
...-FLASHBACK MORGAN ON-...
Saat itu, Morgan masih berusia sekitar delapan belas tahun. Morgan masih harus melanjutkan kuliahnya untuk bisa mencapai tingkat Strata 1.
Morgan tidak sengaja mengenal seorang gadis, yang sangat unik pada saat itu. Morgan memandangnya dengan lekat, seperti tidak mau menoleh ke gadis mana pun.
Morgan menyenggol bahu Arash, “eh, itu namanya siapa?” tanya Morgan kepada Arash, yang saat itu juga melanjutkan pendidikannya di kampus yang sama dengan Morgan.
Arash melihat ke arah yang saat itu Morgan tunjuk, membuat mata Arash seketika menyipit ke arah Morgan.
“Sang maestro sedang jatuh cinta nih, ceritanya?” ledek Arash pada Morgan.
Morgan memandang malas dirinya, “come on, Rash,” ucap Morgan, yang berusaha meminta Arash untuk menanggapi pertanyaannya dengan serius.
Arash tertawa kecil, “dia Putri. Anak kelas sebelah. Kenapa? Loe suka sama dia?” tanya Arash, membuat Morgan mendelik ke arahnya.
“Wajahnya sih … masih kalah jauh, dengan Ara,” lirih Morgan, yang tidak Arash dengar dengan jelas.
Arash mengerenyitkan dahinya, “hah? Tadi loe bilang apa?” tanya Arash yang minta untuk diulangi kembali, karena ia tidak mendengar perkataan Morgan dengan jelas.
Mendengar pertanyaan Arash, Morgan hanya bisa berpura-pura untuk mengalihkan pandangannya ke semua arah.
Singkat cerita, Morgan mengajaknya untuk berkenalan, dan meminta nomor handphone gadis yang membuat perhatiannya tertarik itu.
“Put, boleh … minta nomor handphone kamu, gak?” lirih Morgan yang sedang duduk di sebelah Putri, yang sedari tadi hanya melihat ke arah buku novel yang sedang ia baca.
Putri menoleh, dan hanya memberikan novel itu pada Morgan, lalu ia tersenyum dan segera pergi dari sana.
Morgan tidak mengerti dengan sikap Putri yang seperti itu. Ia memandang ke arah Putri yang sudah menghilang dari pelupuk mata.
Morgan melihat ke arah novel yang baru saja Putri berikan. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Morgan pun membuka lembaran pertama novel itu.
Terlihat sebuah tulisan tangan, yang tertera sebuah nama, nomor telepon, dan juga alamat rumah. Putri sengaja memberikan catatan jika bukunya hilang, ia berharap bisa ada yang mengembalikan, dengan cara seperti itu.
Tak sadar, satu senyuman mengembang di pipi Morgan. Itu tandanya, Putri sudah mulai memberikan celah pada Morgan, supaya bisa lebih dekat dengannya. Kemudian, ia mulai melakukan pendekatan yang intensif.
__ADS_1
Perlahan, Morgan mulai melupakan Ara, dan semua masa lalu sebelum Ara, yang pernah ada. Morgan sangat mencintai Putri, karena dia adalah gadis yang sangat sulit untuk di dapatkan.
Hal itu tidak membuat Morgan menyerah.
Morgan terus melakukan pendekatan dengan berbagai cara. Tak jarang laki-laki lain pun ikut berkompetisi untuk memenangkan hati gadis unik yang satu ini.
Suatu ketika, Morgan mengajaknya makan malam dan untuk sekadar menonton film di bioskop.
“Kamu suka, saya ajak makan di sini?” tanya Morgan dengan penuh kelembutan.
Ia melahap makanannya, sembari mengangguk senang ke arah Morgan. Morgan
senang melihat responnya itu, yang sangat lahap dengan makanan yang ia santap.
Morgan memandangnya dengan lekat. Mungkin, saat ini Morgan sudah dibuat mabuk dengan kepolosannya itu.
“Ini … ada sesuatu,” lirih Morgan, sembari terus memperhatikan bagian dagunya, yang terkena sisa makanan.
Morgan meraih dagunya dan tanpa sengaja membuatnya kaget, membuat suasana nampak kaku.
Mereka pun segera menuju ke ruang studio bioskop. Morgan sangat senang bisa bercanda dan tertawa dengannya.
Morgan suka bentuk bibirnya, ketika ia sedang berbicara atau sedang merajuk, yang selalu bisa menggugah selera Morgan.
Morgan duduk di kursi yang tidak terlalu akhir, dan juga tidak begitu di depan. Film pertama yang mereka tonton adalah film horror, yang ia pilihkan untuk Morgan.
Sejujurnya, Morgan tidak terlalu mempermasalahkan, tentang film apa pun yang akan ia tonton. Dan sejujurnya, Morgan tidak terlalu suka menonton bioskop, karena tujuan Morgan hanyalah ingin bersamanya, dan bisa sedikit melakukan adegan mesra dengannya.
Film pun dimulai. Mereka senang karena sudah menunggu lama, dan akhirnya film itu pun dimulai. Morgan menonton ke arah layar, sembari memakan pop corn.
“Kamu suka filmnya gak?” tanya Morgan padanya, sembari terus memakan pop corn yang ia pegang.
Tak ada jawaban apa pun darinya, membuat Morgan merasa ada yang janggal.
“Tseeettttt ....”
__ADS_1
Morgan tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang hangat, yang jatuh tepat di tangannya. Seperti sebuah cairan kental.
Morgan tidak mempedulikannya, dan hanya tetap berfokus pada layar yang sedang ia tonton.
Suara berisik orang-orang mulai membuat Morgan terusik dan terganggu.
Kenapa semua orang menjadi ramai di saat film sudah diputar? Pikir Morgan.
Morgan yang penasaran, langsung menoleh ke arah gadis itu.
Matanya membulat sempurna, “PUTRI!!” Morgan berteriak histeris, saat mengetahui Putri sudah tergolek lemas dan bersimpah darah.
Morgan melihat sekelilingnya yang hanya bisa menatapnya.
Aku bingung! Apa yang harus aku lakukan? Pikir Morgan.
Morgan segera melihat ke sekeliling tempat yang Putri duduki. Betapa terkejutnya ia, saat menemukan pisau yang tertancap pada sandaran kursi bioskop, yang putri tempati.
Pisau itu menembus dari arah belakang, sampai pada perut Putri.
Morgan sudah tidak bisa berbuat apa pun. Morgan hanya terdiam lemas, sembari melihat keadaan Putri yang sudah tergeletak lemas. Morga sudah pasrah dengan apa pun yang akan terjadi nantinya.
Tidak ada seorang pun yang berani mendekat, dengan alasan sidik jari. Hingga beberapa petugas pun menghentikan film yang sedang diputar. Mereka dengan cepat datang dengan membawa polisi, dan siap untuk memeriksa keadaan sekitar.
Morgan hanya terdiam lemas, karena ia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini pada orang yang sangat ia cintai.
Morgan sudah seperti orang yang kehilangan akal sehat. Morgan hanya bisa diam sembari menatap Putri yang sedang diamankan oleh para petugas.
Seketika gedung studio pun terasa sepi. Hanya ada Morgan, jenazah Putri, dan beberapa petugas yang sedang memeriksa. Untuk menangis pun, Morgan sudah tak sanggup. Ia sudah benar-benar kehilangan harapannya.
Seorang petugas menyergap Morgan, tapi Morgan hanya menuruti semua keinginannya tanpa basa-basi dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Morgan sudah tidak berdaya lagi, untuk melawan atau sekedar mengucapkan satu patah kata.
Dengan berat hati, Morgan mengikuti mereka semua ke kantor polisi. Ayah, dan juga Fla hadir di sana sebagai orang yang salah paham atas kejadian yang sudah menimpa Morgan ini. Mereka menganggap bahwa Morgan lah yang telah membunuh Putri. Padahal, Morgan sama sekali tidak tahu-menau soal kejadian yang baru saja menimpa Putri.
Aku sungguh bodoh! Sudah teledor dengan keadaan wanita yang aku sayangi, pikir Morgan.
__ADS_1
Tidak ada yang mau mendengar penjelasan Morgan pada saat itu, meskipun sudah terbukti, jika dirinya sama sekali tidak bersalah atas kejadian ini.