
Ilham yang sudah lelah pun langsung melepaskan ciumannya dari Ara. Mereka saling memandang beberapa detik, hingga akhirnya saling berpelukan dengan mesra.
Betapa gugupnya Ilham kala itu, karena ia tidak menyangka, kalau jatuh cinta akan senikmat ini bila berbalas.
"Emm ... Kak," pekik Ara, membuat Ilham memandangnya dengan dengan cepat.
"Kenapa sayang?" tanya Ilham.
"Besok mulai masuk kampus. Apa boleh, aku ... masuk kampus lagi seperti biasa?" tanya Ara, membuat Ilham berpikir sejenak.
"Bagaimana dengan kondisi kesehatan kamu?" tanya Ilham yang masih menghawatirkan tentang keadaan Ara yang masih mengalami hal yang menyedihkan.
"Sudah lebih baik, kok. Justru gak baik kalau aku terus-menerus di rumah," ujar Ara, membuat Ilham membuka pikirannya.
'Benar juga,' batin Ilham.
Ilham memandang Ara dengan tatapan yang dalam, "Boleh, tapi aku yang antar, ya?" ujar Ilham, membuat Ara mengangguk kecil.
Ilham kembali merengkuh Ara ke dalam pelukannya, rasanya ternyata senyaman ini, pikir Ilham tanpa melepaskan sedetik pun pelukannya dari Ara.
"Ya sudah, kita bobo, ya? Besok aku juga harus masuk kerja," ucap Ilham, membuat Ara mengangguk kecil.
Akhirnya, malam ini adalah malam pertama Ilham bisa tidur satu ranjang dengan Ara. Ilham tidak sedetik pun melepaskan pelukannya dari Ara, begitu pun Ara.
'Rasanya nyaman sekali,' batin Ilham yang terlalu senang dengan yang ia lakukan bersama dengan Ara.
Mereka pun sama-sama memejamkan matanya, dan bergegas untuk bermimpi indah, dan bangun dengan bahagia esok harinya.
...***...
Ilham dan Ara kini sudah sampai di depan kampus yang bagi Ara memiliki sejuta kenangan itu. Ara menghela napasnya panjang, berusaha untuk menafikan semua masa lalu yang sudah ia lewati di kampus ini.
Ilham memandang ke arah Ara, yang nampaknya sangat tegang. Ilham melihat sepertinya Ara sangat tertekan dengan keadaan.
Ilham meletakkan tangannya pada pundak Ara, "Sayang ...," pekik Ilham dengan lembut, membuat Ara menoleh ke arahnya, "ada apa?" tanya Ilham, membuat Ara tersenyum padanya.
"Gak ada apa-apa, kok," jawab Ara, membuat Ilham mengerenyitkan dahinya.
__ADS_1
"Benar gak ada apa-apa? Kalau memang berat, kita coba lain waktu, ya?" tanya Ilham, membuat Ara lagi-lagi tersenyum ke arahnya.
"Engga usah, Kak. Aku baik-baik aja, kok," tolak Ara, membuat Ilham tersenyum ke arahnya.
"Ya udah, nanti pulangnya aku jemput, ya?" tanya Ilham, membuat Ara mengangguk kecil ke arahnya.
"Hati-hati di jalan," gumam Ara, membuat Ilham tersenyum dan mengangguk kecil.
Ara memandang Ilham dengan tatapan yang teramat dalam, "I love you."
"Degg!"
Ini adalah kali pertama Ara mengucapkan kata itu padanya. Ilham mendelik penuh rasa heran, karena dirinya yang saat ini sudah bertambah yakin dengan Ara yang sepertinya sudah menerimanya.
Ilham meletakkan tangannya pada wajah Ara, dan menarik perlahan Ara untuk mendekat ke arahnya.
"Cupps ...."
Jantungnya terus terpacu, walaupun ini bukan pertama kalinya lagi Ilham berciuman dengan Ara.
Ilham melepaskan ciumannya perlahan, dan memandang Ara yang terlihat sedang malu-malu di sana.
"Udah mulai berani ya, cium-cium," ledek Ara yang masih tersipu dengan yang Ilham lakukan.
Entah mengapa, Ara lebih suka laki-laki yang berinisiatif tinggi seperti Morgan. Saat ini, Ilham juga sudah mulai memiliki inisiatif tinggi layaknya Morgan di matanya.
Mendengar ledekan Ara, membuat Ilham menjadi kaku mendengarnya. Ia pun menafikan pandangannya dari Ara.
"Ka-kamu gak suka, ya?" tanya Ilham tanpa melihat ke arah Ara, membuat Ara menjadi gemas dibuatnya.
Ara meletakkan tangannya di wajah Ilham sehingga membuat Ilham menatapnya, "Suka. Sering-sering begitu, ya?" pinta Ara, membuat Ilham mendelik tak percaya dengan yang Ara katakan.
Ilham pun menelan salivanya, membuat Ara ingin sekali menciumnya kembali. Ara mendekat ke arah Ilham, dengan dirinya yang sudah sangat siap untuk mencium Ilham.
"Brukk ...."
Seseorang mengagetkan Ara, hingga membuyarkan fokus Ara yang sedikit lagi berhasil mencium Ilham. Mereka pun menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Woy, mesum jangan di kampus!" bentak seseorang yang ternyata adalah Ray, membuat Ara menjadi sangat kesal dengannya.
"Ray sialan itu!" geram Ara, membuat Ilham tertawa kecil melihat ekspresi Ara yang marah akibat kejahilan temannya.
Ara menunjuk ke arah Ray yang ada di luar mobilnya, "Heh! Ngapain loe di situ?" tanya Ara dengan geram, membuat Ray menyeringai ke arahnya.
Ara mendelik kesal dengan keadaan, 'Kenapa mobilnya gak kayak mobil Morgan, sih? Harusnya Ilham beli mobil yang kacanya bisa gak tembus pandang kayak si Morgan,' batin Ara yang tiba-tiba saja kesal dengan Ilham.
Ilham tersenyum dan mengacak-acak pelan rambut Ara, "Udah gih ... masuk ke kelas sana," ujar Ilham, membuat Ara memandangnya dengan tatapan yang sinis.
"Besok-besok beli mobil yang kacanya otomatis berubah hitam, jadi gak tembus pandang!" ketus Ara, yang langsung meninggalkan Ilham di sana.
Ilham melongo kaget, mendengar ucapan Ara yang demikian.
"Memangnya saya sultan, hah?" gumam Ilham lirih, merasa kalau dirinya sangat tidak mampu membeli mobil semahal itu, padahal jika ia mau, bisa saja ia membeli 7 buah mobil sekaligus.
Sayang sekali, Ilham tidak segila itu dengan harta. Asalkan dirinya sudah mempunyai yang memadai, hal-hal seajaib itu tidak akan ia beli.
"Lagian, kita kan udah suami istri. Mau ngapain lagi berbuat di mobil? Tinggal pulang ke rumah aja, beres!" ketus Ilham, yang malah ketularan dengan Ara, membuatnya tersadar dengan sikapnya yang sudah mulai tertular dengan Ara.
Ara pun berjalan bersama Ray dengan perasaan yang sangat kesal.
Ray menatapnya dengan heran, "Heh, loe kenapa, sih? Daritadi muka ditekuk, kayak kanebo kering!" bentak Ray, membuat Ara mendelik ke arahnya.
"Gak tahu sikon!" bentak Ara dengan ketus, membuat Ray menjadi bingung setengah mati dengan Ara.
"Lah, loe yang gak tahu sikon! Udah tahu di kampus, pake mesra-mesraan segala! Heh, loe kan udah nikah, jadi ngapain mesra-mesraan di mobil? Kan bisa di rumah?" bantah Ray, membuat Ara memandangnya dengan sangat kesal.
"Udah ngomongnya?" tanya Ara, membuat Ray terdiam sejenak memandangi Ara.
"Udah," jawab Ray yang sudah mulai takut dengan aura Ara yang sudah berubah menjadi lebih mengerikan lagi.
"Ya udah, diem! Gue lagi bete sama loe!" bentak Ara yang langsung meninggalkan Ray di sana.
Ray pun mendelik kaget, "Eh, Ra, tunggu!" pekik Ray yang tak dihiraukan oleh Ara.
Ray pun akhirnya pergi menyusul Ara untuk masuk ke dalam kelas mereka yang baru, karena mereka yang sudah naik ke semester 2.
__ADS_1