
“Oppa ... aku yang waktu itu di mall itu lho, oppa masih ingat gak?” lirih Ara yang membaca salah satu pesan dari fans Morgan, kemudian ia langsung melirik sinis ke arah Morgan, yang langsung menghalangi wajahnya dengan tangannya.
Ara memelototinya dengan tajam.
“Ini kan, orang yang sama, yang ngasih gelang ke kamu waktu itu? Kenapa ini ada di sini?” tanya Ara dengan nada yang tidak enak sekali.
Ara tidak suka dengan tingkah para gadis genit itu.
Morgan sama sekali tidak berani menatap ke arah Ara.
Ara yang mengetahui hal itu, langsung memukul lengan Morgan tanpa sungkan, membuat Morgan terlihat merintih kesakitan.
“Sakit, sayang …,” lirih Morgan, dengan penuh kesabaran menghadapi sikap Ara yang sedang mengalami cemburu buta itu.
“Jawab dong kalau aku nanya,” ucap Ara yang melemah seketika, karena Morgan memanggilnya dengan kata ‘sayang’.
Morgan pun menatap Ara dengan tatapan dingin.
“Dia ternyata anak kampus sini juga,” jawab Morgan dengan ragu, membuat Ara mendelik ke arahnya.
“Ya, memang. Aku tau. Terus?” tanya Ara.
“Dia katanya dapet nomor saya dari Dicky. Awalnya dia gak sadar kalau saya itu dosen di sini. Tapi, ya mungkin, dia cari info tentang saya,” jelas Morgan.
Ara hanya mendengus kesal mendengar penjelasannya. Ara tidak percaya dengan penjelasan Morgan, karena banyak sekali fans dari Morgan yang bertebaran di mana-mana.
Ara yang masih kurang percaya, sampai harus memeriksa log panggilannya. Ada 144 panggilan tak terjawab, 7387 chat grup, dan 6549 personal chat.
Ara tidak mungkin membacanya satu per satu, karena tidak akan habis persoalan, jika ia terus membahasnya.
Ara mendelik, “apa-apaan ini? 144 panggilan tak terjawab dalam 1 hari aja? Chat banyak banget, yang di whatsapp, yang di pesan masuk biasa. Loe kan bukan artis, Gan!” bentak Ara.
Ara sampai keceplosan berbicara kasar padanya. Tapi untung saja Morgan tidak menghiraukan ucapan kasar Ara tadi.
Morgan hanya memandang Ara dengan tatapan datar. Tidak ada ekspresi sama sekali di raut wajahnya.
“Ini lagi, pesan banyak banget, gak pernah loe baca, gak pernah loe bales. Hapus kek atau gimana kek? Blokir kek biar gue seneng,” ucap Ara yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
__ADS_1
Morgan menghela napas panjang. Ara pun menghela napasnya panjang, untuk meredakan emosinya.
Tidak akan pernah habis jika Ara masih membahasnya.
Ternyata terlalu sulit menjalin hubungan dengan seorang yang menjadi sorotan publik. Padahal, dia bukan artis. Tapi, banyak yang menjadikannya idola. Bisa-bisa aku akan merasa kesal berkepanjangan kalau seperti ini terus, pikir Ara.
Morgan menoleh ke arah Ara, “saya gak pernah baca semua. Setiap kali saya buka handphone, saya cuma nunggu kamu nge-chat saya, atau sekedar melihat informasi dari grup mengenai pekerjaan,” jawab Morgan.
Sepertinya Ara merasakan kebenaran dengan nada bicara Morgan yang terdengar sangat jujur.
Bagi Ara, hal itu terdengar sangat romantis, tapi juga sangat bodoh.
Kenapa dia tidak memulai untuk mengawalinya lebih dulu? Apa dia bukan seorang laki-laki? Pikir Ara.
Ara mendelik, “kan loe bisa nge-chat gue duluan? Mana, katanya mau nge-chat tiga kali sehari? Udah kayak makan,” ucap Ara dengan sinis.
Morgan sudah terlalu gemas dengan sikap Ara yang sudah mencurigainya, di luar batas. Morgan pun menyentuh pipi Ara dengan lembut.
“Sayang ... udah ya. Jangan dilanjutin. Masalahnya gak akan pernah kelar jika kamu terus-menerus mencari kesalahan saya,” ucap Morgan dengan sangat lembut, membuat Ara menjadi tidak keruan dibuatnya.
“Saya terbuka begini, supaya kamu tahu semua dari sisi saya. Saya mau kamu tahu, kalau adanya saya ya begini. Tapi, walaupun mereka semua ngejar saya dengan keras, tapi saya cuma bisa sayang sama satu gadis saja,” jelas Morgan.
Ara tak tahu, ini adalah siasatnya atau memang benar ucapan tulus dari hatinya saja.
“Gadis itu, ya kamu. No body else,” ucap Morgan, yang berhasil membuat pipi Ara seketika bersemu merah.
Ara membuang pandangannya dari Morgan, “iya-iya,” gumam Ara dengan ketus, karena ia tidak mau sampai Morgan mengetahui, kalau dirinya sedang tersentuh dengan perkataan manis Morgan itu.
Morgan sudah tahu dari gelagat Ara, yang sepertinya sedang merasa malu-malu. Morgan hanya tersenyum, sembari memandang ke arah Ara, yang sama sekali tidak memandang dirinya.
“Yaudah, boleh saya minta balik handphone-nya?” pinta Morgan.
Ara melihatnya dengan sinis.
Tapi, mau bagaimana lagi? Ini kan miliknya, bukan milikku, pikir Ara.
Dengan berat hati, Ara pun menyodorkan handphone-nya itu ke arah Morgan.
__ADS_1
Morgan pun tersenyum hangat pada Ara, lalu mengambil handphone-nya dari tangan Ara, dengan sangat lembut.
Morgan pun mengacak-acak rambut Ara dengan lembut, “maafin aku, ya?” tanya Morgan, membuat Ara mengerucutkan bibirnya.
Ara masih saja memasang tampang jutek, “iya, kali ini, aku maafin,” jawab Ara dengan nada ketus.
Morgan yang melihat ekspresi Ara yang sangat lucu, membuatnya tertawa kecil pada Ara.
Morgan merogoh kantungnya dengan cepat, dan mengambil sebuah kotak kecil yang sebelumnya sudah ia persiapkan untuk diberikan kepada Ara.
Morgan menyodorkan kotak tersebut, “nih,” lirih Morgan, membuat Ara penasaran dan seketika menoleh ke arahnya.
Ara menatap kotak itu dengan tatapan heran, kemudian menatap wajah Morgan, “ini apa?” tanya Ara yang bingung dengan kotak yang saat ini ada di hadapannya.
“Ini kotak,” lirih Morgan, membuat Ara menjadi sensitif.
“Iya, aku tahu kalo ini tuh namanya kotak,” lirih Ara dengan gemas pada Morgan yang selalu membuatnya kesal.
Morgan pun tertawa kecil dibuatnya, “buka aja,” lirih Morgan.
Dengan rasa penasaran yang ada, Ara mengambil kotak itu, dan membukanya.
Betapa terkejutnya Ara, saat melihat isi dalam kotak kecil itu, adalah sepasang cincin yang sangat membuat Ara terpesona.
Ara mendelik, “ini, maksudnya apa?” tanya Ara, membuat Morgan tersenyum.
“Semua perhiasan yang kita beli kemarin, itu untuk kamu. Dan bukan untuk Fla,” lirih Morgan, membuat Ara tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Are you serious?” tanya Ara, membuat Morgan mengangguk kecil.
“Kamu kan tadi bilang, kalau kamu gak mau sampai hubungan kita ini ketahuan sama orang banyak. So ya, kamu bisa kok gak pakai cincin ini, dan tetap menyimpannya,” lirih Morgan yang merasa sedikit sedih.
Ara tak menghiraukan ucapan Morgan. Yang sedang ia pikirkan adalah, perihal cincin ini.
Ara tak hanya melihat cincin yang ia pilihkan untuk Fla kemarin, tapi ia juga melihat cincin lainnya, yang sepertinya muat di jari manis Morgan.
Apa ini namanya, dia sedang melamar aku? Pikir Ara.
__ADS_1
“Terus juga kalau kamu lagi gak mood, cincinnya jangan--”
“Kamu ngasih aku cincin, memangnya mau ngelamar aku?” tanya Ara spontan, yang memotong ucapan Morgan.