Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Lumpuhkan Ingatan


__ADS_3

Saat ini, Ara dan Morgan tiba di sebuah tempat wisata yang bernama Tokyo Disney Resort. Ara sangat menikmati pemandangan di sekitar. Setiap menit yang ia lewati sungguh indah. Ara bisa melihat tokoh kartun yang ia sukai.


Aku berkeliling di area sekitar tempat wisata itu, diselingi dengan makan siang dan juga membeli camilan yang baru saja ia lihat, yang tentunya tidak ada di Indonesia.


Morgan menoleh ke arahnya, "tunggu di sini," pinta Morgan.


Ara di sini menunggu Morgan, yang sedang berjalan ke hadapannya, dan mengeluarkan ponselnya.


Morgan mengarahkan kamera ponselnya ke arah Ara yang berada di hadapannya, "boleh saya minta senyumnya?" tanyanya dengan lembut.


Ara mendelik, seperti kaku sekali karena sudah lama dirinya tidak berpose ria dan mengambil gambar.


Perasaanku menjadi sedikit mellow. Karena tanpa aku sadari, aku sudah mengingat masa laluku yang sudah lama aku pendam. Masa laluku bersama dengan Reza, pikir Ara mendadak sendu dengan masa lalunya.


Ara merenung, laki-laki itu ... bagaimana keadaannya sekarang? Bagaimana kabarnya saat ini? Apakah dia baik-baik saja tanpa aku di sisinya? Atau ... justru malah sebaliknya? Masa laluku dengan fotografi adalah masa laluku bersama dengan Reza, pikir Ara.


Tak sadar, Ara sudah merenungkan hal-hal yang sudah tidak berarti lagi baginya. Itu sudah masa lalunya, dan kini masanya dirinya bersama dengan Morgan, yang sudah menanti.


Ara menghela napas panjang, sudahlah, Morgan hanya memintaku untuk berpose saja. Mungkin sebagai kenang-kenangan kita berdua di Jepang. Aku tidak seharusnya untuk mengingat Reza. Dia adalah masa laluku, dan kini aku sudah memiliki kekasih yang jauh lebih baik darinya, pikir Ara yang menyudahi segala perih yang ia rasa.


Ara berpose indah di hadapan Morgan yang sedang memegang handphone-nya. Morgan memberikan Ara sebuah aba-aba, untuk segera memotret dirinya.


"Ckrekkk ...."


Suara kamera handphone-nya lumayan terdengar dari perbedaan jarak di antara mereka. Ara melihat reaksi Morgan, yang hanya diam sembari menatap layar ke handphone-nya, membuat Ara bingung dengan reaksi Morgan yang seperti itu.


"Ada apa, Gan?" tanya Ara dengan sedikit keras, karena suasana di sini cukup ramai, sehingga suara Ara mungkin saja tidak terdengar terlalu jelas.


Morgan terdiam beberapa saat. Wajahnya berubah seketika menjadi merah, membuat Ara semakin bingung dibuatnya.


"Gan ...," tanya Ara sembari melambaikan tangannya ke arah Morgan.

__ADS_1


Morgan seperti tersadar dari lamunan, dan berusaha membenarkan pandangannya.


"It's okay ...," balasnya dengan keras.


Ara tidak terlalu yakin dengan jawabannya itu. Morgan lalu mendekat ke arah Ara, dan berdiri di sebelahnya. Jarak yang lumayan dekat, membuat Ara kesulitan untuk melihat wajahnya.


"Ckreeekk ...."


Tiba-tiba saja suara kamera handphone Morgan terdengar lagi. Ternyata, Ara baru sadar, kalau Morgan ingin ber-selfie bersama dirinya.


Ara memandang ke arahnya, harusnya dia mengutarakan perasaannya itu. Tidak secara sembunyi-sembunyi dan curi-curi seperti ini, pikir Ara yang bingung dengan Morgan.


Ara mendelik, "ih ... kenapa nggak bilang kalau mau foto?" tanya Ara merengek, dengan sedikit kesal, tapi Morgan hanya tertawa kecil ke arahnya.


"Dulu malah kamu yang sering minta difotoin. Kenapa saat ini berbeda dari yang dulu?" tanyanya, membuat Ara bingung.


Ara mendelik, apa yang dia bicarakan? Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya, pikir Ara yang menatap ke arah Morgan dengan heran.


Ara mendelik heran, "kamu ngomong apa sih? Minta difotoin gimana maksudnya?" tanya Ara kembali, karena tidak mengerti dengan ungkapan Morgan.


Morgan menunjukkan foto kebersamaan mereka, yang tak sengaja ia ambil, "foto ini akan saya pajang di setiap sudut kamar. Lalu setelahnya, foto pertunangan dan juga ...," ucap Morgan menggantung, membuat Ara memperhatikannya dengan saksama, "foto pernikahan kita," sambungnya.


"Degg ...."


Lagi-lagi jantung Ars berdegup kencang, saat mendengar kata 'menikah'.


Apakah dia sudah yakin dan menjatuhkan pilihannya kepadaku? Atau aku hanyalah tempat persinggahan sementaranya saja? Pikir Ara.


Seketika kedua lutut Ara terasa gemetar, sampai ia mendadak kehilangan keseimbangannya. Morgan mendelik, dan menahan tubuh Ara dengan tangannya, membuat Ara menyandarkan tubuhnya pada Morgan.


"Kamu kenapa, Ra?" tanya Morgan dengan sedikit terdengar nada panik.

__ADS_1


Ara berusaha bangkit dan kembali berdiri, "aku gak papa," tepis Ara, berusaha untuk menutupi semua yang ia rasakan.


Morgan mendelik, "kita ke rumah sakit ya sekarang!" ucapnya tanpa menunggu persetujuan dari Ara.


Ara pun menghalangi Morgan untuk membawanya ke rumah sakit. Ara merasa baik-baik saja. Hanya saja, ia seperti ini karena sudah mengingat masa lalunya.


"Aku gak papa, Gan. I swear!" tepis Ara, yang bersikeras untuk tetap menolak ajakannya.


Morgan terdiam sesaat, memandangi wajah Ara yang sepertinya memang terlihat sangat pucat, "lantas, apa yang membuat kamu jadi begini?" tanya Morgan yang masih penasaran dengan yang Ara rasakan.


Ara menatap Morgan dengan sendu, "aku gak tau. Aku mau langsung pulang aja ke Indonesia. Tolong ubah jadwalnya ya, Gan," ucap Ara, membuat Morgan terdiam sesaat, lalu segera mengeluarkan handphone-nya.


Kini, Morgan asyik berkutik dengan handphone-nya, sementara Ara hanya bisa memandangnya saja.


Morgan menatap ke arah Ara, "sudah saya ubah. Ayo kita ke bandara sekarang," ajaknya, Ara hanya mengangguk, tak ada yang bisa ia lakukan lagi.


Dengan perasaan resah karena kekhawatiran itu, Aku dan Morgan pun pergi menuju bandara. Morgan sudah mengubah jadwal keberangkatan pesawat, dari yang semula malam hari, menjadi sore hari. Ara terpaksa meminta seperti itu. Padahal dirinya masih nyaman di sini. Tapi, karena keresahannya itu, ia jadi tidak mood lagi sekarang.


Kini mereka sudah berada di dalam pesawat. Tak lama mereka menunggu, pesawat pun akhirnya lepas landas. Ara hanya bisa diam, sembari menunggu kedatangannya di Indonesia.


Ara hanya memandang ke arah jendela, tak mempedulikan Morgan yang saat ini sedang memperhatikannya dengan saksama.


Tak bisa dipungkiri, Morgan sangat bingung dengan kelakuan Ara yang tak biasa itu.


Morgan menatapnya dengan heran, seperti ada yang tidak aku ketahui, batin Morgan yang penasaran dengan yang Ara pikirkan.


Seketika, ingatan dan memori indahnya bersama Reza pun kembali terngiang di kepalanya. Sekarang Ara sudah tidak bisa menepis keadaan lagi. Kini, ia telah gagal untuk mengesampingkan masa lalunya, yang sudah lama ia coba lupakan.


Bayangan kenangan masa lalu itu, menangkap paksa hingga membuat dirinya terperangkap ke dalam suatu lubang. Kini, sayapnya pun kembali patah, dan ia terpaksa tidak bisa terbang kembali.


'Tuhan, tolong lumpuhkan ingatanku,' batin Ara frustrasi.

__ADS_1


Ara memaksa memejamkan matanya, berharap semuanya hilang setelah ia kembali membuka mata nanti.


...***...


__ADS_2