
Saat ini, Arash sedang berada di dalam pesawat, untuk menuju ke kota asalnya, tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan.
Arash menoleh ke arah Ares yang berada di sampingnya, yang sepertinya sudah tertidur pulas.
Teringat perlakuan Bunga padanya, saat mereka berpisah tadi.
...-FLASHBACK ON-...
“Saya janji, kalau Ares dan Ara sudah bisa menerima satu sama lain, saya akan membelikan rumah untuk kamu, yang tidak jauh dari tempat tinggal kami, biar kamu gak terlalu jauh mengunjungi Ares nanti,” ucap Arash, yang saat ini sedang berhadapan dengan Bunga.
Bunga yang sedang menunduk, segera mendonggakkan kepalanya. Ia memandang sendu ke arah Arash, membuat Arash menafikan pandangannya, saking ia tidak ingin memandang Bunga terlalu jauh lagi.
“Terima kasih sudah bersikap baik ke saya,” ucap Bunga, membuat Arash menoleh seketika ke arah Bunga.
“Saya berbuat baik, hanya kepada Ares, bukan pada kamu,” tepis Arash, membuat Bunga mendelik, dan menunduk sendu.
Arash masih belum bisa bersikap baik pada Bunga. Dan mungkin, ia tidak akan pernah bersikap baik lagi padanya, sampai kapan pun.
Bunga menatapnya dengan sendu, “pokoknya, terima kasih sudah bersikap baik,” ucap Bunga, lalu segera mendekatkan diri ke arah Arash.
“Cuppss ....”
Arash mendelik, karena Bunga yang tiba-tiba saja mencium pipinya. Bunga segera menjauh dari Arash, dan segera menghampiri Ares yang sedang menunggu di kursi tunggu.
Arash tidak bisa berkata apa pun lagi kali ini, karena memang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Untuk memarahi Bunga pun percuma, karena semakin ia marah, semakin Bunga lebih keras lagi untuk berbuat hal-hal di luar pikirannya.
...-FLASHBACK OFF-...
Hal itu yang membuat Arash sangat tertekan sekarang. Perasaan yang sudah susah payah ia kubur, sedikit-sedikit mulai muncul kembali, menyelimuti hatinya yang memang sedang gundah.
‘Gak, kalau untuk kembali seperti dulu, itu gak akan pernah bisa. Kalaupun dia berselingkuh dengan pria selain ayah, tetap hati ini tidak akan bisa menerima keberadaannya lagi. Tidak akan, sampai kapan pun juga,’ batin Arash, yang mencoba memblokir semua tentang Bunga di pikirannya.
Ia sudah tidak ingin lagi mengalami sakit untuk yang kesekian kalinya. Ditambah lagi kehadiran Ares, yang memang sudah tidak memungkinkan keadaan untuk kembali bersama Bunga.
‘Kenapa kesalahan ayah, harus saya yang tanggung?’ batin Arash, yang merasa menyesal dengan keadaannya saat ini.
...***...
__ADS_1
Morgan dan Jessline sedang berada di sebuah food court tempat biasa mereka makan, jika mereka singgah di mall.
Morgan mengunyah makanannya perlahan, begitu pun juga Jessline.
Morgan melirik ke arah Jess, “gimana keadaan dua teman kamu setelah kejadian Aca kemarin?” tanya Morgan, membuat Jess menghentikan makannya.
Jess melirik ke arah Morgan, “mereka jadi agak canggung sama aku, dan udah gak berani lagi ngobrol sama aku,” jawab Jess dengan nada yang masih terdengar canggung.
“Mereka tidak melakukan apa pun kan ke kamu?” tanya Morgan, membuat Jess menggeleng kecil.
Melihat ekspresi Jess yang masih sangat canggung, membuat Morgan teringat dengan suatu hal, “maafin kakak, karena waktu itu sudah bersikap kurang ajar sama kamu. Tapi, kakak gak bermaksud seperti itu, kok,” ucap Morgan, membuat Jess mendelik tak percaya dengan yang Morgan katakan.
“Kakak mau, kamu juga minta maaf sama Fla, dan jangan sampai ada keributan lagi di antara kalian,” ucap Morgan, membuat Jess semakin terkejut karenanya.
“Glkk ....”
Tak sadar Jess menelan salivanya dengan cepat. Jess sebetulnya tidak ingin seperti itu pada Fla, tapi karena satu kesalahpahaman masalah Bisma, membuat ia tidak bisa menerima kenyataan itu.
Jess menunduk, “aku coba,” lirihnya yang sudah tidak ingin berdebat lagi masalah hati.
Beberapa laki-laki paruh baya melewati mereka, dan memperhatikan tubuh Jess dengan pandangan yang sangat liat. Morgan yang menyadarinya merasa sangat kesal pada mereka.
Morgan segera melepas jas hitamnya, dan memberikannya pada Jessline, membuat Jess terdiam memandanginya.
“Takut kamu kedinginan, pakai jas kakak,” lirih Morgan tanpa melihat ke arah Jess, membuat Jess merasa sangat terharu dengan apa yang Morgan ungkapkan padanya.
‘Bukan karena dingin, tapi kak Morgan gak mau kalau sampai ada yang melecehkan aku. Ternyata kak Morgan gak seburuk yang aku pikir,’ batin Jess yang tersentuh dengan perlakuan Morgan padanya.
Di sana, Fla sudah sampai di sebuah toko perhiasan yang sangat besar. Ia mengajak Lian masuk ke dalam, untuk memilihkan hadiah yang cocok untuk kekasih Lian.
Lian menoleh ke segala Arah, karena merasa bingung pada Fla, yang membawanya ke tempat seperti ini.
“Kenapa kita ke tempat seperti ini, Kak?” tanya Lian, membuat Fla menoleh ke arahnya dan memandangnya dengan tatapan malas.
“Katanya mau ngasih pacar kamu hadiah?” tanya Fla, membuat Lian hanya pasrah saja dengan keputusan kakaknya itu.
Mereka mendekati seseorang yang sedang berjaga di sana.
__ADS_1
“Ada yang bisa saya bantu, Kak?” tanya pegawai itu.
“Saya mau membeli sebuah kalung,” ucap Fla.
“Untuk kakak?” tanyanya.
“Bu-bukan, untuk teman adik saya,” bantah Fla.
“Oh baik, silakan dilihat di sebelah sini, Kak,” ucapnya, membuat Fla melihat ke arah yang ia tunjukkan.
Fla melihat ke arah kalung-kalung itu. Semua kalung itu nampak sangat bagus, tapi tidak ada satu pun yang cocok dengan selera Fla.
“Ini terlalu dewasa, apa ada model untuk anak-anak?” tanya Fla.
“Untuk usia berapa?” tanya pegawai itu, membuat Fla menoleh ke arah Lian.
“Heh, dia umur berapa?” tanya Fla, membuat Lian mendelik.
“Ah? Kira-kira usianya sepuluh tahun,” jawab Lian, membuat Fla menganga kaget.
“Hah? Se-sepuluh tahun? Yang benar aja kamu, Li?” ucap Fla yang kaget dengan yang Lian katakan.
Terlintas sesuatu di benak Fla, ‘ya ... gak ada yang salah sih! Lian sekarang juga masih dua belas tahun,’ batin Fla yang menyadari tentang usia adiknya itu.
Fla melihat ke arah pegawai itu, “untuk usia sepuluh tahun, Mbak,” jawab Fla, membuat pegawai itu tersenyum.
“Oh, kalau begitu, silakan lihat di sini,” ucapnya, membuat Fla melihat ke arah yang ia tunjukkan.
Terlihat rentetan kalung dengan berbagai macam model yang cocok dipakai untuk anak seusia sepuluh tahun. Pandangan Fla tertuju pada satu model yang menurutnya sangat cocok untuk pacar adiknya itu.
“Tolong lihat yang ini,” lirih Fla, sembari menunjuk ke arah kalung incarannya itu.
Pegawai itu pun mengambilkannya untuk Fla. Lian yang melihatnya pertama kali, juga langsung jatuh hati dengan model kalung dengan liontin kecil berbentuk strawberry itu.
“Gimana?” tanya Fla, membuat Lian mengacungkan kedua jempolnya dengan senyuman yang terus mengembang di pipinya.
...***...
__ADS_1