Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kencan Buta


__ADS_3

“Ah … udah-udah! Dasar, otak kotor!” potong Ara dengan tiba-tiba, membuat Arash terkejut, “sadar dong, kak! Dia itu adiknya Morgan!” sambungnya dengan emosi yang meledak-ledak.


Ara sudah tidak bisa menahannya lagi kali ini. Ara jadi kesal sendiri dengan kakaknya itu.


Mata Arash membelalak karena terkejut dengan yang Ara ucapkan tadi.


“Ha?!” Arash terlihat sangat kaget, setelah mendengar pernyataan Ara.


Arash menganga dengan mata yang membelalak.


‘Dasar orang aneh, masa dia tidur sama adik dari temennya sendiri, sih?’ batin Ara yang semakin kesal.


Ara kembali berpikir.


‘Tapi, kalau dipikir lagi, gue juga berbuat seperti itu sama Morgan,’ batin Ara semakin bergejolak, karena merasa dirinya sama saja dengan Jessline, ‘itu berarti, gue juga tidak tahu diri, dong?’ sambung Ara.


Ara jadi tertawa sendiri mengingat kejadian ini.


“Apa kamu bilang?” Arash masih saja tidak percaya dengan ucapan Ara, “Monica ...” ia menganga kaget, “adik … Morgan?” tanyanya.


Ara mengangguk tegas.


“Satu lagi, namanya JESSLINE, bukan MONICA.” Ara mengomel dengan tegas, masih ingin membenarkan pemikiran Arash yang salah itu.


Ternyata, Arash masih saja tidak percaya dengan ucapan Ara. Dia masih berusaha meyakinkan dirinya dan mencoba menerima kenyataan. Kelihatannya sih, seperti itu.


“Ya emang bukan kandung sih, tapi setidaknya dia udah jadi bagian dari keluarga Morgan,” tambah Ara yang masih berusaha membuat kakaknya mengerti dengan keadaan.


Arash kelihatannya masih saja belum mengerti. Ara juga heran, kenapa Arash tidak mengetahui apa pun tentang Morgan? Padahal, Morgan adalah teman baik kakaknya dari masa Sekolah Menengah Atas.


“What the hell!” lirih Arash, membuat Ara menyeringai.


“Masa kakak gak tau sih?” tanya Ara yang penasaran.


“Jujur, kakak gak tau masalah ini,” jawabnya dengan nada yang aneh.


“Hah? Morgan itu sahabat kakak lho, masa kakak gak tau apa-apa tentang Morgan, sih?” cerca Ara, membuat kakaknya tegang, Ara langsung mendekat ke arah telinganya, “kalau kakak emang bener sahabat Morgan, harusnya kakak tahu semua hal yang menyangkut tentang Morgan,” ucap Ara lirih, membuat Arash merasa bersalah dengan Morgan.


Ara menatapnya dengan senyuman yang menyungging.


“Kalau kakak beneran serius, mendingan kakak lamar aja dia.” Ara berusaha menggoda Arash, sebisanya.


Di mana letak kekurangan kakaknya itu? Kekayaan mumpuni, jabatan ada, harta berlimpah, mobil bagaikan showroom, rumah berserakan di mana-mana, pendidikan yang sudah mendapat predikat Magister, masalah fisik dan ketampanan, sudah tidak diragukan lagi, bak idol Korea yang sedang naik daun, tapi bingung turun.


Harusnya, Arash bisa memposisikan dirinya, sebagaimana mestinya. Tidak seharusnya begitu, dan harus bisa menjauh dari suatu hal, yang dapat merugikannya kelak.


“Gak bisa, Ra.” Arash mendadak berubah menjadi mellow, membuat Ara sedikit terenyuh dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba ini.


“Hah, kenapa?” tanya Ara bingung.


Arash menghela napasnya, “Monica ... udah punya pacar,” jawab kakak dengan ragu, membuat Ara tertegun.


‘Hah? Apa pacar yang dimaksud kakak itu, adalah ....’ batin Ara menggantung.

__ADS_1


“Bisma?” tanya Ara, memastikan.


Kakaknya mengangguk pelan.


‘****! Kenapa loe bohongin gue lagi sih, Bis?’ batin Ara merasa kesal.


Baru saja Ara merasakan bahagia, karena Bisma secara tidak langsung melamarnya. Tapi, kenapa harus dipatahkan lagi seperti ini?


‘Ya. Ini gak bisa dibiarkan,’ batin Ara.


“Apa kakak kenal sama Bisma?” tanya Ara, berusaha memancing Arash.


“Gak kenal, tapi katanya sih … satu kampus sama Monica--”


Mendengar jawaban kakaknya yang demikian, Ara langsung pergi meninggalkan kakaknya di sana, tanpa mendengar pembicaraannya hingga akhir, kemudian bergegas menuju kamarnya kembali.


Buru-buru ia mengambil handphone-nya, berharap Bisma masih ada di rumahnya, atau setidaknya masih belum berada di dalam pesawat.


Ara ingin sekali bertemu dia, untuk menanyakan apa benar yang dikatakan kakaknya tadi?


-Tuuuuuuuttt-


“.......”


“........”


-Tuuuuuuuuuttt-


“Halo, Ra?”


“Loe di mana?” tanya Ara dengan nada yang sinis.


Ara sudah tidak bisa santai lagi menghadapi masalah ini.


“Bandara. Nunggu pemberangkatan,” jawab Bisma dengan enteng.


Ara berusaha menahan emosinya itu yang hampir meledak.


“Ada beberapa pertanyaan yang harus gue tanyain ke loe,” ucap Ara, dengan nada yang sebisa mungkin ia tahan.


Ara tidak mau membuat Bisma mengakhiri teleponnya, sebelum Ara mengetahui tentang hal yang ingin ia ketahui.


“Oke … ngomong aja, Ra. Gue juga sembari nunggu.”


‘Baiklah, dia udah ngasih rambu hijau ke gue. Gue harus persiapin diri dulu,’ batin Ara.


“Kenapa sih, loe selalu bohongin gue, Bis?” tanya Ara kesal, sepertinya tidak bisa menahan amarahnya.


Sepertinya, Ara kelepasan. Ia tak kuasa menahan emosinya. Padahal, Ara sudah mempersiapkan, agar ia tidak kebablasan nantinya.


“Hah? Bohongin soal apa, Ra?” Nada Bisma meninggi, seperti orang yang tidak mengerti dengan pembahasan kali ini.


“Soal--”

__ADS_1


“Tuut ... Tuut ....”


Telepon mereka tiba-tiba saja terputus, membuat Ara merasa sangat jengkel.


Terlihat seseorang dengan nomor yang tidak Ara kenal, sedang meneleponnya. Itu membuat Ara bertambah kesal, karena sudah memutuskan teleponnya dengan Bisma. Ara jadi gagal bertanya padanya.


Ara mengangkat telepon dari nomor asing itu.


Di sisi lain, Bisma merasa kebingungan dengan yang sudah terjadi. Ia melihat ke arah handphone-nya dengan sangat heran.


“Tuut … tuut ….”


“Lho ... kok mati?” Bisma mendadak kebingungan setengah mati.


‘Gadis ini, membuat gue penasaran aja!’ batin Bisma.


“Halo!”


“Ra!”


Bisma terus memanggil, namun tidak ada respon sama sekali dari Ara. Bisma segera melihat layar handphone-nya lagi. Sepertinya, sambungan telepon mereka terputus.


“Ada apa, ya? Kenapa dia gitu sih? Bikin orang gak tenang aja.” Bisma menggerutu karena kesal dengan tingkah Ara.


...(Nada pesawat akan segera berangkat.)...


Terdengar suara pemberitahuan, kalau sebentar lagi pesawat yang hendak Bisma tumpangi, akan segera berangkat.


Ia mempersiapkan segala barang dan koper yang ia bawa.


Sebetulnya, Bisma ingin sekali menjawab pertanyaan Ara tadi, atau hanya sekedar berbincang dengannya. Tapi, ia harus pergi.


Bisma bisa saja menunggu pesawat datang. Tapi, pesawat yang sudah datang itu, tidak akan bisa menunggu Bisma.


Bisma melangkahkan kakinya dengan berat hati, menuju tangga pesawat.


Ia meletakkan semua barang berharganya di dalam kabin pesawat, lalu duduk di kursi yang sudah ia pesan sebelumnya.


Bisma menatap langit senja, dengan matahari yang hampir saja tenggelam di ufuknya.


‘Sampai jumpa lagi, semua kenangan di tanah kelahiran. Aku akan selalu merindukan kenangan itu. Termasuk kenanganku bersama, Arasha,’ batin Bisma, berusaha tegar menghadapi semuanya.


Ara masih saja bingung dengan siapa yang meneleponnya. Ia langsung mengangkatnya dengan perasaan kesal.


“Halo, siapa nih?” ketus Ara.


Ara berusaha menahan emosinya, karena ia tak tahu sedang berhadapan dengan siapa ia sekarang.


“Halo, Ra. Ini gue, Fla,” sapa seseorang, yang diketahui itu Fla.


Kenapa dia memakai nomor yang tidak aku kenali? Apa dia mengubah nomor handphone-nya? Pikir Ara.


“Oh. Ada apa, Fla? Btw, loe ganti nomor?” tanya Ara, yang tiba-tiba saja berubah mood.

__ADS_1


“Enggak ada apa-apa, Ra. Gue pakai nomor yang satu lagi. Sorry ganggu waktu loe, gue cuma mau ngabarin, kalo Kak Morgan udah jalan ke sana. Katanya sih … dia bakal nyampe dalam waktu 20 menit,” ucap Fla membuat Ara sangat terkejut.


“Hah? 20 menit?” Pekik Ara kaget, sembari menepuk keras keningnya.


__ADS_2