Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Gagal Self Healing 2


__ADS_3

Tangis Ara seketika pecah. Semua memori yang sudah mereka lewati, seketika terlintas jelas di benaknya. Ara seperti sedang melihat sebuah bioskop besar, berisi kenangan indah dirinya bersama dengan Reza.


Tidak hanya satu, mereka semua mengelilingi isi pikiran Ara, membuat dirinya berputar mengikuti poros sampai ia sadar, bahwa dirinya tidak benar-benar melupakannya. Ara masih sangat mengingat Reza dengan jelas, di pikirannya.


Ara mendelik menyadari kepergian Reza, "Reza!” teriak Ara sekencang mungkin dan bangkit dari tidurnya.


Menyadari Ara yang sudah sadar, seseorang berlarian ke arahnya.


"Ra, kamu nggak apa-apa? Kamu kenapa?" tanyanya.


Suaranya terdengar tidak asing di telinga Ara. Spontan dirinya langsung melihat ke arah orang tersebut.


Ara mendelik seketika, Morgan? Ke mana Reza yang tadi aku lihat? Pikir Ara, yang merasa rancu dengan kejadian aneh yang terjadi pada dirinya.


Ara menoleh ke sekelilingnya, dan memperhatikan setiap sisi ruangan, apa barusan aku baru saja bermimpi? Tapi kenapa mimpi itu terasa sangat nyata? Pikir Ara sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Kamu mimpi apa tadi?" tanya Morgan yang sangat khawatir dengan keadaan Ara.


Ara menoleh kembali ke arah Morgan, dan akhirnya ia meyakinkan dirinya kalau memang benar ia telah bermimpi.


Ara meremas kencang rambutnya, karena kepalanya terasa sangat berat, badannya pun seperti menggigil, Ara kini sudah seperti kehilangan tenaga.


Morgan mendelik, "Ra, apa yang terjadi sama kamu, Ra? Apa yang kamu rasain? Ngomong sama saya, Ra," tanya Morgan yang terlihat sangat panik.


Ara menatapnya tajam, kenapa katanya? Aku sendiri juga tidak mengetahui keadaan diriku yang sebenarnya. Aku pun tidak tahu sekarang aku sedang berada di mana. Suasana ini sangat familiar, namun aku sama sekali tidak bisa mengingatnya, pikir Ara yang terdapat banyak sekali pertanyaan di pikirannya.


"Ini di mana, Gan?" tanya Ara yang masih melihat ke sekelilingnya.


Morgan membelai lembut rambut Ara yang tergerai bebas.


"Ini rumah pribadi saya. Bukankah ... waktu itu kamu sudah pernah ke sini? Kamu bahkan pernah menginap di sini, apa kamu lupa?" ucapnya menjelaskan, yang berusaha keras mengingatkan Ara.


Setelah dilihat kembali, memang benar dirinya memang pernah ke sini. Dan memang benar, dilihat dari dinding dan hiasannya, rumah ini memang merupakan rumah pribadi Morgan.


Ara menghela napasnya panjang.

__ADS_1


Morgan menatapnya miris, karena tidak mengerti dengan apa yang Ara rasakan, "kamu kenapa, Ra? Apa perlu kita ke rumah sakit?" tanya Morgan, membuat Ara resah.


"Nggak usah, anterin aku pulang aja. Aku mau pulang, Gan," tolak Ara.


Morgan hanya terdiam sembari menatap Ara dengan sendu. Tatapannya terlihat seperti tatapan orang yang sangat khawatir.


"Nanti siang, saya akan antar kamu pulang."


"Enggak, Gan. Aku mau sekarang! Aku mau pulang sekarang, Gan. Anterin Aku pulang sekarang ...," rengek Ara, yang membuat Morgan tidak bisa berbuat apa pun lagi.


Morgan menghela napasnya panjang, "oke kita pulang sekarang. Aku antar kamu pulang sekarang," ucap Morgan.


Ia mengalah pasrah, membuat Ara mengangguk setuju dengan keputusannya itu.


Tak kusangka, masalah kecil seperti ini sudah cukup membuat aku mengingat semuanya. Semua kenangan yang telah aku lalui bersama dengan Reza. Ternyata selama ini, aku membohongi diriku sendiri. Aku tidak benar-benar melupakannya. Aku hanya mengisi hatiku yang kosong, karena ditinggal olehnya. Tetapi di dalam hati kecilku, aku sangat merindukannya. Aku kesepian, pikir Ara yang kehilangan daya atas dirinya.


...***...


Morgan sudah sampai di depan rumah Ara. Kini, Morgan dan Ara masih saja berdiam diri di dalam mobil.


Morgan menoleh ke arah Ara, "apa kamu mau sarapan dulu?" tanya Morgan, membuat Ara menggelengkan kepalanya kecil, tanpa menatap ke arah Morgan.


Morgan menghela napas panjang, ada apa sih dengan Ara? Kenapa dia selalu saja bersikap aneh seperti ini? Pikir Morgan yang mulai risih dengan perubahan sikap Ara.


"Yaudah, yuk kita masuk," ajak Morgan, membuat Ara mengangguk seketika.


Morgan beranjak dari tempatnya, kemudian bergegas membukakan pintu untuk Ara. Ara pun keluar dari mobil Morgan.


Morgan menoleh ke arah Ara, "kamu masuk duluan aja. Nanti barang-barang kamu saya yang bawa masuk," ucap Morgan, Ara pun mengangguk kecil dan segera masuk ke dalam rumahnya.


Morgan tak menghiraukan perasaan dirinya, dan segera mengambil barang-barang Ara yang ada di dalam bagasi mobilnya.


"Dringg ...."


Handphone Morgan tiba-tiba saja berdering, membuat dirinya segera mengangkat telepon dari orang itu.

__ADS_1


"Halo," sapa Morgan.


"Gan, sudah sampai di Indonesia?" tanya orang yang meneleponnya, yang ternyata adalah Dicky.


"Sudah sampai. Masih di rumah Ara, ngantar dia," jawab Morgan, membuat Dicky menahan tawanya.


Morgan mengerenyit, "kenapa kamu?" tanya Morgan heran, membuat Dicky menghentikan tawanya.


"Gimana di sana? Pasti seru dong ya berduaan setiap saat," ledek Dicky, membuat Morgan menjadi malas karenanya.


"Kamu nelepon saya cuma buat ngeledekin aja?" tanya Morgan, membuat Dicky mendadak diam.


"Gak gitu juga. Saya cuma mau kabarin kamu, jangan lupa hari ini ada rapat. Jangan sampai gak datang," ucap Dicky yang berusaha mengingatkan Morgan.


Morgan menghela napasnya panjang, "sebenarnya lelah sih, tapi ... ya mau gimana lagi," gumam Morgan, membuat Dicky menghela napasnya panjang.


"Jangan banyak alasan. Siapa yang datang lebih dulu, tunggu di kantin ya," ucap Dicky.


"Oke," jawab Morgan dengan singkat, lalu segera memutuskan sambungan teleponnya.


Morgan pun terdiam, merenungi perkataan Dicky. Berbicara tentang Ara, membuatnya menjadi tidak mood sekarang.


"Kenapa mendadak jadi gak mood, ya?" gumam Morgan yang mengingat permasalahan dirinya bersama Ara.


Morgan segera membawa barang-barang Ara ke dalam rumahnya, dan segera menuju ke arah kamar Ara.


Saat ini, rumah terasa sangat sepi. Mungkin karena Arash dan yang lainnya sedang melakukan aktivitas di luar rumah.


Morgan membuka sedikit pintu kamar Ara. Terlihat jelas Ara yang sedang tertidur membelakanginya.


Melihatnya sedikit saja, Morgan sudah merasa aneh dan canggung sekali. Entah kenapa Ara bersikap demikian. Masih menjadi misteri bagi Morgan.


Morgan meletakkan koper dan barang-barang lainnya di sudut ruangan, kemudian perlahan duduk di pinggir ranjang, menghadap ke Ara.


Tiba-tiba saja ia teringat dengan nasib dirinya, yang harus memenuhi ketentuan kampus, untuk segera berangkat ke Amerika, selama 4 bulan lamanya. Hal itu yang membuat Morgan sendu, karena lagi-lagi ini bukanlah suasana yang tepat untuk membicarakannya dengan Ara.

__ADS_1


'Mungkin nanti,' batin Morgan yang sangat mengerti keadaan Ara saat ini.


__ADS_2