
Mendengar Ilham mengatakan itu, tangis Ara pun pecah seketika, karena dirinya yang sangat histeris melihat kenyataan yang memilukan, yang terjadi padanya.
Ara sangat tidak terima dengan semua yang terjadi padanya. Menangis saja belum cukup membuat hati Ara menjadi tenang. Ia lalu memukuli dada bidang Ilham, seperti yang biasa ia lakukan kalau merasa sangat tertekan.
Ilham juga sudah tahu akan seperti ini jadinya dirinya. Namun, sekuat hati Ilham menahan rasa sakitnya yang cukup menyesakkan baginya.
"Kenapa sih ini semua harus terjadi sama gue?" teriak Ara dengan kesal, membuat dirinya semakin tidak bisa mengendalikan emosinya.
Ara semakin gemas memukuli dada Ilham, karena perasaan dirinya yang sudah sangat hancur, ditambah juga harus kehilangan anak yang ia kandung.
Ilham berinisiatif untuk memeluknya, tak peduli Ara akan seperti apa, ia hanya memeluknya dengan erat, tak membiarkan Ara kehilangan kendali yang lebih dari ini.
Bahkan dalam pelukan Ilham pun, Ara masih saja memukuli dada Ilham, membuat Ilham sangat sesak dibuatnya.
"Ah!!" teriak Ara histeris, karena tak sanggup menahan derai air mata yang selalu keluar dari pelupuknya.
Ilham menangkup tengkuk kepala Ara, memaksanya untuk menerima pelukan hangat darinya.
"Maaf," gumam Ilham yang tak dihiraukan oleh Ara.
Ara masih saja menangisi kepergian buah cintanya bersama Morgan, karena biar bagaimana pun juga, anak yang ia kandung tidaklah bersalah. Itu adalah kesalahan mereka, bukan berarti anak itu juga harus ikut salah karenanya. Bayi itu sama sekali tidak berdosa.
Tangisannya masih saja histeris, dan kembali pecah ketika Ilham mengucapkan kata maaf padanya. Ara tidak bisa berpikir dengan jernih lagi, bahkan ia juga tidak tahu cara menghentikan tangisnya.
Ilham tetap memeluknya, berusaha menyalurkan energi positif untuk istrinya yang baru saja kehilangan anaknya.
Sedikit banyaknya, Ilham juga sangat sedih dengan apa yang Ara rasakan. Ia paham dengan perasaan seorang ibu, yang harus kehilangan anaknya.
Ilham membelai lembut wajah Ara yang sudah basah akibat air matanya itu. Ia berusaha mengusap air mata itu dengan tangan yang bergetar. Ilham sendiri tidak tahu, apa yang harus ia lakukan pada Ara. Hanya bisa memeluknya, dan memberikan bahu untuk Ara bersandar.
__ADS_1
"Tumpahin semua ya," gumam Ilham, namun tak dihiraukan Ara.
...***...
Ketika sudah sangat lelah menangis, Ara pun hanya bisa pasrah, sembari tetap berada si pelukan Ilham. Walaupun sudah sangat larut, Ilham pun masih tetap setia berada di sisinya dengan dekapan hangat, yang tak pernah berhenti untuk memeluknya dengan erat.
Kejadian kemarin, membuat Ilham merasa sangat tidak bertanggung jawab. Hanya ini yang bisa ia lakukan, untuk menebus semua kesalahan yang ia lakukan, karena tak bisa melindungi Ara dan juga janinnya.
"Kenapa gue begini, sih?" gumam Ara dengan lirih, yang sudah tidak mempunyai sisa tenaga lagi.
Ilham tetap mengelus pipi Ara, sembari memeluknya dengan sangat erat, berusaha memberikan energi positif untuk Ara, walaupun dirinya sendiri sudah tidak memiliki banyak tenaga lagi.
Ilham menyandarkan dagunya di atas puncak kepala Ara, "Kamu gak lapar? Sudah seharian lho kita gak makan?" ucap lembut Ilham, tetapi Ara sama sekali tidak memedulikannya.
"Kenapa sih ini semua sampai terjadi?" lirih Ara yang masih bersikap seperti tadi.
Ilham menghela napasnya panjang, sudah tidak tahu lagi harus seperti apa menghadapi wanita yang baru saja kehilangan anaknya.
Hidupnya sangat hampa saat ini, tak tahu lagi harus berbuat seperti apa.
Ara menghela napasnya dengan panjang, berusaha untuk menenangkan pikirannya. Sudah seharian ini dia hanya menangisi takdir hidupnya, tentu saja ditemani Ilham yang selalu memeluknya dengan erat. Ilham juga tak bisa ke mana-mana, karena dirinya yang selalu memeluk Ara. Ia bahkan tidak sempat makan sejak kemarin malam.
"Kak, apa gak ada niatan buat ninggalin aku juga?" tanya Ara tiba-tiba, membuat Ilham menghela napasnya panjang.
"Mungkin ... nanti," jawab Ilham, membuat Ara semakin sedih mendengarnya.
"Kakak mau ikutan pergi juga?" tanya Ara, membuat Ilham tersenyum.
"Ya, mungkin," jawab Ilham yang penuh makna dalam setiap perkataannya itu.
__ADS_1
Ara melepaskan diri dari Ilham, kemudian menatap Ilham dengan sangat sinis.
"Ya udah, pergi sana! Pergi sekarang! Jangan pernah muncul lagi di hadapan aku!" bentak Ara, membuat Ilham tersenyum bingung ke arahnya.
"Ini kan ... rumah saya," gumam Ilham, membuat Ara mendelik, karena melupakan tentang rumah ini.
Ilham pun menggeleng kecil melihat reaksi Ara yang seperti itu. Ilham berusaha menatap wajah Ara dengan tatapan serius, membuat Ara terdiam sejenak sembari menatap manik matanya yang indah itu.
"Saya pasti akan pergi, tapi gak sekarang. Karena, masih ada kamu yang harus saya jaga," ucap Ilham, membuat air mata Ara kembali menggenang di pelupuknya.
Ara menatap Ilham dengan sinis, "Kak Ilham mau ke mana?" tanya Ara dengan sinis, membuat Ilham lagi-lagi tersenyum padanya.
"Rahasia," jawab Ilham, membuat Ara memandangnya dengan kesal.
"Kenapa sih, Kak Ilham selalu bersikap aneh begitu? Selalu tersenyum, dalam kondisi aku yang seperti apa pun. Selalu diam saat aku sakiti, selalu menerima semua yang udah terlontar dari mulut aku? Kenapa?" tanya Ara, membuat senyuman Ilham seketika luntur.
"Itu karena kamu Ara. Kalau bukan Ara, saya gak akan pernah seperti ini," jawab Ilham, membuat Ara mendelik kaget.
"Aku selalu sakitin Kak Ilham, tapi kenapa lagi dan lagi Kakak malah maklumi aku?" tanya Ara yang tidak percaya dengan perkataan Ilham.
"Karena kamu istri saya," jawab Ilham.
Singkat, padat dan jelas. Hanya itu yang Ilham katakan pada Ara, membuat Ara semakin tak mengerti dengan konsep pernikahan.
"Aku gak paham! Kenapa Kak Ilham juga gak marah kalau aku masih menyimpan perasaan sama Morgan? Bahkan Kakak juga gak marah, aku mengandung anak dari Morgan," ucap Ara yang ingin sekali blak-blakan dengan Ilham yang ia tahu, selalu menahan perasaannya.
"Karena saya suami kamu. Saya sudah gak mikir kamu gimana. Itu sudah menjadi tanggung jawab kamu dengan Tuhan. Yang terpenting adalah, rasa sayang saya ke kamu, yang sudah layak disebut sebagai seorang suami," jawab Ilham, membuat Ara kembali meneteskan air matanya.
Terjadi perang batin pada diri Ara, membuat dirinya semakin kesal saja dengan dirinya sendiri. Hatinya perlahan mulai terbuka, karena kini ia sudah tidak memiliki hal apa pun yang menyangkut Morgan.
__ADS_1
Ilham menunduk sendu, "Jika kamu sudah tidak mau bersama saya lagi, kamu bisa pergi, jika kamu mau. Karena kalau dilihat, tugas saya di sini ternyata sudah selesai," gumam Ilham dengan sangat sendu, membuat Ara mendelik tak percaya mendengar hal itu dari Ilham.