Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Penjabaran Masa Lalu 2


__ADS_3

Ilham memandang Ara, "Aku hanya bisa melihat kamu, dan Morgan yang sedang tersenyum memotret kamu, dari celah pintu. Sejak saat itu, aku paham, kalau Morgan mungkin saja menyimpan perasaan dengan kamu," ucap Ilham, membuat air mata Ara menggenang seketika di pelupuknya.


'Jadi benar yang Morgan ceritakan waktu itu?' batin Ara yang merasa bingung dengan keadaan.


"Karena Bunga yang usianya 1 tahun lebih tua di atas aku dan Arash, akhirnya Arash memutuskan untuk merekomendasikan pekerjaan di tempat perusahaan yang sudah ayah kamu dirikan. Bunga bekerja sebagai sekretaris di perusahaan milik ayah kamu. Tanpa disangka, Bunga malah terlihat lebih dekat dengan ayah kamu. Sering aku melihat mereka yang bermesraan di dalam rumah, saat-saat tertentu. Lebih malunya lagi, ternyata ayahku juga berusaha mencari celah saat ayah kamu berbuat kasar terhadap ibu kamu," gumam Ilham sendu, berusaha menundukkan pandangannya.


Ara sama sekali tak menyangka akan hal itu. Ara merasa kalau sepertinya, ia harus mendengarkan penjabaran Ilham dengan saksama.


"Karena marah, Arash sampai terlibat perselisihan dengan ayah kamu, dan sampai akhirnya aku dan ayah dapat kabar, kalau orang tua kamu meninggal karena kejadian itu."


"Tess ...."


Air mata Ara menetes dengan derasnya. Ia tak menyangka, kejadian yang sesungguhnya ternyata seperti itu.


"Aku gak menyangka hubungan Bunga dan ayahnya sampai sedalam itu, sampai ia mengandung. Hal itu membuat Arash menjadi semakin membenci Bunga. Harapan Arash untuk menjadi seorang polisi, pupus seketika. Saking kesalnya, Arash sampai mengusir Bunga dari rumahnya, saat Bunga datang dengan derai air mata yang deras."


Suasana hening, Ara semakin tak sanggup mengendalikan emosinya.


"Tepat di hari pemakaman, aku selalu ada di belakang kalian, tanpa kalian tahu. Karena saat itu, Morgan selalu ada di samping kalian, membuat aku jadi tidak bisa ke sana. Hanya bisa menunggu di balik pohon rindang, yang ada di belakang kalian. Sejujurnya, aku ingin sekali berpamitan untuk yang terakhir kali pada Arash dan juga kamu, tapi langkahku terhenti karena melihat ada Morgan di samping kamu saat itu," ucap Ilham, membuat Ara semakin sendu dibuatnya.


"Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi, tanpa berpamitan dengan kalian. Ayah mengajak aku untuk menghindari situasi seperti ini, karena ayah merasa bersalah sudah membuat konflik ini terjadi. Dia merasa terpukul, terlihat jelas dengan semua tingkah lakunya. Dia terpukul karena kehilangan ibu kamu, Ra," ujar Ilham, membuat Ara mendelik ke arah Ilham.


"Aku pergi, untuk beberapa waktu meninggalkan kamu dan juga Arash. Sejujurnya, aku gak bisa begitu, tapi mau bagaimana lagi? Ayah sudah menyuruh demikian."


Isak tangis Ara terdengar sangat jelas, membuat Ara hampir tidak konsen mendengar penjelasan Ilham. Ilham pun merengkuh lembut Ara ke dalam pelukannya, berusaha menenangkan Ara sebisa yang ia mampu.


"Sebenarnya aku tidak rela meninggalkan kamu. Makanya, aku gak pernah ganti handphone jadul ini, karena semua kenangan aku sama kamu ada di handphone ini. Sampai aku gak pernah ganti foto wallpaper yang ada di sini. Selama itu aku selalu menyimpan rasa rindu aku sama kamu. Sampai akhirnya aku kembali lagi, dan gak sengaja melihat kamu yang berjalan aneh malam itu, dan bertemu beberapa preman," ujar Ilham membuat Ara mendelik heran.

__ADS_1


"Kamu ada di sana?" tanya Ara, membuat Ilham mengangguk kecil.


"Sepulangnya aku ke negara ini, aku langsung melamar pekerjaan di perusahaan Arash. Ternyata, Arash mengerjakan semua pekerjaan ayah kamu dengan sangat baik. Dia rela melepaskan cita dan cinta, demi menanggung semua keperluan kamu. Dia mau melanjutkan perusahaan itu, karena dia ingat kalau dia masih punya kamu sebagai tanggungannya," ujar Ilham, membuat Ara paham dengan semua hal yang sudah kakaknya lakukan selama ini, semata-mata hanya untuk kebahagiaannya.


"Karena ada urusan, Arash jadi minta aku untuk jagain kamu. Gak nyangka malah kamu dikepung preman. Aku udah mau bantu kamu, seperti pahlawan kesiangan, tapi gak nyangka orang itu udah bantu kamu duluan. Saat aku mau bawa kamu pergi, ternyata sudah ada Morgan di sana yang langsung bawa kamu pergi, meninggalkan laki-laki yang udah nolong kamu," ujar Ilham, membuat Ara tersenyum.


"Memang gak punya akhlak Morgan itu," gumam Ara yang memikirkan kebodohan Morgan kala itu.


Ilham tersenyum, melihat Ara tersenyum seperti itu, "Makanya, saya bantu orang itu biar gak habis dibuat sama mereka," gumam Ilham, membuat Ara mendelik kaget.


"Jadi, Hatake kamu yang bantu?" tanya Ara merasa senang mendengarnya, Ilham hanya mengangguk kecil.


"Syukurlah. Kirain, dia babak belur karena dipukulin habis-habisan," ucap Ara yang senang mendengarnya.


Ilham menghela napas sembari tersenyum tipis, "Suamimu yang jago ini, mana tega melihatnya," ucap Ilham, membuat Ara memandangnya dengan malas.


"Itu karena ... pertemuan pertama aku sama kamu, setelah sekian lama. Jadi, aku gak berani buat deketin kamu," jawab Ilham seraya menunduk sendu, membuat Ara tersenyum dibuatnya.


'Ternyata dia orangnya seperti ini,' batin Ara yang merasa sangat gemas dengan sosok Ilham yang sangat lembut baginya.


"Krukk ...."


Tiba-tiba saja terdengar suara dari perut Ara, yang tidak kenal situasi, membuat Ara merasa malu dengan Ilham yang sedang memeluknya erat.


"Nah ... kan lapar," ucap Ilham sembari sedikit menggoda Ara, membuat Ara menyeringai.


Ilham memandang Ara dengan dalam, "Sayang, gimana kalau kita makan? Aku masakin buat kamu deh," ucap Ilham membuat Ara mendelik kaget.

__ADS_1


"Bu-bukannya kamu gak bisa masak?" tanya Ara yang terkejut mendengar ucapan Ilham.


Ilham dengan malu-malu menatap ke arah Ara, "Untuk kamu, semua aku lakukan kok," gumam Ilham dengan sangat serius, membuat Ara tak bisa menahan tawanya.


Ara tertawa kecil mendengar perkataan Ilham. Baginya saat ini, Ilham sudah mulai bersikap terus-terang padanya, membuatnya terlihat sanga bucin di mata Ara.


"Bucin," umpat Ara, sembari berusaha menahan tawanya.


Ilham mendekatkan wajahnya ke arah Ara, "Bucin sama istri sendiri, ada larangannya, ya?" tanya Ilham, membuat Ara tersipu malu.


"Ada," jawab Ara dengan tegas, membuat Ilham mengerenyitkan dahinya.


"Siapa yang larang?" tanya Ilham penasaran.


"Gak ada," jawab Ara, membuat Ilham tertawa kecil karenanya.


"Plin-plan," umpat Ilham, membuat Ara mendelik malas ke arahnya.


"Ngomong apa?" tanya Ara dengan sinis, membuat Ilham tertawa kecil melihat ekspresi Ara yang sangat sulit ditebak.


"Aku cuma bilang, aku sayang kamu," jawab Ilham, membuat Ara mencubit perut Ilham, membuat Ilham tertawa karena menahan geli.


Mereka pun larut dalam perasaan yang selama ini tak terbalas.


Cinta ... tiada yang tahu akhirnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2