Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kado Dari Mantan


__ADS_3

“Ayo kak, berangkat!” ajak Ara kepada kakaknya, yang masih mengunyah rotinya sembari menelepon orang lain yang tidak Ara ketahui.


Walaupun ia sedang sibuk mengunyah rotinya, ia masih sempat membolak-balikkan kertas yang ada di hadapannya, dengan handphone-nya yang diapit dengan bahu yang juga menempel di telinganya.


Ah.


Sibuk sekali dia.


Arash sama sekali tak menghiraukan Ara, meskipun Ara sudah memanggilnya berulang kali. Nampaknya, sedang banyak yang harus Arash urus, tentang pengajuan penawaran untuk tender kali ini. Ia sampai tidak makan dengan benar dalam beberapa hari ini. Tidur pun selalu larut, dan bangun selalu di awal waktu.


Ara jadi sedikit merasa iba dengannya.


“Kak …,” pekik Ara lagi.


“Tunggu,” jawabnya singkat, “gimana pak tadi?” ia masih meneruskan perbincangannya dengan orang asing itu.


Arash masih saja berfokus pada teleponnya.


Ada sedikit rasa kesal, karena Arash sudah mengabaikan Ara sejak tadi. Ara menyiapkan bekalnya, yang sebelumnya sudah hampir siap.


“Ayo, nanti aku terlambat ke kampus,” ucap Ara yang masih sabar menunggu Arash selesai menelepon, tapi ia tidak juga menghiraukan ucapan Ara.


“Ish, lagi ngomong sama tembok kali ah, dari tadi didiemin mulu!” bentak Ara dengan kesal.


Ara menarik handphone yang sedang Arash pegang, karena merasa sikap Arash kali ini sudah benar-benar keterlaluan, tapi kekuatan Arash lebih besar dibanding kekuatan yang Ara miliki. Ara sama sekali tidak berhasil untuk merebut handphone itu darinya. Itu membuat Ara bertambah kesal.


‘Gak bisa gini terus! Nanti kalau gue telat ke kampus, gimana?’ batin Ara risau.


Ara tak sengaja melihat kunci motor Arash, yang berada di sebelah laptopnya. Ara menyelinap, dan diam-diam mengambil kunci motor sport, yang berada di hadapan kakaknya itu. Ketika ia sudah berhasil mengambil kunci tersebut, kemudian Ara berlari sekuat tenaga.


“Lho, heh, Ara!!” pekik Arash yang panik karena kelakuan Arasha yang di luar nalar.


Dari sana, Ara melihat sekilas kakaknya yang sepertinya panik, saat menyadari, bahwa ia sudah mengambil kunci motor milik kakaknya itu.


“Ra … Ra!”


Ara mendengar kakaknya yang sedari tadi memanggil dari kejauhan, tapi ia tidak mempedulikannya.


Ara bergegas pergi menuju motor sport Arash, yang sudah disiapkan sebelumnya oleh pelayan. Ara sudah tahu, bahwa kakaknya itu ingin cepat-cepat sampai di kantornya, maka dari itu, Arash memilih untuk memakai motor.


Tapi, salah Arash sendiri, karena telah mengacuhkan Ara tadi. Sudah seperti ini, Ara sabotase saja sekalian motornya itu.


“Rasain!” lirih Ara, sembari bergegas menaiki motor ini.

__ADS_1


Ugh! Motor Arash terlalu tinggi untuk ukuran tubuh mungil seperti Ara. Bahkan, motor ini lebih tinggi daripada motor milik Bisma.


“Huft ….”


Seketika Ara merindukan Bisma.


Apa kabarnya Bisma sekarang? Pikir Ara.


Ara memakai helm full face milik kakaknya, dan segera menyalakan mesinnya. Ara menginjak perlahan pedal depan motor, dan perlahan melepas kopling bersamaan dengan saat menarik gas.


Ara merasa sangat keren, karena sudah membawa motor khusus pria. Jarang sekali ada wanita yang bisa membawa motor sebesar ini. Apalagi, motor ini bukan matic, yang hanya menarik gas dan rem saja. Ia harus pandai-pandai membawanya, jika tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Di tengah perjalanan menuju kampus, Ara hampir saja memepet mobil yang ada di hadapannya. Ara yang menyadarinya, langsung segera menginjak rem di kakinya.


“Ah!” Ara kaget sekali.


“Ngiikk ….”


Kejadian itu nyaris sekali. Ara hampir saja menabraknya.


“Anjrit! Tadi itu hampir aja!” lirih Ara, sembari tetap mengatur napasnya yang tersendat.


Ara memperhatikan kembali mobil yang hampir ia tabrak tadi. Sepertinya … ada yang salah dengan pemilik mobil itu.


Saat ini, Ara sudah tiba di kampusnya. Ara memarkir motornya di halaman parkir mahasiswa, dan bersiap untuk segera menuju ke kelasnya. Sepanjang perjalanan dari depan gerbang sampai ke tempat parkiran, mereka semua tak hentinya memandang ke arah Ara.


Apa yang salah denganku? Pikir Ara.


Ara melepas helm full face yang berhasil membuat napasnya sesak. Rambut panjangnya terurai, dan tidak sengaja ia kibaskan. Ara merasa, sudah sangat keren saat ini.


Seandainya Arash juga membelikannya motor seperti ini, Ara pasti akan sangat senang. Sayang sekali, kakaknya memblokir semua kartu kreditnya, dan hanya menyisakan sedikit dari hartanya. Bahkan, Arash hanya memberikan Ara budget sebesar gaji buruh selama satu bulan. Ara benar-benar tertekan sekali.


“Tin ….”


Tiba-tiba saja, sebuah mobil datang dan masuk ke area parkir khusus dosen. Ara menoleh ke arahnya dan memperhatikannya.


Ara lumayan kaget, saat melihat mobil itu. Karena, mungkin ini adalah mobil yang hampir saja ia tabrak tadi. Ara mendadak menjadi panik, tak tahu harus berbuat apa.


Seseorang turun dari balik pintu, membuat Ara terkejut, tak keruan.


‘Hah? Mati aku!’ batin Ara, yang langsung menutupi wajahnya dari orang yang saat ini sedang berada di hadapannya.


Ara pun pergi dari sana dengan mengendap-endap, tapi Morgan menarik kerah belakang kemeja Ara, membuat Ara tertahan dan tidak bisa pergi. Seperti orang yang sedang memegang leher kucing.

__ADS_1


“Mau ke mana kamu?” tanya Morgan dengan dingin, membuat Ara kesal dan menghempaskan tangan Morgan yang menyentuh kerah belakang kemejanya.


“Apaan sih?” tanya Ara dengan sinis.


“Oh ... jadi kamu, yang tadi hampir nyerempet mobil baru saya?” tanya Morgan dengan nada yang sangat angkuh.


Mata Ara menyipit memandangnya. Tak disangka, mobil itu adalah mobil milik Morgan. Dapat dari mana mobil sebagus ini?


Ada apa dengan Ara?


Tidak heran, orang tuanya saja kaya raya.


Morgan terlihat menoleh ke arah jam tangan yang ada di tangan sebelah kirinya. Ara pun melihatnya, dan lagi-lagi dibuat terkejut olehnya.


“Hah?” Ara tak bisa berkata apapun.


Tak disangka! Itu adalah jam tangan, yang waku itu Ara belikan untuk diberikan padanya sebagai hadiah.


Kenapa ada padanya? Pikir Ara.


Sejak kapan?


“Hah? Itu kan … jam tangan gue!” Ara berteriak, karena kelepasan.


Morgan menatap Ara dengan tatapan tajam, membuat Ara agak sedikit merinding.


“Saya tidak dengar,” celotehnya dingin, membuat Ara ingin sekali meninjunya.


“Gak usah bikin kesel deh, ya! Balikin jam tangan gue, sekarang!” pinta Ara dengan kesal.


Morgan menatap Ara lagi dengan dingin, membuat Ara melongo menatapnya.


“Apa di dunia ini, pabrik jam hanya memproduksi satu buah saja per modelnya?” tanya Morgan, yang membuat Ara kalah telak.


Ara terdiam, dan menunduk. Kenapa Ara sangat gegabah? Padahal, mungkin memang itu adalah jam tangan miliknya.


‘Duh, gue aja yang bodoh, udah niru warna dan model jam tangan yang dia punya. Gue gak berpikir sampai sejauh itu, bisa aja dia punya beberapa jam tangan, dengan model yang sama dan warna yang berbeda, bukan?’ batin Ara masih berpikir dengan segala kemungkinan yang ada, membuatnya semakin kesal.


“Ish!” lirih Ara kesal karena menahan malu.


Ara yang malu, langsung saja pergi dari tempat itu.


“Hey ….” Morgan lagi-lagi menghentikan langkah Ara.

__ADS_1


__ADS_2