
Terlihat Farha dengan sebuah binder, yang sedang ia bawa di tangannya.
Ray menoleh ke arahnya dan tersenyum, “eh, neng cantik. Ada apa?” ujar gombal Ray.
Ara, Fla dan Rafa menoleh ke arah yang Ray ucapkan.
Terlihat Farha yang sedang tersenyum karena ucapan Ray yang menurutnya lucu.
Rafa yang mengetahui keberadaan Farha, segera menoleh ke arah Ray yang memang sudah sedari tadi menyadarinya.
Rafa kembali menoleh ke arah Ray, dan mendorong pelan pipi Ray, karena merasa tersaingi dengan Ray yang sudah selangkah lebih maju daripada dirinya.
“Gak usah sok keganjenan jadi cowok,” sahut Rafa, membuat Ray mendelik kesal ke arahnya.
Ara dan Fla hanya tertawa melihat mereka berselisih seperti ini.
Memang, sejak dulu mereka selalu menyukai satu wanita yang sama. Tak disangka, akan berlajut sampai saat ini juga.
Ara mengkhawatirkan, sifat buruk mereka ini akan terbawa sampai mereka menikah nanti.
‘Ada-ada aja mereka. Mudah-mudahan gak sampai nikah nanti. Kalau sampai nikah nanti masih berebutan juga, bisa jadi judul buku baru nantinya, hihi,’ batin Ara, yang memandang renyah ke arah Ray dan Rafa yang sedang asyik bertengkar.
“Yeh ... sirik aja loe!” ucap Ray dengan sinis.
Rafa mendelik, “biarin amat sih, ya elah,” sahut Rafa yang tak mau kalah dengannya.
Ara dan Fla menggeleng kecil karena tingkah kedua teman mereka itu.
Fla menoleh ke arah Farha, “kenapa, Far?” tanya Fla.
Farha yang sedang tersenyum karena melihat ekspresi Ray dan Rafa yang memalukan itu, segera menoleh ke arah Fla.
“Eh, iya,” ucap Farha yang terkejut dengan sapaan Fla.
Ara menggeleng kecil, “eh maafin Ray sama Rafa ya, mereka emang gitu emang,” celetuk Ara, yang malah menjadi tidak enak hati terhadap Farha.
Rafa segera menoleh ke arah Ara, lalu menyentil kening Ara dengan pelan.
“Tuk ....”
“Adaw ....” Ara menggosok dahinya, sembari meringis.
Ara mendelik ke arah Rafa yang juga sedang mendelik ke arahnya.
“Tadi ngomong apa?” tanya Rafa dengan sinis, membuat Ara menunjukkan gigi putihnya itu ke arah Rafa.
__ADS_1
Melihat tingkah mereka, membuat Farha tertawa “hihi ... gak ada apa-apa. Gue cuma mau kalian nemenin gue ... soalnya, gue belum terlalu kenal sama mereka. Dan gue belum terlalu paham sama lokasi kampus ini,” ucap Farha membuat Ara dan teman-temannya tersenyum mendengarnya.
“Kalau gitu, baiklah,” ucap Ray.
Rafa mendelik, “baiklah baiklah, biasanya juga ngomongnya ‘ashiiapppp’,” ledek Rafa, membuat Ray mendelik.
Farha menggeleng kecil, “tadi, Ara nolongin gue pas pulpen gue jatuh. Gue ngerasa, Ara orang yang baik. Makanya, tolong temenin gue ya,” ucap Farha halus, walaupun memakai kata ‘gue’.
Ara tersenyum padanya.
Tidak ada salahnya untuk menerima Farha masuk ke dalam lingkaran pertemananku. Kelihatannya, dia juga anak yang baik, pikir Ara.
“Tentu dong! Masa, kita gak mau nemenin loe. Pasti dong ...,” sambar Ray, yang ternyata masih bersikeras untuk mendekati Farha.
Rafa juga tak mau kalah dengan Ray yang sudah mengambil start lebih dulu.
“Gue juga mau lah. Ara sama Fla juga pasti mau,” ucap Rafa tak mau kalah dengan Ray.
Farha pun tertawa kecil.
“Loe boleh gabung kok Far, as long as you want. Loe juga boleh pergi, kalau loe ngerasa udah gak cocok temenan sama kita,” ucap Ara teriring senyum.
Mata Farha terlihat berbinar, dengan senyuman yang selalu mengiringi sorotan matanya, ia pun lalu mengangguk.
Farha tersenyum, “makasih ya, kalian udah mau nerima Farha di sini,” ucap Farha.
Mereka semua tersenyum ke arah Farha.
“Gak usah sungkan, Far,” ucap Ray.
“Sontoloyo kau,” ucap Rafa dengan kesal, membuat semua orang mentertawakan Rafa, tak terkecuali Ara.
“Yeh ... sirik aja loe semua,” bantah Ray, dengan tatapan yang menjengkelkan, tapi Ara dan Fla sudah paham dengan sikapnya.
“Biar gimana pun, kita harus saling menghormati satu sama lain, dan saling mengasihi antar teman. Mau teman deket, atau cuma sekedar temen ‘say hello’ aja,” ucap Fla, yang berusaha mengambil hikmah dari peristiwa ini.
“Setuju!” ucap Ara, membenarkan kesimpulan yang Fla ambil.
Fla membuka handphone-nya, “eh, tambahin ke grup dong,” suruh Fla.
Ara yang bertindak sebagai admin, segera membuka handphone-nya, lalu menambahkan Farha ke dalam grup yang mereka buat.
“Oh ya, gue gak nyantet nomornya tadi,” ucap Ara.
Ray segera berinisiatif menambahkan Farha ke dalam grup chat yang sudah mereka buat sebelumnya. Kebetulan, semua yang ada di grup itu adalah admin, yang bisa dengan bebas berbuat apa pun di sana.
__ADS_1
Ara dan Fla melihat notifikasi Ray, yang baru saja menambahkan nomor Farha ke dalam grup, membuat Ara dan Fla mendelik karena kaget.
“Anjir ... sadeeeeessss ...,” ledek Ara.
Mereka semua pun tertawa, terkecual Rafael.
“Uhuy ... nyolong start duluan dia,” ucap Fla yang meledek Ray.
Ara dan Farha tertawa mendengar ledekan Fla.
Ara melihat kembali ke dalam grup, untuk menyimpan nomor Farha.
Tak lama setelah itu, Ara seperti menemukan keanehan di sana.
Ara mendelik, “lho ... kok nama grupnya berubah?” tanya Ara.
Ray tersenyum tipis, “jelas lah, kan udah nambah member,” jawab Ray.
Ara hanya ber-oh-ria, sembari mengangguk kecil.
“Oh ... bener juga,” ucap Ara, “tapi kok namanya F2AR2?” tanya Ara lagi.
Ara diam sejenak untuk berpikir, membuat Ray tersenyum jahil.
Satu jawaban melintas di kepala mereka.
“Singkatan nama kita berlima!” cetus mereka serempak, dengan bersemangat.
Mereka pun tertawa karena mendengar kekompakan ini, yang jarang sekali terjadi.
Ara dan yang lainnya berusaha untuk membiasakan diri, karena sudah ada Farha yang saat ini akan bersama mereka, sampai seterusnya.
Ray berusaha mendekat ke arah Farha, namun terhalang oleh Rafa yang memang sedari tadi sudah berada di sebelah Farha.
“Mau ngapain sih?” tanya Rafa dengan sinis, membuat Ray juga mendelik sinis ke arahnya.
Ray mengalihkan perhatiannya pada Farha, “mulai sekarang, pokoknya jangan pernah ragu, jangan pernah bimbang sama gue. Kalau ada yang loe lagi butuh, coba diomongin sama gue, siapa tahu gue bisa bantu loe,” ucap Ray, yang membuat semua orang memandangnya dengan sinis.
“Yehhh ...,” teriak mereka semua, membuat Ray menutup kedua telinganya.
“Mana bisa begitu? Di sini tuh bukan gue, loe, atau dia, tapi kita,” bantah Ara, membuat Ray cengengesan saja mendengarnya.
Fla menoleh ke arah mereka, “ah, udah yuk ... nanti istirahatnya abis,” ucap Fla yang membuyarkan suasana.
Mereka pun akhirnya menuju kantin kampus, untuk sekadar makan siang dan mengisi perut mereka yang lapar.
__ADS_1