
Jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam.
Kini, Fla dan Arash sudah benar-benar terpengaruh alkohol yang mereka konsumsi. Minuman itu berhasil membuat Fla tidak sadarkan diri.
Sementara itu, Arash melihat ke arah hadiah yang ada di atas meja, tak jauh dari Fla. Ia masih belum sadar tentang hadiah itu, tapi ... ia segera mengambilnya.
Arash membuka kotak kecil berhiaskan pita berwarna merah itu. Setengah sadar, ia melihat sebuah kalung berliontin akrilik yang indah.
Ia memandang ke arah Fla, yang di pandangannya saat ini terlihat seperti Jessline. Ia melontarkan senyumnya ke arah Fla.
"Kamu kasih saya kado? Eumm ... romantis sekali," gumam Arash, dengan nada yang sudah setengah tak sadar.
Ia memakai kalung itu dengan susah payah, tetapi pada akhirnya, ia berhasil memakainya di lehernya.
Kalung itu terlihat cukup bagus saat Arash yang memakainya.
"See? Saya sudah pakai kalung ini. Jangan diambil lagi, ya?" gumamnya, yang khawatir jika Jessline yang ada di pandangannya ini, akan mengambil paksa kembali kalung yang sudah Arash pakai tanpa izin itu.
Arash melihat ke arah jam di tangan kirinya, "sudah jam 12," lirih Arash yang setengah sadar.
Arash pun bangkit, dan membopong Fla, tak lupa mengambil dompet genggam milik Fla. Ia memapah Fla menuju ke arah lift untuk segera mengantar Jessline yang sebenarnya adalah Fla itu.
Di lobi sana, Ilham pun sudah datang dengan memakai pakaian santainya ditambah jaket kulit favoritnya. Ia mengeluarkan handphone untuk menelepon Arash, sembari melangkah untuk menuju ke arah lift, menjemput Arash yang mungkin saat ini sudah tak sadarkan diri.
"Gak diangkat, apa dia beneran gak sadar?" gumam Ilham yang penasaran dengan keadaan Arash saat ini.
Di sana, dengan susah payah, Arash memapah Fla menuju ke arah lift. Ia pun masuk ke dalamnya dan menekan secara sembarang tombol yang tertera di sana.
Pintu pun tertutup, dan mereka pun bergerak menuju ke lantai atas, bukan ke bawah, karena Arash yang secara random menekan sembarang tombol.
Tak lama, lift pun berhenti pada lantai paling atas hotel ini. Pintu lift terbuka, dan pemandangan yang Arash lihat pertama kali adalah Jessline yang mirip dengan Jessline yang sedang ia papah itu.
Efek halusinasi dari absinthe itu, membuat Arash tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia melihat semua orang, seperti orang yang ada di pikirannya.
__ADS_1
Jessline yang melihat ada Arash di hadapannya, menjadi sangat terkejut, karena Arash yang sedang memapah adik tirinya itu.
'Hah? Kenapa Arash bisa sama Fla?' batin Jess tak mempercayainya.
Arash seketika mengucek kedua matanya, membenarkan pandangannya yang rabun itu.
"Jess, kok kamu ada 2 sih?" gumam Arash yang semakin membuat Jess kesal.
'Ternyata Arash lagi mabuk?' batin Jess yang paham betul dengan Arash, yang selalu melarikan diri ke minuman, untuk menghilangkan pikiran yang melandanya.
'Tapi kenapa dia sama Fla?' batin Jess lagi, yang tidak bisa terima dengan kenyataan.
Seketika air mata Jessline terbendung di pelupuk matanya, karena tak bisa menerima kenyataan ini. Orang yang dekat dengan Jess, selalu pada akhirnya beralih pada Fla.
Pintu seketika tertutup, tanpa Jessline masuk ke dalam lift lebih dulu. Sudah kehilangan Bisma, Jessline pun kini kehilangan Arash, dan mereka beralih pada orang yang sama, yaitu Fla.
Perasaan Jess sangat kacau kali ini. Ia merasa sudah gagal dan kalah dari Fla, yang merupakan adik tirinya itu. Tapi saat ini, Jess tidak berdaya. Ia tidak bisa melakukan apa pun lagi, karena dirinya yang juga sudah bertekad untuk meninggalkan Arash, walau sejujurnya Jess masih sangat nyaman dengan keberadaan Arash di sisinya.
Di dalam lift sana, Arash merasa bingung, kenapa Jessline bisa menjadi ganda seperti itu. Ia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Brukk ...."
Di sana, Ilham terus menekan tombol panah lift untuk bisa masuk dan tiba di lantai 15 hotel ini, namun Ilham terkejut karena mendengar suara lift yang sepertinya sedang bermasalah. Ditambah lagi dengan pintu lift yang tidak bisa terbuka, semakin membuat Ilham bingung.
Di sisi sana juga, Jessline kaget karena mendengar suara guncangan dari dalam lift, membuat matanya seketika membulat.
"Arash!!" pekik Jessline yang terkejut, karena mengetahui lift yang sepertinya eror, dengan Arash dan Fla yang masih berada di dalam sana.
Arash terjatuh tepat menindih Fla, tapi ia berusaha sebisa mungkin untuk menyanggah tubuhnya menggunakan kedua lengannya, agar tidak terlalu menindih tubuh Fla.
Arash mendelik, karena ia melihat dengan sadar, bahwa yang ada di hadapannya saat ini adalah Fla, dan bukan Jessline.
Saking kuatnya guncangan, Fla sampai tersadar dari pingsannya, dan betapa terkejutnya dia, saat ia melihat Arash yang saat ini sedang menindihnya.
__ADS_1
Fla mendelik, "haaaaaaa!!" teriak Fla, yang langsung bangkit, membuat kepalanya menghajar kening Arash, sehingga membuat Arash terpental jauh ke belakang.
"Brukk ...."
"Awss ...."
Arash merintih, karena kepala Fla yang dengan keras menghajar kening Arash, begitu pun Fla yang kesakitan karena terkejut melihat pemandangan langka yang ada di hadapannya tadi.
Fla memegangi dadanya yang sudah berdetak tak menentu, 'duh ... kok dia bisa ada di atas gue, sih? Bikin gue mati gaya aja,' batin Fla mengaduh.
Jessline berusaha berlari dari lantai 20 hingga lantai 1, dengan high heels-nya yang ia tinggalkan di depan lift, tempat ia berdiri tadi. Dengan susah payah ia berlari, hingga jatuh tersungkur sampai melukai bagian siku tangan dan kakinya.
"Ahh!!" teriak Jessline, yang kesal sendiri dengan keadaannya.
Di sana, Ilham segera berlari menuju ke arah resepsionis.
"Mbak! Kenapa lift gak berfungsi? Apa lagi trouble?" tanya Ilham, yang membuat resepsionis itu terkejut.
"Masa sih, Pak?" tanyanya yang tak percaya dengan ucapan Ilham.
"Benar, Mbak. Coba dicek dulu," ucap Ilham yang berusaha meyakinkan resepsionis itu.
"Sebentar ya, Pak. Saya hubungi bagian teknisi dulu," lirih resepsionis itu, yang segera menelepon seseorang.
Ilham menunggu resepsionis itu, sembari mengeluarkan handphone untuk menghubungi Arash.
Ia menunggu Arash untuk mengangkat teleponnya, namun tiba-tiba saja teleponnya terputus karena masalah sinyal yang tidak memadai.
"Kenapa gak terhubung, sih?" gumam Ilham yang bingung dengan teleponnya yang tidak terhubung.
Ilham mendelik, "Arash sedang tidak terjebak di lift, kan?" gumam Ilham yang mulai tak tenang dengan firasatnya.
Firasat Ilham memang tidak pernah salah. Jika dipikir dengan logika, Ilham baru saja mencoba menelepon Arash, dan saat itu telepon Arash masih aktif, dan tidak ada masalah di gedung ini mengenai sinyal.
__ADS_1
"Brukk ...."