Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Detektif Morgan Edogawa 2


__ADS_3

Morgan menoleh ke arah Dicky, “saya bingung,” lirih Morgan, yang tidak yakin dengan pemikirannya.


Walaupun Morgan sangat unggul dalam hal intelektual, tapi Morgan sangat idiot mengenai kepekaan, membuat semua orang agak gemas terhadapnya. Morgan sama sekali tidak bisa membaca situasi yang sangat penting, sehingga membuatnya terus kehilangan momen yang cocok, yang selalu ia nantikan.


Dicky menggeleng pelan dan segera menoleh ke arah Lidya, “apa benar, tidak ada lagi rekaman yang lain, yang bisa kita lihat?” tanya Dicky, membuat Lidya menggeleng kecil.


Kecil harapan mereka sekarang, karena sudah tidak ada lagi CCTV yang bisa memberikan bukti dari segala kebenaran yang ada.


Lidya mengambil sikap untuk melihat dan memperhatikan kembali ke arah monitor. Ia memperhatikan dari segala sisi dan aksesoris yang dipakai tiga gadis ini.


Terlihat jelas dari ketiga gadis ini, yang menggunakan atribut bandana yang kompak, membuatnya mengerenyitkan dahinya.


‘Sepertinya saya mengenal tiga gadis ini,’ batin Lidya, yang sedang memperhatikan mereka di layar monitor.


Selain bandana yang mereka kenakan secara serempak, terlihat sekilas wajah gadis yang memiliki luka memar di bagian sudut bibir gadis itu, tapi sisi wajahnya yang lain tertutup oleh kepala Fla, karena tinggi Fla yang melebihi tinggi gadis itu.


Lidya me-reverse video yang ada di layar, mencoba meyakinkan kembali tentang luka memar yang tak sengaja ia lihat pada salah satu gadis itu.


Matanya membulat, ia sangat yakin dengan apa yang ia lihat.


Lidya menoleh ke arah Morgan, “dari ketiga gadis ini, sepertinya memiliki ciri khas tentang aksesoris yang mereka pakai. Bandananya terlihat serasi dan kompak, lalu salah satu gadis yang ada di sini, memiliki memar di sudut bibirnya,” lirih Lidya, membuat Morgan menoleh ke arahnya.


“Memar?” lirih Morgan, ia segera berpikir siapa yang memiliki luka memar itu.


Dicky menoleh ke arah Morgan yang nampak sedang berpikir, “sepertinya jarang banget cewek yang punya luka memar di sudut bibirnya. Seperti habis kena pukulan, ya gak sih?” tanya Dicky, tapi Morgan hanya diam sembari berusaha memikirkan siapa yang ada di dalam video ini.


Dicky yang merasa diabaikan oleh Morgan, segera melihat kembali ke arah layar monitor, dan mengambil alih monitor.


Ia berusaha untuk memperbesar ukuran layar, dan berusaha melihat dengan jelas bekas luka yang ada di wajah salah satu gadis itu.

__ADS_1


Dengan segala ketelitian yang Dicky miliki, membuat satu argumen muncul di benaknya.


“Dari bekas lukanya sih ... sepertinya luka memarnya baru, karena masih memerah, belum berubah membiru atau ungu,” ucap Dicky dengan segala analisis yang tepat.


Mendengar ucapan Dicky itu, Morgan semakin berusaha mengingat siapa gadis yang mempunyai memar di sudut bibir.


‘Sepertinya akhir-akhir ini, saya gak pernah lihat gadis dengan luka memar di sudut bibir,’ batin Morgan.


‘Hmm ... luka di sudut bibir, ya?’ batin Morgan.


Matanya membulat, karena setelah dipikir kembali, Morgan sudah bisa mengingat siapa gadis yang mempunyai memar di sudut bibirnya.


“Callista ...,” lirih Morgan sembari mendelik, membuat Dicky dan Lidya menatap satu sama lain.


Dicky menoleh ke arah Morgan, “apa kamu yakin kalau gadis ini Callista?” tanya Dicky, membuat Morgan mengangguk mantap.


“Saya yakin, seyakin-yakinnya. Karena baru siang ini, pacar saya bertengkar sama dia, sehingga membuat dia diskors selama seminggu,” jawab Morgan, membuat hati Lidya menjadi bergejolak.


Lidya mengetahui, kalau Morgan selama ini tidak pernah membuka hatinya untuk siapa pun. Terlihat sangat jelas dari keseharian Morgan, yang selalu mengabaikan para gadis yang mendekatinya. Itu hal yang membuat Lidya sangat shock mendengar kalau Morgan sudah memiliki tambatan hati.


Dicky tersenyum miring, “gila, ternyata gadis ngeselin itu selain ngeselin juga sangar ya,” celetuk Dicky sembari melontarkan tawa khasnya, membuat Morgan menatapnya dengan dingin.


“Yang kamu sebuat gadis nyebelin itu, pacar saya,” ucap Morgan yang tidak terima dengan perkataan Dicky.


“Benar kan yang saya bilang?”


Candaan mereka sukses membuat hati Lidya berantakan. Ternyata self healing yang ia lakukan selama ini, tidak cukup untuk melupakan cintanya terhadap Morgan. Lidya sudah benar-benar menaruh harapan banyak pada Morgan, yang kini sudah memiliki tambatan hati.


Lidya hanya merenung, sembari melihat mereka berdua bertengkar kecil tentang gadis pujaan hati Morgan.

__ADS_1


“Jadi gimana? Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?” tanya Dicky, membuat Morgan terdiam sejenak.


“Saya gak sangka, kenapa mereka tega berbuat seperti ini? Padahal, permasalahan mereka terletak pada pacar saya, bukan dengan adik saya,” ucap Morgan, berusaha berpikir tentang itu.


Dicky menghela napasnya dengan panjang, “jelas mereka berbuat seperti itu. Setelah dipermalukan, orang lebih cenderung untuk melakukan hal yang bisa membalaskan dendamnya. Itu udah hal yang wajar yang terjadi pada diri manusia. Dia gak terima kalau dirinya dipermalukan di depan umum, makanya mereka ingin membalaskan dendam,” jelas Dicky membuat Morgan memandangnya dengan tatapan serius.


“Tapi yang mereka incar kenapa Fla? Padahal letak permasalahannya ada di pacar saya,” tanya Morgan, yang lagi-lagi membuat Dicky menghela napasnya.


“Sekaran saya tanya, kejadiannya jam berapa?” tanya Dicky.


“Sekitar pukul lima,” ucap Morgan.


“Gadis nyebelin itu pulang kapan?” tanyanya lagi.


“Tepat jam istirahat,” jawab Morgan yang sudah bisa menyimpulkan tentang pertanyaan yang Dicky lontarkan.


Lidya memandang ke arah mereka yang sedang asyik bercengkerama. Ia merasa penasaran, siapa gadis yang mereka maksud sebagai kekasih dari Morgan.


“Mungkin benar letak permasalahannya ada pada gadis menyebalkan itu, tapi berhubung gadis itu sudah pulang lebih awal, jadi mereka berpikir untuk segera membalaskan dendamnya pada orang-orang terdekat. Apalagi, mereka sudah kalah telak sama gadis itu, memungkinkan mereka untuk tidak membalaskan dendam secara langsung, melainkan melalui orang-orang terdekatnya,” jelas Dicky, yang dimengerti dengan cepat oleh Morgan.


“Masuk akal,” lirih Morgan.


“Tapi kenapa mereka berani berbuat begitu sama Fla?” tanya Dicky.


“Saya menutupi hubungan saya dengan Fla. Saya gak mau orang lain mengetahui tentang hubungan saya dengan Fla, khawatir membuat Fla tidak nyaman dengan keadaan, kalau terus-menerus didatangi orang yang suka sama saya,” ucap Morgan, membuat Dicky terkekeh.


“Iya deh, yang ganteng mah, aku mah apa atuh, cuma remahan rengginang,” ledek Dicky, membuat Morgan merasa besar kepala.


“Jadi, apa yang nantinya akan kamu lakukan?” tanya Lidya, membuat Morgan kembali memikirkan tentang permasalahan yang terjadi.

__ADS_1


“Saya punya cara, dan itu membutuhkan kerja sama dari kalian. Jadi, saya mohon bantuannya, ya,” ucap Morgan, membuat Dicky dan Lidya saling memandang satu sama lain.


...***...


__ADS_2