Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Hati ke Hati


__ADS_3

Sesampainya di ruangannya, Morgan segera menutup pintu kembali dan meletakkan tas di atas meja, kemudian ia pun duduk di kursinya, untuk meregangkan pinggangnya


yang terasa sangat pegal.


"Sepuluh jam duduk, terasa sekali sakitnya," gumam Morgan, sembari mencari posisi yang pas untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku.


Tak sengaja, Morgan teringat dengan ucapan Ara tadi, di saat Ara sedang tidak sadar.


"Reza ...," lirih Morgan dengan sendu.


Kepalanya mulai terasa berat memikirkannya. Morgan sampai memejamkan matanya dan memijat kecil keningnya dengan tangan kanannya, saking sakitnya kepalanya saat ini.


Tak kusangka, ucapannya akan berefek sedalam ini pada pikiranku. Siapa laki-laki yang ia temui di dalam mimpi? Apakah dia bagian dari masa lalu Ara? Atau malah laki-laki yang sekarang sedang mengejarnya? Aku merasa diriku terlalu tidak mempunyai waktu untuk memikirkan perasaan Ara, atau sekadar mendengarkan cerita masa lalunya. Aku kelimpungan sendiri saat mendengar nama asing yang terucap tanpa sadar dari mulut Ara, pikir Morgan yang merenungi permasalahannya.


"Arghhh ...."


Morgan merasa kesal sendiri dengan sosok yang bernama Reza, yang sama sekali tidak ia ketahui itu.


Sifat Morgan yang sebenarnya emosional pun muncul kembali sekarang. Ia sudah tidak bisa menahan semuanya sendirian.


Apa saat ini aku sedang dilanda oleh rasa kecemburuan? Ah, wajar saja, siapa pun orangnya pasti akan cemburu jika wanitanya memimpikan laki-laki yang sama sekali belum pernah ia bicarakan sebelumnya, pikir Morgan.


"Tok ... tok ...."


Seseorang mengetuk pintu ruangan Morgan. Dengan segera, ia membenarkan posisi duduknya, dan bersikap seolah tidak ada apa pun yang terjadi padanya.


"Masuk," teriak Morgan yang agak keras.


Tak lama kemudian, tamu tak diundang itu pun masuk dan duduk di hadapan Morgan. Ia juga meletakkan tasnya di atas meja kerja Morgan.

__ADS_1


"Duh, Gan! Ngapain sih tadi ninggalin saya? Saya kan belum selesai makan," singgungnya, yang terdengar sangat kesal.


Morgan hanya memandang Dicky dengan datar.


"Saya merasa sudah selesai makan. Lantas, apa lagi yang harus saya tunggu?" ucap Morgan, membuat Dicky melongok.


Pertanyaan Morgan mungkin saja telah menjebak Dicky. Ia seperti tidak terima, saat Morgan berbicara seperti itu padanya.


Dicky memandangnya dengan sinis, "Gan, kayaknya lagi ada masalah ya, sampai kamu tega ninggalin saya di kantin tadi?" bidik Dicky, membuat Morgan tak bisa berkata apa pun lagi.


Walaupun Morgan sama sekali tidak sanggup menahan permasalahan dirinya, tapi sebisa mungkin ia tidak akan bercerita pada Dicky, karena pasti akan membutuhkan banyak waktu untuk menceritakannya.


Melihat reaksi Morgan yang hanya diam, Dicky pun mendekat sedikit ke wajah Morgan, "kalau ada masalah, saya bisa kok dengerin kamu cerita. Tapi nggak harus ninggalin saya kayak tadi juga, Gan," gumamnya seperti nada menekankan.


Morgan hanya diam memandang Dicky, apakah Dicky cocok untuk membantuku dan membuat perasaanku menjadi lega? Aku agak ragu dengannya, pikir Morgan sejenak, karena masih merasa ragu dengan Dicky.


"Tolong bantu pijitin dong. Badan saya semuanya pegal habis melakukan 'itu' sama Ara," ledek Morgan dengan asal.


Dicky menatapnya dengan tatapan sinis, sekaligus malas.


"Sialan!" bentak Dicky, membuat Morgan tersenyum tipis padanya.


Morgan tak menjawab apa pun. Ia hanya melontarkan senyum tipis ke arahnya. Dicky kembali menatapnya dengan tatapan tajam.


"Kamu nggak seperti Morgan yang biasanya. Kalau ada masalah, coba cerita sama sama," desak Dicky, membuat Morgan mengerenyitkan dahinya.


"Memangnya biasanya saya gimana?" tanya Morgan, membuat Dicky menghela napasnya panjang.


"Biasanya kamu paling anti buat ngungkapin hal yang udah kamu lakuin. Apalagi menyangkut tentang wanita," bidiknya.

__ADS_1


Morgan mendelik, analisanya sangat tepat terhadap diriku yang sekarang. Apa dia bisa membantuku memecahkan masalah yang ada saat ini? Pikir Morgan yang masih menimbang.


Morgan menghela napas panjang. Ia mulai membuka pikirannya lebar-lebar, ya, tak apalah! Siapa tahu dengan keterbukaannya diriku terhadap masalah ini, aku bisa mendapatkan jalan tengah dan solusi untuk menyelesaikan masalah yang ada. Terlebih lagi, Dicky adalah dosen psikolog yang cukup hebat. Ara saja pernah ketahuan menyukai Dicky saat itu, hanya dengan sekali menganalisis. Memang dasar gadis bodoh, pikir Morgan.


"Ya sudahlah, berhubung sudah seperti ini," ucap Morgan yang berusaha menurunkan egonya.


"Gimana?" tanya Dicky yang sudah sangat penasaran dengan permasalahan yang dihadapi oleh Morgan.


"Ya kamu bener Dik, saya lagi nggak baik-baik aja sekarang. Saya lagi ada masalah, dan masalah itu gak sengaja bikin saya drop," ucap Morgan yang sudah berterus-terang.


Mendengar hal itu, Dicky langsung mendekatkan wajahnya ke arah wajah Morgan, dan memperhatikannya dengan saksama.


"Coba kamu kasih tau kronologinya. Siapa tau, saya bisa tahu alurnya," pintanya.


Morgan menghela napas panjang, dan terdiam sejenak, berusaha memikirkan kata apa yang selanjutnya akan ia ucapkan pada Dicky.


Pikiran Morgan terasa kosong! Hanya karena masalah ini, ia sampai tidak bisa berkonsentrasi.


"Saya merasa, ada yang beda dari diri Ara sekarang. Saya merasa, kalau dia bukan orang yang saya kenal dulu. Akhir-akhir ini, dia berubah drastis. Dia selalu bengong nggak keruan, tiba-tiba saya ngerasa ada yang janggal dari dia. Saat saya tanya kenapa dan gimana keadaannya, dia selalu diam atau menjawab gak tahu," ucap Morgan yang menjelaskan pada Dicky dengan panjang lebar.


Dicky mengernyitkan dahinya ke arah Morgan, "hah? Pasti ada suatu kejadian sebelum atau setelah itu. Apa kamu ingat kejadian apa yang terjadi setelah perubahan sikapnya Ara?" tanyanya, Morgan pun mengangguk kecil membenarkan pertanyaannya.


"Tadi sebelum saya antar dia pulang, dia mengigau manggil nama seseorang yang gak saya kenal. Bahkan saya juga baru pertama dengar dia nyebutin nama itu. Padahal menurut ilmu psikologi, pasti ada suatu hal yang terjadi di antara mereka kalau sampai Ara menyebutkan namanya dalam keadaan yang tidak sadar. Kamu kan dosen psikolog, kamu tahu dong apa yang saya maksud? Bukan begitu, Pak Dicky?" sindir Morgan dengan keras, yang membalas jebakan pernyataan Dicky.


Dicky mengerenyitkan dahinya, "jadi ceritanya, kamu balik nyerang saya, nih?" bidiknya, Morgan melipat dan menyedekapkan kedua tangannya.


"Sudah jawab saja," paksa Morgan, membuat Dicky menyenderkan tubuhnya ke kursi yang sedang ia duduki.


"Ya kalau seperti itu, memang benar ucapan pak dosen Morgan. Dalam ilmu psikolog, memang seperti itu. Pasti ada suatu tekanan atau suatu kejadian yang membuat gadis itu memikirkan laki-laki yang ia sebut, atau yang muncul di dalam mimpinya. Mereka pasti merasakan sesuatu yang sama, sehingga membuat energi yang mampu membuat bayangan dalam keadaan tidak sadar," ucap Dicky membenarkan.

__ADS_1


__ADS_2