Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Ketika Rival Bertemu


__ADS_3

Mendengar Morgan yang akan menjemputnya sebentar lagi, Ara segera turun ke lantai bawah, dan menuju dapur, untuk sekedar membuat sarapan untuk dirinya dan juga Morgan.


Ara melangkahkan kakinya menuju ke dapur, namun langkahnya terhenti, karena tiba-tiba saja Ara mendengar suara tangisan dari arah kamar Arash, membuatnya penasaran, siapa yang menangis di dalam kamar Arash.


"Siapa sih yang nangis pagi-pagi begini?" gumam Ara, yang sepertinya lupa akan sosok Aresha yang saat ini sudah resmi tinggal di rumahnya.


Ara melangkah perlahan, dan membuka pintu untuk melihat keadaan di dalam ruangan kamar Arash.


Mata Ara membulat, melihat Ares yang sedang menangis di hadapannya.


'Oh, kenapa gue bisa lupa sama tuyul itu?' batin Ara, yang memang melupakan Ares.


"Kriett ...."


Ara membuka lebih lebar pintu kamar Arash, membuat Ares mendelik dan menoleh ke arah sumber suara.


"Kenapa kamu nangis?" tanya Ara, dengan nada yang sangat jutek, membuat air mata Ares semakin membanjiri pelupuk matanya.


Ara terdiam, mungkin karena Ares adalah tipe gadis yang sangat perasa, ia jadi tidak tahan dengan sedikit bentakan yang Ara berikan padanya.


Ara mengerenyitkan dahinya karena merasa sedikit bersalah padanya, "duh ... jangan nangis lagi, maaf tadi kakak jutekin Ares," bujuk Ara, yang segera merangkul Ares, yang sedang menangis itu.


Tangisan Ares, berangsur-angsur berhenti, membuat Ara tersenyum melihatnya. Entah kenapa, Ara tidak bisa melihat anak kecil menangis di hadapannya, terlebih lagi yang menangis adalah adiknya sendiri, sedikit banyaknya Ara merasa tidak tega dengan Ares.


"Ares kenapa nangis?" tanya Ara, membuat Ares melihat ke arah Ara.


Ares berusaha menghentikan tangisnya, "kak Arash belum pulang dari semalam," jawab Ares dengan segala rasa khawatir yang ada.


Ara mendelik, karena memang benar yang Ares katakan.


'Kakak ke mana, ya?' batin Ara yang sedang kebingungan dengan keadaan Arash.

__ADS_1


"Nanti juga kakak pulang, kok. Yuk, kita makan dulu, Ares belum sarapan, kan?" tanya Ara, membuat Ares mengangguk.


"Yuk, udah dong, jangan nangis lagi," bujuk Ara, membuat Ares segera mengusap seluruh wajahnya yang sudah dibasahi oleh air matanya.


Ara pergi bersama Ares, menuju ruang dapur. Sementara itu, di luar rumah Ara, Ilham sudah sampai di sana. Ia segera turun dari mobilnya.


Tak sengaja, Morgan juga tiba-tiba sampai di depan rumah Ara. Ilham melihat ke arah Morgan yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.


Betapa terkejutnya Morgan yang sudah melihat Ilham yang lebih dulu tiba di rumah Ara. Begitu pun Ilham yang juga terkejut melihat Morgan yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan yang dingin.


Pandangan mereka pun tertuju pada satu titik. Morgan dengan pandangan yang menusuk tajam, dan Ilham dengan pandangan yang acuh, saling bertatapan satu sama lain.


"Ada urusan apa kamu di rumah pacar saya?" tanya Morgan dengan nada dingin, yang ia miliki.


Walaupun Ilham selalu menghindari Morgan saat mereka masih usia 18 tahun, tapi kali ini, ia tidak gentar sekalipun, ketika dihadapkan dengan Morgan, pada situasi yang kurang menguntungkan baginya.


Ilham bukanlah pria yang suka mencari masalah dengan orang lain, sebaliknya, Ilham selalu memperhatikan mereka dari jauh. Tapi bukan berarti, ia harus takut jika dihadapkan dengan permasalahan seperti ini.


Morgan semakin menajamkan pandangannya, "jangan pura-pura tidak tahu. Saya tahu apa yang kamu lakukan dengan Ara, di belakang saya selama ini," ucap Morgan, membuat Ilham sedikit mendelikkan matanya.


'Jadi selama ini, dia melihat?' batin Ilham yang tak percaya dengan apa yang Morgan katakan.


Permasalahannya adalah, Ilham yang sudah terbiasa memperhatikan dari kejauhan, ternyata saat ini ia kedapatan sedang diperhatikan dari kejauhan, membuatnya agak bingung harus berkata apa.


"Saya benar-benar tidak mengerti dengan yang kamu ucapkan. Lagipula, saya tidak mengenal kamu," elak Ilham, membuat Morgan menafikan pandangannya.


Morgan kembali melihat ke arah Ilham, yang terlihat masih bersikap tenang, meskipun Morgan yang terus-menerus melontarkan tatapan tajam ke arah orang yang diketahui adalah rivalnya itu.


"Saya tidak akan berdebat banyak dengan kamu. Saya cuma mau bilang, jangan pernah sekalipun kamu dekati Ara lagi," ancam Morgan, membuat Ilham menatapnya dengan tajam, sama seperti cara Morgan menatapnya.


"Urusan saya mendekati Ara atau tidak, itu bukan urusan kamu. Lagipula, saya datang ke sini karena permasalahan pekerjaan, bukan karena Ara," ucap Ilham, membuat Morgan terdiam sesaat.

__ADS_1


'Urusan pekerjaan katanya? Apa ... dia salah satu karyawan Arash?' batin Morgan yang masih belum mengenal Ilham.


"Saya permisi, ya. Masih banyak hal yang perlu saya kerjakan," ucap Ilham, yang langsung berlalu pergi meninggalkan Morgan di sana.


Tak tinggal diam, Morgan lalu menarik tangan Ilham, membuat Ilham terpaksa harus menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Morgan.


"Saya tidak peduli dengan urusan kamu. Yang saya minta, jangan pernah sekalipun kamu dekati Ara lagi. Atau saya akan bersikap tidak baik terhadap kamu," ancam Morgan sekali lagi, membuat Ilham tersenyum pahit dan segera menghempaskan tangan Morgan yang mencengkeram erat tangannya.


"Saya tidak butuh ancaman murahan dari kamu," gumam Ilham, membuat Morgan sedikit kesal mendengarnya.


Morgan hanya diam, membiarkan Ilham pergi meninggalkannya untuk masuk ke dalam rumah Ara. Ia sengaja melepaskan Ilham, karena ia tak ingin membuat keributan apa pun di rumah ini.


Ilham melangkah masuk ke dalam rumah Ara, dan mendapati Ares yang sedang bercengkerama dengan Ara, membuat Ilham seketika melontarkan senyum ke arah mereka.


"Ehh ... udah akrab ternyata," gumam Ilham, membuat Ares dan Ara menoleh ke arahnya secara bersamaan.


"Apa sih Kak Ilham," lirih Ara, yang merasa malu dengan Ilham.


Ares menatap ke arah Ilham, "Kak Ilham, ke mana kak Arash?" tanya Ares dengan lugu, membuat Ilham tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Emm ... kak Arash lagi kerja. Jadi gak bisa pulang deh semalam," jawab Ilham, berusaha untuk menenangkan hati Ares, karena ia tidak ingin membuat keributan pagi-pagi seperti ini.


"Oh gitu, tapi nanti kak Arash pulang, kan?" tanya Ares, membuat Ilham terpaksa harus mengangguk padanya.


Morgan tiba-tiba saja datang dari arah pintu masuk, membuat Ara dan Ares merasa terkejut.


"Morgan ...," pekik Ara, yang lumayan terkejut melihat penampilan Morgan yang cukup berantakan dari biasanya.


Morgan tiba-tiba saja melangkah melewati Ilham, dan segera memeluk Ara dengan erat. Hal itu membuat Ara mendelik kaget, tak terkecuali Ares dan Ilham.


"Selamat pagi, sayang. Maaf baru bisa bertemu hari ini," gumam Morgan, membuat Ara merasa bingung dengan yang Morgan lakukan.

__ADS_1


__ADS_2