Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Selamat Ulang Tahun


__ADS_3

Pagi itu, Ara membuka mata dengan perlahan. Ia memperhatikan sekelilingnya, dan tak sengaja melihat Ilham yang masih ada di meja kerjanya. Ia tertidur pulas di atas kursi kerjanya, membuat Ara kaget melihat ada Ilham di sana.


"Lho, kok ada Kak Ilham di sana?" gumam Ara lirih, dengan histeris, karena kaget dengan pemandangan pertama yang ia lihat pagi ini.


Ara tak sengaja memandang ke arah figura yang terpampang di dinding kamar ini, membuatnya tersadar dari statusnya yang kini sudah menjadi istri dari Ilham.


Ara menghela napasnya, "Kok lupa mulu, sih? Apa semua orang yang sudah menikah merasakan hal yang sama?" gumam Ara dengan lirih, merasa kesal dengan dirinya sendiri.


"Tukk ...."


Tak sengaja, Ara menyenggol sesuatu yang jatuh dari arah sebelahnya. Ia melihat ke arah kotak kecil yang jatuh dari ranjangnya. Dengan penasaran, Ara pun mencoba meraihnya, dan akhirnya mendapatkan kotak kecil itu.


Ara membaca kartu ucapan yang menggantung di kotak kecil tersebut.


..."Selamat ulang tahun, istriku."...


"Tess ...."


Air matanya mendadak jatuh, mengenai kotak kecil tersebut. Ia membaca dengan hati yang tersentuh. Walaupun singkat, kata-kata yang ia baca itu sangat mengena di hatinya.


Ara membuka kotak itu, dan melihat sebuah handphone yang sangat ia inginkan selama ini, yang belum sempat Arash belikan, karena terbentur biaya untuk persiapan mega proyek kala itu.


Ara semakin sendu melihat hadiah ulang tahun yang Ilham belikan untuknya itu.


Karena tangisan Ara yang cukup keras, membuat Ilham menjadi terbangun dari tidurnya, dan memfokuskan dirinya ke arah Ara yang ternyata sedang menangis.


"Ara!" pekik Ilham yang khawatir dengan keadaan Ara.


Ilham langsung menghampirinya, dan bersimpuh di hadapan Ara yang sedang duduk di pinggir ranjang.


"Kamu kenapa?" tanya Ilham, membuat Ara menggelengkan kepalanya.


"Makasih hadiahnya," gumam Ara, membuat Ilham menghela napasnya panjang.


'Saya pikir kenapa,' batin Ilham yang lega karena tidak terjadi apa-apa dengan Ara.

__ADS_1


Ilham pun melontarkan senyuman ke arah Ara, membuatnya berinisiatif mengusap wajah Ara yang sudah basah karena air matanya.


"Udah, jangan nangis lagi. Jangan dihancurin lagi ya handphone-nya," gumam Ilham setengah meledek Ara, karena mengingat kejadian Ara yang menghancurkan handphone-nya kala itu.


Ara mengangguk kecil ke arahnya.


Tiba-tiba saja, Ilham teringat beberapa tumpuk kado yang ia dapatkan kemarin.


"Tunggu sebentar," gumam Ilham, yang lalu berlarian ke arah kamar tamu, untuk mengambil tumpukan kado yang ia letakkan di sana.


Ara memandang dengan heran kepergian Ilham, "Mau ke mana dia?" gumam Ara kebingungan dengan sikap Ilham.


"Gara-gara kecapean dan banyak pikiran, sampe gak ingat kalau aku ulang tahun hari ini," gumam Ara yang merasa kesal dengan keadaan.


Tak lama, Ilham pun datang dengan membawa beberapa tumpuk kado yang ia pegang, dan menjatuhkannya di atas ranjang tidur mereka.


Ara menganga kaget dengan tumpukan hadiah yang ia lihat, "Hah, kok banyak banget?" tanya Ara, membuat Ilham tersenyum.


Ilham pun duduk di sebelahnya, sembari membuka kado pertama.


Kado pertama ia buka. Terlihat satu set cangkir, berisi 6 cangkir.


"Wah ... dapat cangkir," gumam Ilham yang terlalu senang, membuat Ara tersenyum kecil ke arahnya.


"Kamu gak mau ikut buka kado?" tanya Ilham, membuat Ara mengambil sebuah kado yang ada di hadapannya.


"Aku buka satu," gumam Ara yang sudah mengambil kotak sedang itu.


Dengan susah payah, Ara membuka bungkusan itu. Setelah sudah berhasil membukanya, Ara menemukan sebuah kotak yang lebih kecil dari sebelumnya, membuat dia tercengang kaget.


"Hah, ada kotak lagi?" gumam Ara yang kaget melihat isinya.


Ilham pun hanya berusaha menahan tawanya. Ara kembali membuka kotak tersebut, dan ternyata masih ada kotak kecil di dalamnya. Karena merasa sangat jengkel, Ara pun membukanya dengan sangat cepat, hingga kotak terkecil yang ia lihat.


Ara memandangnya dengan saksama, merasa kesal dengan keadaan.

__ADS_1


"Ini kalau ada lagi di dalamnya, gue buang jauh-jauh!" bentak Ara yang kesal dengan keadaan, membuat Ilham tersenyum kecil mendengarnya.


Ara membuka kotak tersebut, dan akhirnya melihat isi dari kotak terakhir tersebut. Ia mengambilnya dengan ragu, dan memperlihatkannya ke arah Ilham.


Terlihat beberapa bungkus pengaman yang sering dipakai untuk berhubungan intim, membuat Ara dan Ilham mendelik kaget.


Ara dengan cepat memasukkan kembali benda tersebut, dan membaca surat yang berada di dalamnya.


..."HWD sahabat. Jangan lupa pake pengaman, biar aman!" -Ray-...


Ara meremas kertas kecil tersebut, karena merasa sangat kesal dengan sahabatnya yang satu itu.


"Benar-benar si Ray itu!!" teriak Ara, membuat Ilham menyeringai takut.


Ilham kembali mengambil satu hadiah. Karena melihat Ara yang mengambil kotak yang terlalu besar, dan akhirnya zonk, Ilham jadi mengambil kotak kecil yang ada di sana.


Dengan rasa penasaran, Ilham pun membuka kado tersebut, dan mendapati sepasang tiket pesawat untuk berlibur ke Paris. Dengan gemetar, Ilham memperlihatkan pada Ara apa yang ia temukan.


"Tiket pesawat, ke Paris," gumam Ilham dengan wajah yang memerah, membuat Ara terkejut melihatnya.


Ara mendelik, "Siapa yang kasih itu?" tanya Ara.


Ilham segera membaca surat yang tertinggal di dalam kotak itu, dan mengetahui kalau tiket ini adalah pemberian dari Arash. Betapa terkejutnya dia, sehingga ia memberikan surat itu pada Ara.


Ara menerimanya dengan sangat bingung, dan segera membaca surat itu.


..."Halo, Ra. Semoga bahagia ya dalam menempuh hidup baru bersama Ilham. Maaf kakak gak bisa kasih apa-apa. Cuma bisa kasih tiket honeymoon ke Paris, sebagai reward untuk Ilham juga yang sudah bekerja keras untuk dapatin mega proyek itu. Baik-baik ya sama Ilham. Tugas kakak sekarang sudah selesai, untuk selanjutnya berganti ke Ilham. Jangan ribut mulu, kurangin egonya. Lupakan masa lalu, tatap masa depan. Semoga cepat punya momongan. Kakak sayang Ara."...


Ara mendadak mellow membaca surat dari kakaknya, karena pernikahan yang mereka pikir, adalah pernikahan yang dilandasi dengan cinta. Padahal, pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan status janin yang ada di dalam rahim Ara saat ini. Karena ketidaktahuan mereka, membuat mereka memikirkan lebih dalam hubungan ini.


Di sana, Ilham sedang menahan perasaannya, karena ia membaca surat dari Arash, yang membahas tentang honeymoon. Ilham mendadak sendu membacanya, bahkan tulisan itu sekarang jadi terngiang-ngiang di pikirannya, saking terlalu memikirkannya.


'Apa keputusan ini sudah benar? Apa ... nantinya akan ada sedikit ruang di hati Ara, untuk saya?' batin Ilham, yang terus menerka-nerka takdir yang nantinya akan diberikan untuknya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2