
Ara berjalan bersama Morgan sampai jalan untuk kendaraan umum melintas. Sama seperti sebelumnya, Ara menunggu bus di halte bersama dengan Morgan.
Ara memperhatikan pemandangan Kota Tokyo dengan saksama, membuat dirinya senang padahal sejak dulu ia sangat benci dengan keramaian, saking terlalu lama ia mengurung dirinya di dalam kamar, saat ayah dan ibunya meninggalkannya untuk selamanya.
Ara tersenyum, 'sudah lama sejak kejadian kepergian mereka. Jujur, aku rindu ayah dan ibu. Seandainya saja mereka masih di sini bersamaku,' batin Ara, yang malah menjadi rindu dengan mereka.
Ara menoleh ke arah Morgan, "kita mau ke mana lagi?" tanya Ara yang lupa dengan tujuan mereka.
"Ke rumah Naoki," jawab Morgan tanpa menoleh ke arah Ara.
Tak lama kemudian, bus yang mereka tunggu pun datang, membuyarkan lamunan Ara.
Morgan menoleh, "busnya sudah sampai. Ayo," ajak Morgan, membuat Ara mengangguk dan meraih tangan Morgan untuk bersama melangkah ke dalam bus.
Bus yang Ara tumpangi selalu saja sesak. Apa lagi, saat ini adalah jam pulang kantor. Banyak sekali karyawan yang pulang kerja dengan naik kendaraan umum. Morgan berada jauh di belakang, sedangkan Ara mendapatkan tempat duduk di bagian sisi sebelah kiri.
Melihat tempatnya yang sudah penuh, Ara pun memandang ke arah Morgan.
"Gak papa, duduk aja," suruh Morgan sebelum Ara akhirnya duduk di kursinya sekarang.
Ara duduk di pinggir, dengan orang yang memakai topi hitam yang berada di sampingnya. Ia tampak tidak asing dengan orang yang ada di sebelahnya itu.
Semakin lama, semakin banyak orang yang berdesakkan, yang membuat Ara menjadi sesak. Ia hanya diam sembari memperhatikan jalan, mengesampingkan rasa traumanya terhadap keramaian.
Tapi, sepertinya ada yang tidak beres dengan orang yang berdiri di sebelah Ara. Ia terus-menerus menempelkan dirinya pada Ara, sama seperti waktu itu, saat ia dilecehkan oleh laki-laki hidung belang.
Ara mendelik, tidak bisa berteriak, karena khawatir banyak orang yang mengincarnya dan malah membuat keributan di khalayak umum. Belum lagi reaksi Morgan yang nantinya pasti akan menambah ricuh suasana.
Ara hanya diam pasrah, sembari sesekali menghindar dan menggeser tubuhnya ke sebelahnya.
"Bisakah kamu pindah ke sebelah sini?" tanya orang yang memakai topi hitam itu, dengan tiba-tiba.
Ara melihatnya dengan heran, tak mengerti dengan yang ia inginkan.
Melihat reaksi Ara yang hanya diam, orang itu menghela napasnya, "aku ingin duduk di tempatmu," gumamnya, membuat Ara paham dengan apa yang dia maksudkan.
__ADS_1
Aku mengerti! Dia sedang mencoba menyelamatkanku dari laki-laki tidak keruan ini, pikir Ara.
Ara pun mengangguk dan mempersiapkan dirinya untuk pindah ke sebelah. Tapi, Ara tidak bisa! Tubuhnya suda terhalang dengan laki-laki brengsek itu.
Laki-laki baik hati itu segera menatap ke arah laki-laki misterius yang mengganggu Ara, "Permisi, kekasihku ingin pindah tempat," gumam datar pria bertopi hitam itu pada laki-laki brengsek itu.
Laki-laki itu menatap kasar pria bertopi hingga sedikit membuat Ara ketakutan.
Ia mendelik, "lihat apa kau bajingan!" bentak laki-laki brengsek itu.
Ara hanya diam, apakah sedang ada pertikaian di sini? pikir Ara yang tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan dalam Bahasa Jepang.
Pria bertopi itu berdiri dan menarik tangan Ara dengan kasar. Ara yang tak kuasa menahan, hanya pasrah ketika tangannya ditarik kasar, untuk berpindah posisi menjadi duduk di pojok, di tempat pria bertopi itu duduk sebelumnya.
"Cari mati?" bentak kaki-laki itu.
Tak disangka, semua orang melihat ke arahnya membuatnya tidak bisa berkutik dan berbuat seenaknya lagi. Ia menciut dan membuang pandangannya itu. Ara selamat lagi kali ini.
Ara menoleh ke arah pria bertopi itu, yang kebetulan sedang memasang sebuah headset.
"Thank you," lirih Ara.
Ara yang sedikit kesal, langsung mencabut headset dari telinganya.
"Thank you," teriak Ara tepat di telinganya, membuat dirinya tersenyum tipis ke arah Ara.
Mata Ara membulat seketika, 'manis banget senyumnya,' batin Ara merasa terkesima dengannya.
Ia pun kembali melanjutkan aktivitasnya, yaitu membaca buku. Ara tak sengaja melihat sampul buku yang sedang ia baca. Tertulis kata "Ryu" di sana, membuat Ara menganggukkan kepalanya, tanda ia paham.
Ternyata, namanya adalah Ryu, pikir Ara.
Ara pun memandang ke arah jendela, melepaskan pandangan sejauh matanya memandang. Kota yang sangat padat, namun sangat terjaga kebersihannya.
Tak lama, Bus pun berhenti. Ryu pun mempersiapkan barang-barangnya dan segera berdiri.
__ADS_1
"Ryu!" pekik Ara.
Ia spontan menoleh ke arah Ara. Ada jeda per sekian detik untuk melihat matanya yang indah itu.
"Thank you," lirih Ara, tapi ia hanya terdiam, kemudian melontarkan senyuman pada Ara.
Ia pergi meninggalkan Ara di sini. Hati Ara mendadak sendu, karena Ryu yang tidak merespon perkataannya sama sekali.
Morgan memandang ke arah Ara, dari kejauhan, dan segera menghampiri Ara.
"Sepertinya ada yang dapat teman baru," ucap Morgan yang terdengar seperti menyindir.
Morgan pun duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Ryu tadi.
Ara mendelik tak percaya, ternyata Morgan memperhatikanku dari belakang. Apa dia melihat adegan yang sebenarnya? Pikir Ara, yang merasa tak enak dengan Morgan.
"Ehh ... enggak kok," Ara berusaha menyembunyikan semuanya dari Morgan.
Syukur-syukur, Morgan tidak sadar dengan semuanya yang terjadi, pikir Ara.
Morgan menatap Ara dengan dingin.
"Greppp ...."
Tiba-tiba saja Morgan mencengkram bahu Ara, sampai membuat Ara melotot, saking terkejutnya dirinya.
"Jangan kamu pikir, saya gak lihat semuanya tadi," lirihnya terdengar tajam di telinga Ara.
Ara sampai harus menelan salivanya, karena merasa ngeri melihat ekspresi Morgan saat ini.
Morgan menatapnya lekat, "lain kali, kalau ada yang melecehkan kamu, jangan diam aja. Kasih tau saya," ucap Morgan yang terdengar agak geram dengan hal yang barusan terjadi.
Ara sudah merasa bersalah, karena dirinya yang sudah menutupi semuanya dari Morgan. Ara pun merenunginya, kemudian mengangguk ke arah Morgan berada.
Morgan mengelus lembut kepala Ara, "kalau seperti ini jadinya, saya pasti bakal merasa kalau saya tuh gak ada gunanya," ucapnya, membuat Ara benar merasa bersalah padanya.
__ADS_1
Ara menunduk sendu, "padahal, aku cuma gak mau kalo kamu buat onar di depan umum," lirih Ara membuat Morgan terdiam, lalu mengelus puncak kepala Ara dengan lembut.
Morgan menatapnya dengan sangat bersungguh-sungguh, "kalau gitu, saya usahain gak akan bikin onar di depan umum lagi," lirihnya, membuat Ara sampai tersentuh dan secara tidak sadar melontarkan senyuman hangat ke arahnya.