Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Insecure


__ADS_3

Mereka memperkenalkan diri masing-masing, tak terkecual Kim.


Rafa yang masih penasaran, masih saja terkesima oleh kecantikan Kim, sampai ia tidak sadar kalau dirinya sudah melamun untuk beberapa saat.


Mengetahui Rafa yang sedang tidak konsentrasi, Morgan segera mendekat ke arah Rafa. Ia berdiri sejajar di sebelah Rafa, membuat Rafa agak tersentak kaget karenanya.


Mereka semua memperhatikan Morgan, tak terkecuali Kim yang juga sedang memperhatikannya.


Rafa yang sedari tadi memperhatikan Kim, seakan melihat tatapan yang berbeda dari Kim ke arah Morgan. Rafa jadi sedikit insecure, dan malu dengan dirinya sendiri.


Akankah aku bisa menandingi karisma dari Pak Morgan? Pikir Rafa.


Rafa kembali melihat ke arah Morgan.


‘Eh, tunggu dulu. Pak Morgan gak mungkin suka sama Kak Kim. Kan Pak Morgan udah ada Ara. Masa iya dia mau deketin Kak Kim? Gue harus tetep semangat! Gak boleh gampang nyerah hanya karena dia ngeliat Pak Morgan,’ batin Rafa yang bertekad kuat untuk mendapatkan cinta dari wanita yang usianya mungkin sudah jauh di atasnya.


Rafa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia ingin sekali mendekati Kim. Meskipun ia tidak tahu, asal-usul wanita itu seperti apa.


Aku akan berusaha mendekatinya! Semangat! Pikir Rafa yang sedang berusaha membulatkan tekadnya.


“Gimana pak, selanjutnya?” tanya Rafa.


Morgan melihat ke arah mereka dengan tatapan dingin. Matanya yang tidak terlalu tebal, membuat kesan tajam pandangannya semakin terasa.


“Berhubung ada perubahan jadwal acara ini yang baru saya ketahui tadi, jadi sebagian besar calon pengajar ekstra kurikuler tidak hadir hari ini. Tapi tidak apa-apa, kita masih bisa tetap melanjutkan acara ini. Selebihnya, biar nanti menyusul saja,” ucap Morgan.


Rafa memperhatikan cara Morgan berbicara, pantas saja banyak orang yang jatuh hati padanya. Karismanya selalu terpancar setiap saat, pikir Rafa.


“Tolong kerja samanya untuk melancarkan acara ini. Setelah ini, saya akan memandu kalian untuk menempati pos masing-masing,” sambungnya.

__ADS_1


Rafa hanya mengangguk kecil.


Morgan tak sengaja melihat ke arah Gemi, yang sedari tadi sudah memandang dirinya dengan tatapan tajam.


‘Kenapa jadi canggung gini ya?’ batin Morgan yang resah, karena melihat Gemi yang berada di sini.


Kenapa dia menjadi salah satu guru ekstra kurikuler di kampus ini? Dunia ini sempit sekali! Pikir Morgan resah.


Morgan pun melengos, ‘pura-pura tidak peduli saja lah,’ batin Morgan yang terus-menerus memikirkannya.


Aku tidak paham, apakah dia mengikuti ku, atau hanya kebetulan saja? Pandangannya terus menatap ke arahku. Belum lagi orang Korea itu, sepertinya dia memiliki sesuatu yang ingin dia ungkapkan padaku. Ia seperti menginginkan aku untuk melihatnya, pikir Morgan yang masih tetap bersikap profesional dengan tugasnya saat ini.


“Semuanya, bisa ikuti saya menuju ruangan yang nantinya digunakan untuk pembelajaran,” ucap Morgan dengan tegas.


Mereka mengangguk setuju dengan ucapan Morgan.


Gemi mendekat ke arah Morgan, dan seperti ingin meraih tangannya. Dengan insting yang sangat kuat, Morgan langsung memasukka kedua tangannya ke dalam saku celana, dan pergi dari sana, sebelum Gemi sempat meraih tangannya.


Apa-apan dia? Kenapa berani seperti itu, di saat sedang banyak mata yang memandang? Apa dia tidak memikirkan image diriku sebagai dosen di kampus ini? Tak kusangka, ini akan menjadi sangat sulit untukku lalui, pikir Morgan.


Pukul sembilan pun tiba. Kini, Morgan mengajak mereka untuk berkeliling dan memberikan orientasi tentang kampus ini.


Mereka pun tiba di ruang UKS. Morgan segera membuka pintu ruangan dan menyalakan lampu agar seluruh sudut ruangan dapat terlihat dengan jelas.


“Ini ruang UKS untuk lantai dasar. Di setiap lantai, pasti terdapat ruangan khusus UKS, bertujuan agar mahasiswa yang sakit atau terluka, tidak terlalu jauh untuk mendapatkan pertolongan pertama. Di dalam ruangan ini juga, terdapat toilet yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan pengobatan,” ucap Morgan menjelaskan.


Morgan memandang ke arah Gemi, yang berperan sebagai guru ekstra kurikuler bidang kesehatan. Gemi terlihat tersenyum seperti terkesima pada Morgan, membuat Morgan membuang pandangannya dengan segera.


Morgan mendadak merinding, karena melihat Gemi yang sejak dulu tidak bisa mengubah sikapnya.

__ADS_1


“Jika ada mahasiswa yang sakit atau mengalami luka, minta dia untuk menunjukkan kartu mahasiswanya. Jika ada mahasiswa yang tidak membawa kartu identitas, penjaga ruangan ini wajib memberikan pertolongan pertama lebih dulu. Baru dimintai keterangan masalah nama dan administrasi lainnya. Hal ini dilakukan bertujuan agar mahasiswa dapat menerima pertolongan pertama dengan baik,” ucap Morgan menjelaskan dengan detil.


Gemi masih saja tersenyum terkesima ke arah Morgan. Lagi-lagi Morgan dibuat jengkel oleh sikapnya yang aneh itu.


‘Apa dia tidak melihat, sedang banyak orang di sini?’ batin Morgan yang kesal dengan sikap Gemi yang tidak pada tempatnya.


“Jika ada pertanyaan, bisa tanyakan langsung ke saya,” ucap Morgan, Gemi terlihat mengerenyitkan dahinya.


“Bagaimana saya bisa bertanya, saya tidak punya nomor telepon Pak Morgan. Kecuali, dengan baik hati, Pak Morgan bisa memberikan nomor teleponnya kepada saya,” ucap Gemi dengan nada yang sangat membuat Morgan mual.


Ingin sekali aku marah padanya. Tapi, aku tidak ingin semua orang mengetahui hubunganku dengannya. Aku tidak ingin membuat siapa pun salah paham terhadapku, pikir Morgan yang berusaha menahan dirinya.


Morgan mengalihkan wajahnya ke arah mereka, “silakan, kita menuju ke tempat berikutnya,” ucap Morgan dengan dingin, kemudian pergi meninggalkan mereka yang mulai mengikutinya dari belakang.


Mungkin saat ini, Gemi sedang menahan amarahnya dan malu, karena aku tidak mempedulikan perkataannya. Habisnya, kenapa dia tidak bersikap profesional di sini? Lagi pula, kenapa kebetulan sekali, tiba-tiba ia bekerja di kampus ini? Apa dunia ini tidak cukup luas untuk dirinya? Pikir Morgan.


Morgan memperkenalkan setiap sudut ruangan yang kebetulan mereka lewati. Dengan Gemi yang selalu mendekati Morgan, dan Kim yang selalu mencuri-curi pandang pada Morgan.


Morgan terus-menerus menjaga jarak dengan mereka. Morgan hanya ingin acara ini berjalan sesuai dengan rencana. Ia tidak ingin sampai Gemi menghambat pekerjaannya.


Dari sudut sana, Rafa terlihat sedang memperhatikan Kim dari arah belakangnya. Rafa masih saja tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kim. Sepanjang acara ini, Rafa masih terus melihat ke arah Kim, dan tidak pernah bosan, meskipun Kim terus-menerus melihat ke arah Morgan, dan mengacuhkan dirinya.


Kim membalikkan badan dan menuju ke arah Morgan, membuat Rafa dengan refleks dan secara tak sadar, mengikutinya dari belakang.


Di sudut pandang Rafa, ia melihat Kim yang sudah goyah, karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan benar, membuat dirinya kehilangan keseimbangan.


Rafa yang mengetahui kejadian itu, segera mendelik dan berusaha untuk menyanggah tubuh Kim dengan kedua tangannya.


“Ah ....”

__ADS_1


“Happp ....”


__ADS_2