Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Terbakar Cemburu


__ADS_3

"Srakkk ...."


Cahaya yang sangat terang, tiba-tiba saja menyinari mereka, saat mereka masih asyik berpelukan.


Arash yang tak kuat terkena sinarnya, segera menghalau sinar itu menggunakan tangannya.


Dari sana, berhenti sebuah mobil hitam yang tak asing bagi Arash. Seketika sinar itu padam, seiring dengan padamnya mesin mobil tersebut.


Arash memandangnya dan masih melihat siapa yang ada di dalam mobil itu. Arash pun merenggangkan pelukannya pada Fla, membuat Fla mendelik kaget dengan pergerakannya yang tiba-tiba, di saat Fla sudah mulai nyaman berada di pelukan Arash.


Dari dalam sana, muncul beberapa orang yang sangat Arash kenal, yang tak lain adalah Ilham, Bunga beserta Aresha.


Bunga memandangnya dengan tatapan ketidakpercayaan, membuat satu ide muncul di pikiran Arash.


Fla yang melihat kedatangan mereka, segera melepaskan pelukan Arash, namun seketika itu juga, Arash menghalanginya dan tetap mendekapnya di dalam pelukannya.


"Kak--"


"Diam," potong Arash yang berbisik pada Fla, membuat Fla terpaksa menuruti keinginannya.


"Arash ...," pekik Bunga yang terdengar nada tak percaya darinya.


Ilham hanya memandangnya dengan tatapan datar, sembari berpikir dengan apa yang Arash lakukan.


"Oh ... ternyata sudah datang," ujar Arash pada mereka.


Aresha memandang ke arah Fla dengan tatapan bingung, "Kak Arash, Kakak cantik itu siapa?" tanya Ares yang penasaran dengan gadis yang berada di dalam dekapan Arash.


"Oh ... Ares belum tahu, ya? Kakak cantik ini pacar Kak Arash," jawab Arash dengan nada yang seolah-olah sangat bahagia, membuat Fla mendelik tak percaya dengan yang ia katakan.


"Degg ...."


Jantung Fla seketika berdegup kencang, ketika Arash dengan bangganya mendeklarasikan hubungan mereka, yang sebenarnya tidak seperti yang ia ucapkan. Wajahnya seketika memerah, dan kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Arash.

__ADS_1


Bunga mendelik, semakin tak percaya dengan perkataan Arash. Apalagi, gadis yang ia lihat sedang berada dalam dekapan Arash, terus-menerus memeluk Arash.


'Kenapa adiknya Morgan sekarang pacaran sama Arash, sih?' batin Bunga yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Saking dekatnya Bunga dengan Arash, semua teman Arash pun sampai diketahui Bunga. Apalagi memang Morgan sering berkunjung ke rumah Arash pada saat mereka SMA, sehingga tidak mungkin jika Bunga tidak mengenal sosok Morgan saat itu.


Tetapi, karena Fla masih terlalu kecil saat itu, dan ayahnya selalu menjaga Fla dengan segenap jiwa raganya, Fla tidak pernah sekalipun diajak untuk bermain bersama ketika Morgan berkunjung ke rumah Arash. Hal itu yang membuat Fla tidak mengenali Ara dan juga Arash, apalagi wanita yang saat ini sedang berhadapan dengannya.


"Wah ... pacarnya Kak Arash cantik banget," ucap Ares sembari mendelikkan matanya, saking senangnya bisa mengenal Fla.


"Oh ... pasti dong," ucap Arash yang bangga akan pujian yang Ares lontarkan, padahal pujian itu ditujukan untuk Fla, bukan untuk dirinya.


"Tapi tetep lebih cantikan kak Ara," gumam Ares, membuat Arash mendelik saking kagetnya dengan ucapan Ares.


"Hei cantikan Kak Fla, lah ...," bantah Arash, membuat Ares mendelik ke arah Arash.


"Apa sih, cantikan kak Ara!" Ares tetap bersikeras dengan jawabannya.


"Coba Ares perhatiin dong, cantikan kak Fla ke mana-mana," Arash juga tak mau kalah dengan yang Ares ucapkan.


'Andai ucapan dia benar terjadi,' batin Fla yang sudah terbuai dengan kebohongan Arash.


Bunga memandangnya dengan tatapan sendu. Mau bagaimana lagi, dirinya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ia hanya bisa melihat kemesraan Arash dan juga Fla, yang terjadi di hadapannya saat ini.


Ilham masih memandangnya dengan tatapan datar, karena masih mencerna setiap ucapan yang Arash lontarkan.


'Gak ada nada dibuat-buat atau keterpaksaan, saya bisa melihat gestur Arash yang sepertinya memang tulus. Tapi, bagaimana dengan Jessline? Apa ... dia sudah berhasil berpindah hati secepat ini pada Fla? Untuk melupakan Bunga saja, butuh waktu sepuluh tahun. Kenapa melupakan Jessline secepat itu?' batin Ilham yang masih diselimuti dengan rasa penasaran yang penuh misteri.


"Udah yuk, kita masuk aja. Kebetulan Fla juga udah datang, jadi kita rayakan aja malam ini sama-sama!" ucap Arash dengan nada yang sangat senang, membuat Fla lagi-lagi harus tersipu mendengar ucapan semu Arash.


"Jangan lupa order pizza," ucap Ares yang mengingatkan Arash, membuat Arash mengacungkan ibu jarinya.


"Siap bos."

__ADS_1


Mereka pun masuk ke dalam untuk sekedar berbincang ria, dan menghabiskan malam bersama-sama.


Bunga selalu memandang ke arah Fla, membuat Fla yang melihatnya pun merasa bingung. Tapi sebisa mungkin, Fla mengalihkan pandangannya, agar tidak bertemu pada titik yang sama dengan pandangan Bunga.


Arash memandang ke arah Ares, "gimana acara pamitan dengan teman-teman di sana?" tanya Arash, membuat Ares tersenyum.


"Sebenarnya sedih, sih ... tapi mau gimana lagi? Aku kan mau berkembang, gak cuma sebatas bisa," jawab Ares, membuat Arash tersenyum.


Ilham pun datang dengan membawa plastik berisi beberapa minuman dan makanan ringan, yang ia beli bersama Ares sewaktu Bunga mengemas barang-barangnya.


"Makanan nih ...," ucap Ilham lalu segera meletakkan semua yang ia bawa, di meja yang berada di tengah sofa.


Arash mengambil dua minuman ringan di dalamnya, "wah ... kapan beli?" tanya Arash.


"Tadi di sana, sekalian beliin Ares es krim," jawab Ilham.


Ilham pun mendelik, karena keceplosan mengatakan membelikan Ares es krim. Ilham pun segera menoleh ke arah Ares yang juga sedang memandangnya, sembari mengambil camilan di dalam plastik yang Ilham bawa.


Ares memandangnya dengan tatapan sedikit kesal, membuat Ilham melontarkan senyuman ke arahnya.


Arash melontarkan tatapan jahil ke arah Ares, "katanya gak mau banyak-banyak makan es krim, alasannya takut kena penyakit lah, boros lah," ledek Arash, membuat Ares menafikan pandangannya.


Mereka pun tertawa kecil melihat sikap Ares yang membuatnya gemas.


"Awas ya Kak Ilham," gumam Ares, membuat Ilham tertawa kecil, sembari mengelus rambut Ares dengan lembut.


Arash memandang ke arah Fla, "nih sayang," gumam Arash pada Fla, sembari menyodorkan minuman ringan ke arahnya, membuat Fla lagi-lagi kaget, mendengar panggilan Arash padanya.


Fla mengulurkan tangannya, dan mengambil minuman yang Arash sodorkan, dengan perasaan malu. Bunga yang memandangnya seketika berubah mood menjadi sedikit kecewa pada Arash. Terlihat jelas dari raut wajah Bunga saat ini.


Ilham memandang ke arah Bunga, dengan tatapan datar, sembari menyelidiki tentang perasaan yang sedang Bunga pendam.


'Jadi begitu,' batin Ilham menyimpulkan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2