Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Teman Baru


__ADS_3

Ara sudah agak lega dengan perasaan hatinya. Karena hari sudah semakin siang, Ara meminta Ilham untuk mengambilkan tas dan sepatunya yang masih tertinggal di rumah. Karena, ia masih perlu sedikit waktu untuk bisa menerima kenyataan tentang Aresha.


Ara juga meminta tolong pada Ilham, untuk mengantarkannya ke kampus, karena ia tidak ingin berinteraksi dengan kakaknya, untuk sementara waktu.


“Tin ….”


Terdengar suara klakson mobil, membuat Ara menoleh ke arah belakangnya.


Terlihat Ilham yang sudah rapi, dengan memakai jas dan baju milik Arash, karena ia yang tidak membawa salinan baju, membuatnya terpaksa harus meminjam pakaian Arash.


Ara menatapnya dengan tatapan kaget, karena baju Arash yang ia pakai, terasa lebih kecil satu ukuran dari Arash.


“Kenapa pakai baju itu? Itu kan … baju lamanya kak Arash yang udah gak muat?” lirih Ara, membuat Ilham mendelik tak percaya.


“Pantas aja, sesak,” gumam Ilham, membuat Ara tertawa kecil karenanya.


Ilham memandang ke arah Ara yang sedang tertawa kecil, ‘melihatnya tertawa saja, sudah membuat hati saya bahagia,’ batin Ilham yang merasa cukup senang melihat Ara yang sudah mulai bisa tersenyum itu.


“Ya sudah, ayo masuk, nanti telat gimana?” tanya Ilham, membuat Ara mendelik kaget.


Ara sampai lupa, bahwa ia sedang buru-buru untuk sampai kampus.


“Lupa!” teriak Ara, yang langsung masuk ke dalam mobil Ilham.


Ilham menggeleng kecil, lalu segera mengantarkan Ara ke kampusnya sesegera mungkin.


Tak berapa lama, Ara pun sampai di depan gerbang kampusnya. Ia bergegas turun dari mobil Ilham.


“Makasih, Kak Ilham!” pekik Ara dari jauh, namun Ilham hanya mengangguk kecil sembari melontarkan senyuman tipis ke arahnya.


Ara kemudian masuk untuk menuju kelasnya.


Ilham terdiam sendu. Ia lagi-lagi merogoh saku celananya dan memperhatikan kalung Ara yang masih ia pegang sampai saat ini.


“Genggam atau lepaskan?” lirih Ilham yang bimbang dengan keadaan.


Langkah Ara terhenti, setelah melihat pemandangan yang aneh. Ia sangat terkejut melihat Morgan yang berdandan rapi mengenakan jas hitam dan juga dasi.

__ADS_1


Tidak seperti biasanya!


Padahal jika Ara pikir kembali, Morgan juga sudah terbiasa mengenakan jas rapi seperti ini. Tapi, kenapa hari ini nampak berbeda? Apa yang membuatnya sangat memukau saat ini? Apa mungkin karena … aku merindukannya?


‘Aish ... mikir apa sih gue?’ batin Ara yang mulai kehilangan kesadarannya.


Melihat Ara yang sedang diam di hadapannya, Morgan menghela napasnya dengan panjang, bersikap seolah tidak terjadi apa pun.


Ia menatap mantap ke arah Ara, “Arasha!” pekik Morgan, membuat Ara mendelik kaget, dan segera menghampiri kekasihnya itu.


“Ke mana dasi kamu?” tanya Morgan yang sedang menatap Ara tajam.


Ara mendelik, apa katanya? Dasi? Pikir Ara.


Spontan Ara meraba dadanya, dan kaget karena mendapati dasinya yang memang tidak ada pada tempatnya.


Hah, kenapa bisa aku seteledor ini, tidak membawa dasi di saat ujian? Aku bingung dan merasa takut! Pikir Ara yang ketakutan dengan keadaan.


Morgan seperti sedang mencatat sesuatu di selembar kertas.


Ara sampai gelagapan dan bingung harus bagaimana. Hari pertama ia masuk kembali ke kampus, malah terkena hukum seperti ini.


“Yah ... ta-tapi kan aku--”


Morgan memberikan Ara sebuah kode, bahwa di belakangnya kini sedang ada orang lain. Ara harus bisa menjaga sikapnya ketika sedang berada di kampus. Biar bagaimanapun juga, Morgan di kampus adalah seorang dosen, berbeda jika ia sudah berada di luar area kampus.


Ara yang mendapati sinyal dari Morgan, langsung mengerti dan paham apa yang Morgan maksudkan.


“Sa-saya lupa pak, tolong kasih dispensasi. Besok Saya gak akan ngulangin lagi kok,” ucap Ara, memohon keringanan padanya.


Seperti yang dikatakan tadi, Ara harus menjaga sikapnya selama berada di area kampus. Ara tidak boleh mencampuradukkan urusan pribadi, dengan urusan kampus. Walau bagaimanapun, Morgan itu tetaplah Dosen di kampus ini. Ara tidak bisa bersikap seenaknya padanya saat di kampus.


“Tidak ada dispensasi. Silakan, arahnya di sebelah sana,” Morgan menunjukkan arah dengan membuka sebelah lengannya.


Hal itu tentu saja dengan sikap dingin seperti biasanya. Ada perasaan sedikit kesal padanya, namun peraturan tetaplah peraturan. Ara tidak bisa memaksakan Morgan, walaupun dia mungkin saja tidak akan tega melakukan ini pada kekasih yang ia cinta.


Ara menunduk malu, “i-iya, Pak,” ucap Ara dengan segala keterpaksaan yang ada.

__ADS_1


Ara bergegas menuju lapangan. Ia tak sengaja menoleh ke arah Morgan kembali untuk memastikan keadaan Morgan.


“Hah!”


Matanya membulat, samar ia lihat dari kejauhan, Morgan yang sedang berbicara dengan seorang wanita asing yang tidak ia kenal.


Wajahnya sangat imut, cantik dan anggun. Tidak terlalu jelas wajah wanita itu. Tapi yang ia lihat dengan jelas adalah ekspresi Morgan yang berbicara padanya, tanpa ada ekspresi yang berlebihan.


Mungkin, itu teman lamanya Morgan. Atau mungkin saja dosen di kampus ini yang baru saja aku lihat. Agak sedikit tenang hati ini karena melihat respon yang biasa saja dari Morgan, pikir Ara yang berusaha berpikiran baik terhadap kekasihnya itu.


Ara sudah sampai di lapangan dan segera memasuki barisan yang ada. Ternyata, bukan hanya dirinya saja yang dihukum seperti ini. Banyak sekali orang yang tidak memakai atribut lengkap, yang juga terkena hukuman yang sama sepertinya.


Ara berdiri sembari melihat dan memperhatikan ketua HIMA yang sedang mendata satu per satu mahasiswa yang tidak beratribut lengkap.


Ara merasa, seperti ada seseorang yang berdiri di sebelahnya. Ara yang sudah yakin, kemudian spontan menoleh ke arah sebelahnya.


Mata Ara membulat sempurna. Ia terkejut karena melihat orang misterius itu lagi yang saat ini sedang berdiri tepat di sebelahnya. Ara sangat bingung, karena beberapa kali harus bertemu dengannya seperti ini.


Seperti sebuah takdir.


“Loe ...,” pekik Ara yang setengah tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Pria itu tersenyum ke arah Ara, “ohayou gozaimasu,” sapanya mengucapkan selamat pagi kepada Ara, dengan senyuman manis yang menurut Ara sangat mematikan.


Pria Jepang yang sampai sekarang tidak aku ketahui namanya ini, terus-menerus berada di mana pun Ara berada.


Aneh sekali jika mereka tidak saling mengenal, padahal takdir selalu mempertemukan mereka.


“Ehh ... gue gak paham,” lirih Ara yang kurang mengerti dengan bahasa yang ia ucapkan itu, membuatnya harus tertawa kecil.


“Selamat Bagi,” ucapnya membuat Ara seketika tertawa dibuatnya.


Pria itu mengerenyitkan dahinya, “why?” tanyanya yang nampak bingung dengan sikap Ara.


“Bukan bagi, tapi pagi,” ucap Ara membenarkan perkataannya yang berantakan.


Wajahnya terlihat bersemu merah, mungkin dia malu. Wajar saja sih, dari wajahnya saja mungkin benar ia bukan warga asli pribumi, pikir Ara.

__ADS_1


__ADS_2