Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Perkara Siomay


__ADS_3

Ara mengendap-endap untuk menuju tempat terdalam dari gerobak pedagang siomay ini, yang membuat Ara terlihat seperti seorang pencuri.


“Aman gak ya?” lirih Ara, sembari tetap mengendap-endap ke arah gerobaknya.


“Huaaaaahh ….” Seseorang yang ada di sana pun kaget, setelah melihat kedatangan Ara yang tak diundang, pulang pun tak diantar, seperti jalangkung.


Ara jadi ikut-ikutan kaget karenanya.


“Huaaaaahhhh ….” Ara pun berteriak, hingga pemikirannya yang rasional kembali seperti sedia kala.


Mata Ara membulat ke arahnya, “ish ... apaan si Bang Decoy!” bentak Ara, ia hanya cengengesan saja melihat ekspresi Ara yang juga sudah kaget dibuatnya.


“Hehe. Lagian, Non ngapain di bawah gitu, kayak maling aja?” tanyanya, Ara memukul topi yang ia pakai.


“Yeeeeeh pake nanya lagi!” Ara sudah terlalu gemas dengannya.


Kenapa ia bisa lupa? Padahal, Ara sudah berulangkali datang ke tempatnya ini, untuk membeli secara diam-diam dagangan yang ia miliki. Mau bagaimana lagi? Dagangan miliknya sangat sesuai dengan selera yang Ara miliki.


“Eh iya lupa, Non. Maaf ya,” ucapnya, membuat Ara membolakan matanya.


“Ahhh buruan Bang bungkusin! Kalo saya sampe ketauan ada di sini, dan ketauan beli jajan sembarangan, saya bisa dirawat inap paksa, nih!” jelas Ara panjang lebar.


Ia mengangguk kecil ke arah Ara, yang sedang berusaha bersembunyi di sela gerobak.


“Heheh, siap Non. Kentang sama siomay aja kan ya, Non?” tanyanya, membuat Ara panik, setelah melihat keadaan sekitar.


“Ishh bawel deh. Iya! Udah buruan--”


“Bang. Satu porsi, ya,” ucap seseorang tiba-tiba, yang berhasil mengagetkan Ara.


Ara yang panik, langsung menunduk untuk menghindari siapa yang datang.


“Baik, Pak.”


Mendengar perbincangan mereka, Ara jadi curiga. Suaranya, terdengar seperti suara Morgan.


‘Aduh … kenapa ada Morgan segala si di sini? Ish!’ lirih Ara yang merasa risih dengan kedatangannya.


Ara hanya bisa diam di bawah sini. Jangan sampai, Morgan melihat ke arahnya. Kalau sampai ia melihat, ia pasti akan mengadukannya kepada Arash.


“Ditunggu ya, Pak,” jawab Bang Decoy.


Ia terlihat sibuk untuk menyiapkan pesanan Morgan. Jantung Ara sudah ketar-ketir, jangan sampai Morgan melihatnya di sini.


Morgan menunggu pesanannya selesai dibuat, ia melihat ke sekelilingnya. Seperti ada sesuatu yang mengusik pandangannya. Morgan langsung melihat ke arahnya, yang tak disangka, Morgan tak sengaja melihat seseorang yang duduk di sela gerobak, seperti sedang bersembunyi.


Morgan kembali memperhatikannya dengan seksama.

__ADS_1


Siapa itu ya? Pikir Morgan.


Morgan menyadari, bahwa yang ia lihat itu adalah Arasha, yang sedang bersembunyi di bawah sana.


‘Oh, mulai bandel lagi ya, jajan sembarangan,’ batin Morgan yang sudah mengetahuinya.


Morgan merogoh saku celananya, untuk mengambil handphone. Ia sengaja menelepon Arash, lalu mematikan teleponnya agar Arash meneleponnya balik, seakan Arash lah yang menelepon Morgan duluan. Morgan berharap, Arash mengerti apa yang ia maksudkan.


Tak lama kemudian, Arash pun menelepon Morgan lagi.


“Halo, Gan? Tadi kenapa nelepon?” tanya Arash.


Morgan sengaja tidak memperbesar volumenya, dan kemungkinan besar, Arasha tidak akan mendengar apa yang tadi Arash katakan.


Kemudian, Morgan segera membuka loadspeaker.


“Oh, engga kok, Rash.”


“Oh yaudah. Gimana Ara di sana? Aman, kah?” tanyanya, yang sangat pas sekali dengan apa yang Morgan maksudkan.


“Masalah belajar sih … aman. Cuma, saya gak tahu yang lain-lain gimana,” ucap Morgan menyeleneh, sembari melirik ke arah Ara yang sedang bersembunyi.


“Lho ... Ara masih suka jajan sembarangan?” tanya Arash, membuat Morgan tersenyum jahil.


Ara sepertinya sedang bergegas untuk bangkit, untuk melancarkan aksinya. Morgan harus bisa menghalaunya.


“Greeeppp ….”


Tiba-tiba, Ara mengambil handphone Morgan, membuat Morgan terkejut, karena tindakan Ara yang kasar sekali ketika merebut handphone dari tangannya.


“Ka, aku lagi makan siang nih di resto deket kampus sama Morgan,” ucap Ara, yang memilih untuk berbohong pada kakaknya itu.


Morgan mendecap, sembari menggelengkan kepala dan memandangi Ara.


“Oh kirain, kamu jajan yang aneh-aneh lagi. Inget … jangan jajan sembarangan, ya? Harus inget kejadian yang waktu itu,” ucap kakaknya mempertingati Ara.


Ya. Ara memang pernah mengalami sakit yang luar biasa pada bagian lambungnya. Itu semua karena, Ara jarang sekali sarapan, dan makan malam. Makan siang pun, terkadang Ara melakukannya pada jam empat sore, membuat lambung Ara menjadi kronis.


Hal itu lah yang membuat Ara dirawat paksa di rumah sakit selama dua minggu lamanya. Ara juga hampir dioperasi karena usus buntunya yang hampir kronis. Tapi, atas permintaan kakaknya, ia tidak jadi dioperasi, dan Arash malah meminta Ara untuk berobat ke klinik Tong F**g, dan meminum obat-obatan herbal.


Akhirnya, Ara sudah sembuh sekarang. Dengan catatan, tidak boleh terlambat makan atau jajan sembarangan yang bisa membahayakan kesehatan lambungnya lagi.


“Yaudah kakak mau lanjut kerja lagi ya,” ucap Arash.


“Okey, Kak.”


-Tuuuuuuuuuttt-

__ADS_1


Ara mematikan teleponnya. Sepertinya Ara terlihat kesal sekali pada Morgan. Wajahnya merah padam, dengan mata yang terus mendelik.


Morgan hanya melontarkan senyum ke arahnya. Morgan mengambil paksa handphone-nya yang ada di tangan Ara.


“Tseet ….”


Ara terlihat gelagapan, mungkin saja kaget karena tindakan Morgan yang tiba-tiba, seperti yang Ara lakukan tadi pada Morgan.


“Puas, loe sekarang?” tanya Ara sinis, tapi Morgan hanya berusaha menahan tawanya.


“Gak usah ketawa deh,” ketus Ara.


Morgan masih berusaha menahan tawanya. Di sudut pandang


Morgan, Ara terlihat manis, saat ia menahan amarahnya.


Ah.


Morgan jadi gemas sekali padanya.


‘Apa saya kasih tahu sekarang saja, yah?’ batin Morgan yang masih bingung dengan yang ingin ia lakukan selanjutnya.


“Ra …,” pekik Morgan, membuat Ara menoleh ke arahnya.


Terlihat wajah Morgan yang tampan itu, sedang diam dan hanya memperhatikan Ara. Ara melihat manik matanya yang berwarna coklat itu, dengan tatapan yang dalam.


Suasana menjadi canggung seketika. Ara dan Morgan menatap satu sama lain. Morgan terlihat masih dengan sikapnya yang dingin. Tapi, tak bisa Ara pungkiri, ia jadi terkesima padanya, daripada ia harus melihat laki-laki


dengan tipe yang centil.


Ara masih ingat saja dengan kejadian yang memalukan tadi. Ara malah jadi mati gaya karenanya.


“Saya mau ngomong, Ra,” lirih Morgan, yang membuat Ara mati penasaran.


Kenapa Morgan sangat senang membuat Ara penasaran?


Ah.


Jangan-jangan, dia ingin mempermainkan aku lagi, seperti malam sebelum kita menonton bioskop yang gagal itu, pikir Ara.


‘Mulai sekarang, gue gak mau bertindak gegabah lagi,’ batin Ara bersikukuh dengan tujuannya.


Ara menatapnya dengan tatapan enteng, “emangnya, loe mau ngomong apa?” tanya Ara.


“Em, saya mau ngomong, kalau saya--”


“Pak … siomaynya sudah siap,” ucap Bang Decoy secara tiba-tiba, yang membuyarkan suasana.

__ADS_1


__ADS_2