Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Girang


__ADS_3

Ara pun pergi meninggalkan Morgan menuju ke lapangan tempat ia dihukum.


Di sana, ternyata sudah ada Hatake yang sedang duduk manis sembari membuka lembaran selanjutnya dari buku yang ia baca. Ara yang melihat dirinya sedang serius membaca, segera duduk di sampingnya.


“What are you doing?” tanya Ara padanya.


Ia langsung berpaling ke arah Ara, sembari menutup buku yang sedang ia baca.


Ara mengerenyitkan dahinya, “kenapa loe tutup? Udah selesai bacanya?” tanya Ara, tetapi Hatake hanya diam.


“Why you leave me?” tanyanya balik.


Ara menghela napas panjang, apa dia sedang marah padaku? Pikir Ara.


“Gue gak ninggalin loe kok. Gue tadi abis dipanggil ke ruang dosen,” untung saja Ara mempunyai alasan yang tepat untuk membuat Hatake sedikit tenang.


Mungkin saja, ia tidak mengenal siapa pun di sini, makanya dia berkata seperti itu, pikir Ara.


“Jangan tinggalin aku lagi ya!” ucap Hatake dengan nada yang sangat lucu.


Logat bicaranya lucu sekali, membuat Ara menahan tawanya.


Ternyata, gaya berbicara orang jepang sangat menggemaskan sekali, pikir Ara.


Ara mengerjakan ujian berikutnya dengan penuh semangat dan percaya diri. Karena, dirinya dan Morgan sebentar lagi akan menghabiskan akhir pekan bersama.


Apakah akhir pekan ini akan menjadi akhir pekan terbaik dalam hidupku? Aku selalu menantikan saat-saat ini, pikir Ara.


...***...


Sore itu, Fla terlihat sangat lelah karena ia baru saja sampai di rumah. Fla menghempaskan dirinya di atas ranjang tidurnya, dan mulai memandang langi-langit kamarnya.


“Huft ....”


Fla menghela napasnya dengan panjang.


Tiba-tiba saja, terlintas kembali percakapannya bersama dengan Hatake tadi, sejak teman-temannya meninggalkan ia bersama dengan Hatake, di kantin.


-FLASHBACK ON-

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Hatake, yang memberanikan diri untuk bertanya pada Fla, membuat Fla bertolak pinggang.


“Ada hubungan apa loe sama Ara?” tanya Fla dengan tajam.


Mendengar perkataan Fla, Hatake yang memang mempunyai sikap pemalu, seketika saja merasa bahwa wajahnya sudah menjadi panas.


Fla melihat perubahan warna di pipi Hatake, membuat Fla mendelik kaget.


‘Dia malu?’ batin Fla, yang melihat Hatake sedang menafikan pandangannya.


Fla mendelik, “heh, loe kenapa?” tanya Fla, membuat Hatake menggelengkan kecil kepalanya.


“Aku gak punya hubungan apa pun sama Ara,” lirih Hatake, membuat Fla menghela napasnya panjang.


Ya, mungkin memang benar mereka tidak mempunyai hubungan apa pun. Tapi bagaimana jika Hatake menyimpan perasaan pada Ara? Pikir Fla yang mulai berpikiran yang tidak-tidak terhadap pria asing, yang baru ia kenal beberapa menit yang lalu.


“Jangan bohong, loe!” bidik Fla, membuat Hatake menjadi gelagapan.


“Aku gak punya hubungan apa-apa sama Ara,” lirih Hatake, membuat Fla menghela napasnya.


‘Ya sudah, kalau memang begitu kenyataannya mah. Lagipula, perasaan suka itu adalah hak semua orang. Biarin aja lah! Toh Ara sama kak Morgan juga masih sama-sama punya kesibukan, dan belum tentu jadi jodoh juga,’ batin Fla, yang sudah tidak ingin mempermasalahkannya lagi.


“Ya udah lah!” bentak Fla, yang agak kesal dengan kelakuan aneh Hatake.


“Hah, yang bener?” tanya Fla, membuat Hatake bingung melihat perubahan warna wajah Fla, yang juga sangat signifikan.


Hatake mengangguk, “waktu itu kamu masuk ke toko perhiasan, bersama seorang anak kecil. Apa ... kamu membeli sebuah hadiah untuk seseorang?”


-FLASHBACK OFF-


Fla menghela napasnya dengan panjang, karena ia tertangkap basah dengan orang asing yang baru saja ia kenal.


‘Padahal, dia gak tahu apa-apa. Tapi kenapa gue jadi malu sendiri ya, pas dia ngeliat gue di mall kemarin? Lagian juga gue gak ngeliat dia,’ batin Fla yang baru sadar dengan keadaan.


Tangan Fla meraba ke dalam saku yang berada di tasnya, dan mengeluarkan sesuatu di hadapannya.


Terlihat sebuah kalung steinless dengan berliontin sebuah akrilik transparan, yang sangat manis dengan ukiran nama Arash di belakang akrilik tersebut.


Fla sengaja menambahkan nama Arash, agar menandakan kalau ini adalah kalung milik Arash, jika tak sengaja hilang, penemunya akan mengetahui kalau ini adalah kalung milik Arash.

__ADS_1


Ia menatap kalung itu dengan sangat sendu. Ini adalah hadiah pilihan Lian, sebagai imbalan karena Fla yang sudah memilihkan sebuah hadiah untuk Lian berikan kepada kekasihnya.


Mendadak, Fla jadi ragu untuk memberikan kalung ini pada Arash. Ia sangat ragu, apakah ia bisa merealisasikan keinginannya untuk bisa memberikan hadiah itu pada Arash? Ia juga ragu, meskipun Arash menerimanya, bukan tidak mungkin untuk Arash membuangnya, atau memberikannya kepada orang lain.


“Haaaaaaaaaaa!!”


Teriak Fla kesal, dengan wajah yang sudah ditutup dengan bantal, membuat suaranya menjadi teredam karena bantal itu.


Fla segera mencari handphone-nya, dan melihat kabar terkini dari akun media sosial dari Arash. Namun, setelah sudah bergulir mencari jejak, ia sama sekali tidak menemukan foto terbaru yang Arash posting.


Hal itu membuatnya menjadi sangat sedih.


Fla membuka kembali riwayat pesan pribadinya dengan Arash, dan masih mendapati pesannya beberapa hari yang lalu, yang masih saja belum dibalas oleh Arash.


Fla mengerenyitkan dahinya, “masih berharap yang tidak mungkin terjadi. Kenapa gue bodoh banget, ya?” gumam Fla, yang kesal dengan dirinya sendiri.


Fla kembali menatap ke arah langit-langit kamarnya. Ia masih belum mengerti dengan kemauannya pada Arash.


‘Kenapa sih, setelah sekian lama gue gak pernah bisa nerima laki-laki, tapi sekalinya hati gue kebuka, tapi gue ngerasa diri gue yang gak cocok sama dia karena dia terlalu sempurna buat gue?’ batin Fla yang agak kesal dengan seleranya yang aneh.


Memang dasar wanita.


Saat ada seseorang yang mengejar dirinya, ia menjauh. Tapi saat dia mengejar, keinginannya laki-laki itu juga mengejarnya balik.


Seperti ini malah mengejar angan yang tak sampai.


“Apa gue berhenti aja buat bersikap begini, ya?” gumam Fla.


Ia melihat kembali ke arah hadiah yang ia persiapkan untuk Arash.


“Tapi setelah ngasih kado ini, buat tanda terima kasih aja, gak lebih,” Fla bersikeras untuk tetap memberi Arash kado yang sudah ia persiapkan khusus untuk Arash.


“Tapi nanti kalau kadonya dibuang, gimana?” gumam Fla lagi, yang sangat labil dalam mengambil keputusan, karena terlalu banyak pertimbangan.


“Tring ....”


Terdengar sebuah notifikasi dari handphone-nya. Fla melihatnya dengan saksama.


Matanya mendelik, senyumnya mengembang di seluruh area wajahnya, membuatnya berlompat-lompat di atas ranjangnya karena merasa kegirangan. Arash sudah menyetujui pertemuan mereka, sehingga membuat Fla merasa sangat kegirangan.

__ADS_1


Fla segera melemparkan handphone-nya ke atas ranjang, dan segera pergi untuk membungkus kado yang hendak ia berikan kepada Arash.


...***...


__ADS_2