


Jantung Fla terus-menerus bergetar. Ia tak menyangka, kalau kekuatan cinta akan benar terjadi. Buktinya saja, Arash sampai terus-menerus melakukan hal manis untuknya.


Rasa trauma di hati Fla, perlahan sirna karena ketulusan Arash dalam berusaha mencintai dirinya.


Tak sadar, Fla pun tersenyum manis padanya, membuat Arash mendadak gemas padanya.


"Kakak udah bisa nerima aku?" tanya Fla, membuat Arash tersenyum manis padanya.


"Ya. Sepertinya, kita harus sering-sering menghabiskan waktu bersama, biar semakin cepat muncul rasa cinta ini," jawab Arash, membuat Fla tersipu malu.


Tidak sia-sia perasaannya selama ini. Awalnya pun Fla tidak menyangka, kalau dirinya sangat menyukai Arash. Tapi seiring waktu, Fla akhirnya terjatuh ke dalam perasaan yang memabukkan, walaupun pada awalnya Arash sama sekali tidak bisa menerima dirinya.


Tapi, bagaimana kita melawan takdir yang diberikan Tuhan? Sebesar apa pun kita melawan, sebesar itu pula Tuhan semakin mendekatkannya pada kita.


"Besok kamu kuliah?" tanya Arash, membuat Fla menggelengkan kepalanya.


"Aku free sampai awal masuk semester nanti. Kira-kira 2 bulan ke depan," jawab Fla, membuat Arash mengangguk-anggukan kepalanya.


Fla menatapnya lekat, "Kakak besok kerja, kan?" tanya Fla, membuat Arash menyeringai.


"Kerja. Sudah banyak proposal yang menumpuk, dan harus segera ditandangani," jawab Arash.


"Oh gitu. Mau aku bawain makanan, gak?" tanya Fla, membuat Arash mendelik kaget mendengarnya.


Arash menyentuh pipi kiri Fla, "Kakak order aja. Kamu jangan capek-capek. Nanti kalau ada waktu luang, Kakak main ke rumah kamu," ucap Arash dengan lembut, membuat Fla tak henti-hentinya tersenyum padanya.


Di sana, Jessline kembali memperhatikan mereka dari atas balkon rumahnya, sembari memegang segelas sirup di tangannya.

__ADS_1


"Pada akhirnya dia bisa melupakan aku," gumam Jessline yang berusaha menerima semua yang sudah terjadi antara dirinya dan juga Arash.


Jess menghela napasnya panjang, "mungkin memang seharusnya seperti ini," gumam dirinya, yang masih teringat dengan kata-kata Morgan waktu itu, yang memintanya untuk berdamai dengan Fla, selayaknya kakak dan adik kandung.


Bagi Jessline yang sudah lama menginginkan sebuah keluarga yang utuh, hal-hal seperti percintaannya dengan pria sudah tidak penting lagi baginya. Yang ia butuhkan hanyalah keharmonisan dalam keluarganya saat ini.


Walaupun tak bisa dipungkiri, bahwa Jess juga sangat menyukai Arash, tapi rasa suka dirinya pada Fla dan keluarga ini jauh lebih penting dari segalanya.


Sedikit perkataan Morgan waktu itu, bisa mengubah kepribadian Jessline dalam sekejap. Terlebih lagi, circle pertemanannya di kampus, yang sudah tidak sehat lagi menurutnya, membuatnya sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, selain keluarga ini.


Walau masih belum bisa mengungkapkan perasaan dan isi hatinya, paling tidak Jess sudah bisa mengubah kepribadiannya lebih dulu. Itu sudah merupakan suatu kemajuan yang sangat pesat bagi seorang introvert seperti dirinya.


Jessline memandang ke arah Arash, yang hendak mengecup bibir Fla dengan mesra, membuat dirinya lagi-lagi harus membalikkan tubuhnya, dan tidak memperhatikan mereka lagi.


Jess menenggak sedikit minuman yang ia pegang di tangannya.


Dan itulah akhir dari kisah Jessline dan juga Arash, yang kini berganti menjadi kisah Fla dan juga Arash.


Masa silih berganti, entah ada atau tiadanya dirinya yang selalu menemani, hendaknya kita bersyukur kepada Tuhan, karena mungkin Tuhan akan menyiapkan rencananya yang lebih indah dari yang telah kita rencanakan.


...***...


Ara terbangun dari tidurnya, karena tiba-tiba saja ia memikirkan sesuatu. Ara pun bangkit dari tidurnya, sembari memegangi kepalanya yang sakit.


Teman-temannya Morgan, apa mereka semua masih ada di sini? Pikir Ara yang khawatir dengan keadaan mereka.


Ia melirik ke arah jam dinding dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, membuat Ara terkejut dan segera bangkit dari tempat tidurnya.


"Ih, udah pagi ternyata," gumam Ara yang terkejut melihat jam.


Ara menuju ruang tamu tempat mereka berdiskusi. Betapa terkejutnya dirinya saat melihat Morgan dan teman-temannya yang terlihat sudah tidak sadarkan diri lagi, terkecuali Junhey. Ia nampak asyik memandangi layar handphone-nya.


"Lho kenapa pada tidur di sini?" tanya Ara.

__ADS_1


Junhey langsung mengubah fokusnya ke arah Ara. Ia tersenyum kepada Ara, entah apa arti dari senyumannya itu.


"Mereka mabuk," ucapnya menjelaskan dengan singkat.


Ara hanya mengangguk-angguk kecil, setelah mendengar penjelasan darinya.


"Terus kamu kenapa nggak ikut mabuk juga?" tanya Ara yang membuat Junhey tertawa terbahak-bahak.


Hal itu membuat Ara menjadi bingung, apa ada yang salah dengan ucapan aku? Pikir Ara terheran-heran.


Ia menghentikan tawanya, "kamu polos sekali. Kalau aku juga mabuk, siapa yang menjaga mereka? Bagaimana jika ada hal-hal yang tidak terduga di saat mereka tidak sadar?" ucapannya terdengar sangat menjebak, membuat Ara seolah-olah terlihat bodoh di hadapannya.


Ara menatapnya lekat, harus aku akui, aku memang mungkin sangat polos baginya. Mungkin karena keadaan saat ini yang baru saja bangun tidur, aku jadi belum bisa mencerna ucapanku, pikir Ara yang sedikit kesal padanya.


"Iya, kamu betul. Terima kasih, ya!" ucap Ara dengan nada datar, ia terlihat tersenyum jahil ke arah Ara.


"Maaf jika kehadiran diriku mungkin saja mengusik kamu. Tapi aku bukanlah seperti yang Morgan pikir. Dan aku pun sudah menyelesaikan masalahku dengan Morgan. Sekarang, kami semua sudah dalam hubungan yang baik-baik saja," ujarnya terdengar sangat serius, membuat Ara juga bersikap lebih serius padanya.


"Jika memang seperti itu, aku akan menanyakannya langsung besok, pada Morgan," ucap Ara dengan datar, namun Junhey masih saja tersenyum ke arahnya.


"Kamu bisa tidur di kamarku jika kamu mau," tawarnya.


"Aku tidur di sini aja. Mereka biarin aja tidur di sini," tolak Ara yang masih berjaga-jaga dengan sikap Junhey.


Ia pun bangkit dari tempatnya dan berdiri di hadapan Ara, "kalau ada apa-apa, aku ada di sebelah. Permisi," pamitnya kemudian segera pergi meninggalkan Ara.


Ara menjadi iba, karena melihat mereka yang sedang tertidur di atas sofa dengan posisi yang acak, karena terlalu mabuk meminum alkohol.


Ara mendelik, "lagian pakai segala minum shochu sih!" ucap Ara dengan kesal, yang lalu segera meninggalkan mereka.


Sudahlah, biarkan Morgan bersenang-senang bersama dengan kawan-kawannya. Lagi pula, mereka bukannya setiap hari seperti ini, pikir Ara yang berusaha menerima semua kejadian malam ini.


Ara pun kembali ke ranjangnya, dan segera melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2