Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Romance Dinner


__ADS_3

Ara sudah menunggu Morgan sejak tadi pagi.


Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Ara semakin takut dengan yang nantinya akan terjadi. Ditambah lagi, Arash yang tidak mengerti keadaannya, malah meninggalkan ia seorang diri di sini.


Ara jadi semakin takut sendirian.


“Drrrttttt ....”


Handphone Ara tiba-tiba saja bergetar. Terlihat satu pesan masuk yang tertera nama Rafael di sana.


“Rafa, kenapa?” lirih Ara, yang segera melihat pesan yang dikirim oleh Rafa.


“Akhirnya … gue bisa lupain Putri!” Pesan singkat dari Rafa membuat Ara bingung.


Putri? Siapa itu Putri? Pikir Ara sembari mengerenyitkan dahinya.


“Putri siapa?” balas Ara.


“Tring ….”


“Mantan gue. Yang waktu itu gue ceritain.”


Ara mencoba mengingatnya kembali. Tapi, pikirannya malah lebih condong ke arah Putri yang pernah dekat dengan Morgan.


Ara mendelik, “oh! Yang waktu di kelas itu kan?” tanya Ara memastikan.


“Tring ….”


“Iyaa bener.”


Aku masih belum yakin kalau itu adalah Putri yang sama, pikir Ara.


“Ada fotonya gak?” tanya Ara.


Aku tidak yakin kalau dia masih menyimpan foto Putri. Karena setelah berpacaran dengannya, Putri langsung berpacaran dengan Ray, pikir Ara.


Ara menunggu dan terus melihat layar handphone-nya. Sudah lebih dari lima menit, Rafa tidak kunjung membalas pesan singkatnya.


Aku sangat kesal dengan Rafa. Bisa-bisanya dia tidak membalas pesanku di saat-saat seperti ini. Aku kan … jadi penasaran, pikir Ara.


“Ting ... nong ....”


Seseorang memencet bel rumah Ara, membuat Ara terkejut dan merasa takut. Ara berubah menjadi sangat takut.


“Jangan-jangan ....” Ara menduga kalau yang datang adalah Morgan.


Saking takutnya, Ara langsung berlarian menyembunyikan dirinya di bawah selimut.


“Pura-pura tidur ...,” lirihnya, sembari merasa ketakutan.


Ara membiarkan wajahnya sedikit terbuka, agar terlihat lebih alami, tidak dibuat-buat.


Ara khawatir, Morgan akan tiba-tiba menyergapnya, seperti yang ia lakukan biasanya. Pasalnya, Ara belum siap untuk melakukannya lagi bersama dengan Morgan.

__ADS_1


Dari luar pintu rumah, Morgan menunggu siapa pun untuk membukakannya pintu. Namun kelihatannya, tidak ada yang merespon.


“Apa tidak ada orang?” lirih Morgan yang masih penasaran dengan keadaan rumah yang terlihat tidak seperti biasanya.


Morgan mencoba memencet bel rumahnya beberapa kali.


“Ckrekk ....”


Pintu rumahnya pun terbuka. Morgan melihat sosok wanita paruh baya yang sudah berdiri di hadapannya saat ini, dengan senyuman khasnya.


“Eh ... Den Morgan.”


“Iya, Bi.”


“Mau cari den Arash, atau non Ara?” tanya Bibi yang nampak jahil.


Morgan tersenyum kecil padanya.


“Arash, Bi,” jawab Morgan dengan singkat.


Morgan tidak ingin Bibi menjahilinya lagi, lebih dari ini. Karena, suasana hati dan keadaan Morgan yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Bahkan, Morgan juga tidak ingin tersenyum sedikit pun. Tapi karena ia menghormati Bibi, ia terpaksa melontarkan senyum padanya.


“Oh … den Arash tadi pagi baru aja berangkat ke luar kota, Den. Memangnya Den Morgan gak dikasih tau?” ucapnya mengagetkan Morgan.


Kenapa Arash sangat terburu-buru? Sampai tidak menghubungiku? Pikir Morgan.


“Enggak, Bi.”


“Bibi mau ngomong apa?” tanya Morgan.


Ia melirik Morgan dengan tatapan yang sangat aneh, membuat Morgan menjadi lebih bingung dibuatnya.


“Bibi mau izin pulang kampung dulu buat dua hari. Anak Bibi sakit, Den. Bibi udah coba hubungin den Arash, tapi kayaknya dia sibuk deh,” ucapnya.


Aku bingung sekali, kenapa harus bertanya dan meminta izin padaku? Sementara di dalam, pasti ada Ara yang akan memberikan keputusan padanya, pikir Morgan.


“Apa Ara tidak apa-apa, tinggal sendiri di rumah sebesar ini?” tanya Morgan.


Bibi nampak seperti orang yang sedang risau. Aku paham dengan yang ia rasakan. Memang, kehidupan ini harus lebih memikirkan keluarga. Aku tidak akan melarang jika dia berkata benar, pikir Morgan.


“Saya gak akan ngelarang Bibi kok. Silakan, Bi. Biar saya yang jaga Ara nantinya,”ucap Morgan.


Bibi seperti tersenyum bersemangat karena mendengar ucapan Morgan. Ia menjabat tangan Morgan dengan riangnya.


“Makasih Den, makasih ....”


Morgan tersenyum tipis, “iya, Bi. Tapi, ada syaratnya,” ucap Morgan.


Bibi tiba-tiba diam memandang Morgan dengan tatapan bingung.


“Apa tuh, Den syaratnya?” tanyanya penasaran, membuat Morgan tersenyum kecil padanya.

__ADS_1


“Sebelumnya, Arash pulang hari apa, Bi?”


“Kira-kira, akhir pekan, Den.”


“Oh ... oke, kalau gitu Bibi boleh pulang sebelum Arash pulang ke sini. Dengan syarat ....” ucap Morgan menggantung.


Bibi melihat ke arah Morgan dengan serius sekali. Morgan tersenyum kecil padanya.


***


Morgan menuju dapur rumah Ara, untuk sekedar memasakkan makanan kesukaan Ara, yang bahan mentahnya, sebelumnya sudah disiapkan oleh Bibi.


Ia mencoba untuk menuangkan keahliannya yang sudah dua tahun lalu terkubur. Morgan ingin mencoba memasakkan sesuatu yang berbeda dari hanya sekedar nasi goreng biasa.


Sebelum Bibi berangkat pulang kampung, ia meminta satu syarat padanya.


Morgan ingin, Bibi menyiapkan bahan makanan untuk Morgan dan Ara selama dua sampai tiga hari ke depan.


Dengan memberikan resep yang biasa Bibi masakkan untuk Ara setiap harinya. Dan, Morgan juga memberikan semua hadiah dari secret fans yang tadi siang membuat Morgan sedikit down. Dengan catatan, ia tidak boleh sama sekali membuka rahasia ini pada Ara.


Morgan hanya tidak ingin Ara marah padanya. Morgan sudah sudah payah mendapatkan dia, ia tidak ingin Ara pergi dengan mudahnya dari kehidupan Morgan.


Morgan memasak sayur sop dan ayam goreng kesukaan Ara. Dengan langkah-langkah yang Morgan lihat di tutorial.


Morgan mencoba mengikuti langkah demi langkah yang ia lihat.


Morgan sangat menikmati memasak untuk pacarnya ini. Sembari menunggu sayur sop matang, Morgan segera memanaskan minyak dan menggoreng ayam yang sudah digodok, dan diberi bumbu oleh Bibi.


Jadi, aku hanya tinggal menggorengnya saja. Hihi. Pikir Morgan.


Beberapa saat kemudian, ayam goreng yang sudah ia masak tadi, terlihat sudah berubah warna menjadi kecoklatan, dan sepertinya siap untuk dihidangkan.


Morgan mengambil piring, dan menaruh beberapa potong ayam yang sudah ia goreng itu.


Morgan menyiapkan lilin dan juga alat pendukung lainnya, yang akan membuat dinner kali ini terasa lebih mewah dan romantis.


Ia mempelajari ini semua dari buku novel yang ia baca.


Morgan memandang semuanya, apakah Ara akan suka dengan dekorasi yang aku berikan ini? Pikir Morgan.


Ia sama sekali tidak mau menghiraukan ucapan secret fans itu. Ia sama sekali tidak berniat untuk menemuinya.


Sekalipun Putri masih hidup, aku tidak berniat untuk menemuinya, pikir Morgan.


Semua sudah selesai disiapkan. Morgan menepuk kedua belah tangannya. Ia rasa, misi sudah hampir selesai. Tinggal menunggu Ara bangun dari tidurnya, kemudian menyalakan lilin yang sudah ia siapkan sebelumnya. Ia juga tak lupa memperhatikan beberapa hal kecil seperti bunga dan juga coklat.


“Sudah siap,” lirih Morgan, sembari memandang hasil kerja kerasnya.


Morgan menoleh jam dinding, yang sudah menunjukkan pukul tujuh.


Aku harap, dia tidak akan melakukan hal bodoh dengan menungguku sampai larut malam, pikir Morgan.


Morgan mencium kedua sisi ketiaknya. Ada bau yang kurang sedap.

__ADS_1


Aku harus bersiap-siap mandi untuk memulai acara makan malam yang romantis ini bersama pujaan hati. Sebelum Ara bangun, aku harus sudah rapi dengan semua yang sudah aku rencanakan tadi, pikir Morgan, kemudian bergegas untuk mandi.


...***...


__ADS_2