
Ilham pun melanjutkan untuk memagut telinga Ara, dan Ara terasa tambah bergairah dibuatnya. Tak tinggal diam, perlahan Ara juga menggerayangi dada bidang Ilham, yang memang memiliki daya tarik tersendiri bagi Ara.
Entah apa yang ia suka dari dada Ilham, tetapi dada bidangnya itu sudah cukup membuat Ara menjadi mabuk kepayang.
Ilham menyesap leher Ara, hingga meninggalkan bekas kecupan kepemilikan berwarna merah agak kehitaman. Perlahan namun pasti, Ilham bergerak turun untuk mengulum lembut puncak bongkahan kenyal milik Ara.
Lenguhan indah selalu keluar dari mulut Ara, membuat gairah seorang pria di pagi hari, menjadi sangat kuat dibuatnya. Apalagi, Ilham yang memang sama sekali belum pernah melakukan hal panas ini dengan wanita mana pun.
Mirip seperti gairah saat malam pertama.
Ilham dengan lembut berusaha membuka celana panjang yang setiap hari Ara pakai untuk tidur, membuat Ara agak merinding dibuatnya.
Kali ini, tidak ada satu helai pun yang menutupi tubuh Ara, membuat Ilham menghentikan ciumannya sejenak, dan memandangi pemandangan yang sangat indah baginya.
"Glekk ...."
Tak sadar, Ilham terus-menerus menelan salivanya, karena tenggorokannya yang sudah mulai kering saking panasnya suhu tubuhnya.
"Cantik," gumam Ilham sembari tersenyum memandangi tubuh mulus istrinya itu.
Hal itu membuat Ara merasa sedih, karena ini bukanlah kali pertama ia melakukan hal ini dengan laki-laki.
"Srakk ...."
Ilham menyibakkan handuk kecil yang melilit di pinggangnya, membuat Ara merasa sudah sangat siap menyongsong rasa bahagia itu bersama dengan Ilham.
Junior Ilham sudah kokoh berdiri, tanpa sehelai kain pun yang membalutnya. Ilham pun sudah semakin siap melakukannya bersama Ara.
Ia merangkak naik mensejajarkan wajahnya dengan wajah Ara.
"A-aku mulai," gumam Ilham dengan sangat hati-hati.
Ia mengarahkan miliknya ke arah milik Ara, membuat sedikit banyaknya perasaan keduanya sangat tegang. Pikiran yang sudah kalut, menjadi menafikan segala bentuk kewaspadaan pada diri mereka masing-masing.
__ADS_1
"Jleebb ...."
"Ahh ...."
Darah Ilham sudah mulai naik sampai ke kepala. Rasanya, ingin sekali Ilham berteriak karena menghadapi situasi yang sangat memabukkan ini untuknya.
Mungkin karena sudah terlalu lama tidak berhubungan intim, Ara merasakan sakit yang cukup terasa, ketika junior Ilham berhasil menembus dinding lubang itu.
Ara menyesuaikan diri dengan sang junior, yang ukurannya kurang lebih hampir sama dengan yang Morgan miliki. Entah kenapa, Ara sangat senang dengan Ilham yang sudah membuatnya merasa sampai mabuk seperti ini.
Pergerakannya sangat lembut, membuat Ara menjadi semakin mabuk dibuatnya.
'Jadi seperti ini nikmatnya bercinta?' batin Ilham yang baru pertama kali merasakan surga dunia.
Setelah menyesuaikan diri masing-masing, Ilham segera melanjutkan aksi panasnya dengan mengguncang tubuhnya yang sepenuhnya sudah menyatu dengan tubuh Ara. Ilham tak menyangka, bahwa bercinta dengan wanita yang ia cintai akan menjadi sangat indah.
Mereka melanjutkan pergerakan itu cukup lama, dengan suara indah yang terus keluar dari mulut mungil Arasha. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka saat ini.
Tubuh Ilham semakin bergejolak, karena dirinya yang sepertinya sudah pada puncaknya. Ia pun mempercepat pergerakannya, membuat Ara merasa sangat aneh, hingga tak sadar telah mencengkeram punggung Ilham dengan sangat kuat. Walaupun terluka, Ilham sama sekali tidak memedulikan rasa sakitnya. Kenikmatan ini membuatnya sudah mengalihkan seluruh pikirannya pada Arasha.
Ilham pun mengeluarkan bibit unggulnya, dan sejenak memberikan jalan masuk terdalam yang ia mampu. Ara pun menyentuh puncak tertingginya, sampai tak sadar dirinya bergerak tak tentu arah, saking menikmatinya ia.
"Brukk ...."
Ilham menjatuhkan tubuhnya di sebelah Ara, merasa sangat puas dengan permainan panasnya, walau baru kali pertama ia melakukan hal ini.
Ilham dengan lemas dan juga napas yang sudah memburu, segera merengkuh Ara dengan sangat erat, merasa kebahagiaannya telah lengkap saat ini.
Ara juga kelelahan akibat Ilham yang diam-diam juga mematikan. Ia hanya berfokus pada dirinya yang sudah kelelahan saja, sampai tak sadar dengan yang Ilham lakukan setelahnya.
"Terima kasih," gumam Ilham lirih di telinga Ara, dengan sangat bahagia, dengan air mata yang tiba-tiba saja menetes dari pelupuknya.
"Cupps ...."
__ADS_1
Ilham mengecup lembut kening Ara, merasa dirinya saat ini sudah menjadi manusia yang seutuhnya memiliki hati dan perasaan orang yang ia cintai.
Dengan tetap mengatur napasnya, tak sadar Ilham pun menutup matanya, saking lelahnya ia beraktivitas panas bersama dengan istrinya.
...***...
Ara terbangun dari tidurnya yang sangat melelahkan. Ia tersadar, kalau dirinya kini masih tidak mengenakan busana, ditambah lagi dengan Ilham yang sedari tadi hanya memeluknya, membuat Ara merasa sangat canggung ketika melihat Ilham yang juga tidak mengenakan busana.
Ara memandang ke arah Ilham yang tertidur pulas, sembari mengelus dada bidang milik Ilham.
'Aku gak nyangka, bisa jatuh hati secepat ini dengan orang seperti dia,' batin Ara yang tak menyangka dengan jalan pikirannya.
Ara sangat senang bisa bercinta bersama dengan Ilham, entah apa alasannya ia pun tidak mengerti.
'Mungkin karena, memang sudah sepantasnya aku seperti ini. Dia kan ... memang suamiku,' batin Ara yang sangat senang memandangi wajah Ilham yang sangat polos ketika sedang tidur.
Karena merasa terusik dengan Ara yang sedari tadi mengelus dadanya, Ilham pun akhirnya terbangun dari tidurnya, dan menyadari Ara yang masih berada di dalam pelukannya.
Ilham tersenyum memandang ke arah Ara, "Ternyata ini bukan mimpi," gumam Ilham yang sangat senang dengan yang ia lihat.
Mereka pun sama-sama tersenyum, karena sangat bahagia bisa memiliki seutuhnya satu sama lain. Ilham memeluk erat Ara, dan menenggelamkan wajahnya pada dua gundukan kenyal milik Ara, yang masih terbuka bebas.
"Boleh nanya sesuatu gak?" tanya Ara.
"Tanya aja," jawab Ilham dengan posisi yang masih sama seperti sebelumnya.
"Kok kamu jago banget, sih? Apa ... kamu sebelumnya udah pernah ngerasain ini sama cewek lain?" tanya Ara dengan tajam, membuat Ilham mendelik tak percaya.
Ilham memandang heran ke arah Ara, "Sayang ... this is my first time! Aku gak melakukan ini selain sama kamu. Aku ...," gumam Ilham, yang agak malu mengucapkannya pada Ara, "masih perjaka," sambung Ilham, membuat Ara menatapnya dengan heran.
"Masih perjaka? Kok jago banget?" tanya Ara yang berterus-terang dengan pertanyaannya.
Ilham menyeringai, sembari menafikan pandangannya karena tidak ingin Ara mengetahui, kalau sebenarnya sebelum melakukan hal ini, Ilham sudah lebih dahulu mempelajarinya di situs yang sudah berpengalaman mengenai hal ini.
__ADS_1
Ilham hanya bisa menyeringai tak enak, tanpa menatap ke arah Ara, yang wajahnya sudah sangat penasaran itu.
...***...