
Setelah melakukan adegan panas kemarin, hubungan mereka kini jauh lebih dekat dari sebelumnya. Mereka saling bertukar cerita satu sama lain, antara kisah yang menyenangkan sampai kepada kisah yang menyedihkan.
Ara tak bisa membayangkan kisah pilu Ilham sejak dulu. Walau tak dipungkiri, dirinya juga memiliki kisah pilunya sendiri.
Mereka juga menghabiskan Minggu malam, dengan berjalan-jalan sebentar untuk sekadar mengisi perut dan juga menonton bioskop.
Entah mengapa perasaan Ara terhadap Ilham, sudah lebih dalam dari sebelumnya. Dirinya merasa sangat beruntung bisa memiliki sosok Ilham dalam hidupnya.
Pada Senin pagi yang cerah ini, Ara pun sudah sampai di depan gerbang kampus seperti biasa, yang diantar oleh suami tercintanya. Ara menoleh ke arah Ilham yang berada di sebelahnya, yang ternyata juga menoleh ke arahnya.
Ara tersenyum memandang Ilham, yang sudah lebih dulu tersenyum padanya. Ara masih teringat dengan adegan bercinta mereka yang kemarin, karena efek bercinta kemarin, membuat tubuh Ara menjadi terasa pegal-pegal.
"Gimana tangannya, masih sakit?" tanya Ilham yang sedikit menghawatirkan kondisi kesehatan Ara.
Ara menggeleng kecil, "Udah lumayan enakan, kok," jawab Ara dengan sangat senang.
Ilham tersenyum, lalu mengecup singkat puncak kepala Ara, "Jaga diri baik-baik, ya," gumam Ilham, membuat Ara mengangguk kecil karenanya.
Ara menatap ke arah Ilham dengan dalam, "Di sini enggak?" tanya Ara, sembari menunjuk ke arah bibirnya, membuat Ilham mengerenyit.
"Nanti kamu marah-marah lagi, gak? Nanti aku disuruh beli mobil yang kacanya otomatis ketutup gitu, lagi?" tanya Ilham yang memastikan keadaan lebih dulu.
Ara menyedekapkan tangannya, "Gak perlu yang begitu-begitu lagi. Kita kan ... udah sah. Kenapa harus malu sama mereka?" gumam Ara dengan malas, membuat Ilham tersenyum.
Tanpa basa-basi, Ilham segera menarik lembut dagu Ara, lalu mencium bibir Ara cukup lama.
Hal itu diketahui oleh sosok misterius yang berdiri dari arah pagar. Ia memandang tajam ke arah mereka yang sedang bercumbu mesra di sana.
Seseorang menghampiri sosok misterius tersebut, "Ayo, hari pertama masuk gak boleh sampai telat!" tegur salah satu temannya, yang tersadar dengan sosok misterius itu yang sepertinya sedang memperhatikan sesuatu.
__ADS_1
Ilham memagut bibir Ara dengan sangat lembut, tanpa memedulikan keadaan sekitarnya. Tangannya tak tinggal diam, ia juga mengelus lembut tengkuk leher Ara.
Perlahan, Ilham memagut Ara, sampai pada pipinya, lalu turun ke area leher, meninggalkan bekas kepemilikan berwarna merah kehitaman di sana.
Kiranya dirasa cukup, Ilham pun melepaskan Ara dan tidak ingin melanjutkan, khawatir dirinya terbawa suasana lebih jauh lagi.
'Seperti biasa, dia sangat memabukkan,' batin Ilham yang sangat bergairah menciumi istrinya tersebut.
Ara menyentuh pipi Ilham dengan lembut, "Semangat sayang kerjanya," gumam Ara dengan nada manja, seketika membuat Ilham tersenyum sumringah.
"Kamu begitu, bikin aku gak mau berangkat kerja," gumam Ilham, yang tiba-tiba saja menenggelamkan wajahnya tepat pada dua gundukan kenyal milik Ara, membuat sosok misterius itu mendelik ke arah mereka.
"Bisa-bisanya mereka berbuat begitu di kampus!" bentak teman dari sosok misterius itu.
Ara tersenyum hangat, "Nanti jam 5 kita ketemu lagi, kok!" ujar Ara, membuat Ilham memandangnya lagi.
"Jangan lama-lama," ucap Ilham dengan pandangan seekor kelinci, membuat Ara gemas sekali dengannya.
Ilham dengan berat hati melepaskan Ara, membuatnya merasa sudah ingin memeluknya lagi.
"Aku ke dalam, ya?" tanya Ara, membuat Ilham terpaksa mengangguk karenanya.
Ara pun tersenyum, lalu segera keluar dari mobil Ilham.
Ilham tak sengaja melihat tas Ara, yang sampai tak terbawa saking Ara senangnya. Ilham mendelik, karena siapa tahu ada pekerjaan rumah yang harus segera dikumpulkan oleh Ara.
"Wah ... harus ke kelasnya," gumam Ilham, yang dengan segera menyambar tas tersebut, lalu segera menuju ke arah Ara yang belum terlalu jauh pergi.
Ilham melihat ke arah Ara, yang sepertinya sedang terdiam sembari menghadap ke arah dua orang, yang tak terlihat jelas dalam jarak yang sejauh ini.
__ADS_1
"Sayang ...," pekik Ilham, yang langsung menghampiri Ara.
"Ini tas kamu ketinggal ...," ucap Ilham menggantung ketika melihat dua orang yang ada di hadapannya, "an ...," sambungnya.
Ilham di hadapkan pada situasi yang sangat sulit. Ia memandang Ara, yang terlihat sudah berlinang air mata itu. Ilham pun kembali memandang ke arah dua orang yang ada di hadapannya yang ternyata adalah Morgan dan juga Dicky.
Ya! Tak bisa dipungkiri, walaupun Ara menjalani hubungan dengan Ilham, ia masih belum bisa melupakan Morgan, seperti yang selalu ia katakan pada Ilham.
"Oh ... sudah lama ya, tidak berjumpa, Pak Morgan dan Pak Dicky," sapa Ilham dengan sangat ramah, seolah-olah tidak mempermasalahkan kejadian yang pernah terjadi pada mereka.
Ilham memandang ke arah Ara yang terlihat sudah sangat kacau, meskipun Ara sama sekali tak bergeming.
Morgan tak menghiraukannya, dan malah terfokus pada bekas kecupan kepemilikan yang Ilham tinggalkan di leher jenjang Ara.
Ilham yang menyadari akan hal itu, segera memandang ke arah Ara lagi, "Sayang, ini tas kamu ketinggalan di mobil aku," ujar Ilham, sembari memberikan tas pada Ara.
Ara pun menerimanya, tanpa ekspresi sedikit pun, sembari menahan tangisannya yang sedikit lagi keluar. Ilham segera membuka jas hitam pemberian Ara, yang masih Ilham kenakan sampai detik ini. Ia memakaikannya pada Ara, supaya Morgan tidak lagi melihat bekas kecupan mesra Ilham di leher Ara.
"Cuaca agak dingin. Pakai jas aku dulu, ya," gumam Ilham dengan senyuman manisnya pada Ara.
Dicky hanya memandangi mereka dengan tatapan tak percaya, begitu pun Morgan yang hanya bisa memandangi dengan tatapan datar yang ia miliki.
Sepertinya keadaan sangat canggung di sini. Ilham paham, tidak mudah untuk Ara melewati ini semua. Namun, jika Ilham menghitung dari pemberangkatan Morgan ke Amerika kala itu, waktunya sudah sangat tepat, yaitu sekitar 4 bulan untuk ia kembali lagi ke Indonesia.
Ilham memegang lembut tangan Ara, membuat Ara terkejut karenanya, "Sayang, nanti kamu terlambat masuk ke kelas, lho! Yuk, aku antar ya kamu ke kelas," ujar Ilham dengan sangat lembut, sembari menuntun Ara untuk pergi meninggalkan mereka di sana.
Dengan sangat terpaksa, Ara pun melangkahkan kakinya yang sangat berat, untuk meninggalkan Morgan dan Dicky di sana. Melihat Ara yang berlalu pergi, Morgan tidak bisa menahan perasaannya pada Ara. Ia dengan cepat menarik tangan Ara yang satunya, sehingga membuat langkah Ilham terhenti karenanya.
Ilham memandang Morgan dengan sinis, membuat Morgan memandangnya dengan tatapan yang tak kalah sinisnya.
__ADS_1
"Jangan sentuh Ara!" bentak Ilham dengan sangat sinis, membuat Dicky sampai terkejut karena ekspresinya yang terlihat menyeramkan.