Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Malam Pertama 2


__ADS_3

Ilham sudah menyelesaikan mandinya. Ia melangkah keluar ruangan, dengan rambut yang masih basah, dan menggunakan kaos putih polos yang ia kenakan sejak pagi. Ia juga mengenakan celana boxer pendek yang juga ia kenakan sejak pagi, karena ia lupa mempersiapkan baju salin, saking gugupnya ia dengan keadaan tadi.


'Kenapa saya bodoh, gak bawa salinan baju?' batin Ilham yang sudah terlanjur malu dengan Ara.


Sebisa mungkin Ilham menutupi area pinggang ke bawah, dengan menggunakan handuk kecil yang beruntung sudah tersedia di kamar mandinya. Ia sampai tidak fokus dengan area pinggang ke atas, yang kaosnya sudah basah terkena sisa air yang masih ada di tubuhnya.


Ilham melihat Ara yang sudah selesai mengganti gaunnya dengan kaos, dan juga celana panjang, membuat Ilham agak malu memperlihatkan dirinya yang hanya memakai celana pendek saja.


Ara gugup, saat melihat Ilham yang hanya mengenakan celana pendek saja, ada di hadapannya. Namun, dada bidang Ilham mengalihkan Ara, membuatnya tidak bisa konsentrasi dengan keadaan.


'Kenapa malah begini? Kok gue jadi suka ngeliat dada dia? Satisfying gini kok jadinya?' batin Ara yang gugup dengan keadaan.


'Bajunya basah, kenapa kelihatan makin sexy, sih? Mimpi apa gue semalem?' batin Ara yang lama-kelamaan semakin melantur saja.


Ilham menafikan pandangannya karena merasa malu dengan tatapan Ara, "Kamu mandi dulu aja ya, biar segar lagi," gumam Ilham, membuat Ara mendelik kemudian menunduk malu karena sudah memandangi dada Ilham secara berlebihan.


"Oke," gumam Ara, yang tanpa basa-basi segera menuju ke kamar mandi, untuk sekadar membasuh tubuhnya yang sudah lengket itu.


Ilham menghela napas, ketika Ara sudah masuk ke dalam kamar mandi, membuat dirinya menjadi sangat lemas.


Ilham melangkah ke arah meja kerja, yang ada di sudut ruang kamar itu. Ia pun duduk di sana, dan segera mengambil buku catatan kecil, yang selalu ia letakkan di dalam laci meja kerjanya.


Ia menuliskan kalimat curahan hatinya, karena itu adalah rutinitas dirinya, yang ia lakukan setiap malam sebelum tidur. Hal itu sudah ia lakukan sejak ia masih kecil. Di mana pun ia berada, ia selalu akan tetap menulis kejadian yang terjadi pada hari ini.

__ADS_1


..."Hari ini, adalah hari pernikahan saya dan juga gadis yang sangat saya impikan. Akhirnya, semua berjalan seperti yang saya harapkan. Namun, saya masih harus menahan perasaan saya, walaupun dia kini sudah menjadi wanita satu-satunya di dalam hidup saya."...


Ara sudah selesai membasuh tubuhnya, hingga kini tubuhnya terasa sangat enteng. Ia tak sengaja melihat Ilham yang sedang duduk di sudut ruangan, sembari menulis sesuatu di buku catatannya.


Ara pun menghampirinya dan berdiri di hadapannya, "Kak Ilham gak tidur?" tanya Ara, membuat Ilham kaget, dan segera menutup buku catatannya itu.


Ilham menatap ke arah Ara dengan ragu, "Nanti saya tidur, kok. Kamu tidur duluan aja," ucap Ilham, membuat Ara menatapnya dengan sendu.


'Pasti Kak Ilham kecewa, karena malam pertama yang indah bagi dia, justru malah seperti ini. Mau bagaimana lagi? Aku belum bisa nerima dia,' batin Ara, membuat dirinya terasa sesak sendiri.


Ara melangkah menuju ranjang tidurnya, dan merangkak naik ke atas. Dengan sangat pelan, ia merebahkan dirinya di atas ranjang.


'Hari ini lelah sekali,' batin Ara, yang tak sadar sudah memejamkan matanya.


Ilham memandang ke arah Ara, yang sudah tertidur dengan cepatnya. Ia menghela napasnya panjang, karena ruangan sebesar ini, terasa sangat sesak baginya.


Ilham tersenyum memandangnya, kemudian dengan segera, ia menggantung figura itu di dinding kamarnya. Ia melihat sebentar ke arah foto yang sudah terpampang jelas itu.


"Cantik," gumam Ilham, yang pandangannya selalu tertuju ke arah Ara, yang sedang memegang bucket bunga di tangannya.


Ilham meletakkan hadiah yang sudah ia persiapkan untuk ulang tahun Ara, di ranjang sebelah Ara tertidur. Tak lupa ia meletakkan kartu ucapan selamat ulang tahun untuknya. Karena, besok adalah hari ulang tahun Ara. Tepat di tanggal 2 Februari besok pagi, Ara terlahir ke dunia.


Teringat dirinya yang masih berusia 10 tahun, yang sedang berlarian bersama Arash untuk melihat ibu Arash, yang sedang berusaha melahirkan Ara ke dunia. Tepat di hari itulah, Ilham sangat menyukai kehadiran malaikat kecil itu. Ilham juga sangat menginginkan adik, tetapi ternyata takdir tidak memihak padanya.

__ADS_1


Ibunya sudah meninggalkan Ilham ke tempat yang sangat jauh di sana, sejak Ilham baru berusia 2 tahun. Karena itulah, Ilham sama sekali tidak ingat rasanya disayangi oleh sosok seorang ibu. Namun, beruntung ia memiliki seorang ayah yang sangat lembut dengannya. Sama sekali tidak pernah bersikap kasar padanya. Tidak seperti ayah Arash dan Ara, yang memperlakukan kasar mereka.


Ilham menyelimuti Ara dengan selimut yang cukup tebal, agar Ara tidak merasa kedinginan. Ia memandangi Ara dengan tatapan yang sangat dalam, membuat gejolak perasaannya semakin terasa kuat.


"Selamat ulang tahun, istriku," gumam Ilham lirih, khawatir membangunkan istri tercintanya.


Dengan ragu dan tangan yang gemetar, Ilham mengelus rambut Ara dengan sangat lembut, sembari mempersiapkan diri untuk mengecupnya.


'Hanya kecupan selamat ulang tahun. Seharusnya boleh,' batin Ilham, yang berusaha menguatkan dirinya sendiri.


Ia mendekat ke arah Ara, ingin sekali mengecup kening Ara. Namun, ia menghentikan dirinya, dan segera menarik kembali wajahnya untuk menjauh dari wajah polos Ara.


"Selamat ulang tahun," Ilham hanya bisa bergumam lirih kepada Ara.


Ia pun tersenyum, lalu menjauhi Ara untuk kembali ke meja kerjanya, untuk melanjutkan aktivitasnya menorehkan perasaan.


Ilham pun kembali menorehkan kata demi kata, yang ada di dalam hatinya. Sejak kecil, tidak ada siapa pun yang bisa mendengarkan ceritanya. Oleh karena itu, ia selalu mencari kertas dan pulpen, untuk menorehkan semua perasaannya.


Se-introvert itu Ilham selama ini.


Semua perasaan ia kubur sendiri, ditambah lagi kesibukan ayahnya yang membuat Ilham tidak bisa sekadar berbincang dengannya.


..."Memang sejak awal, saya yang sudah menginginkan dirinya. Tidak pernah terpikirkan kalau harus mendapatkan hatinya, ataupun tubuhnya. Saya hanya ingin terus bersamanya, meski dia sama sekali tidak pernah menganggap saya ada."...

__ADS_1


Ilham memandang ke arah Ara yang sudah benar-benar tertidur pulas, membuatnya juga menjadi sangat mengantuk. Ia pun meletakkan kepalanya di atas lengannya, menyandar di atas meja kerjanya. Saking lelahnya, Ilham sudah tidak bisa membuka matanya lagi.


...***...


__ADS_2