Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Maniak 5


__ADS_3

Morgan merasa tersiksa. Hari ini, hal buruk terjadi pada orang yang ia cintai. Morgan tak bisa melihat harga diri orang yang ia cinta, jatuh di hadapan laki-laki yang tidak bertanggungjawab kepadanya.


Di sisi lain, Bisma sudah sampai pada kamar yang sudah ia pesan jauh sebelumnya. Ia sudah menduga kalau gadis bodoh seperti Ara akan dengan mudah masuk ke dalam jebakannya. Ia tinggal merayunya saja, dan dia akan datang dengan sendirinya.


Masalah virgin atau tidak, Bisma tidak mempedulikannya.


Bisma merapikan semua barang yang ia bawa, termasuk barang milik Ara. Bisma menata secara asal barang-barang yang mereka bawa, di sembarang tempat.


“Gue siapin minum dulu, ya,” gumam Bisma.


Ara sama sekali tidak merespon ucapannya. Apa mungkin obat perangsang yang Bisma berikan di caffee tadi, sudah bekerja?


Kelihatannya, Ara nampak kegerahan sekali.


Bisma pergi menuju dapur untuk menyiapkan minuman untuk Ara. Ia mengambil gelas dan memasukkan sekantung teh celup ke dalamnya. Bisma menuangkan air hangat ke dalam cangkir berisi teh celup itu.


‘Harusnya sih sudah cukup,’ batin Bisma masih risau dengan efek obat perangsang yang ia berikan sebelumnya di caffee tadi.


‘Tapi, apa salahnya ditambah lagi? Takut udah gak ngefek karena kelamaan di jalan tadi,’ batin Bisma yang khawatir efek obatnya akan berkurang setelah beberapa saat.


“Tambah lagi aja deh ya. Beberapa tetes aja buat jaga-jaga,” Bisma lalu mengambil botol kecil berisi obat perangsang itu, dan menuangkannya ke dalam cangkir teh untuk Ara.


“Braaakkkk ....”


‘Oh ****! Kenapa pake tumpah segala,’ batin Bisma yang langsung sigap mengambil botol yang tumpah untuk menyelamatkan sisa obat yang sudah tumpah itu.


Bisma menuangkan semua obat yang tersisa ke dalam gelas teh untuk Ara, setelah itu mengaduknya menggunakan sendok teh.


‘Siap. Sebentar lagi, kita bakal ngerasain surga dunia, Ra,’ batin Bisma sembari tersenyum nakal.


Bisma menghampiri Ara yang sedang mengibaskan kemejanya. Ia nampak kegerahan, padahal AC menyala di suhu 16 derajat celcius. Bisma saja merasa sangat dingin. Tak disangka, obat itu bereaksi begitu cepat.


Bisma kini duduk di hadapan Ara.


“Loe pasti gerah, kan? Di sini baru AC depan yang nyala. AC sebelah belum nyala. Loe minum dulu, gue mau nyalain AC,” gumam Bisma padanya.


Ara mengangguk pasrah dan mengambil air yang sudah Bisma buatkan untuknya. Bisma pergi untuk mengambil remot AC, lalu mengintip keadaan dari bagian luar kamar.


Ara sudah meminum setengah dari air yang sudah Bisma buat. Ia tersenyum penuh gairah.


‘Akhirnya loe masuk perangkap gue,’ batin Bisma sembari tersenyum penuh hasrat.


Beberapa waktu berlalu, Bisma membiarkan obatnya bekerja lebih dulu. Sepertinya, sudah ada perubahan sikap dari Ara.


Bisma menghampirinya yang sudah setengah membuka kancing kemejanya.


“Kenapa di sini panas banget sih?” tanya Ara.


Bisma tersenyum padanya.


“Gue udah nyalain AC, kok. Tenang aja, nanti pasti dingin,” ucap Bisma berusaha membuatnya tenang, jangan sampai Ara menyadari ada hal aneh di sini.


Wajahnya nampak berubah menjadi merah padam. Mungkin sedikit saja sentuhan, bisa membuat dirinya melayang.


Bisma mendekati Ara yang sepertinya nampak kesulitan bernapas.

__ADS_1


“Kenapa, Ra?” tanya Bisma memastikan jawabannya.


“Sesak,” Ara berkata demikian.


Bisma rasa, saat ini sudah waktunya. Bisma mulai melangsungkan niatnya pada Ara. Bisma menyenggol tangannya, sembari sesekali mengelus, berpura-pura tidak sengaja untuk menyentuhnya.


“Maaf, Ra, tadi gue gak sengaja,” ucap Bisma dengan nada yang terdengar dibuat-buat.


Ara nampak tersenyum saat tangannya disentuh oleh Bisma.


“Gak apa-apa. Gue seneng, kok,” ucap Ara.


Bisma semakin yakin, bahwa obatnya sudah benar-benar bekerja.


Perlahan, ia menyentuh bahu Ara. Satu sentuhan saja sudah membuat bulu tangan Ara merinding. Sedikit demi sedikit, Bisma membuka kancing kemejanya. Hinga semua kancing kemejanya terlepas.


“Loe kepanasan ya, Ra? Sini gue bantu bukain baju loe, ya …,” ucap Bisma, Ara hanya pasrah menerima perlakuan Bisma padanya.


Bisma sudah tidak sabar menantikan hal ini. Ia sudah sangat tergoda oleh Ara. Bisma pun membuka kaos yang ia kenakan.


“Loe juga kepanasan, Bis?” tanya Ara polos.


Bisma hanya mengangguk pelan.


“Iya nih, gimana kalau kita mandi?” tawar Bisma.


Ara hanya mengangguk pasrah, membuat Bisma menyunggingkan senyumnya.


Di sisi sana, Morgan berlari dengan sangat kencang untuk bisa menyelamatkan Ara dari laki-laki brengsek itu. Tanpa pikir panjang, ia berusaha melompati 4 anak tangga sekaligus untuk menuju ke lantai 30 gedung ini.


“Tunggu, Gan!” pekik Dicky dari belakangnya, tapi Morgan sudah tidak punya banyak waktu lagi.


Morgan tidak ingin menyesal nantinya. Cukup ia yang bisa merasakan kehangatan tubuh Ara. Morgan tidak rela membagikannya pada siapa pun juga, terutama bocah brengsek itu.


Dengan perjuangan dan susah payah, akhirnya Morgan berhasil mencapai lantai paling tinggi di hotel ini.


Morgan berlarian sembari melihat ke arah huruf yang tertera di tiap-tiap pintu kamar.


“A.”


“B.”


“C.”


“....”


“....”


“....”


Sampai akhirnya ....


“G!”


Morgan telah sampai!

__ADS_1


Kunci kamar VVIP menggunakan sebuah kartu, yang hanya ditempelkan saja pada sensornya.


Dengan cepat, Morgan menempelkan kartu tersebut dan membuka pintunya.


"Brakk!!"


Betapa terkejutnya Morgan, saat melihat Bisma yang sudah tak berbusana, dan ingin menerjang Ara.


Bisma menoleh ke arah Morgan yang terlihat sudah berapi-api.


“BAJINGAN!” teriak Morgan hingga Bisma menghentikan aksinya tersebut yang membuat remuk jantung Morgan.


Morgan dengan cepat menghampirinya dengan perasaan kesal dan menyeret lengannya tanpa ampun.


“Eh apaan nih? Lepasin!” teriak Bisma dengan sangat keras, sembari berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Morgan.


Bisma lolos dengan perjuangan ekstra yang ia hadapi. Mungkin karena Morgan sudah lemas, karena berlarian tadi, tenaganya menjadi tidak sebanding dengan tenaga yang Bisma miliki. Walau secara fisik, Bisma lebih terlihat kurus dibanding Morgan.


Dicky pun datang pada saat yang tepat. Bisma ingin lari dari sini, tapi Dicky menghadangnya.


“Mau kemana, kamu?” tanya Dicky yang masih terdengar oleh Morgan.


Morgan langsung menghampiri Ara yang sudah setengah tak berbusana, lalu membuka jas yang ia pakai untuk menutupi sekujur tubuh Ara yang sangat indah menurutnya.


Satu masalah sudah selesai. Morgan sudah bisa menangani Ara saat ini. Tinggal satu masalah lagi yang harus mereka selesaikan.


“Kunci kamar gimana?” tanya Morgan.


“Aman.”


Dicky menyeret bisma keluar kamar dan membawanya ke kamar sebelah yang sebelumnya sudah mereka pesan.


Dicky bersedia mengurus Bisma dan memberikannya pelajaran, sementara Morgan akan mengurus Ara di sini.


Morgan berhamburan memeluk Ara yang nampak sudah sangat kacau. Hatinya seperti tersayat, karena sudah melihat pemandangan yang seharunya tidak ia lihat.


Morgan tidak akan pernah bisa memaafkan Bisma, sampai kapan pun.


“Kenapa kamu bisa begini sih, Ra?” lirih Morgan yang sudah tak tahu harus berbicara apa lagi, “ayo kita pulang,” sambung Morgan, sembari mengangkat tubuh Ara.


“Engh ... panas,” lirih Ara, membuat Morgan berhenti sejenak.


Ara berbicara seperti itu. Tidak salah lagi, Bisma sudah benar-benar ingin menghancurkan Ara dengan memberikannya obat ini.


‘Apa mungkin ... obat perangsang?’ batin Morgan yang hanya asal menebak.


“Pasti kamu lagi tersiksa, ya?” lirih Morgan, “izinin saya buat nolong kamu ya, Ra,” tanyanya lirih tanpa menunggu persetujuan Ara.


Ara nampak sudah pasrah dengan yang terjadi pada dirinya. Bahkan Morgan pikir, dia sudah tidak sadarkan diri.


Morgan membuat rangsangan kecil untuk sekedar membantu Ara, yang tak lain hanya untuk membantu menghilangkan efek obat tersebut.


“Maaf, ya,” lirih Morgan yang sebetulnya tak tega melakukan ini.


Tapi jujur saja, di dalam lubuk hati Morgan yang terdalam, ia sangat merindukan sentuhannya.

__ADS_1


Morgan membuka seluruh pakaiannya, dan langsung menolong Ara dengan sukarela. Tak disangka, Morgan justru ikut hanyut dalam permainan cinta satu malamnya ini.


__ADS_2