
Ara berusaha menahan air matanya, yang hampir membanjiri pelupuk matanya.
“Ara …,” pekik Reza dengan lirih, tapi Ara tak menghiraukan ucapannya itu.
“M-maaf ya, kuenya jadi jatuh berantakan gini. Tadinya, gue sengaja bawa buat makan bareng sama loe,” ucap Ara, berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Wanita itu terlihat sedang membenarkan pakaiannya yang sudah berantakan, akibat ulah Reza. Begitu pun Reza, yang mulai memakai kaos oblongnya kembali.
Reza menghampiri Ara dan berdiri di hadapannya, “Ra …,” lirihnya yang seperti ingin menjelaskan sesuatu pada Ara.
Reza ingin menyentuh Ara, tapi dengan cepat Ara menafikan tangan Reza, membuat Reza tidak bisa berbuat apa pun lagi terhadapnya.
Ara mengambil hadiah yang ia niatkan untuk ia berikan kepada Reza, yang sudah berserakan di atas lantai.
Ara mulai membuka kertas kado itu, dan membuka kotak yang ada di dalamnya. Ara menunjukkan kalung yang ia ingin berikan pada Reza.
Reza menatap sendu ke arah kalung itu.
“Ini kado buat loe, Za,” lirih Ara.
Tanpa basa-basi lagi, Ara sengaja memutuskan kalung itu di hadapan Reza, dan Ara melihat ekspresi Reza, yang seperti menahan rasa kecewanya.
Karena Ara tahu, Reza sangat senang memakai kalung. Ara ingin memberikan kalung itu, karena Ara melihat kalung yang Reza kenakan, sudah putus. Jadi, Ara berinisiatif untuk memberikan kalung ini, sebagai hadiah ulang tahunnya.
Ara mendelik ke arah Reza, “oh ... maaf, ya. Kalungnya rusak. Tadinya sih, gue mau kasih itu buat hadiah ulang tahun loe. Kalung loe kan sebelumnya rusak. Jadi, gue mikir buat ngasih kado ini ke loe,” jelas Ara lalu melempar dengan sengaja kalung yang baru saja Ara rusak, ke hadapan Reza.
Reza memandang miris kalung itu, tapi yang lebih mirisnya lagi, dia tidak bisa berkata apa pun.
Ara masih berusaha menahan tangisannya. Tapi, Ara ternyata sudah mencapai batasnya. Ara tidak kuasa menahan lebih lama air mata yang sudah menghalangi pandangannya itu.
Akhirnya, air mata bercucuran dengan sendirinya dari pelupuk mata Ara. Ara sebetulnya merasa malu sekali karena dilihat olehnya, karena Ara pernah berjanji, untuk tidak menangis lagi di hadapannya.
Ternyata, aku tidak tepat janji, pikir Ara.
__ADS_1
“Maaf kalau gue ganggu kalian. Bye,” ucap Ara, kemudian segera berlari ke luar ruangan itu.
Ara tidak tahan menahan tangisan ini terlalu lama. Terdengar jelas Reza yang terus-menerus memanggil Ara, tapi ia sama sekali tidak mempedulikannya lagi.
Ara berlari menuju mobil yang sudah terparkir rapi di depan pagar rumah Reza. Kakak yang setia, sedang menunggu Ara di depan. Sebelumnya, Ara sudah meminta kakaknya untuk menjemputnya. Dan ternyata, Arash datang tepat waktu kali ini. Tidak seperti biasanya, yang selalu datang terlambat.
Saat itu, adalah hal yang paling menyakiti hati Ara. Saat-saat di mana ia kehilangan cinta pertamanya.
Cinta yang Ara anggap tidak akan pernah pudar, atau terjamah dengan pihak ke tiga, tapi ternyata, ada banyak cara Tuhan untuk memisahkan mereka. Cerita mereka, cukup sampai di sini.
Tidak mudah melupakan orang yang sudah ia anggap seperti bagian dari kehidupannya. Filosofinya sama seperti saat kamu berjalan dengan satu kaki. Seperti pincang saat Reza pergi meninggalkannya, apalagi dengan cara yang menyakitkan seperti ini.
Ara tidak habis pikir dengan Reza, yang secara terang-terangan menyakiti perasaan Ara.
Ternyata, dia sangat tega padaku, pikir Ara.
Butuh waktu untuk Ara bisa tertawa lepas seperti biasanya lagi. Butuh waktu untuk Ara menata ulang perasaannya, seperti sedia kala.
***
Tapi, setelah itu Ara juga sudah salah karena sudah bermain cinta lagi dengan Bisma. dan kejadiannya, lagi-lagi ia harus merasakan sakit, karena harus berpisah dengan orang yang ia sayangi.
“Lagi ngeliatin apa sih?” ucap seseorang tiba-tiba, sampai membuat Ara terkejut dan tak sengaja menjatuhkan handphone-nya.
Ara mengambil kembali handphone-nya yang jatuh itu, dan memeriksa setiap sisi dari handphone-nya.
“Ihh ... ngapain sih loe? Ngagetin gue aja! Liat nih, jadi jatuh kan handphone gue! Awas aja kalau sampe ada yang rusak,” bentak Ara.
Terlihat Morgan yang tak menghiraukan ucapan Ara, dan malah memandang ke arah handphone yang sedang Ara pegang.
“Kalau ada yang rusak, nanti saya ganti,” ucap Morgan dengan lantang, membuat Ara harus menahan kesalnya.
Ara tidak bisa berbuat apa-apa pada seorang sultan. Ara tahu, bagi Morgan, itu semua tidak ada apa-apanya.
__ADS_1
Morgan terlihat diam, sembari tetap melihat ke arah handphone Ara, membuat Ara penasaran dengan yang Morgan pikirkan.
“Eh, ngapain bengong aja?!” sinis Ara, tapi Morgan sama sekali tidak menghiraukan ucapan Ara.
Morgan langsung merebut paksa handphone yang Ara pegang.
“Eh ... ngapain sih woy, handphone gue!” pekik Ara sinis.
Morgan bergegas membuka kamera pada handphone milk Ara, dan langsung mengarahkan kamera itu ke arah mereka.
“Ckrek ....”
Baru saja, terdengar suara kamera. Ara tersadar bahwa Morgan sedang memotret dirinya dan juga Morgan.
Ara sangat terkejut! Ini kali pertama Ara berfoto kembali setelah satu tahun lalu.
Ara langsung membuang handphone-nya yang pernah berisi tentang kenangan dan foto masa lalu antara Ara dan juga Reza. Ara sama sekali tidak ingin lagi berhubungan dengan Reza, atau hal-hal yang mengenai tentang Reza.
Jadi, Ara memutuskan untuk membuang semua hal tentangnya.
Reza adalah laki-laki pertama yang Ara cintai, dan juga laki-laki pertama yang telah mengkhianatinya.
Morgan tak bergeming, melihat Ara yang secara sadar sudah membuang handphone-nya sendiri.
Morgan malah mengambil handphone Ara, kemudian melihat-lihat semua yang ada di dalamnya.
Beberapa saat berlalu, Ara baru tersadar, Morgan ternyata sedang mengubah wallpaper handphone-nya menjadi foto mereka, yang sempat Morgan ambil tadi.
Ada perasaan aneh yang melanda hati Ara. Ia seperti sedang diakui oleh Morgan. Padahal, Ara sama sekali tidak meminta pengakuan apa pun darinya mengenai ini.
Morgan terlihat sedang membuka aplikasi chating. Morgan menyimpan nomor telepon Ara pada handphone-nya, karena Morgan yang baru saja mengganti nomor teleponnya, akibat mereka semua yang secara tidak langsung sudah meneror Morgan.
Morgan mulai mengirim foto yang tadi tidak sengaja terambil. Morgan juga menjadikan foto itu sebagai wallpaper di handphone Ara.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan semua yang Morgan inginkan, ia memberikan kembali handphone Ara. Ara masih belum paham maksudnya, kenapa Morgan sampai melakukan ini semua.
“Jangan dihapus,” ucapnya datar, membuat Ara memandangnya dengan sinis.