Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Triple Party


__ADS_3

Sore ini, Ilham sedang berdiri di hadapan makam sang ibu tercinta. Ia membawa seikat bunga mawar berwarna merah, lalu ia segera meletakkan bunga itu di dekat batu nisan makamnya.


Ilham bersimpuh di hadapan makam sang ibu, merasa sedih karena di saat-saat terpenting dan bahagia di dalam hidupnya, tidak ada sosok seorang ibu yang bisa memberikan arahan padanya.


Ilham menatap batu nisan ibunya dengan sangat sendu, "Bu ... Ilham datang," gumam Ilham, dengan tangisan yang sebentar lagi akan pecah.


Karena hatinya yang terlalu lembut, Ilham selalu terharu dan tersentuh, jika ada hal yang membuatnya sedih. Hatinya sudah seperti hati seorang gadis.


"Maaf kalau menjelang malam, Ilham datang ke sini. Ilham cuma mau bilang ke ibu, kalau Ilham sebentar lagi akan menikahi Ara, Bu. Apa ibu senang?" gumam Ilham, membuat dirinya tak sadar meneteskan air mata dengan deras.


Ilham sudah terlalu rindu dengan sosok seorang ibu. Bahkan, Ara pun tidak punya ibu, membuat Ilham tidak mengerti rasanya dibanggakan oleh seorang ibu, atas pencapaian yang sudah ia terima.


Ilham mengusap batu nisan sang ibu, "Doakan Ilham, supaya bisa terus jagain Ara, Bu," gumam Ilham, yang sangat sendu mengatakannya.


Tak ada yang bisa ia lakukan, selain menangisi keadaannya.


Setelah cukup lama menangis di makam sang ibu, Ilham pun segera meneguhkan hatinya kembali. Ia membuat dirinya seakan normal kembali, seperti sedia kala.


Ilham memandang nisan ibunya teriring senyum, "Ilham pamit ya, Bu. Ilham harus fitting baju untuk acara pernikahan Ilham, yang sebentar lagi digelar," pamit Ilham, yang langsung bangkit.


Ilham memandang sekeliling makam, membuatnya sendu, tak mau melangkah pergi dari sana.


Mau tidak mau, Ilham pun segera pergi dari sana, karena hari sudah semakin gelap, dan suasana di sekitar makam pun sudah mulai aneh ia rasakan.


Ilham kembali ke arah mobilnya.


"Brukk ...."


Ilham menutup pintu mobil dengan cepat, kemudian segera melakukan mobilnya ke arah rumah Ara, untuk mengajak Ara fitting baju untuk acara yang sebentar lagi akan dimulai.


Sesampainya di sana, Ilham pun segera melangkah masuk ke dalam rumah Ara, karena ia melihat dengan bingung, pintu rumah yang tak tertutup. Ilham dengan rasa penasaran yang tinggi, segera masuk ke dalam rumah Ara.


Ilham dikejutkan dengan pemandangan yang gelap gulita. Listrik mati, seperti tidak ada orang di dalamnya.


"Apa gak ada orang? Kok ... pintu rumah terbuka, sih?" gumam Ilham dengan bingung, membuat rasa penasaran Ilham semakin tinggi.

__ADS_1


"Tass ...."


"Surprise!"


Lampu ruangan pun terlihat seketika menyala, dan tiba-tiba saja terdengar suara ramai, membuat Ilham terkejut mendengarnya.


Sudah ada tiga serangkai di sana, sembari membawa kue dan juga beberapa kado di tangannya masing-masing.


Ilham melihat dengan saksama, membuat dirinya seketika melontarkan senyuman ke arah mereka.


"Selamat bertambah usia, Ham! udah 30 tahun, ya?" ledek Arash, membuat Ilham menyeringai.


"Kurang ajar, saya baru 29, tahu!" bantah Ilham teriring tawanya, membuat Arash terkekeh mendengarnya.


"Ah ... tahun besok 30, lah!" bantah Arash lagi, membuat Ilham gantian terkekeh saat ini.


"Selamat ulang tahun, Kak Ilham!" ucap Ares, sembari menyodorkan hadiah ke arahnya.


Ilham tersenyum, lalu menerima hadiah yang Ares berikan padanya, "Terima kasih, cantik!" gumam Ilham dengan sangat bahagia.


Ilham langsung melirik ke arah calon istrinya itu, membuatnya agak canggung jadinya.


"Selamat ulang tahun," gumam Ara dengan nada yang datar, membuat Ilham tersenyum tipis, sembari mengangguk kecil.


Arash dan Ares yang melihatnya pun tersenyum mengumpat ke arah mereka.


"Cie ...," ledek Arash, membuat Ilham kembali menoleh ke arahnya.


Dengan tatapan yang datar dengan senyuman tipis, Ilham memandang ke arah Arash dan Ares yang sudah meledeknya sejak awal.


Mereka pun sangat canggung hanya karena ledekan Arash, membuat Ilham melonggarkan sedikit dasinya yang terasa menyempit.


Ilham kembali memandang Ara dengan malu, "Saya minta data-data kamu ya, untuk keperluan pernikahan. Ayah besok mau urus katanya. Lalu, ikut saya, ya malam ini. Kita fitting baju ke tempat yang saya pilih," ucap Ilham, membuat Ara menatapnya dengan bingung.


"Apa ada pesta?" tanya Ara dengan nada yang ragu, membuat Ilham tercengang mendengarnya.

__ADS_1


Ilham sadar dengan pertanyaan Ara yang seperti itu, dia pasti tidak menginginkan adanya pesta.


Ilham menghela napasnya, "Gak ada. Cuma ... kamu harus tetap terlihat cantik di depan saksi," jawab Ilham dengan nada yang malu, membuat Ara menjadi sangat malu dibuatnya.


"Cie ... uhuyy ...," ledek Arash dan Ares lagi, membuat suasana menjadi normal kembali.


Ilham menoleh ke arah mereka, "Gaduh sekali," gumam Ilham dengan sedikit candaan, membuat Arash dan Ares kembali tersenyum mendengarnya.


"Udah ... sebelum berangkat, kita nikmati dulu malam ini sejenak karena perusahaan kita yang baru aja menang mega proyek kali ini. Ultah Ilham, dan juga hari sebelum kalian menikah," gumam Arash, membuat Ilham tersadar dengan pencapaiannya ini.


Ilham terpukau dengan perkataan Arash yang terdengar sangat spesial baginya. Ia sampai tidak tahu lagi harus berbuat apa.


"Setuju," gumam Ilham, membuat Arash tersenyum.


Mereka pun menikmati suasana malam dengan sangat sempurna. Merayakan kebahagiaan yang baru mereka capai, dengan hasil kerja keras sendiri.


Tak bisa dipungkiri, Ilham sangat bahagia malam ini.


Setelah dirasa cukup bersenang-senang, Ilham pun menoleh seketika ke arah Ara, "Bisa pergi sekarang? Sudah malam," tanya Ilham, membuat Ara tersadar dengan suasana yang sudah hampir larut.


"Bisa," gumam Ara, membuat Ilham tersenyum.


"Saya minta berkas-berkas untuk persiapan pernikahan," ujar Ilham, membuat Ara kaget mendengarnya.


'Oh my god, ternyata ini rasanya menikah? Sayang sekali, kenapa harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku cintai ini?' batin Ara merasa ada penyesalan, namun ia sama sekali tidak memiliki pilihan.


Kalau saja Morgan tidak menghilang, kalau saja aku tidak mengandung, kalau saja hubunganku dengan Morgan tidak berakhir, ini semua tidak akan pernah terjadi denganku, pikir Ara yang masih menyayangkan takdir yang sudah diberikan kepadanya.


Ilham memandang ke arah Arash, "Rash, tolong dibantu Ara untuk cari berkas, ya?" pinta Ilham, membuat Arash tersenyum.


"Siap! Sebagai kakak ipar yang baik, saya siap sedia membantu," ledek Arash, membuat Ilham tersipu malu dibuatnya.


"Terima kasih," gumam Ilham, membuat Arash tersenyum sembari mengusap bahu Ilham.


"Santai, ya udah, ditunggu ya! Saya siapin berkas dulu," gumam Arash, membuat Ilham tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Mereka pun pergi meninggalkan Ilham dan Ares di sana, membuat Ilham merasa sangat senang karena Arash yang mendukung pernikahan mereka.


...***...


__ADS_2