Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Akhlakless


__ADS_3

"Cium!!" teriak Ray di sana, yang memang sudah akhlakless sejak awal, membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.


Ilham yang mengetahui kalau Ara tidak menginginkan itu, menghela napas panjang.


Ilham bersiap untuk mencium Ara, membuat semua orang bersorak melihatnya. Ara mendelik karena wajah Ilham yang sudah sangat mendekatinya, membuat Ara seketika memejamkan matanya.


Ilham segera menutupi wajah mereka dengan bucket bunga yang ia pegang, dan berhenti beberapa cm di hadapan Ara.


Ara yang bingung, segera mendelik karena tidak terjadi apa pun dengannya saat itu. Ia hanya memandang wajah Ilham yang sangat dekat dengannya, sembari tersenyum.


Ilham menyudahi semua, dan segera menuntun Ara untuk membelakangi tamu, bersiap untuk melempar bucket bunga itu pada mereka.


Ara bersiap untuk melemparkan buket tersebut, dan ketika ingin melemparkan bunga itu, Ara langsung berbalik, dan melangkah mendekati Fla, kemudian memberikan bunga itu kepada Fla. Hal itu membuat Fla mengambilnya dengan tak percaya.


Para tamu bersorak bahagia melihat pemandangan seperti itu. Dari belakang Fla, muncul seseorang yang tak asing bagi Fla.


Fla sangat terkejut melihat Arash yang sudah bersimpuh di hadapannya, dengan memperlihatkan kotak kecil berwarna merah di hadapannya, membuat semua mata memandangnya dengan sangat terkejut.


"Arash ...," gumam Fla yang tak percaya dengan yang Arash lakukan.


Arash memandangnya dengan tatapan yang dalam, "Fla, will you marry me?" tanya Arash, membuat Fla mendelik haru, tak percaya dengan yang Arash katakan.


"Terima!" teriak Ray dan Rafa bersamaan, membuat mereka menyoraki Arash dan Fla saat ini.


Pernyataan lamaran Arash ternyata sangat menyentuh hati Fla, membuat Fla mengangguk senang mendengar pernyataannya.


Suara tepukan tangan dan sorakan haru saling bersahutan, membuat Arash dan Fla menjadi sangat bahagia kali ini.


Karena mayoritas adalah karyawan kantor Arash, mereka juga ikut senang karena presdir mereka sudah ingin melepaskan masa lajangnya.


Jessline dan Bunga memandang pemandangan ini dengan sangat datar, karena tidak tahu harus bersikap seperti apa. Jessline hanya bisa memandang pemandangan ini dengan sendu, karena dirinya yang sudah kehilangan Arash dari sisinya, begitu pun Bunga.


Jess menatap ke arah adik tirinya, 'Loe menang, Fla,' batin Jessline, yang segera mengikuti tepuk tangan mereka yang sudah lebih dulu melakukannya.


Dengan sangat berat hati dan dada yang sangat sesak, Bunga pun memaksakan melontarkan senyuman ke arah mereka, yang tengah berbahagia saat ini. Dirinya sudah tidak bisa lagi mengambil celah yang ada.


'Saya sudah harus selesai mencintai kamu, sampai di sini,' batin Bunga, yang ternyata sangat sesak melihat pemandangan romantis Arash bersama Fla.


Mereka semua terharu melihat Arash yang juga tidak mau kalah dengan sang adik.

__ADS_1


Para karyawan kantor Arash segera mengerubungi Arash, dan mengangkatnya dengan sangat riang, membuat aksi selebrasinya menjadi lebih berwarna lagi.


Mereka semua melanjutkan untuk acara resepsi pernikahan sederhana, yang hanya dihadiri orang-orang tertentu saja.


Fla sangat senang mendapatkan cincin dari Arash, karena ucapan Arash tidak main-main mengenai pernikahan yang pernah mereka bahas sebelumnya.


"Ckrekk ...."


Rangga mengambil foto Arash yang malu-malu menatap Fla, membuat mereka terkejut mendengar suara jepretan kamera.


Arash seketika menoleh ke arah Rangga, "Kalau mau ambil foto, harusnya bilang, dong!" gumam Arash, membuat Fla menyeringai ke Rangga.


"Yuk, sekali lagi," ucap Rangga.


Arash dan Fla dengan segera merapatkan diri untuk difoto. Dengan beberapa jepretan, Rangga pun sudah berhasil mengambil gambar mereka.


Ray dan Rafa pun menghampiri Fla dengan tiba-tiba, sembari merangkul Fla dengan semangatnya, membuat mereka juga ikut terfoto bersama dengan Arash dan Fla.


"Ih ... kalian bikin kaget aja!" bentak Fla yang kaget dengan ulah mereka.


"Kalau foto itu, jangan sendirian!" tegur Rafa, membuat Fla mendelik.


Ray dan yang lainnya pun tertawa karenanya.


Rangga menunjuk ke arah mereka, memberikan kode untuk mereka supaya bisa merapatkan barisan, agar bisa difoto bersama.


"Yuk, rapat lagi! Mau saya foto," suruh Rangga, membuat Ara dan Ilham pun juga ikutan merapat karenanya.


Mereka berganti posisi dengan Ara dan Ilham yang ada di tengah-tengah, dan Fla yang sedang memegang bunga yang ia dapat dari Ara.


"Satu ... dua ... tiga ...."


"Cheers!!"


...***...


Acara sudah selesai dilaksanakan. Satu per satu tamu pun sudah pamit untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.


Di sana, masih ada teman-teman Ara, sementara ayah Ilham sudah lebih dulu pamit, karena masih ada yang harus beliau kerjakan.

__ADS_1


Arash memandang ke arah Ares, "Ares capek, gak?" tanya Arash, membuat Ares menggeleng kecil ke arahnya.


"Enggak kok, Kak," jawab Ares, membuat Arash mengangguk kecil.


"Kalau capek, Ares ke kamar aja, ya," ucap Arash.


"Oke, Kak!"


Ray memandang ke arah Ilham yang sedang membenarkan rambut Ara, membuatnya agak sedikit iri pada mereka yang sudah menikah.


"Duh ... jadi pengen nikah, kan!" teriak Ray, membuat Rafa dan yang lainnya seketika mengalihkan perhatian ke arahnya.


Fla tertawa mendengarnya, "Buruan! Ara udah nikah, gue dan Rafa juga bentar lagi mau nyusul. Nah ... loe, kapan?" ledek Fla, membuat satu busur panah khayalan mengenai tepat di jantung Ray.


"Ugh ... sakit, tapi gak berdarah," gumam Ray, membuat semua orang tertawa karenanya.


Rafa mendekat ke arahnya, dan segera merengkuh bahu Ray, "Tenang ... aplikasi cari jodoh yang gue saranin waktu itu, gimana? Udah ada belom yang nyangkut?" tanya Rafa, membuat Ray teringat dengan aplikasi tersebut.


"Belum sempet gue lihat sih, tapi udah banyak yang gue klik love," jawab Ray, sembari merogoh saku celananya, dan mengeluarkan handphone-nya.


Fla memandangnya dengan malas, "Ya elah, aplikasi cari jodoh mah cuma untuk orang yang putus asa aja!" ledek Fla, membuat Ray terkekeh mendengarnya.


Ray segera melihat isi dari aplikasi tersebut, dan melihat semua pesan yang ada di dalam kotak masuknya.


Ray mendelik senang, karena gadis yang ia sukai, ternyata menyukainya balik, "Ya tapi ... lumayan lah! Dapet nih dua orang mah!" ucap Ray dengan sangat bersemangat, membuat mereka tertawa mendengarnya.


"Emangnya dia namanya siapa? Terus, tinggal di mana?" tanya Rafa yang setengah meledek temannya ini.


"Yang satu namanya Lastri, tinggal di Papua. Yang satu lagi namanya Mawar, tinggal di open BO," jawab Ray dengan lugu, membuat Rafa mendelik kaget mendengarnya.


"Hah? Open BO? Open BO itu apa, ya?" tanya Fla dengan polosnya, membuat para lelaki menelan salivanya secara serempak.


Arash, Ilham, Ray dan Rafa saling melempar pandang, karena Fla yang memang benar sangat polos, sehingga ia tidak mengerti sama sekali arti dari singkatan yang disebutkan tadi.


Fla mengedipkan matanya dengan cepat, karena merasa bingung dengan ekspresi mereka yang menurutnya aneh.


"Bimbingan orang tua," celetuk Arash, membuat Fla mengangguk kecil mendengar jawabannya.


Ray, Rafa dan Ilham hanya bisa memandang Arash dengan tatapan yang takut, sembari mengacungkan ibu jari mereka.

__ADS_1


...***...


__ADS_2