Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Baby Blues 2


__ADS_3

Ara merasa sesuatu bergejolak di dalam hatinya, memaksanya untuk keluar dari dalam tubuhnya. Perasaan kesal, benci, gelisah, sedih, semuanya bercampur menjadi satu.


Ia tidak bisa lagi menahan semuanya. Ia harus selesaikan permasalahan ini, entah bagaimana caranya.


Ara tiba-tiba saja bangkit, dan menatap Ilham dengan sangat sinis, "Kak Ilham ngomong apa? Apa Kak Ilham mau pergi ninggalin aku lagi, sama seperti Morgan? Kenapa Kakak ngomong begitu? Kakak mau ke mana? Saat apa yang akan tiba nanti?" teriak Ara yang menghujam tajam ke arah Ilham, membuat Ilham menjadi tersadar dengan apa yang ia ucapkan tadi.


Ilham mendelik kaget mendengar Ara berkata demikian. Saking sedihnya dirinya, Ilham sampai kelepasan berbicara seperti itu pada Ara.


"Saya gak akan bicara seperti itu lagi," gumam Ilham, membuat air mata Ara menggenang seketika di pelupuk matanya.


Ara mendelik geram pada Ilham, dan segera memukulinya dengan sangat kesal, tetapi Ilham hanya diam saja, karena itu sudah biasa Ara lakukan padanya jika Ara sedang merasa sangat tertekan.


'Biarlah, asal dia tidak menyakiti janin yang ada di kandungannya, apalagi harus menyakiti dirinya sendiri,' batin Ilham yang sakit menahan semuanya.


"Aku masih sayang sama Morgan! Sampai detik ini, sampai saat ini! Ya tapi keadaannya udah begini, aku udah nikah sama Kak Ilham. Kalau Kak Ilham berbuat manis seperti ini terus, bukan gak mungkin kalau aku akan jatuh cinta sama Kakak! Aku gak mau disebut sebagai cewek yang serakah, yang mau sama keduanya. Aku bingung!" teriak Ara, sembari tetap memukuli Ilham.


Mendengar ucapan Ara seperti itu, sangat membuat Ilham sakit hati. Namun, mau diapakan lagi? Ini adalah pilihan Ilham, dan ini adalah keinginannya.


Lambat laun gerakan Ara semakin melambat, membuat Ilham bisa bernapas dengan lega. Karena merasa sudah terlalu lelah memukuli Ilham, akhirnya Ara pun terdiam, lalu tiba-tiba saja tertidur di pelukan Ilham. Ilham sangat terkejut, melihat ekspresi Ara yang sepertinya sangat sulit ia tebak. Namun, dari perkataannya, Ilham sedikit mengerti kalau sebenarnya Ara tidak ingin ia tinggalkan, seperti halnya Morgan yang sudah meninggalkannya.


Ilham menelan kasar salivanya, karena merasa tegang dengan Ara yang tertidur pulas di pelukannya, membuat wajahnya seketika terasa panas karena malu. Akan tetapi, Ilham juga tidak bisa membantah kalau dirinya juga merasa sakit hati dengan pernyataan Ara, yang katanya belum melupakan Morgan.


Ilham mengelus wajah Ara dengan sangat ragu, saking dirinya mencintai Ara, ia bahkan sampai rela mengumpulkan luka sayat setiap saat, bila berada terus di dekat Ara.


"Maaf," gumam Ilham yang ternyata sangat payah dalam menyembunyikan perasaannya pada Ara, jika Ara selalu berada di sampingnya.


"Dring ...."


Terdengar dering handphone Ilham, membuatnya dengan cepat merogoh saku celananya, dan melihat siapa yang meneleponnya.


Terlihat dengan jelas kalau yang sedang meneleponnya adalah Arash. Dengan segera, ia mengangkat telepon dari kakak iparnya itu.

__ADS_1


"Halo, Rash," sapa Ilham.


"Halo, Ham. Lagi di mana?" tanya Arash, membuat Ilham menoleh ke arah Ara yang sudah tertidur pulas dengan wajah yang masih basah karena sisa air matanya yang masih membasahi wajahnya.


"Mau video call?" tawar Ilham.


"Boleh."


Ilham pun menekan tombol bergambar video di layar handphone-nya, dan seketika wajah Arash pun langsung terpampang jelas di layar handphone-nya.


Arash melihat Ara yang sedang tertidur di pelukan Ilham, membuatnya terdiam sejenak.


"Ada apa? Kalian bertengkar?" tanya Arash, membuat Ilham menghela napas panjang.


"Enggak. Cuma ... Ara sepertinya sedang baby blues," tepis Ilham, membuat Arash mendelik kaget mendengarnya.


Memang, sejak awal menikah sampai detik ini, Ilham dan Ara masih belum memberi tahu tentang kehamilan Ara pada Arash. Hal itu membuat Arash sangat terkejut mendengar ucapan Ilham tadi.


Saking senangnya Arash, ia melakukan selebrasi yang sangat heboh, membuat Ilham malas melihatnya.


"Kapan? Udah berapa lama?" tanya Arash.


"Emm ... masuk minggu ke-8," jawab Ilham, yang tentu saja berbohong dengan jawabannya.


Sebenarnya saat ini, usia kandungan Ara sudah memasuki minggu ke-17. Ilham sengaja mencocokkan kehamilan Ara, dengan tanggal pernikahan mereka kala itu, sehingga Arash tidak akan mencurigainya.


"Woah! Kenapa baru bilang sekarang?" tanya Arash, membuat Ilham tersenyum.


"Saya juga baru tahu pagi ini."


"Woah, hebat. Baru juga nikah, udah langsung dapat momongan. Cepat juga," gumam Arash yang tak percaya dengan keadaan.

__ADS_1


"Jangan lupa kado," goda Ilham, membuat Arash mengingat tentang ucapannya kala itu.


"Yah ... seperti biasa, ingatan kamu sangat tajam," gumam Arash, membuat Ilham menyeringai.


"Oh ya, ada apa?" tanya Ilham, membuat Arash mengalihkan kembali perhatiannya pada Ilham.


"Tadinya mau ke sana, cuma ... ya gak tepat ya? Lagi eror ya dia?" gumam Arash, membuat Ilham tersenyum.


"Kalau mau mampir, silakan aja. Paling ya ... gitu, dia masih tidur," ucap Ilham membuat Arash mengangguk paham.


"Gak apa-apa. Mungkin lain waktu aja deh," ucap Arash, membuat Ilham lagi-lagi tersenyum ke arahnya.


Suasana mendadak rancu saat ini.


Arash memandang Ilham dengan sangat penasaran, "Ham ... Ara gak mempersulit kamu, kan?" tanya Arash yang tiba-tiba saja bertanya seperti itu.


Ilham tersenyum, "Ara sangat baik. Sama sekali tidak mempersulit saya. Dia istri yang baik, yang selalu melayani saya lahir dan batin," jawab Ilham, membuat Arash menghela napasnya panjang.


Mendengar percakapan Ilham di telepon, membuat Ara semakin sakit mendengar perkataannya yang sangat dilebih-lebihkan itu. Pada kenyataannya, Ilham lah yang selalu melayani Ara lahir dan batin. Ilham juga sangat baik padanya, dan tidak mempersulit dirinya. Dia adalah ... suami terbaik bagi Ara.


'Kak Ilham terlalu baik, kenapa Tuhan malah mempertemukan aku yang seperti ini, dengan makhluk yang sangat baik seperti dia? Kenapa Tuhan selalu baik, padahal aku selalu jahatin Tuhan? Aku ini kenapa?' batin Ara yang sangat kesal dengan dirinya sendiri.


"Syukurlah. Bagus kalau begitu, Ara sudah dewasa ternyata. Padahal, saya sempat khawatir dengan kamu. Khawatir kalau Ara masih belum bisa menerima kamu," gumam Arash, membuat Ilham melontarkan senyuman ke arah Arash.


"Kamu tenang aja, Ara sudah dewasa sekarang. Dia ... juga sudah sepenuhnya mencintai saya," gumam Ilham, membuat Arash lebih lega mendengarnya.


"Syukurlah. Ya sudah, saya ada urusan lain. Lain kali, kita sambung lagi, ya?" ucap Arash.


"Oke," gumam Ilham yang lalu mengakhiri teleponnya dengan Arash.


Ilham meletakkan telepon genggamnya di meja dekat ranjang. Ia pun menghela napasnya dengan panjang, karena bersandiwara seperti itu, ternyata sangat menguras perasaan dan tenaganya.

__ADS_1


__ADS_2