Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Konflik Junhey


__ADS_3

Morgan sudah selesai mandi dan sekarang seperti biasa, ia keluar dengan hanya memakai sehelai handuk yang ia lilitkan di sekeliling pinggangnya. Badannya yang kekar, membuat Ara menjadi sedikit mabuk saat melihatnya.


Kenapa aku sampai melupakan tubuh atletis yang Morgan punya? Ia sudah sangat perfect untuk menjadi seorang pacar, pikir Ara, yang terkesima dengan penampilan Morgan itu.


Ia memakai kemeja baru yang ia ambil dari dalam kopernya. Kini, ia sudah selesai dan sedang menyisir rambutnya.


Morgan menoleh ke arah Ara, "saya harus pergi untuk membeli makanan. Bisakah kamu menunggu saya dan jangan kemana-mana sebelum saya kembali?" tanyanya membuat Ara tersadar dan langsung menyeleneh padanya.


Ara mendelik, "bisa gak, kamu pake bahasa sehari-hari aja gitu?" tanya Ara balik.


Nampaknya, Morgan tidak mempedulikan yang Ara bicarakan. Ia meletakkan sisir rambut itu di atas meja dan segera memakai mantel tebalnya.


Apa ini saat yang tepat untuk memberikan hadiahnya padanya? Pikir Ara.


"Aku pergi dulu."


"Cuppp ...."


Ia mengecup kening Ara sekilas, membuat Ara merasa sedih saat dirinya mengecup kening Ara. Morgan pergi dengan mantel yang ia punya, tanpa Ara bisa memberikan hadiahnya lebih dulu.


"Huft ...."


Ara menghela napasnya dengan panjang, "mungkin nanti setelah dia kembali," lirih Ara yang sedih karena sikap Morgan yang kembali dingin, sembari menatap sendu ke arah hadiah itu.


Morgan pergi untuk mencari makan malam, untuk mereka, sekaligus ia ingin menenangkan pikirannya karena cepat atau lambat, ia harus memberitahu tentang dirinya yang akan dipindahtugaskan untuk sementara waktu ke Amerika.


Morgan melangkah ke luar, dan mengunci pintu kamar hotel. Morgan menyimpan kunci kamar di saku mantelnya, tentu saja Ara juga memegang kuncinya. Jadi, Morgan tidak perlu khawatir lagi dengan Ara saat dirinya tidak berada di sampingnya.


"Grep ...."


Seseorang menarik lengan Morgan dengan kasar, membuat Morgan mendelik kaget. Morgan merasa kesal, karena harus berhadapan dengan orang asing lagi.


Morgan menoleh ke arahnya, namun belum sempat Morgan melihatnya secara utuh, orang itu sudah melemparkan tubuh Morgan ke sudut ruangan kamar, di dekat pintu.


"Bruk ...."

__ADS_1


Ia mendekatkan dan memojokkan tubuh Morgan, bahkan menguncinya dengan kedua tangannya yang ia tempelkan di dinding.


Morgan mendelik, "mau apa kamu?" tanya Morgan dengan tatapan sedingin salju.


Wanita itu terlihat takut, melihat ekspresi Morgan yang seperti ini.


Memang sudah sepatutnya seperti itu.


"Saya masih harus membalaskan dendam pacar saya yang mati karena kamu!" bentaknya dengan kasar.


Morgan melihat ke arah pintu kamar wanita itu yang masih terbuka, bagaimana jika semua orang melihat adegan tidak mengenakkan ini? Pikir Morgan.


"Apa kamu yakin, kalau saya yang sudah membunuh Hito?" tanya Moryan kembali kepadanya.


Seketika, wanita bernama Junhey itu, meneteskan air matanya tepat saat Morgan menyebutkan nama Hito. Hal itu membuat Morgan mengerenyitkan dahinya.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Morgan yang mulai iba dengannya.


Aku tidak bisa melihat wanita menangis. Terutama Ara, pikir Morgan.


Morgan hanya diam sembari melihat ekspresi dirinya yang sangat menyedihkan itu.


Morgan tak menghiraukannya dan malah menoleh ke sekelilingnya, "saya bisa saja mendorong kamu," ucap Morgan dengan bahasa yang tidak biasa.


Spontan Junhey pun menoleh ke arah Morgan, yang sedang melihat ke arah pintu kamar Junhey yang masih terbuka. Junhey yang menyadari maksud Morgan, segera menyingkir dan menutup pintu kamarnya.


Morgan merapikan mantelnya yang dibuat berantakan oleh Junhey.


Junhey melangkah menuju ranjangnya, dan duduk di atasnya, "ceritakan dengan detail! Saya mau mendengar semuanya," ucapnya yang terdengar sudah tak sabar dengan keadaan.


Morgan pun mengikuti kemauannya, dan juga duduk bersebelahan dengannya.


"Huft ...."


Morgan menghela napasnya panjang.

__ADS_1


Morgan pun menoleh ke arah wanita itu, "kamu yakin mau mendengarnya?" tanya Morgan, berusaha meyakinkan dirinya.


Ia terlihat tidak bisa konsentrasi karena terus-menerus mengeluarkan air mata tanpa bersuara. Wajahnya selalu ia tutupi dengan cara menunduk.


...-FLASH BACK ON-...


Morgan adalah mahasiswa yang baru lulus S-1 di salah satu universitas ekonomi terbaik di Indonesia. Ia memilih melanjutkan S-2 di University of Tokyo, agar bisa melupakan masa lalunya yang suram, karena masalah wanita. Dengan hijrahnya dirinya, ia berniat untuk move on dan mencari pengganti dari Putri, yang meninggalkannya dengan cara yang tragis.


Saat itu, Morgan mempunyai teman yang sangat pengertian padanya. Sebut saja dia Naoki. Dia yang sudah memberikan Morgan tempat tinggal, sebelum dirinya masuk ke universitas itu. Dan tanpa sadar, ia pun ternyata juga merupakan mahasiswa dari universitas yang ingin Morgan masuki.


Morgan tidak punya kesulitan apa pun mengenai tempat tinggal dan juga untuk makan sehari-harinya.


Setelah masuk ke dalam kampus itu, Morgan merasa kehidupannya jauh lebih tenang dari sebelumnya. Tidak ada yang mengenal dirinya di sini. Morgan aman dari masalah yang tidak ingin ia rasakan keterlibatannya.


Sampai suatu hari, Morgan mendapatkan pekerjaan di suatu bar dekat kampus, untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya, selama belajar di sini. Tidak etis bukan, kalau selama 3 tahun ke depan, Morgan terus bergantung pada Naoki?


Meskipun sepertinya ... Naoki tidak akan keberatan mengenai hal itu.


Setelah beberapa waktu, Morgan menghabiskan waktunya di bar, ia pun bertemu dengan seorang gadis bernama Meygumi. Orang yang sempat ia tolong, karena sedang diganggu oleh beberapa laki-laki hidung belang.


Aksi heroik Morgan itu, mungkin saja mulai membuat Meygumi terkesima padanya.


Morgan pun berpikir, kalau dia harus melupakan Putri, gadis yang sudah tiada itu. Meygumi lama-lama membuat Morgan nyaman dengan sikapnya, hingga dirinya jatuh cinta dengan Meygumi.


Sampai akhirnya, Morgan pun dibantu olehnya dan secara tidak sengaja, keuangannya pun dibantu oleh Meygumi. Morgan diberi tempat tinggal yang layak, sehingga dirinya tidak perlu tinggal lagi di tempat Naoki.


Paling tidak, sampai Morgan mengetahui kalau semuanya sudah diawali dengan kebohongan. Para Laki-laki hidung belang yang Morgan jumpai waktu itu saat di bar, ternyata adalah orang suruhan Meygumi yang dengan sengaja disuruh untuk menjebak Morgan.


Tidak ada yang salah di sini, Morgan hanya merasa tertipu. Ia pun memaafkan Meygumi.


Sampai tiba saatnya, sedalam apa pun bangkai dikubur, pasti akan tercium juga. Setelah Morgan menolaknya terus dan terus untuk tidak melakukan hubungan intim, Meygumi malah melakukannya dengan pria lain tepat di hadapan Morgan.


Kali ini, Morgan sudah tidak bisa memaafkannya lagi.


Hidupnya penuh dengan pemburuan setelahnya. Sampai ia memutuskan untuk membuka hatinya untuk wanita lain. Naoki sudah memperingatkan Morgan untuk tidak melakukannya, dan menyuruh Morgan untuk fokus pada tujuannya, yaitu belajar.

__ADS_1


__ADS_2