
Morgan melirik ke arah Ara, Ara terlihat sudah tidak keruan. Sebenarnya, apa yang sedang ia pikirkan? Pikir Morgan yang lalu memandang ke arah Hatake dan Meygumi yang sedang berdiri bersebelahan.
"Kami pulang dulu," pamit Morgan, yang sedikit membungkukkan badannya ke arah mereka, kemudian kembali pada posisinya seperti biasa.
"Tinggal lah di sini selama beberapa hari," ucap Meygumi, seperti tidak mengizinkan Morgan untuk pergi dari sini.
Morgan menatapnya dengan malas, seperti biasa, drama akan selalu dimulai ketika aku akan meninggalkan tempat ini. Tapi kali ini aku membawa Ara, seharusnya aku bisa pergi dengan mudahnya, pikir Morgan.
Morgan mengubah sikapnya, "tidak perlu, saya dan pacar saya lelah. Sepertinya, kami ingin bermanja-manja di kamar hotel," pancing Morgan dengan nada yang dingin.
Morgan melihat wajah Ara yang memerah seketika, setelah mendengar ucapannya. Ia kembali memperhatikan Meygumi yang tampaknya sudah mulai gelisah dengan ucapan asal dirinya itu.
"Berani sekali kau--" ucap Meygumi dengan kesal, yang terpotong karena tertahan dengan keadaan.
Sikap Meygumi yang mudah terpancing, membuat Morgan menyunggingkan senyumnya.
Ya! Dia sudah terpancing dengan ucapanku. Aku bisa dengan mudah memberitahukan sifat Meygumi kepada Ara, agar Ara tidak salah mengartikan bahwa perasaanku memanglah sudah berakhir untuk Meygumi. Setidaknya, Ara bisa sedikit tenang jikalau nanti ada adegan yang membuat Ara salah paham. Aku juga harus segera memberitahukan yang sebenarnya pada Ara. Jangan sampai, ia mengetahui kebenarannya dari orang lain. Terlebih lagi dari Meygumi langsung, pikir Morgan yang sedikit lega dengan semua pikirannya selama ini.
Morgan tersenyum, "ada apa dengan dirimu, Meygumi?" tanya Morgan dengan sedikit nada menggoda, namun tak ada respon apa pun dari Meygumi.
Morgan menggenggam tangan Ara dengan sengaja. Meygumi ternyata masih bisa menahan amarahnya.
Mengetahui keadaan yang sudah tidak nyaman, Ara pun sedikit memberanikan diri untuk memberi kode pada Morgan.
"Gan ...," lirih Ara.
Morgan menoleh ke arahnya, nampaknya, Ara sudah semakin gelisah dengan keadaan. Aku harus cepat membawanya pergi dari sini, pikir Morgan yang segera mengambil sikap tegas.
"Saya pergi dulu," ucap Morgan berkata demikian.
Ara merasa sudah tidak ingin berlama-lama di sini. Morgan berjongkok membelakangi Ara, membuat Ara terkejut dan spontan menoleh ke arah Meygumi dan Hatake, yang nampak tercengang saat melihat pemandangan ini.
Ara kembali memandangi Morgan, "ngapain, Gan?" tanya Ara yang merasa tak enak dengan mereka.
Morgan menoleh ke arah Ara yang ada di belakangnya, "naik, saya mau gendong kamu," ucapnya.
Terlintas sesuatu di benak Ara, sepertinya idenya lumayan bagus untuk membuat Meygumi panas, pikir Ara yang tersenyum paham dan tanpa basa-basi, segera naik ke punggung Morgan.
__ADS_1
Morgan pun kini menggendong Ara, layaknya anak kecil.
Ara menoleh ke arah Hatake, "bye, Hatake," ucap Ara sembari melambaikan tanganku.
Melihat Ara yang melambaikan tangannya, Hatake hanya menganggukkan kepala saja, tanpa berkata apa pun.
Ara pergi dengan keadaan digendong mesra dengan Morgan, lagi-lagi dia membiarkan tubuh kekarnya untuk aku jadikan sandaran. Aku semakin menyayanginya, pikir Ara teriring senyuman.
Mereka keluar dari gerbang kastil ini. Morgan menurunkan Ara tepat di tepi jalan.
Ara mulai memikirkan perasaannya, setelah semuanya terjadi. Ara menunduk sendu, karena secara tak sengaja, hatinya sudah tersakiti karena Morgan yang membawanya ke rumah mantan kekasihnya.
Melihat perubahan sikap Ara, Morgan pun tiba-tiba mengelus rambutnya dengan lembut, membuat Ara spontan menatapnya dengan lekat.
Morgan melontarkan senyuman, "ada apa, sayang?" tanya Morgan, membuat Ara semakin sendu dibuatnya.
Ara tak bergeming, membuat Morgan tersenyum kembali padanya.
Morgan menggandeng tangan Ara dengan lembut, dan perlahan mengajaknya berjalan.
"Aku masih gak nyangka, kenapa kamu bawa aku ke dalam masalah kayak gini?" tanya Ara dengan sedikit rasa kesal.
Morgan hanya memandang Ara dengan sikap dinginnya.
"Apa maksud kamu tuh, supaya aku bisa akrab sama mantan kamu?" tanya Ara lagi, membuat Morgan menghentikan langkahnya, begitu pun Ara.
Kini, mereka saling berhadapan, satu sama lain.
"Supaya kamu bisa tahu sifat Meygumi seperti apa. Nanti, kamu gak akan kaget kalau seandainya melihat adegan yang gak mungkin saya lakukan dengannya," jawab Morgan tanpa memandang ke arah Ara.
Penjelasan Morgan sedikit demi sedikit, sudah mulai membuat Ara paham dengan maksudnya. Terlebih lagi, Hatake sudah mengatakan kalau Meygumi adalah wanita yang ambisius. Dia mungkin saja belum bisa merelakan Morgan sampai detik ini. Dan bisa saja nanti Meygumi membuat suatu kesalahpahaman yang bisa membuat hubungan Ara dan Morgan menjadi berantakan.
Ara mendelik karena teringat dengan sesuatu, "kalau gak salah, waktu hari pertama ujian dimulai, dia nemuin kamu kan?" tanya Ara.
Aku sudah ingat sekarang, kalau waktu itu aku memanglah melihat Meygumi sedang bercengkrama bersama Morgan, pikir Ara yang baru ingat dengan hal itu.
Morgan memandang Ara, "ya, kamu benar. Dia datang maksa saya untuk terbang ke Jepang, demi ibunya yang sakit," jawab Morgan tanpa bisa mengelak lagi dengan jawaban yang ia berikan.
__ADS_1
Ara mendelik tak percaya, "tapi masih belum masuk logika. Untuk apa dia maksa kamu buat ketemu ibunya yang lagi sakit?" tanya Ara, membuat Morgan gemas dengannya.
"Takkk ...."
"Aduh ...."
Ara mengusap keningnya, karena Morgan yang baru saja menyentil dahinya. Morgan tersenyum tipis ke arah Ara.
"Dasar bodoh," lirih Morgan, membuat Ara menjadi bertambah kesal dengannya.
"Udah deh, gausah mulai," gertak Ara membuat Morgan tertawa kecil mendengarnya.
"Dia sengaja ngejebak saya, biar saya merasa bersalah karena melihat ibunya yang terbaring sakit. Dan dia bisa memanfaatkan saya untuk bisa jagain Meygumi kalau sampai ibunya meninggal nanti. Apa kamu mau, saya menjaga Meygumi?" ucapnya menjelaskan, membuat mata Ara membulat.
Pikirannya ternyata sudah sampai sejauh ini. Ternyata, aku belum cukup dewasa untuk bisa menebak dan memastikan sesuatu. Aku pikir, Morgan adalah makhluk yang sudah sempurna versi diriku, pikir Ara.
"Makanya, saya memenuhi keinginannya untuk sekadar menjenguknya, tapi tidak memenuhi keinginannya untuk menginap di sana," tambah Morgan, membuat Ara mendelik.
"Menginap?" tanya Ara kaget.
"Iya, tadi kamu gak paham ya dengan yang kami bicarakan?" tanyanya balik, Ara hanya menggeleng.
"Dia minta saya tinggal di sana beberapa hari. Tapi, saya tolak dengan alasan saya ingin bermanja-manja sama kamu," ucapnya menjelaskan.
Ara menepuk pelan keningnya, ternyata seperti itu dialog percakapan mereka tadi, pikir Ara.
Ara mendelik, "pokoknya, kamu harus ajarin aku Bahasa Jepang mulai hari ini!" ucap Ara dengan geram.
Morgan sampai tersenyum melihat ambisi Ara yang menggebu-gebu.
Ia mendekatkan wajahnya tiba-tiba, "tentu ada bayaran yang harus kamu bayar," lirihnya, sampai Ara tak sengaja menelan salivanya sendiri.
"Dasar otak mesum!" bentak Ara, lalu segera berjalan meninggalkannya.
Morgan menggeleng kecil, kemudian menyusul Ara sembari menahan tawanya.
...***...
__ADS_1