
"Kakak nggak tahu. Kakak baru aja bangun," jawabnya yang berusaha meyakinkan adiknya.
Ara pun menghela napas panjang, "Ya udah, anterin aku sekarang ke rumah sakit buat ngobatin luka Kak Ilham. Nanti di perjalanan, sembari aku cerita tentang kejadian tadi malam," pinta Ara.
Arash masih saja terlihat seperti orang yang bingung. Hal itu membuat Ara menjadi sangat kesal dengannya.
"Ayo Kak, cepet!" bentak Ara yang gemas dengan kakaknya.
Arash pun tersadar dari lamunannya, "Iya-iya! Tunggu, Kakak pakai baju dulu! Panggil Ares di kamarnya!" jawabannya seperti seseorang yang terpaksa.
Arash pun segera menuju ke kamarnya, dan mengganti bajunya.
"Ares!" pekik Ara.
Tak berapa lama, Ares pun menghampirinya.
"Ada apa, Kak?" tanya Ares, membuat Ara memandangnya dengan tajam.
"Ikut kakak yuk," ajak Ara, membuat Ares terdiam sejenak.
'Kak Ara kenapa, ya? Kok mukanya bengkak gitu?' batin Ares yang memperhatikan wajah aneh Ara.
"Ayo!" ajak Ara, membuat Ares terpaksa harus mengikutinya.
Ara langsung menuju ke tempat mobil Ilham terparkir. Ara pun masuk ke dalamnya dan duduk bersebelahan dengan Ilham di bagian belakang mobil. Ares pun masuk, dan duduk di kursi sebelah kemudi.
Ara terpikir akan satu hal, sepertinya aku tidak melihat keberadaan kak Rangga tadi, pikir Ara.
"Perasaan aku nggak ngeliat kak Rangga deh. Kakak tahu dia ke mana?" tanya Ara dengan bingung.
"Rangga tadi pagi tiba-tiba saja ada urusan. Dia sudah tahu kok keadaan saya," jawabnya.
__ADS_1
Ara hanya mengangguk sembari ber-oh-ria. Suasana seketika menjadi hening, apalagi saat Ara tak sengaja melihat tatapan Ilham yang mengarah ke wajahnya. Ara mendadak menjadi kaku, tak tahu harus berbuat apa.
Aku benci suasana semacam ini, pikir Ara yang kesal sendiri dengan suasana canggung ini.
"Apa ada serangga yang aneh lagi di wajah aku?" tanya Ara yang membidik dirinya, tapi Ilham tak bergeming sama sekali, "kalau ada, tolong kasih tahu aja. Biar aku yang ngambil sendiri," tambah Ara dengan nada yang datar.
Ara melakukan ini, karena tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi nantinya. Ia tidak ingin membuat Ilham terluka lagi. Untuk berjaga saja, karena siapa tahu saja Arash tiba-tiba datang di saat yang tidak tepat. Sama seperti Morgan waktu itu.
Ilham terkejut, sampai tiba-tiba saja pupil matanya membulat sempurna, membuat Ara jadi berpikir, apa mungkin aku salah bicara? Pikir Ara.
Ilham terdiam sejenak, merasa sangat bersalah dengan kejadian yang sudah terjadi malam tadi.
"Gak ada apa pun yang aneh kok. Saya cuma baru sadar kalau kamu, ternyata ...." ucapnya yang menggantung.
Ilham terdiam sembari menatap ke arah Ara. Ara pun menjadi bingung, tapi tetap menunggu Ilham untuk melanjutkan ucapannya.
"Ckleeekkk ...."
Tiba-tiba saja Arash masuk ke dalam mobil, sampai-sampai Ara hampir meloncat karena kaget.
Setidaknya aku tahu kali ini, kakak tidak melihat suatu hal yang aneh dari kami, pikir Ara.
"Coba ceritain! Gimana muka kamu bisa sampai kayak gitu?" tanya Arash dengan rasa penasaran yang menggebu, membuat Ara menatapnya dengan tatapan yang malas.
"Udah deh, jalan dulu aja mending," bentak Ara karena kesal.
Arash pun membalas tatapan datar Ara dengan sinis, "Bawel banget sih nenek-nenek!" gerutunya.
Ara hanya menjulurkan lidahnya ke arah kakaknya itu.
"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Ares pada Arash, membuat Arash tersenyum ke arah adik bungsunya itu.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit, karena Kak Ilham harus diobatin," jawab Arash dengan lembut, yang mendapat anggukan dari Ares.
Tak lama kemudian, mereka bersiap untuk menuju ke rumah sakit terdekat. Di sepanjang jalan, Arash masih saja mendesak mereka untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi, sehingga mobil melaju dengan kecepatan lambat.
"Sekarang kan udah jalan nih, coba ceritain gimana bisa jadi kayak gini?" tanya Arash dengan sangat penasaran.
Ara menghela napasnya, "Ini tuh cuma salah paham," jawab Ara yang rancu, dan tanpa sengaja membuat Arash semakin bertambah penasaran.
"Ya salah paham bagaimana maksudnya? Gak mungkin dong tiba-tiba muka si Ilham bisa jadi kayak gitu sendiri? Siapa tahu aja karena jatuh atau terbentur sesuatu yang keras? Atau malah habis berantem?" ucap Arash sembari sesekali melihat ke arah kaca yang ada di hadapannya.
Ara melirik ke arah Ilham yang juga sedang melirik ke arah Ara.
Ara mempersiapkan dirinya untuk bercerita, "Ini semua gara-gara Morgan," ucap Ara dengan ragu, membuat Arash langsung melihat tajam ke arah Ara.
"Hah, gara-gara Morgan? Kok bisa? Ngapain Morgan ngehajar Ilham? Ngapain juga Morgan bertindak sejauh itu? Gegabah sekali!" tanya Arash dengan bertubi-tubi, sampai semua kalimatnya itu lebih condong disebut 'menginterogasi', bukan bertanya.
"Cuma aku dan Kak Ilham yang tahu kebenarannya. Morgan tiba-tiba datang dan langsung mukul kak Ilham berkali-kali sampai Kak Ilham gak sadar. Untungnya ada pak Dicky yang paling enggak nahan sedikit. Kalau nggak, mungkin Morgan bisa melakukan hal yang lebih gila dari pada itu," ucap Ara menjelaskan, membuat Arash langsung menafikan pandangannya.
"Cemburu sih boleh. Tapi nggak harus sampai nyakitin orang kayak gini kan? Kalau dia aja belum tahu kebenarannya," ucap Arash yang sepertinya sudah kehilangan respect terhadap Morgan.
Sepertinya Kakak memihak padaku, pikir Ara.
Ilham mendelik, "Saya cuma nggak mau orang lain salah paham sama saya. Kali ini, saya bener-bener nggak punya niat jahat sama Arasha. Tapi mungkin dari sudut pandang yang dia lihat kemarin, keadaannya mungkin pas banget sama posisi yang enggak enak dipandang. Wajar aja sih, namanya laki-laki kalau lihat ceweknya disentuh sedikit pun, pasti bakalan marah. Tapi jujur aja saya enggak melakukan apa pun kok. Saya kemarin cuma bantu Ara karena ada sesuatu di area wajahnya," timpal Ilham untuk membantu menjelaskan pada Arash tentang kejadian yang sebenarnya.
Meskipun Ilham sangat ingin mencium kening Ara, tapi Ilham sama sekali tidak melakukannya malam itu. Bagaimana jika dia sampai benar melakukannya? Pastinya Morgan akan lebih bersikap kasar padanya.
"Bener yang dibilang Kak Ilham. Aku nggak bakalan berbuat macam-macam di belakang Morgan. Kak Arash harus percaya sama aku," gumam Ara, yang berusaha meyakinkan hati kakaknya, tapi Arash hanya diam, mungkin dia sedang mencerna ucapan yang barusan Ara dan Ilham katakan.
Beberapa saat berlalu, mereka pun kini sudah sampai di rumah sakit terdekat. Saat ini, Arash dan Ares sedang mengurus administrasi, agar Ilham mendapatkan tindakan medis.
Ara duduk di pelataran ruangan Ilham. Dokter dan timnya sedang melakukan tindakan medis, dan Ara disuruh menunggu di luar ruangan.
__ADS_1