Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kepulangan Arash


__ADS_3

Arash sudah sampai di bandara yang tak jauh dari kediamannya. Arash melihat ke arah Ares, yang sepertinya masih belum sadarkan diri, karena memang kondisinya yang masih belum sepenuhnya pulih, akibat tenggelam kemarin.


Arash mengambil koper-koper yang ia bawa, termasuk juga koper Ares, dan segera menggendong Ares untuk menuruni awak pesawat.


Arash melangkah jenjang menuju ke arah ruang tunggu, berniat untuk menunggu Ilham yang akan menjemputnya di sana.


Tak lama ia berjalan, Ares pun tersadar dari tidurnya, membuat Arash menghentikan langkahnya sejenak.


“Ares masih ngantuk? Kalau masih, tidur lagi aja, masih lama kok sampai rumahnya,” ucap Arash, yang tak dihiraukan oleh Ares, karena Ares yang masih belum sadar sepenuhnya.


Arash menghela napas, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang tunggu.


Sesampainya di sana, Arash melihat Ilham yang sudah berdiri tak jauh dari ruang tunggu. Ilham yang juga sudah menyadari kedatangan Arash, segera menghampiri Arash.


“Ham ...,” pekik Arash, membuat Ilham melontarkan senyumnya.


“Gimana liburannya? Menyenangkan?” tanya Ilham yang sedikit berbasa-basi pada Arash.


Arash menyodorkan kedua koper yang ia bawa, dan Ilham pun menerimanya.


“Menyenangkan lah, saya menikmati, kok,” jawab Arash.


Ilham melihat ke arah Ares yang masih tertidur di pelukan Arash, “Ares, sepertinya lelah,” gumamnya.


“Iya, ditambah efek dari kemarin dia tenggelam di pantai, jadi kurang enak badan dia sekarang,” jawab Arash, membuat Ilham mendelik tak percaya.


“Hah? Tenggelam? Gimana ceritanya?” tanya Ilham yang terkejut karena penjelasan Arash.


“Udah, sambil jalan aja saya ceritainnya,” tepis Arash yang sudah merasa keberatan menggendong Ares.


Ilham tersenyum, “baiklah.”


Mereka pun segera menuju ke terminal, dan menuju base ment. Kini, mereka sudah masuk di dalam mobil.


Arash memangku Ares, yang masih saja tertidur pulas di pankuannya, sementara Ilham hanya fokus menyetir saja.


Mereka pergi meninggalkan bandara, dan segera menuju ke arah kediaman Arash.

__ADS_1


“Gimana ceritanya, kok bisa Ares ikut pulang juga?” tanya Ilham, membuat Arash menoleh ke arahnya.


“Saya sudah minta izin ke wanita itu, untuk membawa Ares ke rumah, dan memperkenalkannya kepada Ara, supaya bisa menerima satu sama lain,” jawab Arash, membuat Ilham yang sedang mengemudi, sesekali menoleh ke arahnya.


“Kamu yakin dengan keputusan itu?” tanya Ilham yang terdengar seakan tidak mempercayai Arash.


“Ya, mau bagiamana lagi? Walaupun sudah dikubur dengan dalam, yang namanya bangkai, pasti akan tercium juga nantinya. Lebih baik saya jujur dan memberitahu Ara perlahan, daripada ia harus tahu sendiri,” ucap Arash, menjawab pertanyaan Ilham tadi.


“Ya, memang harusnya seperti itu, sih ...,” lirih Ilham, yang merasa bahwa ucapan Arash memang benar adanya.


Sejenak mereka diam, karena tidak ada topik pembicaraan. Sampai akhirnya, Arash mengingat sesuatu menyangkut gadis yang ia sukai.


“Gimana keadaan Jess?” tanya Arash.


“Kenapa tanya saya?” tanya Ilham balik, membuat Arash menghela napasnya.


“Nomor saya diblokir, pagi tadi saat saya mau menghubungi dia, saya udah gak bisa lagi akses akunnya. Bahkan semua media juga diblokir sama dia,” jawab Arash dengan nada yang sangat sendu, membuat Ilham terdiam sesaat.


“Arash ... Arash ... apa kurangnya kamu sih, sampai kamu mengejar gadis itu sampai seperti ini?” tanya Ilham membuat Arash terdiam, tak bisa menjawabnya.


Pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab, oleh pria yang sudah menjadi budak cinta dari wanita yang dicintainya.


Ilham hanya terdiam, karena menghargai privasi atasannya itu.


Tiba-tiba saja, Ilham terpikir tentang Ara, yang saat itu merasa sangat ketakutan, membuatnya merasa kesal karena ia tidak melakukan apa-apa untuk membantu Ara. Padahal, ia sudah menguntit Ara dari awal Ara keluar dari pintu gerbang rumahnya.


‘Kenapa menyesal datangnya selalu di akhir?’ batin Ilham yang kesal, karena tidak bisa melakukan apa pun untuk melindungi Ara.


Arash menoleh ke arah Ilham, yang sepertinya sangat cepat berubah mood.


“Ham, kenapa?” tanya Arash, membuat Ilham menoleh ke arahnya, “marah sama saya karena saya gak jawab pertanyaan kamu?” tambahnya, Ilham kembali memperhatikan jalanan pada malam yang gelap itu.


“Enggak, saya cuma lagi kesal aja, karena gak bisa ngelindungi gadis itu,” lirih Ilham, membuat Arash mengerenyitkan dahinya.


“Siapa yang kamu maksud?” tanya Arash penasaran dengan keadaan hati Ilham.


Pasalnya, Ilham sama sekali tidak pernah membahas hal yang menyangkut tentang wanita di hadapan Arash, membuat Arash menjadi setengah mati penasaran dibuatnya.

__ADS_1


Ilham sepertinya kelepasan, karena ia tidak ingin Arash sampai tahu kalau dirinya tadi sedang memikirkan adiknya, Ara.


“Emm ... enggak, bukan siapa-siapa, kok. Saya cuma lagi mikirin alur untuk novel yang sedang saya buat,” ucap Ilham, berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


Padahal, Ilham sama sekali tidak pandai membuat sebuah karya tulis. Jangankan membuat sebuah karya tulis, mengarang alasan untuk berbohong saja, ia sangat buruk.


Arash malah semakin mengerenyitkan dahinya, “are you okay, Ham? Sejak kapan kamu jadi seorang penulis?” tanya Arash, membuat Ilham semakin gagap dibuatnya.


Ilham hanya bisa menafikan pandangannya saja dari Arash, karena sudah merasa sangat malu dibuatnya.


Ilham menambah kecepatannya, sehingga membuat mobil melaju lebih cepat daripada tadi.


Tak lama, mereka pun tiba di kediaman Arash. Ilham berhenti sejenak untuk mengela napasnya dengan panjang.


“Sudah sampai, Rash,” lirih Ilham membuat Arash yang hampir saja tertidur, menjadi segar kembali.


Arash melihat ke arah jam yang ada di tangan kirinya. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, membuatnya hampir saja tertidur di mobil.


“Oh, sudah sampai,” lirih Arash yang sedikit terkejut dengan ucapan Ilham.


“Kamu masuk dulu aja, bawa Ares. Nanti saya yang bawa koper ke dalam,” ucap Ilham, membuat Arash mengangguk setuju.


“Sudah larut, menginap saja di sini,” ucap Arash, membuat Ilham mengangguk kecil ke arahnya.


“Saya langsung ke kamar, ya. Kalau mau tidur, masuk ke kamar tamu aja,” tambahnya, yang lagi-lagi hanya dibalas anggukan oleh Ilham.


Arash pun masuk ke dalam rumah, sembari tetap menggendong Ares.


Ilham menatap kepergian Arash. Ia terdiam sejenak, karena merasa begitu lelah karena sudah mengemudikan mobil, dari bandara ke kediaman Arash.


Ilham teringat sesuatu. Ia pun merogoh sakunya, dan melihat sebuah kalung yang sedang ia pegang saat ini, yang tak lain adalah kalung yang diberikan Morgan untuk Ara saat itu.


“Gadis itu teledor. Kenapa bisa barang spesial seperti ini dijatuhkan begitu saja? Untung saja, saya yang melihat lebih dulu, bukan para preman itu yang mengambilnya,” gumam Ilham, yang merasa bersyukur karena ia bisa menyelamatkan benda penting milik Arasha.


Ilham menggenggam dengan erat kalung milik Ara, yang sedang ia pegang, seakan mengisyaratkan dirinya yang akan menggenggam erat Ara, seperti ia menggenggam kalung miliknya.


“Seandainya saya bisa sedikit lebih cepat daripada Morgan,” lirih Ilham.

__ADS_1


...***...


__ADS_2