
"Apa?" gumam Arash, yang terkejut mendengar perkataan Ilham, yang sangat mendadak seperti ini.
Arash memandang Ilham dengan tatapan tak percaya, sembari mengusap kasar wajahnya, saking ia terkejut mendengar ucapan Ilham yang baginya sangat asal itu.
Tidak seperti yang Arash bayangkan, Ilham tentu saja mempunyai alasan, tidak hanya asal menyebutkan kata-kata yang memiliki sejuta rasa tanggung jawab itu. Biar bagaimana pun juga, Ilham sangatlah serius dengan apa yang ia ucapkan pada Arash.
Memang dasar Arash yang terlalu kaget, sampai-sampai ia hanya berpikir kalau yang ia dengar hanyalah ilusi semata.
Arash memegangi kepalanya, karena merasa cukup pusing mendengarnya, "Duh ... pasti salah dengar, kan? Gak mungkin juga saya dengar itu langsung dari mulut kamu," gumam Arash yang berusaha menafikan semua spekulasi aneh, yang tiba-tiba saja muncul memadati isi kepalanya.
Ilham menghela napasnya panjang, berusaha bersikap tenang di hadapan Arash, walaupun sebenarnya Ilham memang sangat gugup berhadapan dengan Arash kali ini.
Ilham memandangnya dengan penuh harap, "Yang kamu dengar tadi itu benar, Rash. Saya ingin secepatnya menikahi Ara. Izinkan saya untuk meminang Ara, dan melakukan pernikahan ini secepatnya," gumam Ilham, berusaha keras meyakinkan Arash dengan niat baiknya itu.
Arash segera memandang ke arah Ilham, "Gimana dengan Ara? Gimana dengan Morgan?" tanya Arash, yang masih sangat memberatkan permasalahan tentang Morgan.
Ilham menunduk sendu mendengar kalimat itu dari mulut Arash, membuat Arash merasa jika dirinya sangat kejam mengatakan hal demikian pada Ilham.
"Ham, bukan begitu maksud saya. I mean--"
"Saya sudah bicarakan ini dengan Ara, dan ... dia menyetujuinya," pangkas Ilham, membuat Arash mendelik seketika, ketika mendengar ucapan Ilham kali ini.
"Apa?" gumam Arash yang tak percaya dengan yang Ilham ceritakan padanya.
Ilham kembali memandang ke arah Arash, "Tidak ada paksaan apa pun dari saya. Bahkan, Ara yang mengatakan itu sendiri tadi," tambah Ilham, memuat Arash semakin tak percaya dengan yang ia ceritakan.
__ADS_1
"But ... Ham, apa kamu tidak berpikir kalau Ara membuat keputusan ini dengan keadaan yang masih emosional? Bukan hal yang tidak mungkin kalau kamu nantinya akan dimanfaatkan, untuk melupakan Morgan," gumam Arash, mencoba memastikan agar Ilham sama sekali tidak menyesal di kemudian hari.
Ilham memandang ke arah Arash dengan tatapan yang sangat tegas, "Demi dia, saya rela melakukan semua yang saya bisa, asal dia bahagia, walau harus mengorbankan hati dan perasaan yang saya miliki," gumam Ilham, membuat Arash mendelik semakin tak percaya dengan apa yang ia katakan.
Arash menunduk sendu, "Hah, tapi ... Morgan?" tanya Arash yang masih tak percaya dengan semua yang ia dengar.
"Morgan gak ada di sini. Dia sudah pergi ke Amerika," jawab Ilham, membuat Arash tak henti-hentinya mendelik ke arahnya.
"Apa kamu bilang?" tanya Arash, membuat Ilham tersenyum formalitas.
"Tadi saat kamu berangkat ke rumah wanita itu dengan Ares, Ara tiba-tiba aja ngamuk, karena menerima telepon dari seseorang, yang mengatakan kalau Morgan sudah pergi ke Amerika. Ara merasa Morgan membohonginya, dengan tidak memberitahu soal kepergiannya. Karena mungkin Ara berpikir sudah tidak ada urusan lagi dengan Morgan, ia jadi berkata kalau dia bersedia menikah dengan saya, dengan tujuan memang seperti yang kamu sebutkan tadi," ucap Ilham berusaha menjelaskan asal-usulnya, yang tentu saja tidak semuanya benar ia jabarkan.
Ilham juga harus menjaga privasi Ara, jangan sampai Arash mengetahui persoalan Ara yang saat ini sudah berbadan dua, hasil hubungannya dengan Morgan.
Arash menatap tajam ke arah Ilham, "Apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu ini? Menikah itu gak sama seperti kita berpacaran, lho. Apalagi, saya gak pernah sekalipun lihat kamu menjalin hubungan sama gadis mana pun," gumam Arash mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Ilham menatap Arash dengan sangat mantap, "Itu karena saya tidak pernah sekalipun berpaling dari Ara. Entah kenapa, saya gak bisa kalau hidup tanpa dia, walau saya tahu Ara tidak memiliki perasaan untuk saya," jawab Ilham yang memiliki arti yang sangat dalam, membuat Arash sontak terkejut, semakin tak percaya dengan yang Ilham ungkapkan.
Arash terdiam sejenak, memikirkan jalan dari permasalahan yang sedang ia hadapi saat ini.
Sebagai seorang kakak, dan satu-satunya orang yang Ara miliki, Arash memang tidak mudah mengambil keputusan tentang itu. Apalagi, dirinya yang memang belum siap untuk berpisah dengan Ara, karena sudah terlalu dalam rasa sayangnya untuk adiknya itu.
Arash merasa, seperti ini rasanya menjadi seorang kakak laki-laki, sekaligus orang tua bagi seorang gadis. Tak pernah terpikir oleh Arash, kalau hari ini akan tiba secepat ini.
"Jujur ... saya masih belum bisa melepas Ara," gumam Arash yang mendadak mellow jadinya, "kalian akan menikah, dan mungkin tidak akan tinggal di sini. Apa saya bisa, hidup sendiri di rumah ini?" gumam Arash yang terdengar seperti tidak percaya diri.
__ADS_1
Ilham tersenyum, "Masih ada Ares di sini," gumam Ilham yang berusaha mencairkan suasana yang agak rancu ini.
Arash memandang Ilham dengan senyuman, "Bisa-bisanya kamu menggoda di saat yang tidak tepat seperti ini," ujar Arash, membuat Ilham tersenyum tipis ke arahnya.
"Saya janji, akan sering-sering menginap di sini. Siap-siap untuk membelikan mainan yang banyak untuk anak kami nanti," ucap Ilham, membuat Arash tertawa kecil.
"Santai, kalian saja belum menikah, soal mainan ... itu bisa diatur. Asal kamu janji, setelah menikah nanti, kamu harus bekerja lebih giat lagi. Cuti tahunan kamu sudah habis, lho jadinya," ucap Arash, membuat Ilham tertawa kecil mendengarnya.
Entah mengapa, rasanya sangat membuat Ilham bahagia. Walaupun, sebenarnya Ilham banyak menyimpan duka di hatinya, tetapi suasana ini sudah lebih dari cukup, untuk sekadar menghibur hatinya yang terpaksa harus menelan pil pahit permasalahan yang Morgan tinggalkan.
Asal Ara bahagia, batin Ilham yang masih tersenyum ke arah Arah.
"Tenang, pasti saya akan lebih semangat lagi dalam bekerja," ucap Ilham membuat Arash tersenyum dan menyodorkan tangan ke arahnya, membuat Ilham mendelik kaget dengan tangan Arash yang ia sodorkan.
"Welcome home," gumam Arash, membuat Ilham tak percaya dengan yang ia dengar ini.
Apa ini tandanya, saya diterima oleh Arash untuk meminang Ara? Pikir Ilham yang masih bertanya-tanya dengan keadaan.
Ilham menjabat tangan Arash dengan ragu, membuat Arash tersenyum padanya.
"Saya pernah salah meminta seseorang untuk mengemban tugas ini. Namun, hal itu tidak boleh sampai menutup harapan untuk orang lain, yang memang menginginkan sekali tanggung jawab ini. Tolong jaga dia," gumam Arash, membuat Ilham tersenyum sumringah ke arahnya.
"Pasti."
...***...
__ADS_1