
“Makanan siap.”
Terdengar suara Morgan dari balik pintu kamar Ara. Ara segera menghentikan aktivitasnya membaca komik online, di handhphone-nya.
Terlihat Morgan yang sedang membawa sepiring nasi goreng yang terlihat enak, membuat Ara ingin sekali memakannya.
“Kamu harus makan. Saya sudah buatkan nasi goreng ini khusus untuk kamu. Jangan sampai, kamu gak makan, seperti makanan yang semalam saya buatkan,” ucap Morgan, membuat Ara menyeringai.
Morgan lalu meletakkan makanan itu di atas meja. Ia melihat ke arah jam yang ada di tangannya.
“Oh,” lirih Morgan, karena setelah ia melihat, ia tidak bisa menemukan jam tangannya.
Ara yang melihat itu, segera mengambil jam tangan yang ia bawa di saku celananya.
“Ini,” lirih Ara, Morgan tersenyum lalu mengambilnya.
“Oke, saya harus pergi dulu ke kampus karena sekarang sudah jam sembilan. Saya sudah izin datang terlambat hari ini. Mungkin, saya akan pulang terlambat juga, karena harus menggantikan jam pelajaran yang saya lewatkan sekarang,” ucap Morgan menjelaskan.
Memang ribet sekali berpacaran dengan dosen. Kadang bahasanya yang terlalu baku, membuat telingaku pegal mendengarnya. Terkadang Morgan masih sering memakai bahasa bakunya itu saat berhadapan denganku. Aku pun terkadang masih sering memakai bahasa kasarku saat berhadapan dengannya. Kami masih sama-sama belajar untuk menjadi pasangan yang lebih baik lagi ke depannya, pikir Ara yang tersenyum memandangnya.
Morgan mengelus puncak rambut Ara, “jaga diri baik-baik di rumah,” ucap Morgan, membuat Ara tersenyum karenanya.
“Kalau ada apa-apa, kabarin saya segera,” ucapnya.
Ara hanya mengangguk kecil karena melihat Morgan yang sedang tergesa-gesa.
“Satu lagi ...,” ucapnya terpotong.
Ara melihatnya dengan saksama. Morgan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ara, membuat Ara terkejut dan refleks bergerak mundur.
“Maafin saya, karena saya gak bisa jaga kamu semalam. Maaf karena saya terlalu egois sama kamu. Maaf karena kecerobohan saya, kamu jadi mengalami kejadian yang tidak mengenakan. Saya merasa gagal menjadi laki-laki yang pantas untuk melindungi kamu. Maaf karena--”
Ucapan Morgan terpotong, karena Ara yang menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, membuat Morgan mendadak diam tak bergeming.
“Jangan dipikirin,” lirih Ara sembari melontarkan senyum padanya.
Suasana menjadi sangat canggung, saat Ara berkata demikian.
Ara menyadari hal yang ia lakukan ini membuat dirinya semakin terpojok. Situasinya sangat aneh sekarang. Mereka saling bertatapan, namun tidak melakukan apa pun.
Ara seperti terhipnotis dengan mata Morgan yang sangat indah itu.
Ara melepaskan jari tangannya dari bibir Morgan. Tak disangka, itu malah membuat keadaan semakin kaku.
Morgan mulai memandang ke arah bibir Ara, membuat jantung Ara mendadak terpacu karena situasi aneh ini.
‘Ya ampun, situasi jadi aneh gini. Gue harus gimana?’ batin Ara mengaduh.
Ara kembali melirik ke arah Morgan,‘udah terlanjur juga. Sekalian aja,’ batin Ara berpikir kembali.
__ADS_1
Ara mulai menyambar bibir Morgan yang kering itu.
Melihat reaksi Ara yang agresif, Morgan sangat kaget saat Ara menyambar bibirnya.
Ara mulai membasahi bibirnya dengan jilatan kecil, dan Morgan pun mulai merespon pergerakan Ara.
Mereka seakan larut dalam keadaan saat ini.
Ara senang sekali bisa bermesraan kembali dengan Morgan. Ara juga sudah mulai larut dalam hubungan asmara ini.
Ara menarik kasara kerah kemeja Morgan, membuat Morgan menghempaskan dirinya sendiri ke sebelah Ara.
Ara yang sudah haus akan hasratnya, mulai menindih di atas Morgan.
Kali ini, Ara seperti tertantang untuk mendominasi permainan kali ini. Ia sangat bergairah setelah melewati masalah demi masalah setiap harinya.
Ara menanggalkan paksa kancing kemeja Morgan dengan sangat cepat, sembari tetap menciuminya.
Tiada ampun untuk Morgan yang sudah membuatku terlihat lebih idiot daripada dirinya, pikir Ara.
Morgan segera melepaskan ciuman Ara, dan menahan tangan Ara yang sudah hampir membuka kancing terakhir kemejanya.
“Saya harus ke kampus ...,” lirih Morgan yang terlihat sangat keras menahan hawa nafsunya.
Ara tersenyum jahil, tidak peduli lagi dengan yang Morgan katakan.
Ara kembali membuka paksa kancing terakhir kemeja yang Morgan kenakan, kemudian membuka paksa sabuk dan seleting celana Morgan.
“Ahh ....” Ara terkejut, karena Morgan tiba-tiba mengubah posisinya berada di atas Ara dan menindih Ara.
Morgan segera membuka paksa kemeja tidur yang Ara kenakan. Lebih tepatnya, ia merobek seluruhnya hingga semua kancing piyama Ara menjadi rusak.
Morgan memandangi wajah Ara dengan sangat dekat, membuat hasrat Ara kembali naik secara drastis.
“Gak masalah, saya bisa izin cuti,” lirih Morgan.
Ara tersenyum padanya, dan Morgan pun membalas senyuman Ara.
“Cups ....”
Morgan mulai mengecup dan membasahi bibir Ara kembali, dengan tangannya yang tidak hanya diam, sembari terus menggerayangi setiap sisi tubuh Ara.
Ara pun meremas rambut Morgan dengan ritme yang agak cepat, membuat Ara merasakan sensasi yang mampu membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak.
Kepalaku masih sakit, pikir Morgan, tapi ia tak menghiraukan lebih karena merasakan kenikmatan.
“Emhh ....”
Morgan semakin mencium Ara tanpa ampun, membuat Ara tidak bisa berkutik lagi saat ini, dan juga kesulitan bernapas.
__ADS_1
Morgan melepaskan ciumannya, dan mulai menciumi leher Ara, meninggalkan bekas kecupan kepemilikan di sekujur leher Ara.
Tangannya melingkari tubuh Ara, berusaha membuka Bra yang masih tersangkut. Setelahnya, ia melemparkan secara sembarang.
Terlihat dua gundukan kenyal yang sudah lama menantikan sentuhan Morgan. Morgan bergegas menangkup gundukan itu, dan segera menciumi Ara tanpa ampun.
“Emh ....”
Ara sangat menikmati setiap sentuhan yang Morgan berikan. Morgan mengulum cepat, dan menghisap gundukan kenyal Ara, membuat Ara semakin jauh melayang karena sensasinya yang memabukkan.
Setelah selesai bermain dengan dua gundukan kenyal itu, Morgan mulai meninggalkan bekas kecupan ke arah perut Ara, turun dan turun sampai batas pinggul.
Indahnya bercinta, pikir Ara yang sudah ingin merasakan sensasi yang lebih lagi dari yang ia alami saat ini.
Morgan membuka celana Ara secara perlahan, membuat Ara tidak sabar menunggu lagi. Morgan mengangkat kedua kaki Ara. Ara yang sudah kalut dengan sensasi penuh gairahnya, sudah tidak menyadari lagi apa pun yang Morgan lakukan kepadanya.
‘Saya akan kasih kamu kebahagiaan,’ batin Morgan.
Morgan mengarahkan wajahnya ke sesuatu yang berada di pangkal paha Ara.
“Sllrrrkkkk ….”
Ara menahan rasa nikmat karena Morgan yang menjilati area intinya.
Ara menggelinjang, karena merasakan sensasi yang sangat geli dan membuat dirinya tidak kuat menahannya.
Tidak terpikirkan akan berbuat seperti ini lagi dengannya. Aku sudah tidak bisa menahan semuanya lagi. Aku sudah ingin menumpahkan rasa ini sejak tadi, pikir Ara.
Morgan menghentikan aktivitasnya itu, kemudian bergegas membuka celananya.
Terlihat sesuatu yang gagah, berdiri tegak di hadapan Ara.
Ada yang berdiri tegak, tapi bukan keadilan.
Ara tidak memikirkan apa pun lagi. Ia hanya bisa meraba dada bidang Morgan dan memainkannya sesekali.
Ia sangat menyukai setiap bagian tubuh dari Morgan.
Semuanya sempurna, pikir Ara.
Morgan mulai menggesekkan rudalnya pada inti Ara. Ara tidak bisa menahannya lagi.
Ara sudah tidak bisa berkata apa pun lagi. Dirinya sudah benar-benar mabuk dibuatnya.
Morgan mulai memasukkan sesuatu yang besar ke dalam gua milik Ara, sampai ia merasakan kenikmatan yang tidak terkira.
Ara sangat puas menumpahkan rasa yang sudah ia pendam.
Tidak kusangka, aku akan melakukannya lagi dengan Morgan. Sungguh hari yang paling menyenangkan untukku. Tidak ada kakak, dan juga Bibi. Hanya ada aku dan Morgan di sini. Aku bisa dengan leluasa menumpahkan perasaan rinduku padanya, pikir Ara.
__ADS_1
Aku menyayanginya.
...***...