Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Maniak 6


__ADS_3

Morgan mulai membuka pakaiannya. Perlahan namun pasti, ia sudah sangat siap untuk melakukannya bersama dengan Ara.


Morgan pun memulai dengan ciuman kecil yang ia daratkan di bibirnya. Ara kali ini melawan dan tidak hanya diam saja. Niat Morgan yang hanya ingin membantunya, malah jadi terbawa suasana. Morgan mulai bergairah kembali karenanya.


“Drt ....”


Handphone-nya bergetar, Morgan tahu pasti itu adalah telepon dari Dicky.


Morgan tahu itu.


‘Maaf kawan, saya sedang melakukan tugas saya dulu sekarang, untuk menolong gadis ini. Bisma ... tidak akan saya lepaskan nanti jika bertemu dengannya,’ batin Morgan, sembari meletakkan kembali handphone-nya.


Morgan langsung menatap sendu ke arah Arasha, “maafin saya yang gak bisa menepati janji, untuk menjaga kamu,” lirih Morgan.


Morgan sangat menyayangi Ara, tak peduli tentang apa yang hari ini terjadi.


Ia sangat mencintainya.


Mereka melanjutkan adegan romantis mereka tanpa henti. Membuat Morgan sampai tergolek lemas. Tapi, efek obat perangsang itu, tidak kunjung hilang. Ara malah menjadi semakin ganas.


“Ini sih, bukan nolong namanya,” ucap Morgan terengah-engah, dengan napas yang tersengal.


Di sisi lain, Dicky menunggu kabar dari Morgan. Ia sangat kesal karena kejadian ini, di luar dari rencana mereka sebelumnya.


“Dasar Morgan sialan. Saya tahu, dia sedang berbuat apa,” lirih Dicky yang setengah kesal pada Morgan.


“Lepasin saya, Pak!” Bisma berteriak meminta untuk dilepaskan ikatannya, namun Dicky hanya pura-pura tak mendengarnya.


“Gak dengar,” lirih Dicky bermaksud untuk menggodanya.


Dicky bergegas naik ke atas ranjangnya, dan menghempaskan dirinya di sana.


“Bruk ….”


“Ah … indahnya hidup,” lirih Dicky sembari memejamkan matanya.


Dicky kembali melihat Bisma, yang sedang terikat itu.


“Okeylah, karena sudah nyewa kamar VVIP dengan bayaran yang mahal, saya jadi ingin menginap semalam di sini. Saya tidur duluan, ya?” ledek Dicky pada bocah yang bernama Bisma itu.


“Lepasin saya, Pak!” teriak Bisma, namun Dicky hanya tersenyum.


Bisma dibiarkan terikat seperti itu. Dicky tidak mempedulikannya sama sekali.


“Selamat malam,” lirih Dicky, sembari meregangkan otot tubuhnya yang sudah kaku.


“Pak, lepasin!”


Dicky memejamkan matanya, bergegas untuk beristirahat.


Sungguh ia tidak peduli pada Bisma, sedikit pun.


Di malam yang penuh dengan kenikmatan ini, Morgan sampai tidak diizinkan untuk menghentikan aktivitasnya, karena Ara yang baginya sangat agresif.


Oh ... malam yang indah.


Morgan melakukan semua itu dengan Ara, sampai ia merasa begitu lelah, tak bertenaga untuk menyeimbangi Ara.


Putaran akhir.


Morgan mengelus wajah Ara dengan lembut. Ara hanya tergulai lemas di dalam pelukan Morgan, karena sudah merasakan kenikmatan yang sangat membuatnya bahagia.

__ADS_1


“Sudah, ya, saya lelah,” lirih Morgan, sembari mengecup kening Ara dengan lembut.


“Engh ….” Ara tak menjawab perkataan Morgan, karena mungkin dirinya yang juga sudah sangat kelelahan setelah bersenang-senang.


Setelah selesai semuanya, Morgan menyelimuti tubuh Ara yang juga terlihat sudah lemas. Ia memeluk Ara dari belakang. Morgan ingin Ara tahu, perasaannya ini memang sudah seutuhnya untuk Ara. Tidak peduli bagaimana pandangannya terhadap Morgan, bagaimana perlakuannya, bagaimana sikapnya. Morgan sudah terpaku pada Ara.


***


Sesuatu yang hangat melingkar dari belakang tubuh Arasha. Perlahan, Ara mulai membuka matanya. Ara masih berusaha keras untuk membuka matanya yang sayu.


Terlihat sebuah tangan melingkar di perut Ara. Ia masih belum sadar dengan apa yang ia lihat ini. Ara masih belum menyerah. Ia mengucek kedua bola matanya untuk membenarkan fokus pandangannya yang sudah rabun.


Terlihat sekilas seseorang di belakangnya.


“Aaaaaa ....” Arasha berteriak sekencang mungkin dan bangkit dari tidurnya.


Ara melihat Morgan yang sedang tidur di sampingnya, tak memakai busana. Ara pun saat ini sedang tidak memakai busana. Hanya terbalut dengan kain tipis, berwarna putih.


Ara shock bukan main.


Apa yang baru saja terjadi? Pikirnya.


“Ke-kenapa ada loe?” Ara berteriak sekeras mungkin saat melihat keberadaan Morgan di sampingnya.


Jantungnya terasa hampir mau copot. Namun sama sekali tidak ada respon dari Morgan. Dia nampak terlihat sangat lelah. Wajahnya mengkerut, ia sepertinya masih belum sadar dari tidurnya.


“Bukannya kemarin, gue sama Bisma, ya?” lirih Ara yang masih tak mengerti dengan yang sudah terjadi.


‘Kenapa ada Morgan di sebelah gue? Masa sih, gue ngelakuin itu lagi sama Morgan?’ batin Ara heran.


Hati Ara sudah hancur satu kali. Ditambah ini, hatinya sudah hancur beberapa kali oleh orang yang sama.


“Gue gak ngerti deh, Gan! Kenapa loe lakuin ini sama gue?” jerit Ara yang masih tertahan karena air matanya yang hendak mengalir.


Sangat kesal.


Rasanya, seperti dijatuhkan dari atas bukit menuju dasar jurang.


“Kenapa loe diem aja sih, Gan? Jawab gue!”


Ara semakin menambahkan volume suaranya. Namun nampaknya Morgan masih saja belum bangun dari tidurnya.


Ara jadi teringat sesuatu.


“Jam!”


“Jam berapa sekarang?” Arasha menoleh ke kanan dan ke kiri, terlihat jam dinding yang menunjukkan pukul 4 pagi.


Ara menghela napasnya panjang.


“Ternyata masih jam 4,” lirih Ara merasa sangat tenang.


“Mana baju gue?” Ara melihat sekelilingnya.


Kemejanya sudah berhamburan di mana-mana. Ara berusaha mengambilnya kembali.


“Aws ....”


Terasa sangat nyeri pada bagian bawahnya.


Sakit sekali.

__ADS_1


Morgan tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya, karena terusik dengan Ara yang sudah sadar sejak tadi.


“Kenapa, Ra?” tanya Morgan tiba-tiba membuat Ara terkejut.


“Gue masih punya pertanyaan buat loe! Sekarang, ambilin baju gue dulu!” ucap Ara geram, dengan sangat kasar.


Morgan memperhatikan Ara dengan tatapan yang sedang menahan amarah, lalu berusaha bangkit dan mengambil baju Ara yang berserakan di lantai.


Ara melihat Morgan mengambil bajunya, termasuk juga mengambil pakaian dalamnya.


Morgan lalu memberikannya pada Ara. Ia pun langsung seketika merampasnya dengan kasar.


“Toilet?” tanya Ara dengan nada malu karena Morgan juga mengambil pakaian dalamnya.


“Hoam ... buat apalagi pakai baju di toilet? Saya sudah melihat dan merasakan seluruh tubuh kamu, apa lagi yang harus ditutupi?” jawab Morgan yang semakin membuat Ara geram.


“Loe tuh ya--” ucapnya terhenti karena terpikir sesuatu.


‘Tapi, iya juga sih,’ pikirnya dalam hati.


Akhirnya dengan perasaan was-was, Ara memakai bajunya dan kembali membelakanginya.


Ara telah selesai memakai bajunya. Ara melihat Morgan dengan senyum manisnya, sedang memperhatikan Ara. Mendadak, wajahnya seketika menjadi terasa panas sekali.


“Heh ... ngapain loe ngeliatin gue?” ketus Ara.


Morgan semakin tersenyum manis saat Ara membentaknya. Ara mendengus kesal. Bisa-bisanya ada orang seperti ini di dunia ini.


“Apaan sih loe!”


“Kamu yang kenapa?” tanya Morgan balik.


Ara semakin gondok dengan sikapnya yang pandai membolak-balikkan keadaan.


“Gak usah ikut nanya gitu, deh. Gue gak suka sama loe ya! Sampe kapan pun, gue gak akan pernah suka sama loe!” Ara memelototi Morgan dengan tatapan yang kasar.


“Awas, nanti jatuh cinta ….” Morgan masih berusaha untuk menggoda Ara.


“Ih, gak bakal!”


Morgan hanya menghela napas, kemudian mendecap melihat tingkah laku kasar Ara yang mungkin sudah di luar batas.


Ara duduk di bibir ranjang, agak jauh dari tempat Morgan duduk. Morgan berusaha untuk mendekati Ara, tapi Ara menahannya.


“Et ... gak usah deket-deket gue!” bentak Ara.


Lagi-lagi Morgan tersenyum hangat padanya. Ara sudah tak peduli lagi dengan pikiran Morgan yang serba kotor itu.


Morgan memperhatikan Ara dengan seksama. Ia hendak menempelkan kepalanya ke pundak Ara. Ara merasa risih sekali dengan tingkahnya itu.


“Udah dibilang, gak usah macem-macem! Denger gak sih loe?”


Lagi-lagi morgan menggoda Ara, membuatnya tak mengerti.


Ya, dari awal pun Ara sudah tidak mengerti dengan semua sikap dan tingkah laku Morgan itu.


“Semalem apa yang terjadi?” tanya Ara.


Morgan terdiam, sedang mempersiapkan jawaban yang tepat. Terlihat dari gerak-geriknya yang selalu menunduk. Ara harus mengetahui tentang keadaan yang sebenarnya. Tak peduli, seberapa lama ia harus menunggunya.


“Huft ....”

__ADS_1


Akhirnya setelah beberapa saat, Morgan menghela napas panjang.


“Bisma mau ada niat jahat ke kamu.”


__ADS_2