Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Pernyataan Cinta yang Lain


__ADS_3

“Sepertinya, kita sudah pernah bertemu ...,” ucap Morgan, dengan nada yang seakan-akan tidak pernah mengenali Arasha.


Baguslah, Ara jadi tidak perlu repot bermain drama di hadapan kakaknya.


“Perasaan loe aja kali,” tepis Ara sinis.


“Ra, agak dijaga sopan santunnya, ya. Dia seumuran sama kakak, lho,” ucap Arash, terdengar seperti peringatan, tapi Ara tidak takut dengan ucapannya.


“Buat cowok yang udah punya wanita yang mau dia seriusin, buat apa harus jaga tata krama?” ucap Ara sinis, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Morgan memandang ke arah Arasha yang pergi dari hadapannya, membuat ia merasa seperti tak dihargai.


“Aduh, itu anak. Bener-bener dah. Sorry, ya, Gan,” gumam Arash, yang sepertinya merasa tidak enak dengan Morgan.


Morgan melontarkan senyuman ke arah Arash, untuk memberitahu padanya, kalau Morgan baik-baik saja.


“Gak apa-apa, Rash. Gue ngerti kok,” jawab Morgan, berusaha memberikan jawaban yang membuat Arash tenang.


“Huft....”


“Kenapa dia bilang begitu, ya?” gumam Arash yang terlihat bingung.


“Satu kemungkinan, dia denger pembicaraan kita tadi. Tapi yang dia tangkap tadi, salah,” ucap Morgan dengan tegas.


‘Tidak mungkin, kan, anak itu bisa tiba-tiba mengetahuinya kalau tidak mendengar pembicaraan kami secara diam-diam?’ pikir Morgan.


“Hmm ... kebiasaan deh anak itu. Gue berharap sih ... loe bisa cepet-cepet taklukin hati dia. Gue juga harap, loe bisa cepet-cepet nikah sama dia, biar loe bisa didik dia dan bisa jagain dia, selagi gue ngurusin bisnis orang tua. Karena cuma loe doang yang gue percaya, buat jaga Ara. Dia satu-satunya harta gue yang tersisa,” ucap Arash panjang lebar, yang sepertinya sangat tulus, membuat Morgan agak sedih ketika mendengarnya.


“Sedang diusahakan.”


Suasana nampak hening seketika. Morgan mendadak mengantuk.


“Boleh pinjam toilet?”


***


“Brukk ....”


Ara menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Pikirannya sangat kacau saat ini. Kejadian hari ini, benar-benar di luar dari logikanya.


“Sumpah, gue kesel banget!” jeritnya lirih, sembari memukul-mukul bantal yang sedang ia pegang.


“Kenapa sih, harus ada dia di sini?” ucap Ara kesal, ia baru sadar kalau mobil yang ia lihat di depan tadi, adalah mobil milik Morgan.


Kenapa bisa secepat itu Ara melupakannya?


Wajar saja, hal itu tidak penting baginya.


“Kenapa dia malah ternyata temannya kakak? Ah, makin kesel gue!”


“Kriett ....”


Terdengar suara orang yang baru saja membuka pintu kamar Ara.


“Kakak?” pekik Ara lirih, namun ia tak menjawabnya.


“Brukkk ....”


Pintunya tertutup kembali. Ara yang tersadar kalau itu bukan kakaknya, langsung segera bangkit.

__ADS_1


“Siapa itu--”


“Hmm ....”


Seseorang menindih tubuh Ara dan menutup mulutnya, membuat ia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ara berusaha berteriak meminta bantuan, namun tidak bisa karena tertahan oleh tangannya.


Ara panik, dan meronta dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Namun tetap saja, tubuhnya masih lebih besar dan kuat dibanding dengan tubuh Ara.


Melihat kepanikan Ara, Morgan langsung mendecak, ia sama sekali tidak berpikiran akan membuat Ara sampai setakut ini.


“Sttt ... ini saya,” ucap Morgan berbisik.


Ara membulatkan matanya. Ternyata yang ia lihat itu Morgan. Ara sudah bisa tenang, karena ia sudah mengetahui dirinya.


Morgan pun perlahan melepaskan tangannya.


‘Gue kira maling,’ batin Ara yang masih berpikir.


‘Tapi, mau ngapain dia ke kamar gue?’ pikir Ara.


“Gila! Mau ngapain loe di kamar gue?” tanya Ara dengan setengah menarik urat, karena takut kakaknya mendengar dan mengetahui apa yang terjadi di sini, “mau loe apa, sih?” sambungnya.


“Saya mau kamu jawab pertanyaan saya,” ucapnya dengan nada yang aneh, membuat Ara agak takut dengannya.


“Aduh plis deh, benerin dulu cara loe buat berbicara sama gue! Gue gak suka orang yang sok jaga image-nya!” cela Ara, Morgan terlihat menghela napas panjang.


“Ja-jawab pertanyaan aku.”


Nadanya agak canggung, tapi Ara lebih bisa menerima yang sekarang Morgan ucapkan.


“Kamu ada perasaan sama laki-laki kasar itu?” tanya Morgan yang membuat Ara agak tersinggung.


Apakah mungkin ....


“Bisma? Maksudnya Bisma?” tanyanya untuk memastikan.


Morgan mengangguk pelan.


“Gue sama dia pacaran!” jawab Ara dengan asal.


Morgan nampak setengah tidak percaya dengan ucapan Ara.


“Aku cuma mau peringatin kamu. Jangan main-main dengan laki-laki itu,” ucapnya membuat Ara terkekeh.


Ara membelalak ke arah Morgan.


“Apa urusannya sama loe?” sinis Ara.


Morgan hanya terdiam, kemudian berusaha mendekati wajah Ara. Kini Ara merasa wajahnya menjadi panas dan terbakar.


Jantungnya seketika berdebar.


Apa yang ingin Morgan lakukan?


“Jangan macem-macem deh loe!” bentak Ara yang merasa sangat khawatir.


Tatapan merek hanya berjarak 3 cm sekarang, dengan tubuh Ara yang masih tertindih oleh tubuh Morgan. Ia terdiam, kemudian mulai mengelus pipi Ara.


Seketika jantung Ara terasa memberontak. Selemah ini Ara di hadapan laki-laki? Ara sama sekali tidak memahami dirinya sendiri.

__ADS_1


Mudah terbuai, mudah juga merasa kesal.


“Sejauh apapun kamu melangkah ...,” ucap Morgan seraya mengelus pipi Ara terus-menerus.


Sesekali kepalanya dimiringkan ke kiri dan ke kanan mengikuti gerakan tangannya.


“Sekuat apapun kamu menghindar ...,” “aku akan tetap di sini.”


“Deg ....”


Ungkapan Morgan kian lama, membuat Ara mati rasa. ia tidak tahu dengan perasaan ini. Ia sangat bingung dengan rasa yang ia miliki.


Ara suka dengan Bisma. Tapi kalau terus-menerus seperti ini, Ara tidak akan bisa menjamin kalau ia tidak akan jatuh cinta pada Morgan.


“Aku akan jagain kamu,” “nemenin kemana pun kamu mau pergi ....”


“Dan....”


Tiba-tiba, Ara teringat sesuatu yang ia dengar tentang percakapan Morgan dan kakaknya tadi, membuat Ara jadi geli sendiri mendengarnya.


“Stop!” Potong Ara, membuat Morgan menghentikan ucapannya.


“Loe pikir, gua akan mudah kemakan omongan gombal loe?” tanyanya sinis, “gue itu udah punya pacar! Loe juga udah punya orang yang dijodohin sama loe, kan? Mantannya Kakak gue? Apa loe gak malu, hah? Gimana kalo kakak gue tau loe punya rasa sama gue? Dia pasti bakalan kecewa sama loe!” ucap Ara panjang lebar, yang berhasil membuat Morgan tertawa.


“Pfffttt ....”


Morgan hanya tertawa setelah mendengar ucapan Ara, kelakuannya itu membuat Ara menjadi bingung.


“Kenapa ketawa? Loe harusnya mikir, heh!”


“Kamu itu sedang tidak cemburu, kan?”


Pertanyaannya membuat Ara malu sendiri. Apa yang barusan ia katakan, ternyata malah semakin memancing kecurigaan Morgan terhadapnya.


“Ra, please, be my girl,” gumam Morgan yang sontak mengejutkan Ara.


Ara tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa membelalak.


“Cupppss ....”


Morgan mencium kening Ara. Ia tercengang, sama seperti saat pertama Morgan menciumnya. Lidahnya kelu, seketika dunia terasa seperti berhenti sejenak.


Morgan memandangnya dengan tatapan dalam penuh makna.


“Tidak perlu menjawab sekarang. Saya hanya mau menyampaikan perasaan saja,” ucap Morgan.


Ara terfokus dengan ucapannya yang masih terdengar formal itu. Mungkin, karena sudah terbiasa menggunakan bahasa formal, Morgan jadi terbawa sampai sekarang.


“Jangan pake--”


“Iya, aku lupa. Aku usahakan supaya gak pakai bahasa baku lagi,” Potongnya spontan, membuat Ara semakin kesal.


“Gue punya hak buat nolak loe!” gumam Ara dengan ragu.


Morgan sepertinya tak menghiraukan ucapan Ara.


Ia memeluk tubuh Ara dengan pelukan yang hangat. Tubuh Ara sesak, karena tertindih terlalu lama dengan tubuh Morgan. Ia membelai rambut Ara dengan lembut. Tak disangka, makhluk semacam Morgan bisa membuat hal hangat semacam ini, pikir Ara.


Ara tersadar kembali dengan suasana yang terjadi.

__ADS_1


“Udah deh, pergi aja sana!” bentak Ara sembari mendorong tubuh Morgan, “nanti kakak gue ngeliat, bisa mati gue!” sambungnya.


__ADS_2