
Arash kesal melihat sikap Bunga yang tidak jelas menurutnya. Arash merebut handphone-nya kembali, dari tangan Bunga.
“Tseett ....”
Bunga pun sampai tergagap kaget, karena Arash yang menarik handphone-nya dengan sangat cepat.
“Gak usah sok akrab sama saya,” ucap Arash yang kesal karena sikap Bunga yang tiba-tiba.
Bunga memandangnya dengan tatapan datar. Ia tak lagi bisa mengatakan apa pun.
Arash memeriksa apa yang dilakukan Bunga. Matanya mendelik, karena ia menyadari kalau Bunga sudah mengunggah foto yang ia ambil secara paksa tadi.
Arash mendelik ke arahnya, “gak usah gila deh,” ucap Arash dengan sinis, lalu segera menghapus unggahan yang Bunga unggah tadi.
Tapi nahas, unggahan foto yang baru beberapa menit diunggah saja, sudah banyak sekali yang melihat dan memberi like, bahkan banyak sekali orang yang berkomentar di kolom komentar.
Arash bagaikan idol, yang gerak-geriknya selalu diperhatikan oleh orang-orang yang mengenalnya.
“Lho, kita harus mengabadikan momen yang indah begini dong?” lirih Bunga, yang tidak mau kalah dengan Arash.
Tak bisa dipungkiri, Bunga memang merasa sangat cemburu karena sekilas, ia melihat pesan singkat dari Jessline tadi. Bukan tanpa sebab ia melakukan hal itu pada Arash.
Arash mendelik, “saya gak butuh mengabadikan momen sama kamu. Lagipula, saya ke sini karena Aresha, bukan karena kamu,” ucap Arash dengan sinis, membuat Bunga mendelik seketika.
‘Sebegitunya kamu benci sama saya, Rash?’ batin Bunga, yang sangat sedih mendengar ucapan Arash yang kasar demikian.
Ya, semua orang pasti akan bersikap seperti itu, jika hatinya sudah dikecewakan, tak terkecuali Arash.
“Saya harus pergi sore ini,” lirih Arash, tanpa melihat ke arah Bunga, membuat Bunga mendelik ke arahnya.
“Lho, kenapa? Bukannya kamu harusnya pergi besok sore?” tanya Bunga, yang tak terima dengan ucapan Arash.
“Maaf, saya ada urusan. Tolong kamu beri pengertian pada Ares. Saya gak mau, nanti Ares gak kasih izin saya untuk pergi,” ucap Arash sembari melihat kembali ke arah handphone-nya.
‘Pasti Arash ingin menemui gadis itu,’ batin Bunga yang sedih karena harus berpisah kembali secepat ini dengan Arash.
“Kakak ...,” pekik Ares dari arah pantai, membuat Arash menoleh ke arahnya.
Arash mendelik, “Ares!!” teriak Arash yang kaget melihat Ares yang sudah terbawa ombak, menuju ke tengah pantai.
“Kakak!!”
“Blluubb ....”
__ADS_1
Ares sudah kehilangan keseimbangan, dan akhirnya jatuh tenggelam. Arash yang melihat itu, membuatnya berlari sekencang mungkin untuk menyelamatkan Ares.
Bunga sangat panik, karena dia merasa sangat teledor, sudah meninggalkan anak semata wayangnya bermain sendirian di dekat pantai.
“Ares!!” teriak Bunga, dengan air mata yang sudah menggenang di pipinya.
“Byurr ....”
Arash berusaha menyelam untuk mengikuti arah ombak yang sudah membawa Ares ke tengah pantai.
Dengan sekuat tenaga, Arash meraih tangan Ares yang terlihat sudah tak sadarkan diri. Air pantai yang perih, seakan tak berpengaruh untuk pandangan mata Arash, saking ia sangat khawatir dengan keadaan Ares.
“Hap ....”
Dengan susah payah Arash berjuang, akhirnya ia bisa meraih tangan Ares yang sudah tak sadarkan diri itu.
Arash menggendong Ares untuk menuju ke permukaan pantai, dan segera membaringkannya di atas pasir pantai yang sangat jauh dari air pantai.
Bunga melihatnya dengan sangat terharu, karena Arash sudah berhasil membawa Ares, dan menyelamatkan nyawa Ares.
“Ares!” pekik Bunga, yang segera menghampiri mereka.
“Res, bertahan!” Arash berusaha memompa dada Ares, berharap air yang sudah ia telan, bisa segera ia muntahkan.
“Res, bangun!” teriak Arash, yang masih berusaha memompa dadanya.
“Uhukk ....”
Tak lama, Ares memuntahkan air yang sudah sempat ia minum. Sadarnya Ares, membuat Arash menjadi sangat senang dan memeluknya dengan erat.
“Syukur kamu sudah sadar,” lirih Arash, yang hampir tidak bisa berbicara lagi.
Melihat Arash yang sangat menyayangi Ares, membuat Bunga merasa semakin merasa bersalah, karena dirinya sebagai ibu, yang sudah sangat teledor dengan keselamatan putrinya itu.
Bunga hanya bisa menunduk dan menangis, tak tahu harus berbuat seperti apa lagi.
Arash merenggangkan pelukannya, “Ares gak apa-apa?” tanya Arash, membuat Ares tersenyum.
“Gak apa-apa kok,” ucap Ares, justru semakin membuat Arash merasa semakin khawatir.
“Kita ke rumah sakit sekarang--”
“Gak usah kak,” potong Ares, membuat Arash menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Tapi Ares kan tenggelam tadi,” ucap Arash dengan sendu, membuat Ares tersenyum lagi.
“Aku cuma mau sama kakak terus. Jangan tinggalin Ares ya, Kak,” lirih Ares membuat Arash mendelik.
Arash tidak tahu harus berbuat apa, karena malam ini, ia harus segera menemui Jessline, untuk menemaninya di bar.
Tapi di sisi lain, kejadian yang terjadi dengan Ares tadi, membuat Arash menjadi sedikit bimbang karenanya.
Arash menatap ke arah Bunga, yang kebetulan sedang menatap ke arahnya.
Tak ada yang bisa Bunga katakan, selain hanya memandang wajah Arash saja. Begitu pun sebaliknya.
Arash menghela napasnya, karena ia sama sekali tidak bisa menolak permintaan Ares. Itulah salah satu kelemahan Arash.
Dari sisi Fla di sana, ia kembali melihat ke arah handphone-nya. Ia memandangnya dengan sendu, karena Arash yang seperti tidak bisa menemuinya malam ini.
Ditambah lagi, Arash yang tadi mengunggah foto bersama dengan wanita yang tidak Fla ketahui.
Fla memberanikan diri untuk melihat foto Arash kembali.
Matanya mendelik, karena unggahan terakhir Arash, ternyata sudah tidak ada.
‘Hah? Kok udah ilang sih?’ batin Fla, yang tetap mencari keberadaan postingan Arash.
Tapi, dia sama sekali tidak bisa menemukannya.
‘Kenapa kak Arash ngapus fotonya?’ batin Fla, yang masih bingung dengan yang Arash lakukan.
‘Apa karena aku kirim pesan ke dia, terus dia langsung mau ngasih tau kalau dia udah punya pacar? Terus habis aku lihat, dia langsung hapus foto itu?’ batin Fla yang masih bingung dengan yang terjadi.
Ray tiba-tiba saja mendekati Fla, “Fla, mau ikut gak, nginep di rumah Ara? Besok kan libur, jadi ... apa salahnya kita nginep di rumah Ara?” ucap Ray, yang mengagetkan Fla.
‘Hah nginep di rumah Ara? Kak Arash gak ada di rumah sih,’ batin Fla, yang sangat menyayangkan ketidak hadiran Arash.
Ray mengerenyitkan dahinya, “Fla ...,” pekik Ray, yang membuat Fla tersadar dari lamunannya.
Fla segera melihat ke arah Ray, “oh ... ya, nanti gue tanya dulu sama bokap ya, karena kan kondisi gue belum terlalu pulih, jadi gue khawatir gak dapet izin dari bokap,” ucap Fla menjelaskan pada Ray.
Rafa tiba-tiba saja menghampiri dari arah pintu masuk, “lagi ngomongin apa sih?” tanya Rafa yang sok akrab dengan Ray dan Fla.
Ray memandang sinis ke arah Rafa yang baru saja mendekati wanita yang ia lihat berjalan di koridor tadi.
“Kepo!” ucap sinis Ray, membuat Fla dan Rafa tertawa karenanya.
__ADS_1
...***...