
“Pokoknya nih ya, loe harus perhatiin cara mereka natap Morgan, cara mereka ngobrol dan pokoknya loe harus ikutin acara itu sampe kelar!” ucap Ara memaksa Rafa.
Rafa terdiam karena sedang berpikir, Ara menyeleneh mendengarnya.
“Tapi, Ra--”
“Gak ada tapi-tapi pokoknya! Kalau gue di sana, gue gak akan juga minta tolong sama loe. Plis, kali ini aja ya,” potong Ara, yang berusaha meyakinkan Rafa.
Ara berharap, kalau Rafa bisa menjaga Morgan di saat dirinya sedang tidak berada di sampingnya.
“Oke deh, Ra. Gue coba,” lirih Rafa yang terdengar tidak yakin.
“Haaaa ... makasih banyak Raf! Pokoknya gue janji, selama seminggu ke depan, kalau loe ngerjain tugas dengan benar, gue bakalan ngabulin satu permintaan yang loe mau,” ucap Ara, berusaha untuk lebih meyakinkan Rafa.
“Ya ... tapi gimana caranya gue buat ngejalanin ini semua?” tanya Rafa.
Ara tersenyum miring mendengar pertanyaannya.
Di sisi lain, Morgan sudah hampir sampai di kampus. Morgan sudah bertukar kabar mengenai hal yang harus dilakukan, untuk menyelidiki kasus bullying yang menimpa adiknya itu.
Morgan memarkirkan mobilnya agak dekat dengan lobi kampus, sehingga memudahkannya untuk cepat sampai pada posisi Dicky dan Lidya saat ini.
“Krieett ….”
Morgan membuka pintu ruangan IT support yang ada di kampusnya.
Matanya membulat, karena melihat Dicky yang sedang bermesraan dengan Lidya di sana. Dengan ciuman Dicky yang tak pernah lepas dari setiap bagian bibir Lidya, dan juga tangan Dicky yang sedang menangkup kedua gundukan kenyal milik Lidya, membuat Morgan hanya bisa menatap ke arah mereka dengan tatapan yang datar.
Dicky yang merasa terusik dengan kehadiran Morgan yang tiba-tiba itu, membuatnya melepaskan cengkeramannya pada Lidya.
“Eh, cepet banget sampenya, Gan. Gue pikir mah lama, makanya bisa secelup dua celup dulu,” lirih Dicky, membuat Morgan terkekeh mendengar perkataan Dicky yang tidak disaring lebih dulu.
Lidya membenarkan sikapnya di hadapan Morgan. Pasalnya, Lidya menyimpan perasaan yang tak tersampaikan pada Morgan, membuatnya setengah mati malu karena melihat Morgan yang tiba-tiba saja datang di hadapannya, pada saat yang tidak tepat seperti itu.
__ADS_1
“Harusnya kalau mau begitu, jangan di sini. Gak modal banget,” ucap Morgan yang tajam dan menusuk, membuat wajah Lidya menjadi bersemu merah seketika.
“Yah, maklum lah, karena susah banget ngatur waktu,” ucap Dicky, membuat Morgan semakin terkekeh.
Lidya hanya bisa menatap Morgan dengan tatapan penuh makna.
‘Seharusnya kamu yang ada di posisi ini,’ batin Lidya, sembari menatap Morgan dengan lekat.
Hatinya tidak tenang, karena Morgan yang selalu menolaknya dengan seribu macam cara, membuat Lidya terpaksa berhenti mengejarnya.
Morgan melirik sedikit ke arah Lidya, membuatnya berpikir tentang Lidya yang sedari tadi seperti sedang berpikir sesuatu tentang dirinya.
‘Lidya, Lidya. Apa dia masih berharap untuk jadi kekasih saya?’ batin Morgan, yang agak iba melihat dirinya saat ini.
Setelah gagal mendekati Morgan, Lidya terus menerima perlakuan manis laki-laki, membuatnya terlihat seperti wanita yang sangat rendah. Termasuk menerima perlakuan Dicky, yang tidak senonoh ini.
‘Sudahlah, saya di sini untuk mengetahui kebenaran tentang kasus yang sedang menimpa Fla, saya tidak ingin memikirkan hal yang tidak pantas saya pikirkan,’ batin Morgan, yang berusaha menghilangkan pikiran buruknya terhadap Lidya.
‘Kalau bukan karena Lidya yang menjadi kepala IT support di sini, saya tidak akan mau bertemu dia di luar jam kampus seperti ini,’ batin Morgan, yang sudah agak risih dengan keadaan.
Dicky menoleh ke arah Lidya, “iya, gimana, Lid?” tanya Dicky.
Lidya tersadar dari lamunan, “emm … mau dilihat dari jam berapa?” tanya Lidya membuat Morgan terdiam sejenak.
“Kira-kira, sekitar jam lima sore,” jawab Morgan.
Lidya segera memperlihatkan rekaman CCTV yang berada di koridor kampus. Morgan dan Dicky melihat ke arah layar monitor.
Lidya mulai membuka file rekaman pada CCTV itu.
Terlihat rekaman dari arah tangga, yang memperlihatkan Fla dan Farha yang sedang bercengkerama di sana.
Morgan memperhatikan sekelilingnya. Cukup lama mereka bercengkerama, membuat Morgan terus menatap kejanggalan apa yang ada di layar monitornya.
__ADS_1
“Boleh saya percepat?” tanya Lidya.
“Jangan, saya ingin lihat semuanya dengan detil,” cegah Morgan, membuat Lidya terdiam sembari memandangnya.
Dicky yang melihat tatapan Lidya yang serius ke arah Morgan, segera mengambil sikap untuk merengkuh wajah Lidya, ke dadanya.
Dicky tidak memperbolehkan Lidya untuk menatap Morgan lebih dalam. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Lidya hanya diam menerima perlakukan Dicky, sementara Morgan hanya diam sembari memperhatikan layar monitor.
Morgan melihat Farha yang sudah pergi meninggalkan Fla. Setelah itu, Fla melangkah, dan melewati cangkupan sorot CCTV dari tangga, membuatnya tidak terlihat lagi dari peredaran.
“Sepertinya tidak terjadi apa pun,” lirih Morgan, membuat Lidya dan Dicky melihat ke arahnya, “apa ada kamera dari sudut pandang lain?” tanya Morgan, membuat Lidya mengambil sikap untuk mencari file lainnya.
Lidya memperlihatkan rekaman dari sudut pandang CCTV yang lain. Kali ini, ia memperlihatkan sudut pandang dari CCTV yang berada di pinggir koridor.
Morgan kembali melihat rekaman itu. Di sana, terlihat tiga orang yang muncul dengan membawa sebuah ember berisi air, dan menyiram langsung ke kepala Fla. Seperti yang Arash ceritakan padanya.
Sayang sekali, karena keterbatasan sudut pandang, Morgan tidak bisa melihat wajah tiga orang itu, karena CCTV yang menyorot hanya ke arah Fla saja, sehingga membelakangi mereka.
“Wajahnya tidak kelihatan, apa ada lagi rekaman yang lain?” tanya Morgan, membuat Lidya menggelengkan kepalanya.
“Sayang sekali tidak ada. CCTV dari arah hadapan mereka sedang mengalami trouble. Jadi, tidak bisa merekam aksi mereka,” jelas Lidya, membuat Morgan terdiam.
Morgan berpikir tentang tiga orang yang ada di dalam layar monitor ini. Ia sama sekali tidak bisa menebak, siapa yang ada di dalam layar ini. Karena Morgan yang memang tidak pernah memperhatikan gaya berpakaian setiap mahasiswi.
Dicky menoleh ke arah Morgan, “apa kamu tahu, siapa pelaku ini?” tanyanya, membuat Morgan menggeleng kecil.
“Saya gak pernah perhatikan mereka,” ucap Morgan, membuat Dicky menelan salivanya dengan kasar.
“Dasar laki-laki dingin,” lirih Dicky, membuat Morgan mengusap kasar wajahnya.
“Makanya, perhatikan semua orang yang sudah memperhatikan kamu,” lirih Lidya, membuat Dicky melontarkan tatapan kesalnya ke arah Lidya.
Lidya yang mengetahui reaksi Dicky, segera membuang pandangannya, karena tidak ingin dibaca pikirannya oleh Dicky, sang dosen psikologi.
__ADS_1
Dicky menghela napasnya, berusaha untuk memahami sikap Lidya yang masih sering memperhatikan Morgan.
Dicky menoleh ke arah Morgan, yang masih menatap serius ke arah layar monitor, “jadi gimana?” tanya Dicky.