Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Gadis Misterius, Terungkap! 2


__ADS_3

Kenapa kisah percintaanku ini sangat rumit? Pikir Morgan.


“Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk memberikannya. Dan di saat itu juga, aku kehilangan semuanya. Kak Putri pergi untuk selamanya dari dunia ini. Dan kamu ... Pergi dengan seenaknya saja dari pandangan aku,” ucapnya.


Morgan hanya diam, sembari memperhatikan mata gadis itu, yang mulai mengeluarkan air mata.


“Kamu tau gak? Seberapa keras usaha aku buat ngelupain kamu dan kak Putri saat itu?”


Nadanya lambat laun mulai menipis.


Tangisnya pecah seketika.


Morgan tak tega melihat Farha menangis begitu saja akibat kesalahan yang sama sekali tidak ia sengaja. Bahkan, kesalahan yang Morgan baru ketahui sekarang.


“Hug ....”


Farha memeluk Morgan tiba-tiba, membuat pupilnya melebar karena tidak mempercayai yang Farha lakukan ini.


Morgan sama sekali tidak bisa mengelak, dan ia tidak ingin menambah kesedihan Farha.


Morgan hanya bisa diam.


“Kenapa kamu tega begini sih, Gan?”


Tangisnya pecah seiring memuncaknya emosi yang ia luapkan.


“Maaf,” lirih Morgan yang tidak mengerti lagi harus berkata apa.


Kecelakan dan kematian Putri, bukan sepenuhnya kesalahanku, pikir Morgan.


“Drrrtttt ....”


Handphone Morgan yang ada di atas rerumputan taman, bergetar karena notifikasi pesan masuk. Ia hanya bisa memandang layarnya yang menyala.


Dari jauh, Morgan melihat tertera nama Ara di sana. Tak bisa dipungkiri, Morgan masih sangat kesal dengan Ara.


Aku tidak ingin mempedulikannya dahulu beberapa waktu ini, pikir Morgan.


“Aku udah terlanjur cinta sama kamu. Tapi, kamu justru hadir lagi dengan seseorang yang kamu cintai saat ini,” ucapannya sudah semakin melantur.


Morgan saja sampai tidak mengerti harus menjawab apa.


“Seseorang itu, ternyata teman aku sendiri. Ironi sekali,” tambahnya.


Morgan membuang pandangannya, “saya lagi gak mau bahas dia,” lirih Morgan.


Farha malah mempererat pelukannya pada Morgan, membuat Morgan sedikit kesulitan bernapas.

__ADS_1


“Drrttt ....”


Handphone Morgan bergetar lagi. Kali ini, pesan dari orang yang sama.


Morgan merasa ada sesuatu yang tidak baik.


Aku tidak ingin mengabaikan Ara lagi. Aku takut ada sesuatu yang terjadi dengan Ara, pikir Morgan.


Morgan berusaha melepaskan pelukannya yang menyesakkan itu. Tenaganya sangat kuat, memaksa Morgan untuk mengeluarkan seluruh energinya yang tersisa.


“Lepas!” bentak Morgan.


Farha seperti tidak terima diperlakukan seperti itu pada Morgan.


“Gak usah kasar gitu dong!” Farha berbalik membentak Morgan.


Morgan mendelik, “kalau tidak ingin dikasarin, jangan berbuat sesuatu yang gak disuka dong!” Morgan tidak ingin kalah darinya.


Morgan tidak ingin mempedulikannya lagi. Ia langsung saja mengambil handphone-nya yang masih berada di atas rerumputan taman, dan membuka pesan dari Ara.


Morgan mendelik, ia membaca pesan singkat dari Ara dengan sangat terkejut, karena melihat apa yang sedang terjadi menimpa Ara.


Tanpa basa-basi lagi, Morgan pun pergi meninggalkan Farha sendirian di sana.


Ia bergegas menuju mobil yang ia parkirkan secara sembarang di halaman depan taman kota.


“Brukkkk!!”


Dari titik keberadaannya yang Ara kirimkan, ia tidak jauh dari arah menuju rumahnya. Morgan segera menancapkan gas untuk menuju ke tempat Ara berada.


Morgan mengemudia dengan sangat tidak tenang, karena khawatir dengan keadaan Ara saat ini.


Ia menyetir tanpa mengenal rambu lalu lintas. Ia memaksa menerobos setiap lampu merah dan juga polisi tidur tanpa ampun. Mobilnya serasa melayang di udara, saking cepatnya ia menginjak pedal gas.


“Jangan sampai terjadi sesuatu sama kamu,” lirih Morgan, sembari tetap melajukan kendaraannya, menerobos setiap sisi jalan.


Tinggal beberapa menit lagi untuk sampai pada titik yang Ara kirimkan padanya.


Tiba-tiba saja, Morgan dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba berlari dan menunduk jongkok beberapa ratus meter dari posisinya saat ini.


Morgan menghentikan mobilnya dengan cepat, dan menyorotnya mengunakan lampu jauh.


Mata Morgan mendelik, “Ara!!” lirih Morgan yang sangat bersyukur bisa bertemu dengan Ara kembali, dan keadaannya yang terlihat baik-baik saja.


Morgan langsung berhambur ke tempat Ara berada.


...-FLASHBACK OFF-...

__ADS_1


Morgan mengerenyitkan dahinya, “maaf, anda siapa ya?” tanya Morgan yang berpura-pura tidak mengenali dirinya.


Aku tidak ingin urusanku dengannya menjadi panjang nantinya, pikir Morgan.


“Wow, baru semalam kamu tidur satu ranjang sama aku, dan menikmati bercinta bersama. Masa udah gak inget sih?” ucapannya yang terdengar sengaja agar semua yang berada di sini mendengarnya.


Morgan tidak tahan dengan sikapnya yang selalu menghalalkan segala cara hanya demi meminta perhatiannya saja. Morgan yang semula iba dengannya, menjadi sangat ilfeel melihat kelakuannya ini.


Beberapa orang yang sedang melintas atau berdiri di belakang mereka, memandangi dan memperhatikan kami seketika.


Aku menjadi bulan-bulanan mereka saat ini. Sekarang aku sudah dicap sebagai buaya yang tidak bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan pada wanita malang ini, pikir Morgan.


Morgan sama sekali tidak bergeming, saat Farha berkata demikian.


Morgan memandangnya dengan risih, “awalnya saya iba sama kamu. Tapi, lama-kelamaan, cara kamu cuma bisa bikin saya menjauh dari kamu!" ketus Morgan membentaknya.


Farha mendelik, karena tak terima dengan yang Morgan katakan. “Gan, tunggu!” bentak Farha, Morgan pun memandang ke arahnya.


Morgan mendelik, “maaf ya, saya buru-buru,” lirih Morgan, kemudian meletakkan kembali buku yang ia ambil.


Morgan pun bergegas meninggalkan ia di sana, karena Morgan sama sekali tidak ingin membuat keributan di dalam toko buku itu.


Morgan meninggalkan dirinya yang terlihat sangat kesal dengan kelakuannya.


Biar saja, aku tidak mempedulikannya lagi. Aku sudah mengenal sifat aslinya yang sangat posesif dan ambisius itu, pikir Morgan.


Morgan berlari meninggalkan toko buku, dan segera menuruni anak tangga.


“Hap ....”


“Gan!”


Ia berhasil menahan tangan Morgan, sehingga Morgan tidak sempat untuk menuruni anak tangga itu.


Morgan pun menoleh ke arahnya, dan segera menafikan tangan kotor yang sudah menyentuh tangannya.


“Jangan sentuh saya!” bentak Morgan, membuat gadis itu mendelik tak percaya.


“Kamu kenapa sih, gak pernah bersikap sedikit lebih lembut gitu sama aku?” lirihnya, tetap tidak membuat Morgan gentar.


“Maaf ya, saya gak mau buang-buang waktu saya untuk orang yang tidak jelas seperti kamu,” lirih Morgan, yang berusaha membuat Farha menjadi ilfeel padanya.


Tapi sia-sia belaka! Farha tidak akan pernah menyerah untuk membuat Morgan jatuh kembali ke dalam pelukannya, seperti malam itu, saat ia memeluk Morgan dengan sangat erat.


“Paling enggak, kamu kasih aku kesempatan untuk deket lagi sama kamu,” lirih Farha membuat Morgan mendelik ke arahnya.


“Kesempatan? Jangan gila kamu, adik dari Putri, orang yang sangat saya cintai pada masa itu,” ucap Morgan, berusaha mengingatkan tentang posisi Farha di matanya saat ini.

__ADS_1


Morgan pun segera meninggalkan Farha menuju mobilnya.


...***...


__ADS_2