
Malam itu, Morgan sedang mengerjakan tugasnya, dibantu oleh Dicky dan beberapa dosen lainnya, untuk mempersiapkan lembar jawaban ujian untuk dipakai mengerjakan ujian esok hari.
Karena hari yang sudah terlalu larut, kini hanya tinggal Morgan dan Dicky lah yang masih bertahan di sana.
Mereka memang sudah terbiasa melakukan pekerjaan lembur, bahkan Morgan pernah selama satu pekan lamanya tidak pulang ke rumah, hanya karena harus mengerjakan pekerjaan yang deadline.
Saat ini, Morgan sedang menggabungkan lembaran soal yang satu dengan yang lainnya, menggunakan strapler. Gerakannya sangat lambat, membuat dirinya tertinggal jauh oleh Dicky.
Bagaimana tidak, Morgan mengerjakannya sambil memikirkan berbagai hal.
'Sebenarnya, siapa laki-laki yang sedang bersama Ara tadi pagi? Bahkan dia sampai berani menjemput Ara di kampus,' batin Morgan yang mendadak kesal sendiri dibuatnya.
Morgan mengambil selembaran pertama, dan juga lembaran berikutnya. Posisi kedua kertas tersebut sampai terbalik, saking Morgan tidak fokusnya dengan pekerjaannya itu.
'Saya gak mungkin bertanya langsung dengan Ara. Saya harus menahannya, sampai hari Sabtu tiba. Jangan sampai ada masalah sebelum kita pergi berlibur bersamanya nanti,' batin Morgan yang tetap kekeuh mempertahankan perasaannya yang sudah terombang-ambing itu.
"Ctrekkk ...."
"Owh sh#it!" pekik Morgan, yang jarinya terkena strapler itu, membuatnya menjerit kesakitan.
Jeritan Morgan berhasil membuat Dicky terkejut, dan segera menghampirinya.
Melihat jari tangan Morgan yang sudah meneteskan banyak darah, Dicky pun mendelik, "Gan, kenapa tangan loe?" tanya Dicky dengan nada yang sangat khawatir.
"Awss ...."
Morgan masih merintih kesakitan, untuk menghilangkan rasa nyeri di tangannya. Dicky segera berlari menuju ruang pantry untuk mengambil semangkuk air mentah, plester dan juga obat merah untuk memberikan pertolongan pertama.
Dicky kembali menghampiri Morgan yang masih kesakitan itu. Ia meletakkan mangkuk itu di hadapan Morgan, dan menarik paksa tangan Morgan yang sedari tadi ia pegang.
Dengan ketelitian yang tinggi, Dicky berusaha mencabut strapless yang masih bersarang di jari telunjuk Morgan, membuat Morgan sedikit kesakitan.
"Pelan-pelan, Dik," pinta Morgan.
"Kalau pelan bakalan lama!" tepis Dicky yang dengan perhitungan yang tinggi, segera menarik dengan spontan strapless itu.
Morgan mendelik karena merasa kaget, serta sakit yang teramat perih.
Akhirnya, strapless itu sudah bisa dicabut dari jari Morgan. Sedikit banyaknya, Morgan saat ini sudah merasa lemas, karena jarinya yang masih merasakan sakit yang lumayan jika dirasakan.
__ADS_1
"Gan, nih cuci dulu tangannya di sini," suruh Dicky, membuat Morgan menurutinya.
Morgan menurut pada Dicky karena darah di jarinya sudah keluar terlalu banyak. Ia pun mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk itu, dan membiarkan darahnya tercampur pada air itu, sembari merasakan dinginnya air yang ada di dalam mangkuk.
Perlahan, rasa sakit yang ia rasakan berangsur hilang, membuat Morgan bisa menghela napasnya dengan panjang.
"Duh ... ada-ada aja sih kamu, Gan," gumam Dicky, sembari membuka bungkus plester tersebut, "kenapa sih? Lagi ada yang dipikirin?" tanya Dicky.
"Yah ... begitu deh. Namanya juga hidup," jawab Morgan.
Morgan mengeluarkan tangannya dari baskom itu, dan segera mengelap tangannya yang basah, menggunakan baju yang Dicky pakai, membuat Dicky menjauhinya.
"Ih ... nyesel saya nolongin kamu, kalau ujung-ujungnya kamu begitu," geram Dicky, membuat Morgan tersenyum tipis ke arahnya.
"Meper sedikit," gumam Morgan, yang tak dihiraukan oleh Dicky.
Dicky melontarkan tatapan malas ke arahnya, "lagian, apa yang dipikirin sih, sampai ngelamun begitu?" tanya Dicky dengan nada yang sangat malas.
Morgan menghela napasnya panjang, kemudian menunduk.
"Ada yang nyoba untuk deketin Ara," jawab Morgan dengan lirih, membuat Dicky mendelik tak percaya.
"Hah, siapa?" tanya Dicky yang terkejut dengan ucapan Morgan.
"Saya gak kenal sama dia," jawab Morgan.
"Tok ... tok ... tok ...."
Seseorang mengetuk pintu ruangan, membuat Morgan dan Dicky saling melempar pandangannya.
"Siapa yang malam-malam gini ke kampus?" gumam Morgan, membuat Dicky menggelengkan kepalanya.
"Buka dulu deh, Gan!" suruh Dicky, membuat Morgan melontarkan senyuman malas padanya.
"Kamu aja," suruh Morgan balik padanya.
Dicky menggelengkan kepalanya, lalu segera berjalan ke arah pintu ruangan.
Dicky membuka pintu ruangan. Seseorang yang diketahui kurir pengantar makanan, kini berdiri di hadapan Dicky. Karena bingung, Dicky mengerenyitkan dahinya.
__ADS_1
"Mau cari siapa ya, Pak?" tanya Dicky padanya.
"Ini, Pak, saya mau antar makanan untuk pak Morgan," jawab driver.
"Makanan untuk Morgan? Memang dari siapa, Pak?" tanya Dicky lagi.
Morgan yang merasa Dicky sudah terlalu lama tak kembali, ia segera menghampiri Dicky, karena merasa sedikit khawatir dengan keadaannya.
Morgan melihat Dicky yang sedang berbincang dengan seorang pengantar makanan.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Morgan yang penasaran dengan tukang antar makanan itu.
"Ini Pak, saya mau antar makanan untuk Pak Morgan, katanya sih ... dari pacarnya," jawabnya, membuat Morgan mengerenyitkan dahinya.
Morgan masih trauma, tentang makanan yang waktu itu dikirimkan Farha, yang mengaku sebagai kekasih Morgan. Hal itu membuat Morgan enggan menerima pemberian siapa pun lagi.
"Memangnya namanya siapa, Pak?" tanya Morgan.
"Di aplikasi cuma no name aja, Pak," jawabnya.
Morgan terdiam sejenak, "buat bapak aja, ya," gumam Morgan, membuat Dicky terkejut.
"Heh, kok buat bapaknya, sih?" tanya Dicky, yang tak dihiraukan Morgan, karena Morgan sudah meninggalkannya ke dalam ruangan.
"Morgan, orang kebetulan lagi lapar," gumam Dicky.
Dicky kembali menoleh ke arah pengantar makanan itu, "itu ada berapa banyak, Pak?" tanya Dicky.
"Ada dua bungkus, Pak," jawabnya.
"Boleh saya minta satu? Satunya buat bapak gak apa-apa," ucap Dicky membuatnya tersenyum.
Setelah selesai bernegosiasi dengan sang pengantar makanan, Dicky pun segera menghampiri Morgan yang kembali mengerjakan tugasnya lagi, karena Morgan tidak punya banyak waktu lagi untuk menyelesaikan itu semua. Beruntung Dicky masih setia membantunya, kalau tidak, pekerjaannya sudah tercecer sejak dulu.
"Gan, kenapa sih malah dikasih bapaknya? Kita kan belum makan dari siang tadi," tegur Dicky.
Morgan tak menghiraukannya, dan segera mengerjakan pekerjaan selanjutnya.
'Saya gak akan terima makanan dari kamu lagi, Far! Sudah cukup, saya tidak mau berhubungan dengan kamu!' batin Morgan yang sudah muak dengan sosok seorang Farha.
__ADS_1
Baginya, Farha tidak lebih dari sekedar psychopath, yang melakukan segala macam cara, untuk memiliki apa yang harus ia kehendaki. Dengan sikapnya yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan keinginannya itu, Morgan menjadi sangat membenci dirinya. Morgan tidak ingin ada sangkut-pautnya dengan Farha lagi.
Sudah cukup masa lalu, ia harus memikirkan masa depannya bersama dengan Ara. Ditambah lagi dengan dirinya yang tinggal menghitung hari, untuk menjalankan program pertukaran dosen itu.