
Serangan pedang Karsa yang tiba-tiba memapras kipas yang dilemparkan Dara Cempaka.
Karsa tak mungkin berlaku adil. Tak ada yang bisa diharapkan dari sebuah pertarungan pertaruhan nyawa. Jayaseta pun jelas akan melakukan hal yang sama bila memang diperlukan.
Akibat bantuan Dara Cempaka ini, kipas berangka besi bengkok dan bagian kainnya robek habis-habisan, namun Jayaseta dapat menggelinding menghindar.
Karsa meradang. Ia memandang ke arah Dara Cempaka dengan nafsu membunuh yang membakar ubun-ubun nya.
Dara Cempaka sendiri sudah mempersiapkan kuda-kuda silatnya. Bila terpaksa, apa mau dikata, ia akan melawan Karsa. Bukankah ia dilatih ilmu kanuragan sejak kecil oleh sang Datuk? Pastilah ini salah satu alasan mengapa ia dapat dan harus menggunakanya.
"Karsa, aku musuhmu!" teriak Jayaseta demi melihat sang tua renta seakan siap menerkam sang gadis.
Karsa menghembuskan nafas dan memaksakan tawa yang dibuat-buat. Hal ini menjadikan wajahnya mengerikan.
"Jelas kau adalah lawanku, pendekar. Tapi perempuan muda itu juga akan kuhabisi. Kau dengar itu, pendekar? Jadi aku mohon, keluarkan segala kemampuan dan daya upayamu untuk menghindari pembunuhan yang tak perlu ini," ujar sang kakek.
Jayaseta melemaskan kuda-kudanya kemudian memainkan Do sanaman mantikei nya dengan bertolok pada keluwesan pergelangan tangannya. "Benar kata Tuan nakhoda Nio. Kau terlalu banyak bacot. Mungkin itu mengapa kau dijuluki penyair. Kau tak berhasil membunuh Tuan Nio. Begitu juga dengan sahabatmu sendiri, Datuk Mas Kuning. Kau sempat mati, bahkan aku pastikan kau lari terbirit-birit setelah gagal membunuh sang nakhoda. Sekarang kau dengan percaya diri hanya bermodalkan ilmu kebal kembali menantangku!" ujar Jayaseta memancing kemarahan sang pendekar renta itu.
Tak perlu banyak perkara lagi, Karsa langsung tersulut dengan gampang. Ia meloncat dengan cekatan hendak membacok Jayaseta. Air kembali berkecipak karena gerakan tiba-tiba Karsa tersebut.
Jayaseta bergerak cepat menghindar. Serangan pembuka ini tak mengenai sasaran, yaitu kepalanya. Namun, seperti yang Jayaseta duga, serangan susulan langsung kembali datang. Kali ini Karsa membabat mendatar ke arah dadanya, ingin membelahnya.
Jayaseta kembali menghindar dengan mundur ke belakang. Ujung pedang hanya seruas jari jaraknya dari kulit telanjangnya.
Pedang prajurit Melayu Sukadana yang digunakan Karsa ini terlihat cukup berat dan kokoh dan tidak terlalu melengkung dibanding pedang Jawa yang sedikit lebih tipis, panjang dan lengkungannya lumayan terlihat. Ada pelindung jari yang mungkin dicontoh dari pedang orang-orang bule Walanda.
Dengan babatan Karsa yang bertenaga dan penuh nafsu membunuh itu, Jayaseta cukup berusaha keras.
Bukannya mengapa, ia kembali sadar bahwa ia masih meriang. Badannya panas dingin demam, ditambah air yang merendam kakinya. Ini dikarenakan rajah yang Datuk Mas Kuning buat masih bekerja dengan keras di dalam tubuhnya, membuat keadaan Jayaseta sama sekali tak sempurna.
Gerakannya jauh lebih lambat. Penggunaan bagian-bagian tubuhnya tak bisa sepenuhnya bekerja dengan baik. Begitu juga kecepatan berpikirnya menjadi terganggu. Kepekaannya menurun tajam sehingga ia tak dapat dengan cepat memutuskan serangan atau perlawanan yang dapat dengan cepat menaklukkan sang musuh.
Tapi karena kependekarannya itulah yang membuat ia bisa mengalahkan ketiga orang Daya yang bukan merupakan prajurit berkemamapuan silat dan kanuragan biasa.
Maka, ia juga tak akan dengan mudah mau dipecundangi pendekar tua ini.
__ADS_1
Sehingga ketika Karsa memutarkan pedang Melayu itu untuk menyerangnya, Jayaseta sudah terlebih dahulu menyambut dengan sepakan ke betis Karsa, membuat sabetannya meleset. Jayaseta kemudian menebaskan Do nya ke lambung Karsa.
TAK!
Do Jayaseta bagai menabrak batu karang. Namun begitu Karsa tetap kehilangan keseimbangan dan jatuh ke rawa-rawa saking kuatnya serangan Do tersebut.
"Kau mati lagi, kakek tua. Aku ingin kau camkan kata-kataku itu. Tanpa ilmu kebal, kau bukanlah apa-apa dan tak pantas menyandang gelar pendekar. Mengapa tidak kau sebut dirimu sekalian sebagai ahli nujum?" ujar Jayaseta.
Karsa bangun. Tubuhnya kembali basah kuyup. Ia tertawa keras, "Aku tak paham apa maumu, pendekar muda. Kata-katamu tak menyakitiku dan tak akan bisa membunuhku. Tapi aku suka dengan sifatmu ini. Jadi akan puas rasanya ketika nanti kau mati di tanganku!" sehabis berkata, Karsa mengubah air mukanya kembali menjadi bengis dan penuh nafsu. Ia menyerbu Jayaseta dengan dua sabetan menyilang dan tusukan berputar.
Jayaseta tentu kembali menghindar dari serangan yang luar biasa cepat ini, apalagi melihat tubuh sang kakek yang sudah cukup bungkuk dan kurus kering.
Tapi pada tusukan terakhir, Jayaseta memutuskan menahannya dengan Do nya.
TRING!
Percikan api kembali terlihat. Jayaseta ternyata tak sekadar menangkis pedang Karsa, namun menempelkan bilah Do dari bahan batu mantikei tersebut, kemudian menyeretnya sepanjang bilang.
Tempelan kedua bilah senjata tajam itu menjadi semacam kunci agar pedang Karsa tak bergerak.
Ketika sudah mendekati pelindung jari di pangkal pedang Melayu Karsa, Jayaseta mengangkat Do dan menusuk mata kiri Karsa.
Darah menciprat dan raungan Karsa terdengar keras. Ia mundur beberapa langkah, namun kemudian mengokohkan kuda-kudanya kembali.
Jayaseta melihat, biji mata yang hancur menjadi lelehan darah perlahan kembali menjadi utuh.
Karsa menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghapus sisa darah di matanya. Ia menatap Jayaseta, "Kau mau mengatakan bahwa aku mati lagi?" Karsa tertawa. "Kau seorang pendekar, pastilah paham bahwa bila musuh belum jatuh mati, makan pertarungan belum selesai. Jangan buat-buat alasan dan pembenaran bahwa kau tak bisa mengalahkanku!" ujar Karsa.
Jayaseta di dalam hati merasa lumayan kesal. Karsa bukan pendekar yang terlalu hebat. Ia jujur mengatakan bahwa tanpa ilmu kebal, Karsa bukan lawan yang sulit dikalahkan. Ia tak bisa bergerak dan berpikir dengan cepat. Keringat dinginnya yang mengalir keluar bercampur dengan air rawa. Begitu juga dengan panas tubuhnya yang bertabrakan dengan dinginnya malam.
Tapi Karsa ada benarnya. Tidak ada pertarungan hidup mati yang benar-benar adil. Musuh tidak mau tahu bagaimana keadaannya.
Tak bisa membiarkan keadaan ini merugikannya, Jayaseta kali ini yang pertama menghambur maju.
Do nya berputar di tangan. Dengan satu gerakan tipuan Jayaseta menyasar leher Karsa.
TAK!
__ADS_1
Terlambat, Karsa sudah bisa membacanya. Satu lengannya sudah menutupi batang lehernya sebagai penangkis. Ini berarti lagi-lagi Do Jayaseta menubruk batu karang.
Jayaseta berputar dan menebas leher Karsa dari sisi yang lain.
Karsa melihatnya sebagai sebuah upaya yang cukup payah dari seorang pendekar.
Dengan mudahnya ia menahan dengan sisi pedang Melayunya.
TING!
Bilah tajam Do bertahan di sisi lurus bilah pedang Melayu.
Karsa melihat sebuah kesempatan. Kakinya berhasil menendang perut Jayaseta. Tendangan itu dialiri tenaga dalam sehingga membuat Jayaseta terjengkang mundur.
Perutnya terasa mulas. Namun itu sebenarnya tak seberapa, bagaimanapun Jayaseta telah melatih seluruh otot dan uratnya, jadi walau sebuah serangan dialiri tenaga dalam dan ia tak menahannya dengan tenaga dalam pula, Jayaseta masih mampu menahannya dengan baik.
Hanya saja, yang ia rasakan adalah puyeng yang lumayan terasa. Kepalanya seakan berputar.
Ia tak paham ini akibat tendangan Karsa atau ada hubungannya dengan rajah Datuk Mas Kuning yang ditorehkan di tubuhnya.
Yang jelas ini membuat gerakannya sangat lambat ketika pedang Karsa membabat dadanya. Do yang ia genggam tak cukup erat dan cepat sehingga pedang Karsa menyayat kulitnya setelah terlebih dahulu menerobos Do dengan sedikit tertahan bilahnya.
Dara Cempaka berteriak tertahan.
Karsa melompat bagai seekor beruk. Ia membabatkan pedangnya tegak lurus seakan ingin memotong tubuh Jayaseta menjadi dua bagian.
Jayaseta mengangkat Do nya untuk menangkis serangan itu. Tangannya bergetar dan hampir saja ia melepaskan genggamannya pada Do ketika bilahnya terbentur pedang Karsa.
Karsa mengulangi serangannya. Jayaseta kembali menangkis. Namun serangan itu begitu kuat sehingga bilah pedang Melayu bagian atas masih sempat menggores bahu Jayaseta, membuatnya mundur dan jatuh terduduk.
Tak bisa diperkirakan lagi berapa banyak darah mengalir dari luka di tubuh Jayaseta malam itu.
Rasa puyengnya masih belum hilang.
"Aku harap kau mau dengan ksatria menarik kata-katamu bahwa tanpa ilmu kebal, aku tidak pantas disebut pendekar. Asal kau tahu, pendekar. Tendangan yang kau terima tadi adalah tendangan Guntur dari Selatan tingkat atas. Bahkan Bharata sang penciptanya terkejut bahwa aku bisa meningkatkannya lebih baik darinya!"
Jayaseta terperanjat. Ia lupa sama sekali bahwa Karsa dan Kakek Keling merupakan sahabat di masa lampau. Namun yang membuatnya paling terkejut adalah bahwa tendangan yang mengenainya adalah jurus yang ia kuasai namun masih berada di bawah sang lawan.
__ADS_1
Bila benar semua apa yang dikatakan Karsa, maka ia memang sedang berhadapan dengan seorang pendekar kawakan.
Jayaseta memandang Dara Cempaka dan melihat rasa khawatir terpancar dari kedua matanya yang indah. Wajah manis Dara Cempaka terlihat begitu penuh kecemasan. Jayaseta berpikir cepat agar dapat memenangkan pertarungan dan menyelamatkan Dara Cempaka, orang yang tidak memiliki dosa dalam lintasan kehidupan dan jalan kependekarannya ini.